Abang Rooy Leutuan

Januari 22, 2010

ILMU MENURUT PERSPEKTIF ISLAM DAN ILMUWAN BARAT

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 1:26 pm

ILMU MENURUT PERSPEKTIF ISLAM DAN ILMUWAN BARAT

pembahasan

Dalam memehami arti daripada ilmu disini kita sering bingung dalam membedakan arti ilmu menurut Ilmuwan Barat dengan ilmuwan muslim atau menurut perspektif Islam. Disini akan saya jelaskan perbedaan antara ilmu menurut Ilmuwan Barat dengan ilmu menurut perspektif Islam.
Ilmu Menurut Konsep Islam
Dalam Al-Qur’an, kata ‘ilm dan kata jadinya disebut kurang lebih 800 kali. Al-qordhowi dalam penelitianya terhadap kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li al-fazh Al-Qur’an al-karim (lihat Fuat Abdul Baqi, tt:469-481) melaporkan, bahwa  kata ‘ilm(ilmu) dalam Al-Qur’an baik dalam bentuknnya yang definitif (ma’rifat) maupun indenitif (nakirah) terdapat 80 kali, sedangkan kata ‘allama, ya’lamu, ‘alim, dan seterusnnya disebut beratus-ratus kali. Dalam kitab Al-Jami’ al-shahih karya bukahori terdapat 102 Hadist.
Ilmu merupakan petunjuk bagi manysia untuk mengelolah untuk menguasai jagad raya ini. Manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini tidak akan mungkin mampu menngolahnya kecuali denngan ilmu. Dengan ilmu mausia seharusnyan bisa mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena telah jelas dalam Hadis Nabi “al-‘imu nuuruun” ilmu adalah cahaya bagi siapa saja yang memliki dan memanfaatkanya dengan baik.
Al-Qudrawi (1989: 99-100), mengatakan bahwa ilmu yang wajib dipelajari setiap muslim adalah ilmu yang diperlukan dan yanng dituntut oleh agama dan dunianya. Persoalan apakah jenis ilmunya, adalah hal baru yang tidak membawa segi ibadah. Yang penting sesungguhnya adalah esensinnya, label dan nama bukanlah persoalan. Ghulsyayani (1991: 41-46) dapat menunjukkan, bahwa konsep ilmu secara mutlak muncul dalam maknanya yang generik dengan bukti Al-Qu’an dan As-Sunnah sebagai berikut:
“katakanlah: adakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak menngetahui?” (QS. Al-Zumar:9)
Pemikir Islam abad dua puluh, khususnya setelah Seminar Internasional Pendidikan Islam di Makkah pada tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu dalam dua kategori:
1.    Ilmu abadi (perennial knowladge) yang berdasarka wahyu dan yang tertera dalam Al-Qur’an dan Al-hadist serta segala yang dapat diambil dari keduanya.
2.    Ilmu yang dicari (inquired knowladge) termasuk sains kealaman dan yerapanya (teknologi) yang dapat berkembanng secara kualitatif (Quraish Sihab, 1992: 62-63).
Ilmu Islam dalam perkembanngan Modern sekarang dapat dikelompokan menjadi dua kelompok besar: kelompok Dasar dan kelompok Cabang. Kelompok dasar mencakup: tafsir, hadist, aqidah/ilmu kalam(teologi), filsafat islam, tasawuf, tarekat, perbandingan agama dan erkembangan modern (pembaruan dalam islam). Kelompok cabanng terdiri dari ajaran yang mengatur masyarakat yang menyangku masalah ilmu fiqih, peradaban dalam islam, bahasa dan sastra, pengajaran Islam kepada anak didik, penyiaran islam, dll.
Metode Memperoleh Ilmu dalam Islam
Amin Abdulllah (1992:7) dalam mencarai epistimologi islam lebih melihat adanya kecenderungan para pemikir yang idealis dan rasionalis, sebagaimana yang ia kaji dalam pemikiran As-Sardar dan Ghulsyani. Berpadunya kajian metafiska dan episimologi dalam Islam yang ideal holistik kelemahanya menurut Amin kurang tajam dalam melakukan kajian dalam segi-segi khusus, karena dominasi kalam dan sufisme terlalu kuat sehingga epistimologi tidak bisa berkembang secara alami. Dan epistimolog yang diangunya memenangkan epistimologi Plato? Platonisme yang rasionalistik-ormatif seperti yang nampak dalam dominasi kalam dan sufisme, daripada empirisme-historis Aristoteles. Namun disini Islam tidak berkabung hanya pada rasionalisme dan empirisme, tapi juga mengakui instuisi dan wahyu. Intuisi sebagai fakultas kebenaran langsung dari Tuhan dalam bentuk ilham, khasaf yang tanpa deduksi, spekulasi dan obserfasi. Pengetahuan ini salam mistisisme Islam disebut dengan “ilm al-dhurury atau ‘ilm al-Laduny yang kedudukanya sedikit di bawah wahyu. Sedangkan rasionalistik adalah pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran secara rasio atau akal. Sedangkan empirisme dalah pengetahuan yang bersumber dari penelitian tehadap objek (fakta). Wahyu adalah pengetahuan yang diberikan kepada seluruh manusia yang disampaikan melalui Nabi, pengetahuan wahyu ini dapat diperoleh dengan menggunakan keimanan, seperti halnya penggetahuan mengenai adannya malaikat, surga, neraka, hisab kubur dl. Pengetauan ini hanya mustahil akan diperoleh tanpa adanya keimanan.
Ilmu Menurut Para Ilmuwan Barat
Kata “Ilmu“ merupakan terjemahan dari “science”,menggunakan metode-metode yang secara etimologis berasal dari bahasa latin “scinre” artinya “to know”. Dalam arti yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan objektif.
Menurut Harold H Titua, ilmu diartikan sebagai common sense yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan trhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode obserfasi, yang diteliti dan kritis.
Prof. Dr. M.J. langafeld, Guru Besar pada Rijik Universiteit Utrectht menyatakan seabagai berikt:“pengetahuan ialah kesatuan subjek yang mengetahui dan obyek yang diketahui. Satu kesatuan dalam mana objeek itu Di pandang oleh subyek sebagai diketahuinnya”.
Prof. Dr. Sikun menulis “objek ilmu pengetahuan ialah dunia fenomenal dan metode pendekatanya ialah berdasarkan pengalaman (exsperience) dengan menggunakan berbagai cara seperti observasi, eksperimeen survei, study kasus, dan sebagainya pengalaman itu diolah oleh pikiran atas dasar hukum logika yang tertib. Data yang dikumpulkan diolah dengan cara analisis, induktif kemudian ditentukan relasi-relasi antara data-data, diantarannya relasi kausalitas. Dan itu disusun melalui sistem tertentu yang merupakan satu keseluruha yang teritregatif.keseluruhan integratuf ini disebut ilmu”.
Dari beberapa pengertian “ilmu” diatas dapat digambarkan lebih jelas bahwa ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang bersal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, namun dilanjutkan dengan sesuatu pemikran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
Cara Menperoleh Ilmu Menurut Ilmuwan Barat
Secara garis besar terdapat dua aliran pokok epistimologi, yaitu rasionalisme dan empirisme, yang pada giliranya kemudian muncul beberapa isme lain, mislnya: rasinalisme kritis (kritisisme), (fenomenelisme), intuisionisme, positifismemdan seterusnya. Rasionalisme adalah suatu aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peran akal atau ide, sementara peran indra dinomerduakan. Pemikiran para filsuf pada dasarnya tidak lepas dari orientasi ini: rasio dan indra.dari rasio kemudian melahirkan rasionalisme yang berpijak pada dasar ontologik idealisme atau spiritualisme; dan dari indra lalu melahirkan empirisme yang berpijak pada dasar dan ontologik rasionalisme.
Selan metode rasionalisme adalah metode empirisme yang bersifat korespondensi, hasil hubungan antara subjek dan objek melalui pengalaman, sehingga mudah dibuktikan dan di uji. Kebenaran didapat dari pengalaman melalui proses induktif, dari suatu benda ditarik kesimpulan. Menuru Locke pengalaman ada dua macam: pengalaman lahiriah dan pengalaman batiniah yang kedudukannya saling menjalin. Empirisme Locke dikembangkan oleh Comte, orang filsuf berkebangsaan Perancis dengan teori positifismenya. Menurut positifisme, yang ada adalah tampak, segala gejala di tolak. Beda empirisme dangan positifisme adalah keduanya mengutamakan pengalaman, tetapi positifisme hanya membatasi diri pada pengalaman objektif, sementara empirisme menerima pengalaman subjektif (batiniah) (Harun, 1990: 109-110).

ANALISA
Perbedaan Ilmu Menurut Perspektif Islam Dengan Ilmuwan Barat
Perbedaan Ilmu menurut perspekti Islam dengan ilmuwan Barat adalah: Ilmu menurut perspektif islam memiliki peran instrumen atau sarana untuk mencapai tujuan Islam, tujuan ilmu disini sama denngan tujuan dari agama Islam, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan dikatakan bahwa orang yang memiliki ilmu adalah orang yang mencari hakikat (kebenaran).dalam Islam ilmu sangat berkaitan erat sekali dangan iman, iman snagt esensial, ilmu tanpa iman tak akan produktif, dan akan berbahaya. Dan cara memperolahnya pun sedikit berbeda dengan apa yang ditetapkan oleh Ilmuan Barat. Dalam Islam ilmu ada yang harus diperoleh melalui intuisi dan wahyu. Sedangkan menurut ilmuwan barat ilmu adalah suatu pengetahuan yang bersal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode, dengan tujuan mengembangkan dan memberi makan terhadap dunia faktual. Metode memperolah ilmu menurut ilmuwan Barat tidak ada yang menggunakan intuisi dan wahyu, karena Ilmu dalam perspektif Barat tidak ada kaitannya dengan Agama, karena Agama dianggap tidak mendukung pertumbuhan ilmu dan cara berfikir ilmiah.

REFERENSI
Salam, Burhanuddin. 2005. Pengantar Filasafat. Jakarta : Pt Bumi Askara
Zainuddin, M. 2006. Filsafat Ilmu Perspektif pemikiran Islam. Jakarta. Perpustakaan Nasional: katalog Dalam Terbitan

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Banana Smoothie Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: