Abang Rooy Leutuan

Januari 22, 2010

STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF DI PERGURUAN TINGGI

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 1:21 pm

STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF
DI PERGURUAN TINGGI
I.  ABSTRAK
Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
Tujuan pendidikan tinggi di Indonesia sebagai berikut: (1) menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian; (2) mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
Inti proses belajar adalah perubahan pada diri individu  dalam aspek pengetahuan, sikap, keterampilan, dan kebiasaan sebagai produk dan interaksinya dengan lingkungan. Belajar adalah proses membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Dengan kata lain suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil  bila dalam diri individu terbentuk pengetahuan, sikap, keterampilan, atau kebiasaan baru yang secara kualitatif lebih baik dari sebelumnya. Proses belajar dapat terjadi karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungan belajar secara mandiri atau sengaja dirancang. Orang yang belajar mandiri secara individual dikenal sebagai otodidak, sedangkan orang yang belajar karena dirancang dikenal sebagai pembelajaran formal. Proses belajar sebagian besar terjadi karena memang sengaja dirancang. Proses tersebut pada dasarnya merupakan sistem dan prosedur penataan situasi dan lingkungan belajar agar memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem dan prosedur inilah yang dikenal sebagai proses pembelajaran aktif.
Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang memungkinkan para pembelajar aktif melibatkan diri dalam keseluruhan proses baik secara mental maupun secara fisik. Model proses ini dikenal sebagai pembelajaran aktif atau pembelajaran interaktif dengan karakteristiknya sebagai berikut:  (1) adanya variasi kegiatan klasikal, kelompok dan perorangan; (2) dosen berperan sebagai fasilitator belajar, nara sumber dan manajer kelas yang demokratis; (3) keterlibatan mental (pikiran, perasaan) siswa tinggi; (4) menerapkan pola komunikasi yang banyak; (4) suasana kelas yang fleksibel, demokratis, menantang dan tetap terkendali oleh tujuan; (6) potensial dapat menghasilkan dampak intruksional dan dampak pengiring lebih efektif; (7) dapat digunakan di dalam atau di luar kelas/ruangan.

II.  PENDAHULUAN
Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Masyarakat ilmiah merupakan kategori masyarakat yang warganegaranya memiliki sifat ingin mengetahui segala fenomena yang ada, dengan melakukan kegiatan pengkajian secara ilmiah berbagai bidang ilmu, agar memperoleh kebenaran yang teruji sesuai dengan metode ilmu pengetahuan.
Dalam metode dan proses belajar mengajar yang digunakan dalam masyatakat ilmiah berbeda dengan proses yang dipakai oleh SLTP dan SLTA yang lebih bersifat arahan (courses). Dosen dan mahasiswa sebagai sivitas akademika dalam pengembangan ilmu pengetahuan lebih bersifat (discourses). Ciri-ciri masyarakat ilmiah Febrian (2000:11) mengatakan bahwa: “kritis, objektif, analitis, kreatif dan konstruktif, bebas dari prasangka, kesejawatan/kemitraan khususnya di antara sivitas akademika, dialogis, memiliki dan menjunjung tinggi norma dan susila akademik serta tradisi ilmiah, dinamis berorientasi ke masa depan dan sebagainya”.
Demikian juga dengan pembelajaran. Satu materi pembelajaran jika diajarkan oleh dosen/pengajar yang berbeda akan dirasakan oleh warga belajar dengan rasa yang berbeda pula. Jika warga belajar ditanya kenapa dosen A banyak disenangi oleh mahasiswa, dapat ditebak bahwa jawabannya akan berkisar pada cara mengajar dosen A yang menarik. Ilustrasi di atas menggambarkan arti penting strategi atau teknik atau cara dalam melakukan pekerjaan. Terlebih lagi bagi dosen di perguruan tinggi. Kenapa Perguruan Tinggi? Karena asumsinya bahwa mahasiswa adalah orang dewasa yang sudah mampu berpikir kritis, dan dapat membedakan mana yang baik dan tidak baik bagi mereka. Di samping itu mahasiswa juga dapat menggunakan otak mereka dalam belajar tanpa harus dipaksa. Berdasarkan alasan di atas, seorang dosen dapat menyampaikan materi perkuliahan dengan strategi yang bervariasi, dan tentunya melibatkan mahasiswa secara aktif. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mahasiswa mempunyai jiwa kemandirian dalam belajar dan kalau bisa diusahakan untuk menumbuhkan daya kreativitas sehingga mampu membuat inovasi-inovasi. Strategi pembelajaran ini disebut dengan Strategi Pembelajaran Aktif.
Pembelajaran aktif Zaini dkk. (2002:12) mengatakan bahwa:“suatu pembelajaran yang mengajak mahasiswa untuk belajar secara aktif”. Ketika mahasiswa belajar dengan aktif, berarti mereka yang  mendominasi aktivitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi kuliah, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam satu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan belajar aktif ini, mahasiswa diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya mahasiswa akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.
Belajar aktif itu sangat diperlukan oleh mahasiswa untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika mahasiswa pasif, atau hanya menerima dari dosen, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan. Oleh sebab itu diperlukan perangkat tertentu untuk dapat mengikuti informasi yang baru saja diterima dari dosen. Belajar aktif adalah salah satu cara untuk mengikat  informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak. Mengapa demikian? Karena salah satu faktor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah faktor kelemahan otak manusia itu sendiri. Belajar yang hanya mengandalkan indera pendengaran mempunyai beberapa kelemahan, padahal hasil belajar seharusnya disimpan sampai waktu yang lama. Kenyataan ini sesuai dengan kata-kata mutiara yang diberikan oleh seorang filosof kenamaan dari Cina, Konfusius (dalam Zaini dkk, 2002:13) mengatakan bahwa: “Apa yang saya dengar, saya lupa. Apa yang saya lihat, saya ingat. Apa yang saya lakukan, saya paham”.
Pemerintah Indonesia, dalam hal ini adalah Departemen Pendidikan Nasional,  memberlakukan Kurikulum Pendidikan Tinggi yang baru, yang selanjutnya disebut Kurikulum Pendidikan Tinggi Tahun 2000, dengan perubahan sangat mendasar, yakni pada paradigmanya. Kurikulum yang sekarang diberlakukan, kurikulum 1994, menganut paradigma content based approach, yaitu penguasaan materi perkuliahan menjadi prioritas utama. Sementara itu, Kurikulum tahun 2000 menganut paradigma competent based approach, yaitu kurikulum dikembangkan berdasarkan target kompetensi lulusan yang telah terlebih dahulu diformulasikan. Kurikulum 2000 juga dikembangkan menurut filosofi pendidikan yang direkomendasikan  UNESCO sebagai berikut: “ learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together”.
Untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan pasar bebas (globalisasi), yang berupa persaingan ketat dalam kualitas, semua perguruan tinggi di Indonesi perlu melakukan antisipasi serta tindakan konkret berkaitan dengan perubahan kurikulum di atas, sehingga tidak banyak ditinggalkan oleh masyarakat penggunanya, baik pendidikan akademik maupun pendidikan profesional.

III.  PEMBAHASAN
3.1  Strategi Pembelajaran Aktif
Sebagaimana ditegaskan oleh para teoritisi belajar seperti Crow and Crow (1963), Gagne (1965), dan Hilgard and Bower (1966) dalam Knowles (1990), inti proses belajar adalah perubahan pada diri individu dalam aspek-aspek pengetahuan, sikap, keterampilan, dan kebiasaan sebagai produk dan interaksinya dengan lingkungannya. Atau bila kita ambil  Kolb (1986), mengatakan bahwa: “belajar adalah proses membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman”. Dengan kata lain suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil bila dalam diri individu terbentuk pengetahuan, sikap, keterampilan, atau kebiasaan baru yang secara kualitatif lebih baik dari sebelumnya. Proses belajar dapat terjadi karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungan belajar secara mandiri atau sengaja dirancang.
Jenis model-model pembelajaran interaktif  Prof. Dr. Atwi Suparman, M.Sc. (1997:12) menjelaskan antara lain:
1)      Model berbagai informasi yang tujuannya menitikberatkan pada proses komunikasi dan diskusi melalui interaksi argumentatif yang sarat penalaran. Termasuk ke dalam rumpun ini Model Orientasi, Model Sidang Umum, Model Seminar, Model Konferensi Kerja, Model Simposium, Model forum, dan Model Panel.
2)      Model Belajar melalui pengalaman yang tujuannya menitikberatkan pada proses perlibatan dalam situasi yang memberi implikasi perubahan perilaku yang sarat nilai dan sikap sosial. Termasuk ke dalam rumpun ini Model Simulasi, Model Bermain Peran, Model Sajian Situasi, Model Kelompok Aplikasi, Model Sajian Konflik, Model Sindikat, dan Model Kelompok “T”.
3)      Model pemecahan masalah yang tujuannya menitikberatkan pada proses pengkajian dan pemecahan masalah melalui interaksi dialogis dalam situasi yang sarat penalaran induktif. Termasuk ke dalam rumpun ini Model Curah Pendapat, Model Riuh Bicara, Model Diskusi Bebas, Model Kelompok Okupasi, Model Kelompok Silang, Model Tutorial, Model Studi Kasus, dan Model Lokakarya.
Model kelompok orientasi Situmorang (1997:3) mengatakan bahwa: ”suatu model pembelajaran melalui pengenalan program dan lingkungan belajar. Dalam pembelajaran tersebut dibentuk kelompok siswa. Yang dimaksud program meliputi tujuan dan strategi pencapaiannya, sedangkan linmgkungan belajar meliputi sarana belajar, narasumber, sarana pendukung, dan termasuk di dalamnya tata tertib yang harus dipatuhi”. Ada tiga keterampilan dasar mengajar yang dibutuhkan pengajar yaitu keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya dan keterampilan mengolah kelompok kecil.
Model Sidang Umum Winataputra (1997:13) menjelaskan bahwa: “istilah teknis pembelajaran yang digunakan untuk menunjukkan suatu bentuk prosedural pengorganisasian interaksi belajar-mengajar yang melibatkan pengajar (guru, pelatih, tutor, dosen, instruktur, widyaiswara) dan peserta didik (petatar, mahasiswa, siswa)”. Model ini merupakan bentuk simulatif atau tiruan sidang umum atau dapat pula disebut Sidang Umum berskala pedagogis kelas. Model ini bertujuan agar peserta didik dapat menyajikan informasi, memimpin pertemuan, membahas masalah, dan merumuskan kesimpulan atau mengambil keputusan dalam pertemuan formal. Beberapa keterampilan dasar mengajar yang perlu dikuasi yaitu keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan mengelola kelas dan ketarampilan memberikan penguatan.
Model Seminar  Irawan (1997:25) menjelaskan bahwa: “suatu kegiatan belajar mengajar yang melibatkan sekelompok orang yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang mendalam, atau dianggap mempunyai pengalaman dan pengetahuan mendalam tentang suatu hal, dan membahas hal tersebut bersama-sama dengan tujuan agar setiap peserta dapat saling belajar dan berbagi pengalaman dengan rekannya”.
Model Konferensi Kerja Tubbs (dalam Wardiani, 1997:37) mengartikan: “sebagai rangkaian pertemuan yang membahas topik yang menjadi kepedulian berbagai orang atau kelompok peserta konferensi. Misalnya, wakil-wakil dari berbagai perguruan tinggi mengadakan konferensi untuk membahas kurikulum, pengabdian pada masyarakat, dan lain-lain”.
Model Simposium  Winataputra (1997:49) mengatakan: “merupakan bentuk pertemuan ilmiah yang resmi”. Dalam pertemuan ini para pembicara menyampaikan pandangan mengenai suatu topik dari berbagai visi. Dengan cara ini suatu topik permasalahan dibahas secara meluas sehingga masalah itu terurai secara interdisipliner. Misalnya masalah pendidikan dibahas dari visi sosial, ekonomi, psikologi, agama, dan teknologi. Model simposium merupakan kerangka pembelajaran yang memerankan peserta didik sebagai pakar dalam berbagai bidang untuk berlatih memecahkan suatu topik problematik. Peserta didik dikondisikan untuk mencoba berbagai ide mengenai sesuatu dari visi masing-masing.
Model Forum dipakai sebagai istilah teknis pembelajaran untuk menunjukkan suatu bentuk prosedural pengorganisasian interaksi belajar mengajar klasikal yang melibatkan pengajar dan peserta didik dalam konteks pembahasan masalah. Model ini dapat bersifat bentuk nyata (real) bila masalah yang dibahas memang benar-benar merupakan masalah yang dihadapi peserta didik.
Diskusi Panel merupakan kerangka konseptual yang digunakan oleh pengajar dalam mengorganisasikan interaksi belajar mengajar dalam konteks pembahasan masalah kontroversial di lingkungannya. Model ini dapat dilakukan dalam bentuk real  atau dalam bentuk simulatif, tergantung dari hakekat masalah yang dibahas. Dengan menggunakan model ini, peserta didik akan dapat menyampaikan informasi atau pendapat mengenai permasalahan yang kontroversial. Proses ini akan mengkondisikan  peserta didik untuk berpikir secara kritis dan bersikap toleran terhadap pendapat orang lain yang berbeda.
Model Simulasi diartikan sebagai kegiatan pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk meniru satu kegiatan atau pekerjaan yang dituntut dalam kehidupan sehari-hari, atau yang berkaitan dengan tugas yang akan menjadi tanggung jawabnya jika kelak siswa sudah bekerja. Misalnya, simulasi mengajar, simulasi menolong orang sakit, simulasi mengatasi perampokan, atau simulasi pengaturan ruang. Dengan demikian, simulasi sebagai salah satu model pembelajaran merupakan peniruan pekerjaan yang menuntut kemampuan tertentu dari siswa sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan. Simulasi bertujuan untuk memberi kesempatan berlatih menguasai keterampilan tertentu melalui situasi buatan sehingga siswa terbebas dari resiko pekerjaan berbahaya.
Bermain peran digunakan dalam pembelajaran dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih menumbuhkan kesadaran dan kepekaan sosial serta sikap positif, di samping menemukan alternatif pemecahan masalah. Dengan perkataan lain, melalui bermain peran, siswa diharapkan mampu memahami dan menghayati berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang merupakan tekanan utama dalam bermain peran yang membedakannya dari simulasi. Simulasi lebih menekankan pada pembentukan keterampilan, sedangkan pembentukan sikap dan nilai merupakan tujuan tambahan.
Model Sajian Situasi merupakan kerangka prosedural pembelajaran yang menggunakan simulasi sebagai pemicu (trigger) belajar. Materi yang disajikan bukanlah konsep yang abstrak secara verbal tetapi situasi yang dibuat mencerminkan suatu konsep. Peserta didik dikondisikan untuk dapat menangkap konsep itu  melalui proses analisis situasi yang disimulasikan.
Model Kelompok Aplikasi adalah satu model pembelajaran keterampilan melalui penerapan dalam situasi nyata. Istilah aplikasi sering digunakan untuk menggambarkan wujud nyata dari suatu konsep, prinsip, maupun prosedur. Misalnya sering kita mendengar orang mengatakan itu kan hanya konsep, tapi nyatanya bagaimana?
Model Kelompok Sindikat merupakan istilah teknis pembelajaran  yang digunakan untuk pengorganisasian interaksi belajar mengajar yang melibatkan pengajar, peserta didik, dan lingkungan belajar. Tujuannya adalah untuk melatih keterampilan peserta didik agar dapat menggali/mencari informasi, mendiskusikannya dengan sesama teman, meneliti kebenaran informasi, menyajikan informasi dalam laporan ilmiah, dan mengembangkan sikap bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri.
Kelompok “T” merupakan pendekatan yang dipinjam dari dunia psikologi dan manajemen. Melalui model ini, sekelompok orang ditempatkan dalam suatu situasi tertentu, sedemikian rupa, sehingga setiap orang dalam kelompok itu merasakan adanya suatu kesatuan yang utuh dengan anggota lain dalam kelompok. Dalam dunia manajemen, strategi ini sering dilakukan di berbagai organisasi karena dipercaya bahwa tujuan organisasi tidak bisa dicapai secara optimal apabila personal dalam organisasi tidak memiliki sinergi tim, tidak memiliki rasa kesatuan dengan rekan-rekan yang lain. Dalam dunia pendidikan dan pelatihan, model kelompok “T” digunakan dengan alasan relatif sama.
Model Curah Pendapat (brainstorming) Suciati (1977:153) menjelaskan bahwa: “ pada dasarnya merupakan model untuk mencari pemecahan masalah (problem solving), meskipun dapat juga digunakan untuk tujuan penyusunan program, manual kerja, dan sebagainya”. Model ini terdiri dua tahap, tahap identifikasi gagasan (curah pendapat) dan tahap evaluasi gagasan.
Model Riuh Bicara  Wardani (1977:161) menjelaskan bahwa: “terjemahan dari Buzz Group yang secara harfiah berarti “kumpulan lebah” yang berdengung”. Dengungan ini merupakan ciri khas dari buzz group. Di dalam pembelajaran, Kelompok Riuh Bicara adalah kelompok kecil yang terdiri dari 2-5 orang yang membahas satu isu atau masalah dalam waktu yang singkat.
Model Kelompok Diskusi Bebas adalah model  diskusi kelompok yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menentukan topik dan arah diskusi. Dengan demikian, kelompok bebas memilih topik bebas yang akan didiskusikan serta cara dan arah (tujuan) yang ingin dicapai dalam diskusi. Bahkan siswa dapat menentukan dengan siapa dia ingin berkelompok. Tujuan utama yang ingin dicapai melalui model ini agar siswa mampu mengembangkan nilai dan sikap melalui diskusi ide-ide baru. Di samping itu, pengembangan melalui diskusi bebas oleh mahasiswa juga diharapkan mampu mengembangkan ide-ide baru yang mungkin belum pernah mendapat kesempatan untuk diungkapkan.
Model Kelompok Okupasi  Situmorang (1997:183) menjelaskan bahwa: “satu model belajar mengajar yang menggunakan pendekatan proses berbagi pengalaman dalam bidang pekerjaan yang sama”. Mungkin kita yang memiliki profesi dan bidang pekerjaan yang sama pernah berkumpul untuk memecahkan satu masalah tertentu; kemudian setiap orang diminta mengutarakan pengalamannya yang berkisar dengan masalah tersebut. Proses berbagi pengalaman seperti inilah yang disebut dengan Model Kelompok Okupasi.
Model Diskusi Kelompok  Silang pada hakekatnya adalah diskusi secara umum. Diskusi adalah suatu kegiatan yang dihadiri dua orang atau lebih untuk berbagi ide dan pengalaman serta memperluas pengetahuan. Misalnya beberapa anggota kelompok diskusi cenderung diam dan hanya menjadi pendengar. Di sisi lain, satu dua anggota lainnya cenderung mendominasi seluruh pembahasan. Jelas keadaan ini tidak sehat (terutama bila diskusi ini dipakai dalam konteks belajar mengajar). Model ini diperkenalkan untuk menutupi beberapa kelemahan di atas.
Model Tutorial  Winataputra (dalam Suparman, 1997:205) mengatakan: “bahwa tutorial atau “tutoring” merupakan istilah teknis pembelajaran yang diartikan sebagai bimbingan dan bantuan belajar”. Tutorial dapat diberikan oleh pengajar atau sesama peserta didik (peer tutorial) atau orang lain sebagai tamu (guest tutorial) atau peserta didik yang lebih tinggi (cross age tutorial).
Model Studi Kasus sangat produktif digunakan untuk mengembangkan kemampuan/keterampilan memecahkan masalah. Model atau pendekatan ini sangat sering digunakan dalam pendidikan dan pelatihan, dalam bentuk yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Studi kasus merupakan satu bentuk simulasi untuk mempelajari kasus nyata atau kasus sekarang.
Model Lokakarya (workshop/bengkel kerja) adalah wahana atau forum sekumpulan orang bekerja bersama-sama untuk menghasilkan suatu karya. Apa yang dihasilkan dalam suatu lokakarya adalah sesuatu yang nyata (konkret), dapat diamati (observable), real (tangible). Karena itu, orientasi lokakarya adalah pada praktik, dan bukan pembahasan teoritis.

3.2  PERGURUAN TINGGI
Penyelenggaraan program pendidikan tinggi yang meliputi pendidikan akademis (S1, S2, S3) dan profesional (D1, D2, D3, D4) ditangani oleh Depdiknas c.q. Ditjen Dikti. Sementara itu, pendidikan profesi dan sertifikasi profesi (yang berupa lisensi) ditangani oleh asosiasi profesi yang pelaksanaannya dapat dilimpahkan ke Depdiknas. Misalnya, pendidikan kedokteran dan kedokteran spesialis akan ditangani olek Ikatan Kedokteran Indonesia (IDI) akan memilih anggota kolokium pendidikan profesi kedokteran yang pantas dan layak untuk menyelenggarakan pendidikan kedokteran dan dokter spesialis. Anggota kolokium adalah fakultas-fakultas kedokteran yang ada, baik negeri maupun swasta. Pendidikan kedokteran dan dokter spesialis bekerja sama dengan Departemen Kesehatan, karena fakultas kedokteran tidak mampu menyelenggarakan rumah sakit yang memerlukan biaya operasional yang sangat mahal. Praktik kedokteran harus didukung oleh fasilitas rumah sakit dan puskesmas.
Kurikulum pendidikan tinggi tahun 2000 dikembangkan berdasarkan paradigma kompetensi. Seperti halnya Prof. Dr. Suprodjo Pusposutardjo, M.Eng. (2002:31) mengatakan bahwa: “kompetensi adalah hak seseorang untuk melaksanakan suatu karya atas dasar pengakuan masyarakat terhadap kemampuan dan kepatutannya secara keilmuan, keterampilan, cara menyikapi pekerjaan, dan cara bermasyarakat dengan profesi yang bersangkutan”.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 60/1999 pasal 13 ayat (1) Penyelenggaraan pendidikan tinggi dilaksanakan dalam program-program studi atas dasar kurikulum yang disusun oleh masing-masing perguruan tinggi; dan ayat (2) Kurikulum sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada kurikulum yang berlaku secara nasional (Kurnas) dengan penjelasan bahwa Kurnas merupakan rambu-rambu untuk menjamin mutu dan kemampuan penyelenggaraan dalam bentuk proporsi terhadap kelompok mata kuliah. Pada saat Kurnas sudah terbentuk, penyelenggaraan Kurnas tersebut ditangani oleh program studi yang bersangkutan. Dalam hal ini, program studi akan menentukan kurikulum sesuai dengan kelompok-kelompok mata kuliah.
Kurikulum pendidikan tinggi 2000 didasarkan pada paradigma content based approach. Penggantian paradigma itu berimplikasi pada: (1) penguasaan aspek kognitif dari instrumental diubah ke bentuk kemampuan, (2) penguasaan aspek afektif dari pragmatis diubah ke komprehensif, dan (3) penguasaan aspek psikomotorik dari adaptif diubah ke profesional.
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 232/U/2000 menyebutkan kurikulum pendidikan tinggi terdiri dari kelompok –kelompok mata kuliah. Pilar pengelompokan ilmu terdiri atas: (1) Mata kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK), (2) Mata kuliah Keahlian Berkarya (MKB), (3) Mata kuliah Perilaku Berkarya (MPB), dan (4) Mata kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB), tanpa disertai dengan rincian mata kuliah dan beban SKS masing-masing. Mata kuliah Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata kuliah wajib sebagai landasan pengembangan kepribadian (MPK).
Kurikulum yang disusun berdasarkan KepMen No. 232/U/2000 adalah kurikulum yang dilaksanakan apda suatu program studi yang ditempuh oleh peserta didik yang setelah lulus dapat mencari pekerjaan yang tidak memerlukan sertifikasi. Namun bagi lulusan yang ingin bekerja pada lembaga profesi mereka harus menempuh pendidikan profesi dan  ujian profesi. Misalnya sarjana ekonomi bila ingin bekerja sebagai akuntan, mereka harus menempuh pendidikan akuntan dan ujian akuntan yang diselenggarakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
Penyelenggaraan perguruan tinggi berkaitan dengan aspek kultural dan aspek struktural. Permasalahan kultural meliputi demokratisasi equility dan equality antar bidang ilmu, kesempatan belajar, mutu, akses sumber daya, penyelenggaraan pendidikan, dan lain-lain, relevansi pendidikan, akuntabilitas, profesionalisme dan efisiensi ketergunaan yang rendah, adanya kecenderungan uniformitas, dan ketergantungan pada pemerintah sehingga mengurangi kebebasan ilmu dan mimbar akademis, kejujuran dan ketulusan penyelenggaraan. Sedangkan permasalahan struktural penyelenggaraan pendidikan meliputi tatanan SDM, pendidik, lingkungan akademis, sistem pendanaan, tatanan lalu lintas pertukaran mahasiswa, tatanan keserasian penyelenggaraan pendidikan antar lembaga, dan ketersediaan fasilitas. Sejalan dengan hal di atas menurut PP No. 25/2000 pasal (3) butir 11 memuat, kewenangan pemerintah di bidang pendidikan dan kebudayaan; penetapan standar materi pelajaran pokok kurikulum yang berlaku secara nasional; penetapan persyaratan pedoman pembiayaan penyelenggaraan pendidikan; penetapan persyaratan penerimaan, perpindahan dan sertifikasi mahasiswa; dan pengaturan dan pengembangan pendidikan tinggi, pendidikan jarak jauh, serta pengaturan sekolah (perguruan tinggi) internasional.

IV.  KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
4.1  .Strategi pembelajaran aktif mengajak mahasiswa untuk belajar lebih aktif. Ketika mahasiswa belajar secara aktif, berarti mereka yang mendominasi aktivitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi kuliah, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam satu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan belajar aktif ini, mahasiswa diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya mahasiswa akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.
4.2  Strategi menilai proses pembelajaran meliputi: (1) penilaian peengetahuan awal, ingatan dan pemahaman, (2) penilaian kecakapan dalam berpikir analisis kritis, (3) penilaian kecakapan dalam berpikir sintesis kreatif, (4) penilaian dalam memecahkan masalah, dan (5) penilaian kecakapan dalam aplikasi dan performasi.
4.3  Pendidikan kita seharusnya tidak disibukkan dengan kurikulum akan tetapi disibukkan kepada pemberdayaan siswa dengan cara; (1) tumbuhkan, (2) alami, (3) namai, (4) demontrasikan, (5) ulangi, dan (6) rayakan.
4.4  Kurikulum yang dilaksanakan hendaknya  menggunakan pilar belajar melalui: (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to live together, dan (4) learning to be diharapkan dapat membawa siswa pada tingkat perkembangan yang integral, untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Diirektorat Pendidikan Tinggi. 1999. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi dan peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum.
Djahiri, A. Kosasih. 2001. Model Pembelajaran Portofolio Terpadu dan Utuh. CICED.
Feebrian, Jack. 2000. Buku Saku tentang Pendidikan Tinggi di Indonesia. Bandung: Informatika.
Prrabowo, Andi Haris dan Siti Zuhriah Ariatmi (ed.). 2002. Paradigma Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Tahun 2000. Surakarta:  Muhammadiah University Press.
Roooijakkers, Ad. 1995. Cara Belajar di Perguruan Tinggi: Beberapa Petunjuk Praktis.  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Suuparman, Atwi. (ed.). 1997. Model-Model Pembelajaran Interaktif. Jakarta: STIA LAN Press.
Zaaini, Hisyam., Bermawy Munthe, dan Sekar ayu Aryani. 2002. Strategi Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: CTSD.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Banana Smoothie Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: