Abang Rooy Leutuan

Januari 22, 2010

FILSAFAT ILMU MENURUT PERSPEKTIF ISLAM DAN BARAT

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 1:24 pm

FILSAFAT ILMU
MENURUT  PERSPEKTIF ISLAM DAN BARAT
oleh: Harun Al Rasyid Leutuan
ILMU DALAM PRESPEKTIF ISLAM
Idealnya kehidupan dan prilaku umat Islam merupakan perwujudan dari keagungan dan kebenaran ajaran Islam. Namun dalam kenyataannya terdapat jurang yang lebar antara keduanya. Oleh karena itu kita tidak bisa menilai Islam dari kehidupan dan prestasi para penganutnya. Demikian pula ketika kita hendak melihat bagaimana pandangan Islam tentang ilmu, tidak cukup hanya dengan menilai prestasi umat Islam, apalagi umat Islam saat ini yang sedang terjajah secara keilmuan. Kita harus merujuk langsung ke dua sumber utamanya Islam, yakni Al Qur’an dan Al Hadist.
Penyebutan kata ilmu yang berulang ulang dalam Al – Qur’an menunjukan kepada kita bahwa ilmu merupakan salah satu konsep kunci dalam Islam sekaligus menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap ilmu. Berikut kita petik beberapa ayat Al Qur’an yang berisi dorongan kepada umat Islam untuk menguasai ilmu:
Katakanlah : “ Samakah orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu ? Hanya orang-orang yang mengerti yang dapat memikirkan (QS 39;9).
Selain dalam Al Qur’an, dorongan mencari ilmu kita dapatkan dalam serangkaian hadist Nabi saw sebagai berikut : Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina ; Carilah ilmu sejak dari buaian ibu sampai liang lahat (sepanjang hayat); Barang siapa wafat sedang mengembangkan ilmu untuk menghidupkan Islam, maka ia lebih berhak dari yang lain; Para ulama itu adalah pewaris nabi; Pada hari qiamat ditimbanglah tinta ulama dengan darah syuhada, maka tinta ulama dilebihkan dari darah syuhada.

ILMU MENURUT ISLAM (ONTOLOGIS)
Secara istilah ontologi adalah ilmu yang memperlajari tenatng hakikat yang ada (ultimate reality) baik jasmani/konkret maupun rohani/abstrak. Didalam pemahaman ontologi ditemukan pandangan-pandangan seperti monoisme yang menyatakan bahwa hakikat yang asal itu hanya satu. Cabang dari monoisme ini adalah materialisme yang berpandangan bahwa hakikat yang asal adalah satu yaitu dari materi, sementara cabang lainnya yaitu idealisme yang berpandangan bahwa segala yang asal itu berasal dari ruh. Pandangan lainnya adalah dualisme yang menyatakan bahwa segala sesuatu berasal dari dua unsur yaitu materi dan ruh, jasmani dan rohani. Pandangan lainnya adalah pluralisme yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas yaitu unsur tanah, air, api dan udara. Ada juga faham nihilisme yang nampaknya frustrasi menghadapi relaistas. Realistas harus dinyatakan tunggal dan banyak, terbatas dan takterbatas, dicipta dan takdicipta, semuanya serna kontradiksi, sehingga lebih baik tidak menyatakan apa-apa tentang realistas. Pandangan terakhir yang dikemukan oleh DR. Amsul Bakhtiar M.A adalah agnostisisme yang merupakan pemahaman yang menolak realitas mutlak yang bersifat trancendental.

ILMU MENURUT ISLAM (EPISTEMOLOGIS)
Epistemologi atau teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung-jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal, indera dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori ilmu pengetahuan diantaranya metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatif, dan metode dialektis. Dengan kamajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, Gregory Bateson menilai kemajuan ini cenderung memperbudak manusia akibat dari kesalahan epistemologi barat dan ini harus diluruskan.
Upaya pelurusan kekeliruan epistemologi barat dapat dilakukan dengan memanfaatkan aksiologi. Aksiologi mempunyai banyak definisi, salah satu diantaranya dikemukakan oleh Bramel bahwa aksiologi terdiri dari tiga bagian yaitu moral conduct, esthetic expression dan sosio-political life. Aksiologi harus membatasi kenetralan tanpa batas terhadap ilmu pengetahuan, dalam arti bahwa kenetralan ilmu pngetahuan hanya sebatas metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan pada nilai-nilai moral.
CARA MENDAPATKAN ILMU (ONTOLOGIS DAN EPISTEMOLOGIS)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendapatkan pengetahuan ialah:
1.    Batasan kajian ilmu : secara ontologis ilmu membatasi pada Pengkajian objek yang berada dalam lingkup manusia tidak dapat mengkaji daerah yang bersifat transcendental.
2.    Cara menyusun pengetahuan : untuk mendapatkan pengetahuan menjadi ilmu diperlukan cara untuk menyusunnya yaitu dengan cara menggunakan metode ilmiah.
3.    Diperlukan landasan yang sesuai dengan ontologis dan aksiologis ilmu itu sendiri
4.    Penjelasan diarahkan pada deskripsi mengenai hubungan berbagai faktor yang terikat dalam suatu konstelasi penyebab timbulnya suatu gejala dan proses terjadinya.
5.    Metode ilmiah harus bersifat sistematik dan eksplisit
6.    Metode ilmiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak tergolong pada kelompok ilmu tersebut.
7.    Ilmu mencoba mencari penjelasan mengenai alam dan menjadikan kesimpulan yang bersifat umum dan impersonal.
8.    Karakteristik yang menonjol kerangka pemikiran teoritis :
a. Ilmu eksakta : deduktif, rasio, kuantitatif
b. Ilmu social : induktif, empiris, kualitatif
ILMU MENURUT ILMUWAN BARAT
Sebagaimana pendapat umum, bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang kebijaksanaan, prinsip-prinsip mencari kebenaran, atau berpikir rasional-logis, mendalam dan bebas tidak terikat dengan tradisi dan dogma agama untuk memperoleh kebenaran. Ilmu adalah bagian dari pengetahuan. Ilmu berusaha memahami alam sebagaimana adanya, dan hasil kegiatan keilmuan merupakan alat untuk meramalkan dan mengendalikan gejala-gejala alam. Pengetahuan keilmuan merupakan sari penjelasan mengenai alam yang bersifat subjektif dan berusaha memberikan makna sepenuhnya mengenai objek yang diungkapnya.
Karena pengetahuan ilmiah merupakan a higher level of knowledge dalam perangkat-perangkat kita sehari-hari, maka filsafat ilmu tidak dapat dipisahkan dari filsafat pengetahuan. Objek bagi kedua cabang ilmu itu sering-sering tumpang tindih (koento Wibisono, 1988:7)

CARA MENDAPATKAN ILMU MENURUT ILMUWAN BARAT
Cara  memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan: pertama, kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengna pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun. Kedua, menjabarkan hipotesis yang merupakan dedukasi dari kerangka pemikiran tersebut. Ketiga, melakukan verifikasi terhadap hipotesis tersebut untuk menguji kebenaran pernyataannya secara factual.
Pemikiran para filsuf pada dasarnya tidak lepas dari orientasi ini: rasio dan indra. Dari rasio kemudian melahirkan rasionalisme yang berpijak pada dasar ontologik idealisme atau spiritualisme. Dan dari indra lalu melahirkan empirisme yang berpijak pada dasar ontologik materialisme.
Kebenaran yang diperoleh empirisme bersifat korespondensi, hasil hubungan antara subjek dan objek melalui pengalaman, sehingga mudah dibuktikan dan diuji. Kebenaran didapat dari pengalaman melalui proses induktif, dari suatu benda lalu ditarik kesimpulannya. Sedangkan penganut positivisme ilmu pengatahuan hanya mengakui satu kebenaran, yaitu kebenaran indrawi, yang teramati dan yang terukur, yang dapat diulang dan dibuktikan oleh siapapun. Di luar itu tidak diakui sebagai kebenaran.

ANALISIS

Dalam perspektif islam, ilmu memiliki kedudukan sebagai bagian dari agama dan berfungsi sebagai petunjuk kepada kebenaran, untuk memperoleh kemuliaan di sisi Allah dan pembebas dari kebodoha.Berkembangnya ilmu pengetahuan Barat sekarang yang dapat melahirkan teknologi yang sangat canggih, tak lain adalah berkat tradisi keilmuan yang telah berkembang kurang lebih tiga belas abad silam di tangan para pakar Muslim kenamaan.
Sebenarnya ilmu-ilmu modern Barat pun masih bisa dipakai sepanjang relevan dengan nilai Islam. Oleh sebab itu yang harus ditinjau kembali adalah landasan falsafahnya, yang menyangkut tujuan dan kegunaannya.
Terdapat perbedaan dalam merespon teori dan sains Barat. Pertama, kelompok yang menganggap bahwa sains modern bersifat universal dan netral dan semua sains tersebut dapat diketemukan dalam Al-Qur’an’. Banyak ulama’ sekarang yang tidak setuju dengan adanya konsep sains dalam Al-Qur’an dan berpendapat, bahwa Al-Qur’an itu kitab petunjuk di dunia maupun di akhirat, bukan ensiklopedi sains. Mencocok-cocokkan Al-Qur’an dengan teori-teori sains yang tidak mapan (selalu berubah-ubah) adalah sangat mengancam eksistensi Al-Qur’an itu sendiri (Ghulsyani, 1991:141).
Barat memandang tentang ilmu hanya berdasarkan akal pikiran dan panca indra. Sedangkan dalam cara pandang islam ilmu dari segi pengetahuan indrawi, naluri, rasio,dan wahyu.

DAFTAR PUSTAKA

DR.Amsal Bakhtiar 2005. Filsafat Ilmu, Rajawali Pers.
Jujun S. Suriasumantri. 1990. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
www. Google.com
Zainudin, M. 2006. Filsafat Ilmu, Jakarta: Lintas

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Banana Smoothie Theme. Buat website atau blog gratis di WordPress,com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: