Abang Rooy Leutuan

Januari 26, 2010

Epistemologi Al-Irfani

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 8:32 am

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Epistemologi atau teori tentang ilmu menjadi perhatian utama para cendekiawan muslim dimasa silam. Mereka sepenuhnya menyadari tentang pentingnya mendefinisikan ilmu untuk mencari klarifikasi, mengidentifikai skop dan limitasinya, menjelaskan sumber-sumber,menerangkan metode-metodenya, serta mengklarifikasikannya kedalam berbagai disiplin, menjelaskan hierarki dan interelasinya. Berbagai upaya yang terus menerus dalam mengetengahkan eksposisi ilmu terinspirasi oleh keyakinan yang kuat terhadap doktrin ajaran islam yang paling fundamental, yaitu tauhid.

    1. Rumusan masalah

  1. Apa pengertian Al-Irfani?

  2. Apa sumber yang di gunakan dalam epistimologi irfani?

  3. Bagaimana perkembangan epistemologi Al-Irfani?

  4. Metode (proses dan prosedur) apa yang di gunakan dalm epistimologi irfan?

  5. Apa konsep dari metode irfani?

    1. Tujuan

  1. Untuk mengetahui pengertian epistemologi Al-Irfani.

  2. Untuk mengetahui sumber yang di gunakan dalam epistimologi irfani.

  3. Untuk mengetahui perkembangan epistemologi Al-Irfani.

  4. Untuk mengetahui (proses dan prosedur) yang di gunakan dalam metode irfani.

  5. Untuk mengetahui konsep dari metode irfani.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Al-Irfani

Mengerti makna irfani berasal dari kata irfan yang dalam bahasa arab merupakan bentuk dasar (masdar) dari kata arafa yang semakna dengan ma’rifat. Dimana objek pengalaman atau pengetahuan yang di peroleh langsung oleh objek pengetahuan. Pengetahuan irfani tidak di dasarkan atas teks seperti bayani tetapi pada tasauf, tersikapnya rahasia-raahasia dari tuhan, singkatnya pengertian irfani adalah model metodologi berfikir yang didasarkan atas pendekatan dan pengalaman langsung(direct exprience) atas realitas spritual keagamaan.

Metode irfani adalah model metodologi yang didasarkan atas pendekatan dan pengalaman langsung atas realitas spritual keagamaan, berbeda dengan sasaran bayani yang bersifat eksoteris, sasaran bidik irfani adalah bagian esoteris(batin) teks, karena itu rasio berperan sebagai alat untuk menjelaskan berbagai pengalaman spritual tersebut.

Menurut sejarahnya, epistimologi ini telah ada baik di persia ataupun yunani jauh sebelumnya datangnya teks-teks keagamaan baik yahudi, kristen maupun islam. Sementara dalam tradisi (sufisme) islam, ia baru berkembang sekuitar abad ke 3H/9M dan abad 4H/10M, seiring dengan berkembangnya doktrin ma”rifah yang di yakini sebagai pengetahuan batin, terutama tentang tuhan. Istilah tersebut digunakan untuk membedakan antara pengetahuan yanag di peroleh oleh indra (sense al-hisst) dan akal atau keduanya dengan pengetahuan yang di peroleh melalui kasyf (ketersingkapan) Ilham, iyan atau isyaraq. Di kalangan mereka irfan di mengerti sebagai ketersingkapan lewat pengalaman inditiuitif akibat persatuan antara yang mengetahui dan yang di ketahui,(ittihd al-arif wa al-ma”ruf)yang telah di anggap sebagai pengetahuan tinggi, sedangkan para ahli- al-irfan mempermudahnya menjadi pembicaraannya mengenai al-naql dan al- tauzif, dan upaya menyikap wacana qur’ani dan memperluas ibarahnya untuk memperbanyak makna, jadi pendekatan irfani adalah suatu pendekatan yang di pergunakan dalm kajian pemikiran islam oleh para mutasawwifun dan arfun untuk mengeluarakan makna batin lafz dan ibarah, dia juga merupakan istimbad al- ma’rifah, al-qalbiyah dari al-qur’an,diman pendekatan pemahaman yang bertumpu pada instrumen pengalaman batin,qalb,wijban,basirah dan intuisi.

Irfan dari kata dasar bahasa Arab ‘raafa yang berarti pengetahuan. Tetapi irfani berbeda dengan ilmu. Irfan berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh secara langsung lewat pengalaman (experimence), sedang ilmu menunjukkan pada pengetahuan yang diperoleh lewat transformasi (naql) atau rasionalitas (aql). Karena itu, secara terminologis, irfan bias diartikan sebagai pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran hakekat oleh Tuhan kepada hamba-Nya (kasyf) setelah adanya ruhani (riyadlah) yang dilakukan atas dasar cinta (love). Sasaran bidik irfani adalah aspek esoteric syareat.

2.2. Sumber Asal Irfani

Para ahli berbeda pendapat tentang asal sumber irfani. Pertama menganggap bahwa irfan islam berasal dari sumber Persia dan Majusi, seperti yang disampaikan Dozy dan Thoulk. Alasannya, sejumlah besar orang-orang majusi di Iran utara tetap memeluk agama mereka setelah penaklukan islam dan banyak tokoh sufi yang berasal dari daerah Khurasan. Dan pendiri aliran-aliran sufi berasal dari kelompok orang Majusi, seperti Ma’ruf Al-Kharki (w. 815 M) dan Bayazid Busthami (w.877 M).

Kedua,irfan berasal dari sumber-sumber Kristen, seperti dikatakan Von Kramer, Ignaz,Goldziher,Nicholson,Asin Palacios dan O’lery. Alasanya,(1) Adanya interaksi antara orang-orang arab dan kaum nasrani pada masa jahiliyah maupun zaman islam. (2) Adanya segi-segi kesamaan antara kehidupan para Sufis, dalam soal ajaran, tata cara melatih jiwa(riyadlah) dan mengasing diri(khalwat),

Ketiga, irfan ditimba dari India, seperti pendapat horten dan hortman. Alasanya, (1) kemunculan dan penyebaran irfan (tasawuf)pertama kali adalah khurasan. (2) kebanyakan dari para sufi angkatan pertama bukan dari kalangan arab, seperti ibrahim ibn adham (w.782 M), al-balkh (w.810 M) dan yahya ibn muadz (w.871 M). (3) sebelum masa islam, Turkistan adalah pusat agama dan kebudayaan timur serta barat. Mereka memberi warna mistissismelama ketika memeluk islam. (4) konsep dan metode tasawuf seperti keluasan hati dan pemakaian tasbih adalah praktek-praktek dari India.

Keempat, irfan beraal dari sumber-sumber yunani,khususnya neo-platonisme dan hermes, seperti disampaikan O’leary dan Nicholson. Alasannya, “theology aristoteles” merupakan paduan antara system porphyry dan proclus telah dikenal baik dalam filsafat islam. Namun ,menurut Dzun Al-Nun al-Misri (796-861 M),irfan diadopsi dari ajaran hermes, sedang pengambilan dari teks-teks Al-Qu’ran sebagai contoh, istilah maqamat yang secara Lafdz dan maknawi diambil dari Al-Qur’an (QS. Al-Fushilat 164).

Dengan demikian, irfan sesungguhnya berasal dari sumber islam sendiri, tetapi dalam perkembangannya kemudian di pengaruhi oleh factor luar, yaitu yuinani, Kristen, hindu atau yang lain. Beberapa tokoh orientalis seperti Nicholson,Louis Mssignon,Spencer Trimingham juga menyatakan hal yang sama tentang sumber-sumber asal irfan atau sufisme islam.

2.3. Perkembangan Irfani

Perkembangan irfani secara umum bisa dibagi dalam lima fase, yaitu:

  1. fase pembibitan, terjadi pada abad pertama hijriyah. Pada masa ini disebut irfan baru dalam bentuk laku zuhud (askestisme). Karakter askestisme periode ini adalah (1) berdasarkan ajaran al-quran dan sunnah, yakni m,enjauhi hal-hal duniawi demi meraih pahala dan menjaga diri dari neraka. (2) bersifat praktis, tanpa ada perhatian untuk menyusun teori atas praktek-praktek yang dilakukan. (3) motifasi zuhudnya adalah rasa takut, yang muncul dari landasan amal keagamaan secara sungguh-sungguh.

  2. fase kelahiran, terjadi pada abad kedua hijriyah. Pada masa ini, beberapa tokoh sufisme mulai berbicara terbuka tentang irfan. Karya-karya tentang irfan juga mulai ditulis, diawali ri’ayat huquq Allah karya hasan basri (642-728 M) yang dianggap sebagai tulisan pertama tentang irfani. Laku askestisme juga berubah. Jika awalnya dilakukan atas dasar takut dan mengharap pahala, dalam periode ini, ditangan Robiah Adawiyah (w.801 M), Zuhud dilakukan atas dasar cinta kepada tuhan, bebas dari rasa takut atau harapan mendapat pahala. Menurut Nicholson, zuhud ini adalah model prilaku irfan yang paling dini atau irfan periode awal.

  3. fase pertumbuhan, terjadi abad 3-4 hijruyah. Sejak awal abad ke-3 H, para tokoh sufisme mulai menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku, sehingga sufisme menjadi ilmu moral keagamaan (akhlaq). Pembahasan masalah ini lebih lanjut mendorong mereka untuk membahas soal pengetahuan intutif berikut sarana dan metodenya, tentang dzat Tuhan dan hubungan-Nya dengan manusia atau hubungan manusia dengan-Nya. Dengan demikian dengan fase ini, irfan telah mengkaji soal moral, tingkah laku dan peningkatannya. Pengenalan intuitif langsung pada tuhan, kefanaan dalam realitas mutlak. Pencapaian kebahagiaan, kecenderungan umum fase ini masih pada psiko-moral, belum pada tingkat metafisis. Ide-ide metafisis yang belum terungkap secara jelas. Karena itu, Nicholson menyatakan dari segi teoritis dan praktis, kaum sufis fase ini telah merancang suatu system yang sempurna tentang irfan. Akan tetapi, karena bukan filosof, mereka sedikit menaruh perhatian terhadap problem-problem metafisika.

  4. fase puncak, terjadi pada abad ke-5 H. Pada masa periode ini irfan mencapai masa gemilang. Banyak pribadi besar yang lahir dan menulis tentang irfan, antara lain sai abu khair (w.1048 M) yang menulis ruba’iyat, ibn utsman al- hujwiri (w.1077 M) menulis kasyf al-mahjub, dan Abdullah al-anshori (w.1088 M) menulis manazil al sa’irin, salah satu terpenting dalam irfan. Puncaknya al ghazali (w. 1111 M) menulis ihya’ ulum al-Din yang menyelaraskan tasawuf dan fiqh (irfan dan bayani). Menurut Nicholson dan TJ. De Boer, ditangan al-ghazali, irfan menjadi jalan yang jelas karakternya untuk mencapai pengenalan serta kefanaandalam tauhid dan kebahagiaa.

5. Fase Spesikasi, terjadi abad ke-6 dan 7 H. Berkat pengaruh pribadi Al-Gazali yang besar, lrfani memjadi semakin dukenal dan berkembangan dalam masyarakat islam. Dengan demikian, pada fase ini, secara epistemologis, irfani telah terpecah (terspesifikasi) dalam dua aliran. (1) Irfan Sunni, menurut istilah taftazani, yang cenderung pada perilaku praktis(etika)dalam bentuk tarikat-tarikat,(2) Irfan Teoritis yang didomlnasi pemikiran filsafat. Disampingitu, dalam pandangan jabirin, ditambah aliran kebatinan yang didomlnasi aspek mistik. Meski demikian, menurut Mathahari, irfan praktis tetap tidak sama dengan etika dan irfan teoris berbeda dengan filsafat.

6. Fase kemunduran, terjadi sejak abad ke-8 H. Sejak abad itu, irfan tidak mengalami perkembangan berarti, bahkan justru mengalami kemunduran. Pada tokohnya lebih cenderung pada pemberian komentar dan ikhtiar atas karya-karya terdahulu, dan lelih menekan bentuk ritus dan formalisme, yang mendoring mereka menyimpang dari substansi ajarannya sendiri.

2.4. Metode Irfani

Pengetahuan irfani diperoleh dengan oleh ruhani, dimana dengan kesucian hati, Tuhan akan melimpah pengatahuan langsung kepadanya. Secara metodologis, pengetahuan ruhani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan,(1) persiapan, (2) penerimaan, (3) pengungkapan baik secara lisan atau tulisan.

Tahap pertama, persiapan. Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf), seseorang yang biasan disebut salik (penempuh jalan spiritual) harus menyelesaikan jenjang-jenjang kehidupan spiritual. Para tokoh berbeda pendapat tentang jumlah yang harus dilalui. Namun, setidaknya ada tujuh tahapan yang dijalani, yang semua ini berangkat dari tingkatan paliang dasar menuju pada tingkatan puncak.(1) Taubat meninggalkan segala perbuatan yang kurang baik disertai penyesalan yang mendalam untuk kemudian menggantinya dengan perbuatan-perbuatan baru yang terpuji. Perilaku taubat ini sendiri terdiri atas beberapa tingkatan pertama, taubat dari perbuatan dosa dan makanan haram, kemudian taubat dari ghaflah (lalai mengingat Tuhan), dan puncaknya taubat dari klaim bahwa dirinya telah melakukan taubat. (2) Wara’, menjauhkan diri dari segala sesuatu yang tidak jelas statusnya(subhat). Dalam tasawuf, wara’ ini terdiri atas dua tingkatan, yaitu lahir dan batin. Wara’ lahir berarti tidak melakukan sesuatu kecuali untuk beribadah kepada Tuhan, sedang wara’ batin adalah tidak memasukkan sesuatu apapun dalam hati kecuali Tuhan.(3) Zuhud, tidak tamak dan tidak mengutamakan kehidupan dunia. Namun demikian, zuhud bukan berarti meninggalkan harta sama sekali. Menurut Al-Syibli seseorang tidak dianggap zuhud jika hal itu terjadi lantaran ia memang tidak mempunyai harta. Zuhud adalah bahwa hati tidak tersibukkan oleh sesuatu apapun kecuali Tuhan (meski disana ada banyak kekayaan). (4)Faqir, mengosongkan seluruh pikiran dan harapan dari kehidupan masa kini dan masa akan datang, dan tidak menghentikan sesuatu apapun kecuali Tuhan SWT, sehingga ia tidak terikat dengan apapun dan hati tidak menginginkan sesuatu apapun. Tingkat faqir merupakan realisasi dari upaya pensucian hati secara keseluruhan dari segala yang selain Tuhan (tathhir al-qalbi bi al-kulliyah ‘anma siwa Allah). (5) Sbar, yakni menerima segala bencana dengan laku sopan dan rela.Ini tahapan lebih lanjut setelah seseorang mencapai tingkat faqir. (6) Tawakkal, percaya atas segala apa yang ditentukan Tuhan. Tahap awal dari tawakkal adalah menyerahkan diri pada Tuhan laksana mayat dihadapan orang yang memandikan.. (7) Ridla, hilangnya rasa ketidak senagan dalam hati sehingga yang tersisa hanya genbira dan sukagita. Ini adalah puncak dari

tawakkal.

Tahap kedua, tahap penerimaan. Dalam kajian filsafat Mehdi Yazdi, pada tahap seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran dirinya sendiri (musyahadah) sebagai objek yang diketahui. Namun, realitas kesadaran dan realitas yang disadari tersebut, karena bukan objek eksternal, keduanya bukan sesuatu yang berbeda tetapi merupakan eksistensi yang sama, sehingga objek yang diketahui tidak lain adalah kesadaran yang mengetahui itu sendiri, begitu pula sebaliknya (ittihad). Dalam persepektif epistemologis, pengetahuan irfani ini tidak diperoleh melalui representasi atau data-data indera apapun,bahkan objek eksternal sama sekali tidak berfungsi dalam pembentukan gagasan umum pengetahuan ini.

Tahap ketiga, pengungkapan. Ini merupakan tahap terakhir dari proses pencapaian pengetahuan irfani, dimana pengetahuan mistik diinterpresentasikan dan diungkapkan kepada orang lain lewat ucapan atau tulisan.

.2.5. Konsep Metode Irfani

Apabila dalam epistemologi bayani terdapat konsep lafadz dan makna, dalam irfani terdapat konsep dzahir dan bathin sebagai kerangka dasar atas pandangannya terhadap dunia (world view) dan cara memperlakukannya. Pola pikir yang pakai kalangan irfaniyun adalah berangkat dari yang bathin menuju yang dzahir, dari makna yang menuju lafadz. Bathin, bagi mereka merupakan sumber pengetahuan, karena bathin adalah hakekat, sementara dzahir teks (al-qur’an dan al-Hadist) sebagai perlindungan dan penyinar. Irfaniyyun berusaha menjadikan dzahir nash sebagai bathin.

Pola pikir seperti itu dikalangan irfaniyun telah banyak ditunjukkan al-jabiri. Al-Ghozali misalnya menegaskan bahwa makna yang dimiliki oleh al-qur’an adalah batinnya, bukan dzahirnya. Agar hakekat dapat disingkap, makna harus dijadikan asal, sedang lafadz mengikutinya. Demikian halnya al-Muhasibi, sebagaimana dikutib al-Jabiri, menjelaskan bahwa yang dzahir adalah bacaannya (tilawah) dan yang bathin adalah ta’wilnya. Ta’wil disini diartikan sebagai transportasi ungkapan dzahir ke bathin dengan berpedoman pada isyarat (petunjuk bathin). Apabila dalam ta’wil bayani memerlukan susunan bayan seperti wajh syibh (illat) ataupun adanya pertalian lafadz dan makna (qarinah lafdziyah an al-ma’nawiyyah) maka ta’wil irfani tidak memerlukan persyaratan dan perataraan. Takwil irfani tidak berpedoman padadzahir lafadz, tetapi justru mengalihkannya pada wilayah pengetahuan yang, menurut mereka, disebut dengan hakekat melalui isyarat. Dalam pola pikir seperti ini, pemahaman dihasilkan melalui al-iyan atau al- irfani, dan karenanya bersifat langsung.

Demikian, konsep dualisme dzohir dan batin dalam memahami teks tidak memiliki dimensi kemanusian. Bagi irfaniyyu, baik makna yang dzahir dan batin sama-sama berasal dari tuhan, yang dzahir adalah turunnya (tanzil) kitab dari tuhan melalui para nabinya, sedang yang batin adalah turunnya pemahaman (al-fahm) dari tuhan lewat kalbu sebagian kaum ini, dalam hal ini kaum irfaniyyun. Allah menciptakan segala sesuatu terdiri dari dzahir dan batin, termasuk menciptakan al-qur”an. Yang dzahir adalah bentuk yang dapat di indra (al-shurah al-hissiyah), sementara yang batin sesuatu yang bersifat ruhiyah. Dengan demikian firman tuhan secara batin sama dengan hukum yang terdapat pada dzahir yang terindra. Ruh(spirit) maknawi yang bersifat ketuhanan, yang hadir dalam bentuk teks yang dapat di indra inilah oleh ibn-arabi di sebut sebagai I’tibar al-bathin.

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Epistemologi Al- Irfani yaitu pengetahuan, disni pengetahuan diperoleh melalui penyinaran hakekat oleh Tuhan kepada hamba-Nya(kasyf).

  1. Irfani berarti pengetahuan, dimana pengetahuan ini diperoleh secara langsung lewat pengalaman (experiment) atas realitas spiritual keagamaan.

  2. Sumber asal irfani berasal dari sumber islam sendiri, tetapi dalam perkembangannya diperoleh oleh faktor luar, yunani, kristen, hindu dan yang lainnya.

  3. Perkembangan Irfani, dibagi menjadi 5 fase:

  1. Fase pembibitan disebut irfan baru ada dalam bentuk laku zuhud (askestisme).

  2. Fase kelahiran: zuhid dilakukan atas dasar cinta kepada Tuhan, bebas dari rasa takut atau harapan mendapat pahala.

  3. Fase pertumbuhan: tokoh sufisme mulai menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku, sehingga sufisme menjadi moral keagamaan (akhlaq).

  4. Fase puncak: mencapai masa gemilang dan pada fase puncak ini banyak besar yang lahir dan menulis tentang irfan.

  5. Fase spesikasi: irfani terpecah dalam dua aliran yaitu, irfan sunni menurut istilah taftazani yang cendrung kepada prilaku praktis (etika), dalam bentuk tarikat-tarikat, dan irfan teoritis yang di dominasi pemikiran filsafat.

  6. Fase kemunduran: irfan tidak mengalami perkembangan berarti, bahkan mengalami kemunduran.

  1. Metode irfan:

a. Tahap pertama, persiapan. Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf), seseorang yang biasan disebut salik (penempuh jalan spiritual) harus menyelesaikan jenjang-jenjang kehidupan spiritual.

b. Tahap kedua, tahap penerimaan. Dalam kajian filsafat Mehdi Yazdi, pada tahap seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran dirinya sendiri (musyahadah) sebagai objek yang diketahui

c. Tahap ketiga, pengungkapan. Ini merupakan tahap terakhir dari proses pencapaian pengetahuan irfani, dimana pengetahuan mistik diinterpresentasikan dan diungkapkan kepada orang lain lewat ucapan atau tulisan.

  1. Dalam irfani di gunakan konsep dzahir dan batin.batin adalah hakikat dari sumber pengetahuan, sedangkan dzahir adalah teks(al-Qur’an dan al-Hadits) sebagai pelindungdan penyinar.

DAFTAR PUSTAKA

sumarna, cecep.2004. filsafat ilmu dari hakikat menuju nilai. Bandung:pustaka bani quraisy.

Karta negara, mulyadi,2003. Pemikiran islam kontemporer.yogjakarta.

http://www.geocities. Com/tarjikh/manhaj-tarjih/manhaj-pengembangan-pemikiran-islam.htm citarosa.

Khodorisoleh.MA.g.2004, wacana baru fildafat islam.yogjakarta:pustaka pelajar.

Januari 22, 2010

ILMU MENURUT PERSPEKTIF ISLAM DAN ILMUWAN BARAT

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 1:26 pm

ILMU MENURUT PERSPEKTIF ISLAM DAN ILMUWAN BARAT

pembahasan

Dalam memehami arti daripada ilmu disini kita sering bingung dalam membedakan arti ilmu menurut Ilmuwan Barat dengan ilmuwan muslim atau menurut perspektif Islam. Disini akan saya jelaskan perbedaan antara ilmu menurut Ilmuwan Barat dengan ilmu menurut perspektif Islam.
Ilmu Menurut Konsep Islam
Dalam Al-Qur’an, kata ‘ilm dan kata jadinya disebut kurang lebih 800 kali. Al-qordhowi dalam penelitianya terhadap kitab Al-Mu’jam al-Mufahras li al-fazh Al-Qur’an al-karim (lihat Fuat Abdul Baqi, tt:469-481) melaporkan, bahwa  kata ‘ilm(ilmu) dalam Al-Qur’an baik dalam bentuknnya yang definitif (ma’rifat) maupun indenitif (nakirah) terdapat 80 kali, sedangkan kata ‘allama, ya’lamu, ‘alim, dan seterusnnya disebut beratus-ratus kali. Dalam kitab Al-Jami’ al-shahih karya bukahori terdapat 102 Hadist.
Ilmu merupakan petunjuk bagi manysia untuk mengelolah untuk menguasai jagad raya ini. Manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini tidak akan mungkin mampu menngolahnya kecuali denngan ilmu. Dengan ilmu mausia seharusnyan bisa mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena telah jelas dalam Hadis Nabi “al-‘imu nuuruun” ilmu adalah cahaya bagi siapa saja yang memliki dan memanfaatkanya dengan baik.
Al-Qudrawi (1989: 99-100), mengatakan bahwa ilmu yang wajib dipelajari setiap muslim adalah ilmu yang diperlukan dan yanng dituntut oleh agama dan dunianya. Persoalan apakah jenis ilmunya, adalah hal baru yang tidak membawa segi ibadah. Yang penting sesungguhnya adalah esensinnya, label dan nama bukanlah persoalan. Ghulsyayani (1991: 41-46) dapat menunjukkan, bahwa konsep ilmu secara mutlak muncul dalam maknanya yang generik dengan bukti Al-Qu’an dan As-Sunnah sebagai berikut:
“katakanlah: adakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak menngetahui?” (QS. Al-Zumar:9)
Pemikir Islam abad dua puluh, khususnya setelah Seminar Internasional Pendidikan Islam di Makkah pada tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu dalam dua kategori:
1.    Ilmu abadi (perennial knowladge) yang berdasarka wahyu dan yang tertera dalam Al-Qur’an dan Al-hadist serta segala yang dapat diambil dari keduanya.
2.    Ilmu yang dicari (inquired knowladge) termasuk sains kealaman dan yerapanya (teknologi) yang dapat berkembanng secara kualitatif (Quraish Sihab, 1992: 62-63).
Ilmu Islam dalam perkembanngan Modern sekarang dapat dikelompokan menjadi dua kelompok besar: kelompok Dasar dan kelompok Cabang. Kelompok dasar mencakup: tafsir, hadist, aqidah/ilmu kalam(teologi), filsafat islam, tasawuf, tarekat, perbandingan agama dan erkembangan modern (pembaruan dalam islam). Kelompok cabanng terdiri dari ajaran yang mengatur masyarakat yang menyangku masalah ilmu fiqih, peradaban dalam islam, bahasa dan sastra, pengajaran Islam kepada anak didik, penyiaran islam, dll.
Metode Memperoleh Ilmu dalam Islam
Amin Abdulllah (1992:7) dalam mencarai epistimologi islam lebih melihat adanya kecenderungan para pemikir yang idealis dan rasionalis, sebagaimana yang ia kaji dalam pemikiran As-Sardar dan Ghulsyani. Berpadunya kajian metafiska dan episimologi dalam Islam yang ideal holistik kelemahanya menurut Amin kurang tajam dalam melakukan kajian dalam segi-segi khusus, karena dominasi kalam dan sufisme terlalu kuat sehingga epistimologi tidak bisa berkembang secara alami. Dan epistimolog yang diangunya memenangkan epistimologi Plato? Platonisme yang rasionalistik-ormatif seperti yang nampak dalam dominasi kalam dan sufisme, daripada empirisme-historis Aristoteles. Namun disini Islam tidak berkabung hanya pada rasionalisme dan empirisme, tapi juga mengakui instuisi dan wahyu. Intuisi sebagai fakultas kebenaran langsung dari Tuhan dalam bentuk ilham, khasaf yang tanpa deduksi, spekulasi dan obserfasi. Pengetahuan ini salam mistisisme Islam disebut dengan “ilm al-dhurury atau ‘ilm al-Laduny yang kedudukanya sedikit di bawah wahyu. Sedangkan rasionalistik adalah pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran secara rasio atau akal. Sedangkan empirisme dalah pengetahuan yang bersumber dari penelitian tehadap objek (fakta). Wahyu adalah pengetahuan yang diberikan kepada seluruh manusia yang disampaikan melalui Nabi, pengetahuan wahyu ini dapat diperoleh dengan menggunakan keimanan, seperti halnya penggetahuan mengenai adannya malaikat, surga, neraka, hisab kubur dl. Pengetauan ini hanya mustahil akan diperoleh tanpa adanya keimanan.
Ilmu Menurut Para Ilmuwan Barat
Kata “Ilmu“ merupakan terjemahan dari “science”,menggunakan metode-metode yang secara etimologis berasal dari bahasa latin “scinre” artinya “to know”. Dalam arti yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan objektif.
Menurut Harold H Titua, ilmu diartikan sebagai common sense yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan trhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode obserfasi, yang diteliti dan kritis.
Prof. Dr. M.J. langafeld, Guru Besar pada Rijik Universiteit Utrectht menyatakan seabagai berikt:“pengetahuan ialah kesatuan subjek yang mengetahui dan obyek yang diketahui. Satu kesatuan dalam mana objeek itu Di pandang oleh subyek sebagai diketahuinnya”.
Prof. Dr. Sikun menulis “objek ilmu pengetahuan ialah dunia fenomenal dan metode pendekatanya ialah berdasarkan pengalaman (exsperience) dengan menggunakan berbagai cara seperti observasi, eksperimeen survei, study kasus, dan sebagainya pengalaman itu diolah oleh pikiran atas dasar hukum logika yang tertib. Data yang dikumpulkan diolah dengan cara analisis, induktif kemudian ditentukan relasi-relasi antara data-data, diantarannya relasi kausalitas. Dan itu disusun melalui sistem tertentu yang merupakan satu keseluruha yang teritregatif.keseluruhan integratuf ini disebut ilmu”.
Dari beberapa pengertian “ilmu” diatas dapat digambarkan lebih jelas bahwa ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang bersal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, namun dilanjutkan dengan sesuatu pemikran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
Cara Menperoleh Ilmu Menurut Ilmuwan Barat
Secara garis besar terdapat dua aliran pokok epistimologi, yaitu rasionalisme dan empirisme, yang pada giliranya kemudian muncul beberapa isme lain, mislnya: rasinalisme kritis (kritisisme), (fenomenelisme), intuisionisme, positifismemdan seterusnya. Rasionalisme adalah suatu aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peran akal atau ide, sementara peran indra dinomerduakan. Pemikiran para filsuf pada dasarnya tidak lepas dari orientasi ini: rasio dan indra.dari rasio kemudian melahirkan rasionalisme yang berpijak pada dasar ontologik idealisme atau spiritualisme; dan dari indra lalu melahirkan empirisme yang berpijak pada dasar dan ontologik rasionalisme.
Selan metode rasionalisme adalah metode empirisme yang bersifat korespondensi, hasil hubungan antara subjek dan objek melalui pengalaman, sehingga mudah dibuktikan dan di uji. Kebenaran didapat dari pengalaman melalui proses induktif, dari suatu benda ditarik kesimpulan. Menuru Locke pengalaman ada dua macam: pengalaman lahiriah dan pengalaman batiniah yang kedudukannya saling menjalin. Empirisme Locke dikembangkan oleh Comte, orang filsuf berkebangsaan Perancis dengan teori positifismenya. Menurut positifisme, yang ada adalah tampak, segala gejala di tolak. Beda empirisme dangan positifisme adalah keduanya mengutamakan pengalaman, tetapi positifisme hanya membatasi diri pada pengalaman objektif, sementara empirisme menerima pengalaman subjektif (batiniah) (Harun, 1990: 109-110).

ANALISA
Perbedaan Ilmu Menurut Perspektif Islam Dengan Ilmuwan Barat
Perbedaan Ilmu menurut perspekti Islam dengan ilmuwan Barat adalah: Ilmu menurut perspektif islam memiliki peran instrumen atau sarana untuk mencapai tujuan Islam, tujuan ilmu disini sama denngan tujuan dari agama Islam, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan dikatakan bahwa orang yang memiliki ilmu adalah orang yang mencari hakikat (kebenaran).dalam Islam ilmu sangat berkaitan erat sekali dangan iman, iman snagt esensial, ilmu tanpa iman tak akan produktif, dan akan berbahaya. Dan cara memperolahnya pun sedikit berbeda dengan apa yang ditetapkan oleh Ilmuan Barat. Dalam Islam ilmu ada yang harus diperoleh melalui intuisi dan wahyu. Sedangkan menurut ilmuwan barat ilmu adalah suatu pengetahuan yang bersal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode, dengan tujuan mengembangkan dan memberi makan terhadap dunia faktual. Metode memperolah ilmu menurut ilmuwan Barat tidak ada yang menggunakan intuisi dan wahyu, karena Ilmu dalam perspektif Barat tidak ada kaitannya dengan Agama, karena Agama dianggap tidak mendukung pertumbuhan ilmu dan cara berfikir ilmiah.

REFERENSI
Salam, Burhanuddin. 2005. Pengantar Filasafat. Jakarta : Pt Bumi Askara
Zainuddin, M. 2006. Filsafat Ilmu Perspektif pemikiran Islam. Jakarta. Perpustakaan Nasional: katalog Dalam Terbitan

FILSAFAT ILMU MENURUT PERSPEKTIF ISLAM DAN BARAT

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 1:24 pm

FILSAFAT ILMU
MENURUT  PERSPEKTIF ISLAM DAN BARAT
oleh: Harun Al Rasyid Leutuan
ILMU DALAM PRESPEKTIF ISLAM
Idealnya kehidupan dan prilaku umat Islam merupakan perwujudan dari keagungan dan kebenaran ajaran Islam. Namun dalam kenyataannya terdapat jurang yang lebar antara keduanya. Oleh karena itu kita tidak bisa menilai Islam dari kehidupan dan prestasi para penganutnya. Demikian pula ketika kita hendak melihat bagaimana pandangan Islam tentang ilmu, tidak cukup hanya dengan menilai prestasi umat Islam, apalagi umat Islam saat ini yang sedang terjajah secara keilmuan. Kita harus merujuk langsung ke dua sumber utamanya Islam, yakni Al Qur’an dan Al Hadist.
Penyebutan kata ilmu yang berulang ulang dalam Al – Qur’an menunjukan kepada kita bahwa ilmu merupakan salah satu konsep kunci dalam Islam sekaligus menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap ilmu. Berikut kita petik beberapa ayat Al Qur’an yang berisi dorongan kepada umat Islam untuk menguasai ilmu:
Katakanlah : “ Samakah orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu ? Hanya orang-orang yang mengerti yang dapat memikirkan (QS 39;9).
Selain dalam Al Qur’an, dorongan mencari ilmu kita dapatkan dalam serangkaian hadist Nabi saw sebagai berikut : Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina ; Carilah ilmu sejak dari buaian ibu sampai liang lahat (sepanjang hayat); Barang siapa wafat sedang mengembangkan ilmu untuk menghidupkan Islam, maka ia lebih berhak dari yang lain; Para ulama itu adalah pewaris nabi; Pada hari qiamat ditimbanglah tinta ulama dengan darah syuhada, maka tinta ulama dilebihkan dari darah syuhada.

ILMU MENURUT ISLAM (ONTOLOGIS)
Secara istilah ontologi adalah ilmu yang memperlajari tenatng hakikat yang ada (ultimate reality) baik jasmani/konkret maupun rohani/abstrak. Didalam pemahaman ontologi ditemukan pandangan-pandangan seperti monoisme yang menyatakan bahwa hakikat yang asal itu hanya satu. Cabang dari monoisme ini adalah materialisme yang berpandangan bahwa hakikat yang asal adalah satu yaitu dari materi, sementara cabang lainnya yaitu idealisme yang berpandangan bahwa segala yang asal itu berasal dari ruh. Pandangan lainnya adalah dualisme yang menyatakan bahwa segala sesuatu berasal dari dua unsur yaitu materi dan ruh, jasmani dan rohani. Pandangan lainnya adalah pluralisme yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas yaitu unsur tanah, air, api dan udara. Ada juga faham nihilisme yang nampaknya frustrasi menghadapi relaistas. Realistas harus dinyatakan tunggal dan banyak, terbatas dan takterbatas, dicipta dan takdicipta, semuanya serna kontradiksi, sehingga lebih baik tidak menyatakan apa-apa tentang realistas. Pandangan terakhir yang dikemukan oleh DR. Amsul Bakhtiar M.A adalah agnostisisme yang merupakan pemahaman yang menolak realitas mutlak yang bersifat trancendental.

ILMU MENURUT ISLAM (EPISTEMOLOGIS)
Epistemologi atau teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung-jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal, indera dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori ilmu pengetahuan diantaranya metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatif, dan metode dialektis. Dengan kamajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, Gregory Bateson menilai kemajuan ini cenderung memperbudak manusia akibat dari kesalahan epistemologi barat dan ini harus diluruskan.
Upaya pelurusan kekeliruan epistemologi barat dapat dilakukan dengan memanfaatkan aksiologi. Aksiologi mempunyai banyak definisi, salah satu diantaranya dikemukakan oleh Bramel bahwa aksiologi terdiri dari tiga bagian yaitu moral conduct, esthetic expression dan sosio-political life. Aksiologi harus membatasi kenetralan tanpa batas terhadap ilmu pengetahuan, dalam arti bahwa kenetralan ilmu pngetahuan hanya sebatas metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan pada nilai-nilai moral.
CARA MENDAPATKAN ILMU (ONTOLOGIS DAN EPISTEMOLOGIS)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendapatkan pengetahuan ialah:
1.    Batasan kajian ilmu : secara ontologis ilmu membatasi pada Pengkajian objek yang berada dalam lingkup manusia tidak dapat mengkaji daerah yang bersifat transcendental.
2.    Cara menyusun pengetahuan : untuk mendapatkan pengetahuan menjadi ilmu diperlukan cara untuk menyusunnya yaitu dengan cara menggunakan metode ilmiah.
3.    Diperlukan landasan yang sesuai dengan ontologis dan aksiologis ilmu itu sendiri
4.    Penjelasan diarahkan pada deskripsi mengenai hubungan berbagai faktor yang terikat dalam suatu konstelasi penyebab timbulnya suatu gejala dan proses terjadinya.
5.    Metode ilmiah harus bersifat sistematik dan eksplisit
6.    Metode ilmiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak tergolong pada kelompok ilmu tersebut.
7.    Ilmu mencoba mencari penjelasan mengenai alam dan menjadikan kesimpulan yang bersifat umum dan impersonal.
8.    Karakteristik yang menonjol kerangka pemikiran teoritis :
a. Ilmu eksakta : deduktif, rasio, kuantitatif
b. Ilmu social : induktif, empiris, kualitatif
ILMU MENURUT ILMUWAN BARAT
Sebagaimana pendapat umum, bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang kebijaksanaan, prinsip-prinsip mencari kebenaran, atau berpikir rasional-logis, mendalam dan bebas tidak terikat dengan tradisi dan dogma agama untuk memperoleh kebenaran. Ilmu adalah bagian dari pengetahuan. Ilmu berusaha memahami alam sebagaimana adanya, dan hasil kegiatan keilmuan merupakan alat untuk meramalkan dan mengendalikan gejala-gejala alam. Pengetahuan keilmuan merupakan sari penjelasan mengenai alam yang bersifat subjektif dan berusaha memberikan makna sepenuhnya mengenai objek yang diungkapnya.
Karena pengetahuan ilmiah merupakan a higher level of knowledge dalam perangkat-perangkat kita sehari-hari, maka filsafat ilmu tidak dapat dipisahkan dari filsafat pengetahuan. Objek bagi kedua cabang ilmu itu sering-sering tumpang tindih (koento Wibisono, 1988:7)

CARA MENDAPATKAN ILMU MENURUT ILMUWAN BARAT
Cara  memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan: pertama, kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengna pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun. Kedua, menjabarkan hipotesis yang merupakan dedukasi dari kerangka pemikiran tersebut. Ketiga, melakukan verifikasi terhadap hipotesis tersebut untuk menguji kebenaran pernyataannya secara factual.
Pemikiran para filsuf pada dasarnya tidak lepas dari orientasi ini: rasio dan indra. Dari rasio kemudian melahirkan rasionalisme yang berpijak pada dasar ontologik idealisme atau spiritualisme. Dan dari indra lalu melahirkan empirisme yang berpijak pada dasar ontologik materialisme.
Kebenaran yang diperoleh empirisme bersifat korespondensi, hasil hubungan antara subjek dan objek melalui pengalaman, sehingga mudah dibuktikan dan diuji. Kebenaran didapat dari pengalaman melalui proses induktif, dari suatu benda lalu ditarik kesimpulannya. Sedangkan penganut positivisme ilmu pengatahuan hanya mengakui satu kebenaran, yaitu kebenaran indrawi, yang teramati dan yang terukur, yang dapat diulang dan dibuktikan oleh siapapun. Di luar itu tidak diakui sebagai kebenaran.

ANALISIS

Dalam perspektif islam, ilmu memiliki kedudukan sebagai bagian dari agama dan berfungsi sebagai petunjuk kepada kebenaran, untuk memperoleh kemuliaan di sisi Allah dan pembebas dari kebodoha.Berkembangnya ilmu pengetahuan Barat sekarang yang dapat melahirkan teknologi yang sangat canggih, tak lain adalah berkat tradisi keilmuan yang telah berkembang kurang lebih tiga belas abad silam di tangan para pakar Muslim kenamaan.
Sebenarnya ilmu-ilmu modern Barat pun masih bisa dipakai sepanjang relevan dengan nilai Islam. Oleh sebab itu yang harus ditinjau kembali adalah landasan falsafahnya, yang menyangkut tujuan dan kegunaannya.
Terdapat perbedaan dalam merespon teori dan sains Barat. Pertama, kelompok yang menganggap bahwa sains modern bersifat universal dan netral dan semua sains tersebut dapat diketemukan dalam Al-Qur’an’. Banyak ulama’ sekarang yang tidak setuju dengan adanya konsep sains dalam Al-Qur’an dan berpendapat, bahwa Al-Qur’an itu kitab petunjuk di dunia maupun di akhirat, bukan ensiklopedi sains. Mencocok-cocokkan Al-Qur’an dengan teori-teori sains yang tidak mapan (selalu berubah-ubah) adalah sangat mengancam eksistensi Al-Qur’an itu sendiri (Ghulsyani, 1991:141).
Barat memandang tentang ilmu hanya berdasarkan akal pikiran dan panca indra. Sedangkan dalam cara pandang islam ilmu dari segi pengetahuan indrawi, naluri, rasio,dan wahyu.

DAFTAR PUSTAKA

DR.Amsal Bakhtiar 2005. Filsafat Ilmu, Rajawali Pers.
Jujun S. Suriasumantri. 1990. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
www. Google.com
Zainudin, M. 2006. Filsafat Ilmu, Jakarta: Lintas

Strategi Pengembangan Pendidikan di Indonesia

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 1:22 pm

Strategi Pengembangan Pendidikan di Indonesia
Oleh Harun Al Rasyid Leutuan

Pengembangan pendidikan di Indonesia sekurang-kurangnya menggunakan empat strategi dasar. Yakni, pertama, pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, kedua, relevansi, ketiga, peningkatan kualitas, dan keempat, efisiensi. Secara umum strategi itu dapat dibagi menjadi dua dimensi yakni peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. Pembangunan peningkatan mutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas pendidikan. Dimensi pemerataan pendidikan diharapkan dapat memberikan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan bagi semua usia sekolah.
Salah satu upaya pemerataan pendidikan di Indonesia adalah program Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun yakni Sekolah Dasar (SD) 6 tahun dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) selama 3 tahun. Kebijakan ini disebut sebagai upaya menerapkan pendidikan minimal yang harus dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia yang erat kaitannya dengan gerakan melek hurup dan masyarakat belajar. Namun demikian, setelah delapan tahun berjalan, gerakan Wajar 9 tahun belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memberi gambaran jumlah anak putus sekolah masih sangat besar dibandingkan mereka yang bisa terus melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Berdasarkan penelitian 1995-1999 ternyata pencapaian kelulusan hanya 26,39% untuk perempuan dan 30,57% untuk laki-laki. Artinya hanya sepertiga peserta didik yang bisa meneruskan sekolah, kenyataan ini menunjukkan beratnya daya dukung masyarakat untuk menopang pendidikan. Angka Partisipasi Murni (APM) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) baru sekitar 60% (Susenas, 1997). Angka buta huruf masih sekitar 10% dari penduduk umur 10 tahun ke atas. Kemampuan membaca murid Sekolah Dasar (SD) bangsa Indonesia terendah di kawasan ASEAN. Hasil studi kemampuan membaca untuk tingkat Sekolah Dasar yang dilaksanakan oleh “The International Association for the Evaluation of Educational Achievement” (IEA) menunjukkan bahwa siswa SD di Indonesia berada pada urutan ke 26 dari 27 negara peserta studi (Elley, 1992). Sementara untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), studi terhadap kemampuan matematika siswa SLTP menempatkan siswa Indonesia pada urutan ke-34 dari 38 negara, dan untuk Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berada pada urutan ke-32 dari 38 negara peserta. Salah satu penyebabnya adalah lemahnya kualitas tenaga guru, kurikulum, manajemen pendidikan serta sarana dan prasarana yang kurang memadai. Alasan ini menunjukkan perlunya strategi baru dalam menciptakan masyarakat melek hurup. Keterbatasan fasilitas sarana dan prasarana; lemahnya kualitas guru, kurikulum dan manajemen pendidikan salah satunya dapat diatasi dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pendidikan.
Pendidikan tinggi mempunyai peranan dan tanggungjawab yang strategis dalam pembangunan suatu bangsa, termasuk memecahkan persoalan-persoalan pendidikan, mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Dalam kerangka itulah peranan Lembaga Pendidikan Tinggi yang tercermin dalam fungsi Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dapat membantu mengembangkan konsep dan strategi pendidikan dasar yang dilakukan dengan pola kerjasama antar pembuat kebijakan pendidikan dan dunia industri.
Di samping itu, paradigma baru pendidikan tinggi, yaitu kemandirian, akuntabilitas, evaluasi dan akreditasi nasional akan menjadi acuan dalam memecahkan prolema pendidikan di Indonesia.

PENGELOLAAN Pendidikan Tinggi di Indonesia secara umum merupakan tanggung jawab Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), namun departemen lain dibenarkan menyelenggarakan pendidikan, salah satunya Departemen Agama.
Inilah salah satu kekhususan pengelolaan pendidikan di Indonesia. Lebih jauh, istilah pendidikan umum dan pendidikan agama atau perguruan Tinggi Umum (PTU) dan Perguruan Tinggi Agama (PTA) masih populer meskipun nampak dikhotomis.
Pada tahun 1950 hanya ada dua perguruan tinggi negeri di Indonesia, yaitu Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta dan Universitas Indonesia (UI) di Jakarkta yang resmi didirikan pada tahun 1950.
Pada dasawarsa 1951-1960 terjadi pertumbuhan yang sangat pesat dalam jumlah lembaga pendidikan tinggi. Di samping Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI), lembaga pendidikan tinggi bertambah 16 buah, yaitu 13 Universitas dan Institut Negeri, serta 3 institut pendidikan tinggi negeri, tersebar di seluruh Indonesia.
Sebanyak 16 Universitas dan Institut serta 7 Institut Pendidikan tinggi negeri dibangun pada dasawarsa 1961-1970. Dengan demikian, terwujudlah aspirasi politik untuk mendirikan sekurang-kurangnya satu perguruan tinggi negeri di setiap provinsi.
Pada saat ini (1999) jumlah PTS seluruh Indonesia 1027 buah sehingga daya tampung mahasiswa PTS telah mencapai 2/3 atau sekitar 1,6 juta dari seluruh mahasiswa di Indosnesia yang berjumlah sekitar 2,4 juta. Jadi, jumlah mahasiswa PTS sudah jauh melampaui kapasitas PTN yang hanya menampung sekitar 600.000 mahasiswa.
Sebagai perguruan tinggi Negeri Agama Islam yang berada di bawah pengelolaan Departemen Agama, yaitu Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) bersama dengan Perguruan Tinggi lainnya memikul tugas dan tanggung jawab untuk meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. IAIN/STAIN bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepribadian dan akhlaq manusia, serta keilmuan dan keterampilan profesional. Pembangunan Indonesia menempatkan IAIN/STAIN pada posisi penting dan strategis. Tujuan IAIN/STAIN di atas selaras dengan tujuan pembangunan nasional, yaitu untuk menciptakan manusia Indonesia seutuhnya yang memiliki keimanan dan ketaqwaan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Terdapat 14 IAIN dan 33 STAIN dan 350-an Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta di seluruh Indonesia sejak didirikan pada akhir tahun 1950-an. IAIN/STAIN telah menghasilkan ratusan ribu alumni dalam berbagai bidang, khususnya pendidikan, termasuk pendidikan dasar, dakwah dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Dengan pendekatan dan komunikasi kekagamaan yang mereka miliki, para alumni IAIN/STAIN telah berperan penting dalam pembangunan, dan sekaligus mengurangi dampak dan ekses negatif modernisasi.
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) terdiri atas Institut Ilmu Keguruan dan Pendidikan (IKIP) yang mulai tahun 2000 berubah menjadi universitas. Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan STKIP), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan pada Universitas; Fakultas Tarbiyah (Pendidikan) pada IAIN atau jurusan Tarbiyah (pendidikan) pada STAIN.
LPTK berfungsi sebagai lembaga pendidikan tinggi yang memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan calon pendidik atau tenaga pengajar (guru) di semua jenjang pendidikan mulai Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Pertama dan Menengah.
Pendidikan guru merupakan tanggung jawab perguruan tinggi. Tugas ini bahkan menjadi semakin penting mengingat pengaruhnya yang besar terhadap mutu pendidikan di jenjang pendidikan di bawahnya yang lulusannya kemudian menjadi masukan ke perguruan tinggi. Para calon guru yang disiapkan itu dituntut untuk lebih dari sekadar menjadi penyaji atau penyampai pengetahuan kepada para siswanya, melainkan mereka juga harus mampu membantu para siswanya untuk mengembangkan keterampilan belajar. Kemampuan-kemampuan seperti ini perlu dikembangkan pada mahasiswa keguruan agar mampu mengelola proses belajar-mengajar secara efektif. Hal ini kemudian menuntut calon guru untuk memiliki gelar minimal S1 dalam bidang keilmuan tertentu.
Dalam kerangka pengabdian dan pelayanan pada masyarakat, Perguruan tinggi turut menyusun rencana pembaharuan pendidikan yang disampaikan kepada Lembaga-lembaga Pemerintah Pusat dan Daerah termasuk dinas-dinasnya. Rencana dan pelaksanaan suatu sistem pendidikan termasuk gerakan Wajib Belajar 9 Tahun (melek hurup) dikaji alternatif-alternatif pengembangannya. Salah satu contoh, meskipun Wajar baru dapat dimulai pada tahun 1994, sebenarnya lontaran-lontaran idenya sudah disampaikan oleh kalangan akademisi Perguruan Tinggi jauh sebelumnya. Sejak tahun 1989 bahkan sebelumnya, ide dan strategi memperluas kesempatan belajar Pendidikan Dasar 9 tahun telah dikaji baik kurikulum, maupun pola penyelenggaraannya.

SALAH satu paradigma baru Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) adalah menekankan kemandirian lebih besar dalam Pengelolaan atau Otonomi. Dengan cara pandang ini memberikan keluasan gerak dan kebijakan bagi seluruh civitas akademika LPT dalam menetapkan program-program dan arah kebijakan pendidikannya serta mengembangkan inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
Kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan pendidikan dasar terlihat keterlibatannya dalam penyusunan konsep pengembangan pendidikan dasar, yang meliputi aspek kurikulum, tenaga pengajar, peserta didik, sarana prasarana, dan manajemen pendidikan. Pengembangan konsep pendidikan dasar yang dilakukan pendidikan tinggi didasarkan atas hasil-hasil penelitian, seminar, loka karya bahkan ujicoba-ujicoba. Misalnya pengembangan pendidikan dasar 9 tahun yang sejak tahun 1994 bangsa Indonesia telah mencanangkan wajib belajar (Wajar) 9 tahun sebagai pendidikan minimal yang diharapkan dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia. Gerakan Wajar 9 tahun dilakukan setelah Wajar 6 tahun dinyatakan berhasil dalam pengertian jumlah sekolah yang dibangun, tenaga pendidik yang diangkat dan Angka Partisipasi penduduk usia sekolah. Oleh karena Wajar diartikan bukan sebagai “compulsory education”, tetapi sebagai “basic education” maka keberhasilan Wajar 6 tahun adalah keberhasilan pendidikan yang diperkirakan dalam memberikan kualitas minimal anggota masyarakat dan bangsa Indonesia.
Di samping itu, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan mulai tahun 2001 mengembangkan konsep Sekolah Dasar 5 tahun yang diberi nama SD Laboratorium dengan tujuan untuk mengembangkan aspek pembelajaran kreatif dan akselerasi, sehingga muatan kurikulum nasional Sekolah Dasar dapat dikemas yang waktu penyelesaiannya bisa dicapai dalam jangka lima tahun. Konsep ini sudah diuji melalui hasil penelitian Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) selama 14 tahun.
Institut Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, yang mulai tahun 2000 berubah menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), misalnya dalam upaya keterlibatannya dalam pendidikan dasar, sampai tahun 2001 telah mengeluarkan alumninya sebagai calon guru pada sekolah pendidikan dasar sekitar 110.000 orang yang terdiri dari program Diploma II, Diploma III dan program S1. Mereka setelah lulus langsung terjun ke masyarakat untuk mengabdi dengan mengelola pendidikan dasar yang tersebar di seluruh Indonesia. Begitu juga, Fakultas Tarbiyah (Pendidikan Islam) IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, sejak awal pendiriannya sampai tahun 2001 telah mencetak calon guru sebanyak 12.000 orang yang terdiri dari program Diploma I, Diploma II dan program S1. Mereka dididik untuk menjadi guru agama SD/Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan Sekolah Lanjutan tingkat Pertama SLTP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs). Bahkan setelah adanya jurusan tadris Fakultas Tarbiyah meluluskan guru-guru eksakta seperti Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Matematika. Para lulusan itu selain menjadi guru, di antara mereka menjadi tenaga supervisi pendidikan dan terlibat dalam manajemen pendidikan. Pembukaan jurusan-jurusan baru seperti PGMI (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah) dan Guru Pendidikan Agama Islam Diploma II (GPAI D-2) menunjukkan peran Fakultas Tarbiyah semakin luas. Salah satu contoh kongkrit kepedulian Fakultas Tarbiyah (IAIN SGD Bandung) bagi Pendidikan Dasar sejak tahun 1990 diselenggarakan program penyetaraan guru agama setingkat Diploma II yang hasilnya 27.000 guru agama di Jawa Barat telah mendapat pendidikan penyetaraan yang berijazah D-2 dan D-3.
Dalam masalah strategi kerjasama, Lembaga Pendidikan Tinggi telah bekerjasama dengan Proyek Pengembangan Perguruan Tinggi, Proyek penyetaraan Guru Diploma II dan Diploma III, hibah bersaing, Riset Unggulan Terpadu (RUT) di dalam negeri. Sedangkan kerjasama dengan pihak luar negeri seperti URGE (University Research for Graduate Education), Development of Undergraduate Education (DUE) dan Quality of Undergraduate Education QUE).
Oleh karena itu, kontribusi Lembaga Pendidikan Tinggi dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bagi pendidikan dasar dapat dipandang sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat belajar dan mengurangi gejala buta huruf. Strategi lain yang dapat digunakan adalah pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, terdapat langkah-langkah strategis dalam rangka kerja sama antar lembaga pendidikan antara lain:
1.    Meningkatkan efisiensi dan efektivitas manajemen pendidikan baik di tingkat makro (nasional dan daerah) maupun pada tingkat mikro yaitu pada lembaga pendidikan itu sendiri.
2.    Menciptakan kelembagaan agar daerah mempunyai peranan dan keterlibatan yang lebih besar dalam penyelenggaraan pendidikan.
3.    Mendorong peran serta masyarakat termasuk lembaga sosial kemasyarakatan dan dunia usaha terutama industri telekomunikasi dan informasi sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan dan penyelenggaraan pendidikan dasar.
4.    Menyediakan fasilitas yang memadai agar peserta didik dapat tumbuh dan berkembang secara sehat dinamis, kreatif dan produktif.
5.    Menciptakan sistem pendidikan dasar yang pro-aktif dan lentur (fleksibel).
6.    Menciptakan suasana dan proses belajar mengajar yang mampu membangkitkan dan menumbuhkembangkan kreativitas dan inovasi serta minat serta semangat belajar.
7.    Menanamkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sejak dini di tingkat sekolah dasar dalam rangka menumbuhkembangkan budaya iptek.
8.    Menumbuhkembangkan daya juang (fighting spirit), profesionalisme dan wawasan keunggulan.
9.    Menumbuhkembangkan sikap hidup yang hemat, cermat, teliti, tertib, tekun dan disiplin.
10.    Menumbuhkembangkan moral dan budi pekerti luhur sebagai pengejawantahan dari keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Beberapa hal tersebut di atas dapat dijadikan landasan dalam menciptakan sistem pendidikan yang tangguh yang perlu mendapat perhatian lembaga-lembaga pendidikan, pembuat kebijakan pendidikan, dan dunia industri.

STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF DI PERGURUAN TINGGI

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 1:21 pm

STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF
DI PERGURUAN TINGGI
I.  ABSTRAK
Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
Tujuan pendidikan tinggi di Indonesia sebagai berikut: (1) menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian; (2) mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
Inti proses belajar adalah perubahan pada diri individu  dalam aspek pengetahuan, sikap, keterampilan, dan kebiasaan sebagai produk dan interaksinya dengan lingkungan. Belajar adalah proses membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Dengan kata lain suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil  bila dalam diri individu terbentuk pengetahuan, sikap, keterampilan, atau kebiasaan baru yang secara kualitatif lebih baik dari sebelumnya. Proses belajar dapat terjadi karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungan belajar secara mandiri atau sengaja dirancang. Orang yang belajar mandiri secara individual dikenal sebagai otodidak, sedangkan orang yang belajar karena dirancang dikenal sebagai pembelajaran formal. Proses belajar sebagian besar terjadi karena memang sengaja dirancang. Proses tersebut pada dasarnya merupakan sistem dan prosedur penataan situasi dan lingkungan belajar agar memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem dan prosedur inilah yang dikenal sebagai proses pembelajaran aktif.
Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang memungkinkan para pembelajar aktif melibatkan diri dalam keseluruhan proses baik secara mental maupun secara fisik. Model proses ini dikenal sebagai pembelajaran aktif atau pembelajaran interaktif dengan karakteristiknya sebagai berikut:  (1) adanya variasi kegiatan klasikal, kelompok dan perorangan; (2) dosen berperan sebagai fasilitator belajar, nara sumber dan manajer kelas yang demokratis; (3) keterlibatan mental (pikiran, perasaan) siswa tinggi; (4) menerapkan pola komunikasi yang banyak; (4) suasana kelas yang fleksibel, demokratis, menantang dan tetap terkendali oleh tujuan; (6) potensial dapat menghasilkan dampak intruksional dan dampak pengiring lebih efektif; (7) dapat digunakan di dalam atau di luar kelas/ruangan.

II.  PENDAHULUAN
Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Masyarakat ilmiah merupakan kategori masyarakat yang warganegaranya memiliki sifat ingin mengetahui segala fenomena yang ada, dengan melakukan kegiatan pengkajian secara ilmiah berbagai bidang ilmu, agar memperoleh kebenaran yang teruji sesuai dengan metode ilmu pengetahuan.
Dalam metode dan proses belajar mengajar yang digunakan dalam masyatakat ilmiah berbeda dengan proses yang dipakai oleh SLTP dan SLTA yang lebih bersifat arahan (courses). Dosen dan mahasiswa sebagai sivitas akademika dalam pengembangan ilmu pengetahuan lebih bersifat (discourses). Ciri-ciri masyarakat ilmiah Febrian (2000:11) mengatakan bahwa: “kritis, objektif, analitis, kreatif dan konstruktif, bebas dari prasangka, kesejawatan/kemitraan khususnya di antara sivitas akademika, dialogis, memiliki dan menjunjung tinggi norma dan susila akademik serta tradisi ilmiah, dinamis berorientasi ke masa depan dan sebagainya”.
Demikian juga dengan pembelajaran. Satu materi pembelajaran jika diajarkan oleh dosen/pengajar yang berbeda akan dirasakan oleh warga belajar dengan rasa yang berbeda pula. Jika warga belajar ditanya kenapa dosen A banyak disenangi oleh mahasiswa, dapat ditebak bahwa jawabannya akan berkisar pada cara mengajar dosen A yang menarik. Ilustrasi di atas menggambarkan arti penting strategi atau teknik atau cara dalam melakukan pekerjaan. Terlebih lagi bagi dosen di perguruan tinggi. Kenapa Perguruan Tinggi? Karena asumsinya bahwa mahasiswa adalah orang dewasa yang sudah mampu berpikir kritis, dan dapat membedakan mana yang baik dan tidak baik bagi mereka. Di samping itu mahasiswa juga dapat menggunakan otak mereka dalam belajar tanpa harus dipaksa. Berdasarkan alasan di atas, seorang dosen dapat menyampaikan materi perkuliahan dengan strategi yang bervariasi, dan tentunya melibatkan mahasiswa secara aktif. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mahasiswa mempunyai jiwa kemandirian dalam belajar dan kalau bisa diusahakan untuk menumbuhkan daya kreativitas sehingga mampu membuat inovasi-inovasi. Strategi pembelajaran ini disebut dengan Strategi Pembelajaran Aktif.
Pembelajaran aktif Zaini dkk. (2002:12) mengatakan bahwa:“suatu pembelajaran yang mengajak mahasiswa untuk belajar secara aktif”. Ketika mahasiswa belajar dengan aktif, berarti mereka yang  mendominasi aktivitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi kuliah, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam satu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan belajar aktif ini, mahasiswa diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya mahasiswa akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.
Belajar aktif itu sangat diperlukan oleh mahasiswa untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika mahasiswa pasif, atau hanya menerima dari dosen, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan. Oleh sebab itu diperlukan perangkat tertentu untuk dapat mengikuti informasi yang baru saja diterima dari dosen. Belajar aktif adalah salah satu cara untuk mengikat  informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak. Mengapa demikian? Karena salah satu faktor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah faktor kelemahan otak manusia itu sendiri. Belajar yang hanya mengandalkan indera pendengaran mempunyai beberapa kelemahan, padahal hasil belajar seharusnya disimpan sampai waktu yang lama. Kenyataan ini sesuai dengan kata-kata mutiara yang diberikan oleh seorang filosof kenamaan dari Cina, Konfusius (dalam Zaini dkk, 2002:13) mengatakan bahwa: “Apa yang saya dengar, saya lupa. Apa yang saya lihat, saya ingat. Apa yang saya lakukan, saya paham”.
Pemerintah Indonesia, dalam hal ini adalah Departemen Pendidikan Nasional,  memberlakukan Kurikulum Pendidikan Tinggi yang baru, yang selanjutnya disebut Kurikulum Pendidikan Tinggi Tahun 2000, dengan perubahan sangat mendasar, yakni pada paradigmanya. Kurikulum yang sekarang diberlakukan, kurikulum 1994, menganut paradigma content based approach, yaitu penguasaan materi perkuliahan menjadi prioritas utama. Sementara itu, Kurikulum tahun 2000 menganut paradigma competent based approach, yaitu kurikulum dikembangkan berdasarkan target kompetensi lulusan yang telah terlebih dahulu diformulasikan. Kurikulum 2000 juga dikembangkan menurut filosofi pendidikan yang direkomendasikan  UNESCO sebagai berikut: “ learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together”.
Untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan pasar bebas (globalisasi), yang berupa persaingan ketat dalam kualitas, semua perguruan tinggi di Indonesi perlu melakukan antisipasi serta tindakan konkret berkaitan dengan perubahan kurikulum di atas, sehingga tidak banyak ditinggalkan oleh masyarakat penggunanya, baik pendidikan akademik maupun pendidikan profesional.

III.  PEMBAHASAN
3.1  Strategi Pembelajaran Aktif
Sebagaimana ditegaskan oleh para teoritisi belajar seperti Crow and Crow (1963), Gagne (1965), dan Hilgard and Bower (1966) dalam Knowles (1990), inti proses belajar adalah perubahan pada diri individu dalam aspek-aspek pengetahuan, sikap, keterampilan, dan kebiasaan sebagai produk dan interaksinya dengan lingkungannya. Atau bila kita ambil  Kolb (1986), mengatakan bahwa: “belajar adalah proses membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman”. Dengan kata lain suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil bila dalam diri individu terbentuk pengetahuan, sikap, keterampilan, atau kebiasaan baru yang secara kualitatif lebih baik dari sebelumnya. Proses belajar dapat terjadi karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungan belajar secara mandiri atau sengaja dirancang.
Jenis model-model pembelajaran interaktif  Prof. Dr. Atwi Suparman, M.Sc. (1997:12) menjelaskan antara lain:
1)      Model berbagai informasi yang tujuannya menitikberatkan pada proses komunikasi dan diskusi melalui interaksi argumentatif yang sarat penalaran. Termasuk ke dalam rumpun ini Model Orientasi, Model Sidang Umum, Model Seminar, Model Konferensi Kerja, Model Simposium, Model forum, dan Model Panel.
2)      Model Belajar melalui pengalaman yang tujuannya menitikberatkan pada proses perlibatan dalam situasi yang memberi implikasi perubahan perilaku yang sarat nilai dan sikap sosial. Termasuk ke dalam rumpun ini Model Simulasi, Model Bermain Peran, Model Sajian Situasi, Model Kelompok Aplikasi, Model Sajian Konflik, Model Sindikat, dan Model Kelompok “T”.
3)      Model pemecahan masalah yang tujuannya menitikberatkan pada proses pengkajian dan pemecahan masalah melalui interaksi dialogis dalam situasi yang sarat penalaran induktif. Termasuk ke dalam rumpun ini Model Curah Pendapat, Model Riuh Bicara, Model Diskusi Bebas, Model Kelompok Okupasi, Model Kelompok Silang, Model Tutorial, Model Studi Kasus, dan Model Lokakarya.
Model kelompok orientasi Situmorang (1997:3) mengatakan bahwa: ”suatu model pembelajaran melalui pengenalan program dan lingkungan belajar. Dalam pembelajaran tersebut dibentuk kelompok siswa. Yang dimaksud program meliputi tujuan dan strategi pencapaiannya, sedangkan linmgkungan belajar meliputi sarana belajar, narasumber, sarana pendukung, dan termasuk di dalamnya tata tertib yang harus dipatuhi”. Ada tiga keterampilan dasar mengajar yang dibutuhkan pengajar yaitu keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya dan keterampilan mengolah kelompok kecil.
Model Sidang Umum Winataputra (1997:13) menjelaskan bahwa: “istilah teknis pembelajaran yang digunakan untuk menunjukkan suatu bentuk prosedural pengorganisasian interaksi belajar-mengajar yang melibatkan pengajar (guru, pelatih, tutor, dosen, instruktur, widyaiswara) dan peserta didik (petatar, mahasiswa, siswa)”. Model ini merupakan bentuk simulatif atau tiruan sidang umum atau dapat pula disebut Sidang Umum berskala pedagogis kelas. Model ini bertujuan agar peserta didik dapat menyajikan informasi, memimpin pertemuan, membahas masalah, dan merumuskan kesimpulan atau mengambil keputusan dalam pertemuan formal. Beberapa keterampilan dasar mengajar yang perlu dikuasi yaitu keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan mengelola kelas dan ketarampilan memberikan penguatan.
Model Seminar  Irawan (1997:25) menjelaskan bahwa: “suatu kegiatan belajar mengajar yang melibatkan sekelompok orang yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang mendalam, atau dianggap mempunyai pengalaman dan pengetahuan mendalam tentang suatu hal, dan membahas hal tersebut bersama-sama dengan tujuan agar setiap peserta dapat saling belajar dan berbagi pengalaman dengan rekannya”.
Model Konferensi Kerja Tubbs (dalam Wardiani, 1997:37) mengartikan: “sebagai rangkaian pertemuan yang membahas topik yang menjadi kepedulian berbagai orang atau kelompok peserta konferensi. Misalnya, wakil-wakil dari berbagai perguruan tinggi mengadakan konferensi untuk membahas kurikulum, pengabdian pada masyarakat, dan lain-lain”.
Model Simposium  Winataputra (1997:49) mengatakan: “merupakan bentuk pertemuan ilmiah yang resmi”. Dalam pertemuan ini para pembicara menyampaikan pandangan mengenai suatu topik dari berbagai visi. Dengan cara ini suatu topik permasalahan dibahas secara meluas sehingga masalah itu terurai secara interdisipliner. Misalnya masalah pendidikan dibahas dari visi sosial, ekonomi, psikologi, agama, dan teknologi. Model simposium merupakan kerangka pembelajaran yang memerankan peserta didik sebagai pakar dalam berbagai bidang untuk berlatih memecahkan suatu topik problematik. Peserta didik dikondisikan untuk mencoba berbagai ide mengenai sesuatu dari visi masing-masing.
Model Forum dipakai sebagai istilah teknis pembelajaran untuk menunjukkan suatu bentuk prosedural pengorganisasian interaksi belajar mengajar klasikal yang melibatkan pengajar dan peserta didik dalam konteks pembahasan masalah. Model ini dapat bersifat bentuk nyata (real) bila masalah yang dibahas memang benar-benar merupakan masalah yang dihadapi peserta didik.
Diskusi Panel merupakan kerangka konseptual yang digunakan oleh pengajar dalam mengorganisasikan interaksi belajar mengajar dalam konteks pembahasan masalah kontroversial di lingkungannya. Model ini dapat dilakukan dalam bentuk real  atau dalam bentuk simulatif, tergantung dari hakekat masalah yang dibahas. Dengan menggunakan model ini, peserta didik akan dapat menyampaikan informasi atau pendapat mengenai permasalahan yang kontroversial. Proses ini akan mengkondisikan  peserta didik untuk berpikir secara kritis dan bersikap toleran terhadap pendapat orang lain yang berbeda.
Model Simulasi diartikan sebagai kegiatan pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk meniru satu kegiatan atau pekerjaan yang dituntut dalam kehidupan sehari-hari, atau yang berkaitan dengan tugas yang akan menjadi tanggung jawabnya jika kelak siswa sudah bekerja. Misalnya, simulasi mengajar, simulasi menolong orang sakit, simulasi mengatasi perampokan, atau simulasi pengaturan ruang. Dengan demikian, simulasi sebagai salah satu model pembelajaran merupakan peniruan pekerjaan yang menuntut kemampuan tertentu dari siswa sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan. Simulasi bertujuan untuk memberi kesempatan berlatih menguasai keterampilan tertentu melalui situasi buatan sehingga siswa terbebas dari resiko pekerjaan berbahaya.
Bermain peran digunakan dalam pembelajaran dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih menumbuhkan kesadaran dan kepekaan sosial serta sikap positif, di samping menemukan alternatif pemecahan masalah. Dengan perkataan lain, melalui bermain peran, siswa diharapkan mampu memahami dan menghayati berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang merupakan tekanan utama dalam bermain peran yang membedakannya dari simulasi. Simulasi lebih menekankan pada pembentukan keterampilan, sedangkan pembentukan sikap dan nilai merupakan tujuan tambahan.
Model Sajian Situasi merupakan kerangka prosedural pembelajaran yang menggunakan simulasi sebagai pemicu (trigger) belajar. Materi yang disajikan bukanlah konsep yang abstrak secara verbal tetapi situasi yang dibuat mencerminkan suatu konsep. Peserta didik dikondisikan untuk dapat menangkap konsep itu  melalui proses analisis situasi yang disimulasikan.
Model Kelompok Aplikasi adalah satu model pembelajaran keterampilan melalui penerapan dalam situasi nyata. Istilah aplikasi sering digunakan untuk menggambarkan wujud nyata dari suatu konsep, prinsip, maupun prosedur. Misalnya sering kita mendengar orang mengatakan itu kan hanya konsep, tapi nyatanya bagaimana?
Model Kelompok Sindikat merupakan istilah teknis pembelajaran  yang digunakan untuk pengorganisasian interaksi belajar mengajar yang melibatkan pengajar, peserta didik, dan lingkungan belajar. Tujuannya adalah untuk melatih keterampilan peserta didik agar dapat menggali/mencari informasi, mendiskusikannya dengan sesama teman, meneliti kebenaran informasi, menyajikan informasi dalam laporan ilmiah, dan mengembangkan sikap bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri.
Kelompok “T” merupakan pendekatan yang dipinjam dari dunia psikologi dan manajemen. Melalui model ini, sekelompok orang ditempatkan dalam suatu situasi tertentu, sedemikian rupa, sehingga setiap orang dalam kelompok itu merasakan adanya suatu kesatuan yang utuh dengan anggota lain dalam kelompok. Dalam dunia manajemen, strategi ini sering dilakukan di berbagai organisasi karena dipercaya bahwa tujuan organisasi tidak bisa dicapai secara optimal apabila personal dalam organisasi tidak memiliki sinergi tim, tidak memiliki rasa kesatuan dengan rekan-rekan yang lain. Dalam dunia pendidikan dan pelatihan, model kelompok “T” digunakan dengan alasan relatif sama.
Model Curah Pendapat (brainstorming) Suciati (1977:153) menjelaskan bahwa: “ pada dasarnya merupakan model untuk mencari pemecahan masalah (problem solving), meskipun dapat juga digunakan untuk tujuan penyusunan program, manual kerja, dan sebagainya”. Model ini terdiri dua tahap, tahap identifikasi gagasan (curah pendapat) dan tahap evaluasi gagasan.
Model Riuh Bicara  Wardani (1977:161) menjelaskan bahwa: “terjemahan dari Buzz Group yang secara harfiah berarti “kumpulan lebah” yang berdengung”. Dengungan ini merupakan ciri khas dari buzz group. Di dalam pembelajaran, Kelompok Riuh Bicara adalah kelompok kecil yang terdiri dari 2-5 orang yang membahas satu isu atau masalah dalam waktu yang singkat.
Model Kelompok Diskusi Bebas adalah model  diskusi kelompok yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menentukan topik dan arah diskusi. Dengan demikian, kelompok bebas memilih topik bebas yang akan didiskusikan serta cara dan arah (tujuan) yang ingin dicapai dalam diskusi. Bahkan siswa dapat menentukan dengan siapa dia ingin berkelompok. Tujuan utama yang ingin dicapai melalui model ini agar siswa mampu mengembangkan nilai dan sikap melalui diskusi ide-ide baru. Di samping itu, pengembangan melalui diskusi bebas oleh mahasiswa juga diharapkan mampu mengembangkan ide-ide baru yang mungkin belum pernah mendapat kesempatan untuk diungkapkan.
Model Kelompok Okupasi  Situmorang (1997:183) menjelaskan bahwa: “satu model belajar mengajar yang menggunakan pendekatan proses berbagi pengalaman dalam bidang pekerjaan yang sama”. Mungkin kita yang memiliki profesi dan bidang pekerjaan yang sama pernah berkumpul untuk memecahkan satu masalah tertentu; kemudian setiap orang diminta mengutarakan pengalamannya yang berkisar dengan masalah tersebut. Proses berbagi pengalaman seperti inilah yang disebut dengan Model Kelompok Okupasi.
Model Diskusi Kelompok  Silang pada hakekatnya adalah diskusi secara umum. Diskusi adalah suatu kegiatan yang dihadiri dua orang atau lebih untuk berbagi ide dan pengalaman serta memperluas pengetahuan. Misalnya beberapa anggota kelompok diskusi cenderung diam dan hanya menjadi pendengar. Di sisi lain, satu dua anggota lainnya cenderung mendominasi seluruh pembahasan. Jelas keadaan ini tidak sehat (terutama bila diskusi ini dipakai dalam konteks belajar mengajar). Model ini diperkenalkan untuk menutupi beberapa kelemahan di atas.
Model Tutorial  Winataputra (dalam Suparman, 1997:205) mengatakan: “bahwa tutorial atau “tutoring” merupakan istilah teknis pembelajaran yang diartikan sebagai bimbingan dan bantuan belajar”. Tutorial dapat diberikan oleh pengajar atau sesama peserta didik (peer tutorial) atau orang lain sebagai tamu (guest tutorial) atau peserta didik yang lebih tinggi (cross age tutorial).
Model Studi Kasus sangat produktif digunakan untuk mengembangkan kemampuan/keterampilan memecahkan masalah. Model atau pendekatan ini sangat sering digunakan dalam pendidikan dan pelatihan, dalam bentuk yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Studi kasus merupakan satu bentuk simulasi untuk mempelajari kasus nyata atau kasus sekarang.
Model Lokakarya (workshop/bengkel kerja) adalah wahana atau forum sekumpulan orang bekerja bersama-sama untuk menghasilkan suatu karya. Apa yang dihasilkan dalam suatu lokakarya adalah sesuatu yang nyata (konkret), dapat diamati (observable), real (tangible). Karena itu, orientasi lokakarya adalah pada praktik, dan bukan pembahasan teoritis.

3.2  PERGURUAN TINGGI
Penyelenggaraan program pendidikan tinggi yang meliputi pendidikan akademis (S1, S2, S3) dan profesional (D1, D2, D3, D4) ditangani oleh Depdiknas c.q. Ditjen Dikti. Sementara itu, pendidikan profesi dan sertifikasi profesi (yang berupa lisensi) ditangani oleh asosiasi profesi yang pelaksanaannya dapat dilimpahkan ke Depdiknas. Misalnya, pendidikan kedokteran dan kedokteran spesialis akan ditangani olek Ikatan Kedokteran Indonesia (IDI) akan memilih anggota kolokium pendidikan profesi kedokteran yang pantas dan layak untuk menyelenggarakan pendidikan kedokteran dan dokter spesialis. Anggota kolokium adalah fakultas-fakultas kedokteran yang ada, baik negeri maupun swasta. Pendidikan kedokteran dan dokter spesialis bekerja sama dengan Departemen Kesehatan, karena fakultas kedokteran tidak mampu menyelenggarakan rumah sakit yang memerlukan biaya operasional yang sangat mahal. Praktik kedokteran harus didukung oleh fasilitas rumah sakit dan puskesmas.
Kurikulum pendidikan tinggi tahun 2000 dikembangkan berdasarkan paradigma kompetensi. Seperti halnya Prof. Dr. Suprodjo Pusposutardjo, M.Eng. (2002:31) mengatakan bahwa: “kompetensi adalah hak seseorang untuk melaksanakan suatu karya atas dasar pengakuan masyarakat terhadap kemampuan dan kepatutannya secara keilmuan, keterampilan, cara menyikapi pekerjaan, dan cara bermasyarakat dengan profesi yang bersangkutan”.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 60/1999 pasal 13 ayat (1) Penyelenggaraan pendidikan tinggi dilaksanakan dalam program-program studi atas dasar kurikulum yang disusun oleh masing-masing perguruan tinggi; dan ayat (2) Kurikulum sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada kurikulum yang berlaku secara nasional (Kurnas) dengan penjelasan bahwa Kurnas merupakan rambu-rambu untuk menjamin mutu dan kemampuan penyelenggaraan dalam bentuk proporsi terhadap kelompok mata kuliah. Pada saat Kurnas sudah terbentuk, penyelenggaraan Kurnas tersebut ditangani oleh program studi yang bersangkutan. Dalam hal ini, program studi akan menentukan kurikulum sesuai dengan kelompok-kelompok mata kuliah.
Kurikulum pendidikan tinggi 2000 didasarkan pada paradigma content based approach. Penggantian paradigma itu berimplikasi pada: (1) penguasaan aspek kognitif dari instrumental diubah ke bentuk kemampuan, (2) penguasaan aspek afektif dari pragmatis diubah ke komprehensif, dan (3) penguasaan aspek psikomotorik dari adaptif diubah ke profesional.
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 232/U/2000 menyebutkan kurikulum pendidikan tinggi terdiri dari kelompok –kelompok mata kuliah. Pilar pengelompokan ilmu terdiri atas: (1) Mata kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK), (2) Mata kuliah Keahlian Berkarya (MKB), (3) Mata kuliah Perilaku Berkarya (MPB), dan (4) Mata kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB), tanpa disertai dengan rincian mata kuliah dan beban SKS masing-masing. Mata kuliah Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata kuliah wajib sebagai landasan pengembangan kepribadian (MPK).
Kurikulum yang disusun berdasarkan KepMen No. 232/U/2000 adalah kurikulum yang dilaksanakan apda suatu program studi yang ditempuh oleh peserta didik yang setelah lulus dapat mencari pekerjaan yang tidak memerlukan sertifikasi. Namun bagi lulusan yang ingin bekerja pada lembaga profesi mereka harus menempuh pendidikan profesi dan  ujian profesi. Misalnya sarjana ekonomi bila ingin bekerja sebagai akuntan, mereka harus menempuh pendidikan akuntan dan ujian akuntan yang diselenggarakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
Penyelenggaraan perguruan tinggi berkaitan dengan aspek kultural dan aspek struktural. Permasalahan kultural meliputi demokratisasi equility dan equality antar bidang ilmu, kesempatan belajar, mutu, akses sumber daya, penyelenggaraan pendidikan, dan lain-lain, relevansi pendidikan, akuntabilitas, profesionalisme dan efisiensi ketergunaan yang rendah, adanya kecenderungan uniformitas, dan ketergantungan pada pemerintah sehingga mengurangi kebebasan ilmu dan mimbar akademis, kejujuran dan ketulusan penyelenggaraan. Sedangkan permasalahan struktural penyelenggaraan pendidikan meliputi tatanan SDM, pendidik, lingkungan akademis, sistem pendanaan, tatanan lalu lintas pertukaran mahasiswa, tatanan keserasian penyelenggaraan pendidikan antar lembaga, dan ketersediaan fasilitas. Sejalan dengan hal di atas menurut PP No. 25/2000 pasal (3) butir 11 memuat, kewenangan pemerintah di bidang pendidikan dan kebudayaan; penetapan standar materi pelajaran pokok kurikulum yang berlaku secara nasional; penetapan persyaratan pedoman pembiayaan penyelenggaraan pendidikan; penetapan persyaratan penerimaan, perpindahan dan sertifikasi mahasiswa; dan pengaturan dan pengembangan pendidikan tinggi, pendidikan jarak jauh, serta pengaturan sekolah (perguruan tinggi) internasional.

IV.  KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
4.1  .Strategi pembelajaran aktif mengajak mahasiswa untuk belajar lebih aktif. Ketika mahasiswa belajar secara aktif, berarti mereka yang mendominasi aktivitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi kuliah, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam satu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan belajar aktif ini, mahasiswa diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya mahasiswa akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.
4.2  Strategi menilai proses pembelajaran meliputi: (1) penilaian peengetahuan awal, ingatan dan pemahaman, (2) penilaian kecakapan dalam berpikir analisis kritis, (3) penilaian kecakapan dalam berpikir sintesis kreatif, (4) penilaian dalam memecahkan masalah, dan (5) penilaian kecakapan dalam aplikasi dan performasi.
4.3  Pendidikan kita seharusnya tidak disibukkan dengan kurikulum akan tetapi disibukkan kepada pemberdayaan siswa dengan cara; (1) tumbuhkan, (2) alami, (3) namai, (4) demontrasikan, (5) ulangi, dan (6) rayakan.
4.4  Kurikulum yang dilaksanakan hendaknya  menggunakan pilar belajar melalui: (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to live together, dan (4) learning to be diharapkan dapat membawa siswa pada tingkat perkembangan yang integral, untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Diirektorat Pendidikan Tinggi. 1999. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi dan peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum.
Djahiri, A. Kosasih. 2001. Model Pembelajaran Portofolio Terpadu dan Utuh. CICED.
Feebrian, Jack. 2000. Buku Saku tentang Pendidikan Tinggi di Indonesia. Bandung: Informatika.
Prrabowo, Andi Haris dan Siti Zuhriah Ariatmi (ed.). 2002. Paradigma Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Tahun 2000. Surakarta:  Muhammadiah University Press.
Roooijakkers, Ad. 1995. Cara Belajar di Perguruan Tinggi: Beberapa Petunjuk Praktis.  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Suuparman, Atwi. (ed.). 1997. Model-Model Pembelajaran Interaktif. Jakarta: STIA LAN Press.
Zaaini, Hisyam., Bermawy Munthe, dan Sekar ayu Aryani. 2002. Strategi Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: CTSD.

PENYETARAAN GURU

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 1:19 pm

Penyetaraan Guru

Pemerintah daerah melalui program tugas dan izin belajar kepada para guru patut untuk terus ditumbuhkembangkan. Pemerintah Propinsi Riau salah satu pilar menyebutkan peningkatan sumber daya manusia, sebagai wujud dari pilar tersebut, pemerintah daerah memberikan perhatian khusus kepada para pendidik maupun birokrat untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, katakanlah dari program S1 ke jenjang S2 maupun S3. Sebagai konsekuensi dari upaya peningkatan sumber daya manusia adalah tersedianya dana atau anggaran pendidikan.

Program tugas dan izin belajar hendaknya secara kontinuitas dilaksanakan, karena program ini akan berdampak terhadap peningkatan kualitas guru. Kualitas guru perlu diperhatikan pemerintah, guru yang berkualitas, maka akan menghasilkan sumber daya manusia bermutu, demikian pula sebaliknya bilamana guru tidak bermutu, maka akan menghasilkan anak didik tidak bermutu.

Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu guru, itu tadi, yakni memberi kesempatan kepada guru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dahulunya pendidikan guru mayoritas lulusan SPG, KPG, dan sebagainya, mereka diberikan wewenang untuk mengajar pada tingkat Sekolah Dasar, sedangkan untuk tingkat SLTP adalah lulusan Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLTP), demikian pula untuk tingkat SLTA adalah guru yang memiliki ijazah akademis setingkat Bachelor of Arts (BA).

Akan tetapi sejak tahun 1980, mulailah di kenal dengan Pendidikan Diploma I, II, III, dan Sarjana S1. Bagi lulusan Diploma D-I-D II diberikan wewenang untuk mengajar di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), dan bagi Diploma 3 dan Sarjana S1 diberikan kesempatan untuk mengajar tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Adanya kebijakan pemerintah, bahwa bagi guru-guru yang mengajar pada tingkat Sekolah Dasar dipersyaratkan untuk memperoleh ijazah D-II. Demikian pula untuk tingkat Sekolah Lanjutan Pertama setiap guru dipersyaratkan memiliki ijazah Diploma-III, dan bagi guru ditingkat SLTA dipersyaratkan memiliki ijazah akademis S1. Program inilah yang disebut dengan Penyetaraan Guru.

Otonomi Daerah telah memberikan kesempatan kepada daerah kabupaten dan kota untuk dapat menata rumahtangganya sendiri, termasuk di dalamnya sektor pendidikan. Dengan adanya kebijakan masing-masing daerah kabupaten dan kota untuk memberikan kesempatan kepada para guru untuk melanjutkan pendidikan, baik untuk tingkat Diploma II, diploma III dan S1 perlu disambut positif dan tentunya kita berharap agar program ini secara terus menerus dilakukan. Setiap tahunnya pemerintah daerah agar memprogram dan sudah menjadi agenda setiap tahunnya.

Kami melihat, bahwa motivasi kabupaten dan kota mengirimkan tenaga guru untuk dididik setiap tahunnya terus bertambah, baik untuk guru bidang studi umum maupun guru bidang studi pendidikan agama. Ini menunjukan bahwa pemerintah daerah sudah mulai memperhatikan sektor pendidikan, dan tentunya pemerintah daerah menyadari bahwa kualitas suatu daerah ditentukan sejauhmana tingkat kualitas pendidikan masyarakatnya, bila kualitas masyarakatnya tinggi, maka menunjukan perhatian pemerintah daerah terhadap sektor pendidikan menjadi prioritas.

Oleh sebab itulah, pemeritah daerah perlu menyiapkan anggaran khusus kepada para guru yang memiliki motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pemerintah tidak akan rugi, bila guru-guru sudah memiliki ijazah akademis sesuai dengan yang dipersyaratkan, maka kita tetap optimis, mutu pendidikan akan meningkat.

Perlu diingat oleh para guru, bahwa pemerintah sudah mengeluarkan biaya, demikian pula bagi mereka yang sudah berkeluarga, rela meninggalkan sanak keluarga, demi pendidikan, dan tentunya dana yang diberikan pemerintah daerah mungkin tidak sebanding dengan pengeluaran selama ini. Itu adalah pengorbanan, oleh karena itu, para guru harus menyadari bahwa pendidikan itu mahal, dan tentu memerlukan pengorbanan baik moril maupun materil.

Bilamana para guru yang sudah menyelesaikan program pendidikan melalui tugas dan izin belajar, kiranya dapat memberikan nilai tambah bagi dirinya, sekolah, masyarakat dan pemerintah daerah. Para guru sudah memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan, barangkali sudah waktunya untuk melakukan pembenahan proses pembelajaran. Selama ini, mungkin kurang efektif, sehingga hasil belajar anak didiknya belum optimal, akan tetapi setelah menyelesaikan pendidikan diharapkan akan banyak perubahan baik penguasaan materi, keterampilan dalam metodologi pembelajaran, demikian pula keterampilan mengajar, dan lain sebagainya, sehingga hasil belajar anak didik lebih optimal.

Pemerintah berharap banyak kiranya para lulusan tugas dan izin belajar kembali ke daerah masing-masing, dan tentunya pemerintah daerah juga memberi kesempatan kepada para lulusan yang memperoleh nilai baik untuk dapat terus melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi lulusan S1 agar dapat melanjutkan ke jenjang S2, baik di Riau maupun di luar Riau, dan tentunya pemerintah daerah tidak melakukan diskriminatif terhadap pemberian bantuan pendidikan.

Selanjutnya, bagi lulusan tugas dan izin belajar, kembali mengajar dan tentu lebih profesional, dan memiliki tanggungjawab moral untuk meningkatkan mutu baik terhadap proses pembelajarannya maupun output satuan pendidikannya. Perlu diingat, bahwa lulusan tugas dan izin belajar bila kembali ke daerah jangan terkesan minta fasilitas atau jabatan-jabatan tertentu. Karena hal ini bertentangan dengan hakiki dari tugas dan izin belajar guru itu sendiri. Layak kiranya kita bersyukur dan berterima kasih karena kita diberi kesempatan untuk mengembangkan diri dan memperoleh wawasan luas dan sekaligus mendapatkan sertifikat akademis sebagai salah satu bentuk prestise dalam berkarir.

Dari pernyataan di atas saya sangat setuju karena kalau kita tetap menganut cara lama, maka pendidikan di negeri kita ini tidak akan maju. Dam juga perlu di ingat juga bahwasannya pendidikan adalah sesuatu yang akan dan selalu berkembang mengikuti zaman yang berlaku. Dan kalaupun kita dapat contohkan sebuah jagung yang sudah panen, jika orang yang mengolah tidak kretif / canggih maka akan menjadi makanan yang mempunyai daya jual rendah danjuga mempunyai kualitas yang kurang bagus dan tidak tahan lama (jagung baker/ rebus, jagung (makanan burung) dll), dan jika jagung tersebut diolah oleh tenaga/ orang yang yang kretif dan juga pintar maka akan menjadi makanan yang tahan lama dan juga mempunyai daya jual yang tinggi seperti pop korn, kue, dll. Seperti halnya murid jika tetap mengandalkan teori dan cara yang lama dalam pembelajaran maka haslnya pun sama saja tidak ada kemajuan secara menonjol. Mak dari itu kalau kita ingin mempunyai Out Put yang baik kita jangan hanya mengandalkan In Put yang baik juga Karen tenaga pemproses disini berpengaruh besar erhadap Out Put tersebut. Dan juga boleh saya katakana bahwa di dalam dunia pendidikan pada zaman sekarang itu sangatlah mahal sekali sehingga jika para guru tersebut mengandalkan gaji untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi maka bukan tidak mungkin mereka akan malas dan tidak mau untuk melanjutkan studinya dengan alasan ngak ada biaya. Memang kita ketahui bahwa gaji dari dia mengajar setiap hari mungkin hanya cukup untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan kelurganya saja. Maka dari itu alangkah baiknya kalau pemeritah memperhatikan para guru tersebut jika ingin melihat SDM daerah mereka baik dengan cara menyisihkan anggaran daerah untuk memberikan biaya bagi mereka yang melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi

Kalaupun pemerintah tidak mampu untuk membiayai mereka atau mengalami kesulitan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi maka alangkah baiknya kalau pemerintah mengadakan pelatihan pengajaran dengan mengundang guru-guru yang sudah agak tua karena kebanyakan dari mereka sangatlah repot untuk sekolah lagi, diharapkan agar meskipun mereka tersebut tida mengetahui kemajuan dunia pendidikan maka dengan cara seperti ini para guru tersebut mengetahui beberapa metode terbaru yang telah di terapkan di sekolah-sekolah yang sudah maju dan juga terdapat kemajuan yang signifikan terhadap anak didik setelah poenerapan metode pembelajaran baru tersebut. Dan kalupun cara tersebut masih sulit maka harus di tetapkan system paksa, karena jika kita terus merasa kasihan terhadap guru yang mana guru tersebut tidak memenuhi standarisasi dalam mengajar atau dalam artian sudah lamjut usia, dikerenakan kalau kita hanya mengandalkan mereka yang sebenarnya pada masa-masa tersebut sudah waktunya untuk berhenti dan menikmati hari tua mereka dengan jerih payah yang mereka dapatkan semasa muda.

PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN ATRAKTIF (Pendidikan Berbasis Kompetensi)

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 1:18 pm

Pendidikan secara umum dapat dimengerti sebagai suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak dan budi mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pada intinya pendidikan adalah suatu proses yang disadari untuk mengembangkan potensi individu sehingga memiliki kecerdasan pikir, emosional, berwatak dan berketerampilan untuk siap hidup ditengah-tengah masyarakat.

Sedangkan Pendidikan Berbasis Kompetensi menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi adalah kemampuan yang secara umum harus dapat dikuasai siswa baik secara pengetahuan maupun kemampuan yang dapat diamati dan diukur. Singkatnya adalah sekaligus mengetahui dan mampu menerapkan apa yang dikatahuinya itu. Oleh karena itu pendidikan yang berbasis kompetensi uji mutunya terletak pada kemampuan minimal yang harus dimiliki siswa dalam mempelajari suatu mata pelajaran atau bidang studi tertentu.

Pembelajaran berbasis kompetensi berarti suatu program pembelajaran di mana hasil belajar atau kompetensi yang diharapkan dicapai oleh siswa, sistem penyampaian, dan indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara tertulis sejak perencanaan dimulai. Maka dalam pembelajaran berbasis kompetensi yang perlu adalah adanya rumusan kompetensi yang ingin dicapai secara spesifik, jelas dan terukur; strategi penyampaian yang menekankan keaktifan siswa, dengan penggunaan metode yang kolaboratif dan manajemen waktu yang tepat; serta sistem evaluasi yang tidak hanya mengukur daya ingat saja tetapi lebih-lebih pada daya nalar dan keterampilan. Yang pokok adalah penguasaan kompetensi dasar, oleh karena itu materi yang tidak menunjang pencapaian kompetensi dapat dihilangkan. Dasar proses pembelajaran adalah kompetensi, sehingga kegiatannyapun harus merunut pada kompetensi yang telah dirumuskan, bukan berdasarkan pada banyaknya dan urutan materi yang ada. Dengan demikian dibutuhkan keterampilan bagi para pendidik untuk merumuskan kompetensi dasar dan sekaligus menyeleksi materi yang ada, serta strategi pengalaman belajar yang membuat siswa dengan “gampang” mencapai kompetensi dasar.

PEMBELAJARAN AKTIF
Proses pembelajaran di Taman Kanak-Kanak, Kelas I dan II Sekolah Dasar sangat dibutuhkan suatu strategi pembelajaran yang aktif. Berbagai macam aktivitas perlu diterapkan dalam pembelajaran apapun. Dengan bermain, menari, berolahraga, dramatisasi, gerak tangan dan kaki, apapun yang merupakan aktivitas positif dapat diterapkan. Proses pembelajaran pada usia dini yang telah mengikat anak pada suatu disiplin ketenangan duduk dan terlalu banyak di kelas dengan hanya mendengarkan, dan mencatat, tidaklah tepat.

Yang dimaksud dengan pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa untuk mengalami sendiri, untuk berlatih, untuk berkegiatan sehingga baik dengan daya pikir, emosional dan keterampilannya mereka belajar dan berlatih. Pendidik adalah fasilitator, suasana kelas demokratis, kedudukan pendidik adalah pembimbing dan pemberi arah, peserta didik merupakan obyek sekaligus subyek dan mereka bersama-sama saling mengisi kegiatan, belajar aktif dan kreatif. Disini dibutuhkan partisipasi aktif di kelas, bekerja keras dan mampu menghargainya, suasana demokratis, saling menghargai dengan kedudukan yang sama antar teman, serta kemandirian akademis.

Beberapa petunjuk penerapan Pembelajaran Aktif:
a. Mulailah pelajaran dengan menanyakan ringkasan atau apa yang penting dari pelajaran yang lalu. Mintalah peserta didik untuk membagikan apa yang mereka tulis atau ketahui kepada teman sekelas.

b. Mintalah peserta didik untuk mengajukan pertanyaan apa yang belum mereka pahami atau minta keterangan lebih lanjut mengenai pelajaran yang lalu atau pelajaran yang akan diberikan.

c. Mintalah peserta didik untuk menerka materi apa yang akan diberikan pada hari ini.

d. Meminta peserta didik untuk menuliskan komentar/mengomentari secara lisan topik atau tema yang akan dibahas.

e. Gunakanlah teknik permainan “jigsaw” untuk sarana permainan dalam kelompok kecil. Masing-masing kelompok memiliki tugas yang sama, tetapi sedikit informasi, sehingga mereka harus bekerjasama.

f. Mempersiapkan diskusi dengan menanyakan sesuatu, menyebutkan angka satu untuk yagn setuju atau menunjukkan kertas warna hijau, angka dua atau warna merah untuk yang tidak setuju, dan angka tiga atau warna kuning untuk yang ragu-ragu. Kemudian berdasarkan jawaban itu peserta didik diminta untuk mengajukan alasan atau argumentasinya.

g. Kerja kelompok, dimana setiap kelompok melakukan aktivitas tertentu sesuai dengan topik atau tema yang sedang dibahas/disampaikan.

h. Pada akhir proses pembelajaran, peserta didik diminta untuk menuliskan ringkasan menurut bahasanya sendiri. Atau diminta untuk membuat suatu tanggapan sesuai dengan kemampuannya entah dengan menggambar, membuat puisi, mengekspresikan dengan gerakan, menyanyi dan atau menari.

i. Peserta didik diminta untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan pokok atau tema bahasan, setelah ditukarkan dengan teman yang lain (misalnya sebangku), kemudian diminta untuk mengerjakannya sebagai pekerjaan rumah.

j. Siswa diminta untuk memberikan contoh dari pengalamannya yang berkaitan dengan pokok/tema yang baru saja dibahas.

Anjuran praktis ini, terbuka akan penyesuaian dengan tingkat dan jenjang pendidikan yang ada.

PEMBELAJARAN ATRAKTIF

Pembelajaran atraktif adalah suatu proses pembelajaran yang mempesona, menarik, mengasyikkan, menyenangkan, tidak membosankan, variatif, kreatif dan indah. Dalam proses pembelajaran di Taman Kanak-kanak dan kelas I dan II Sekolah Dasar sangat diperlukan proses pembelajaran yang atraktif. Sebab pada umumnya anak-anak pada usia dini masih cepat bosan belajar dan berlatih, kegiatannya ditentukan oleh suasana hati dan menyenangi hal-hal yang indah, warna-warni, menggembirakan, dan mengumbar daya imajinasi yang tinggi dan liar. Pendidik hendaknya piawai dalam hal menciptakan proses pembelajaran yang mempesona dan membesut metode serta sarana yang mampu membuat mereka asyik belajar, bermain, melakukan sesuatu dengan variasi yang memadai. Pendidik harus kreatif dan inovatif dalam menciptakan alat dan sarana belajar, alat permainan serta lagu-lagu atau cerita-cerita sederhana dan ringkas. Sehingga tidak kekurangan akal dan sarana untuk mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran.

Keterpesonaan peserta didik dalam proses pembelajaran dapat ditentukan oleh karena keterampilan pendidik dalam mendongeng atau bercerita; keterampilan membuat alat dan sarana bermain; kepandaian pendidik dalam menyanyi, kreativitas pendidik dalam menggunakan barang-barang bekas menjadi alat peraga; keterampilan pendidik dalam memilih metode secara variatif; dan penciptaan suasana kelas yang menggembirakan, menyenangkan dan nyaman. Namun ada satu hal yang sangat penting dari semua itu yaitu kepandaian pendidik dalam membangun komunikasi dan keakraban dengan peserta didik. Komunikasi yang lancar, keakraban yang sangat erat akan menentukan semua proses pembelajaran menjadi atraktif.

Oleh karena itu tidak kalah pentingnya adalah penampilan profil pendidik di depan kelas. Apakah dalam berpakaian telah sewajarnya sesuai dengan tugas dan peran yang sedang dilakukan. Apakah ekspresi wajah dan tubuh menampakkan keceriaan, kebahagiaan, kegesitan, kelincahan. Apakah dalam ungkapan kata-kata dan perilaku lebih menunjukkan kesantunan, penghargaan yang positif terhadap anak-anak. Apakah pendidik mampu “mensejajarkan” diri dengan anak-anak yang sedang dihadapinya. Sehinga peserta didik merasa nyaman, tentram, damai, senang dan bergairah dalam belajar dan berlatih. Singkatnya guru yang atraktif adalah guru yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, serta sikap profesional dalam mengusahakan proses pembelajaran yang mempesona, menarik dan menyenangkan, yang dimulai dari penciptaan profil diri yang menarik dan mempesona bagi anak.

Selain unsur pendidik, strategi pembelajaran, suasana kelas, pembelajaran atraktif juga ditentukan oleh keadaan kelas dan sarana prasarananya. Untuk ruang kelas Taman Kanak-Kanak dan juga ruang kamar di rumah, sangat mendukung jikalau dipenuhi dengan warna-warni keceriaan. Ini juga sekaligus untuk memperkenalkan warna-warna dasar. Alat dan sarana permainan juga dicat dengan warna-warni ceria, yang mengungkapkan unsur dinamis.

Catatan yang cukup penting adalah bahwa peserta didik diberikan kebebasan dan keleluasaan untuk menggunakan alat dan sarana yang ada. Memang penting diajari bagaimana menggunakan alat dan sarana dengan tepat, tetapi jangan sampai dilarang hanya karena supaya tidak cepat rusak. Alat dan sarana yang disediakan di ruang kelas atau kamar bermain anak adalah untuk bermain, belajar dan berlatih. Melarang penggunaannya hanya menjadikan hambatan dalam kemajuan belajar anak-anak. Lebih baik alat dan sarana itu rusak karena dipakai untuk berlatih, belajar dan bermain, daripada rusak hanya karena disimpan.

Sifat pokok dari pembelajaran atraktif adalah memukau, menarik, menyenangkan, indah. Atraktif dari segi fisik menyangkut ruangan kelas, taman bermain, dan alat sarana permainan. Atraktif dari segi suasana menyangkut profil pendidik yang murah senyum, ramah, memiliki kasih sayang yang memadai terhadap anak-anak, berhubungan akrab. Serta atraktif dalam proses pembelajaran yang menyangkut penggunaan metode yang kolaboratif dan variatif, tempat pembelajaran yang tidak hanya di dalam kelas saja tetapi juga di luar kelas (out door). Orientasi untuk Taman Kanak-Kanak adalah bermain dan bernyanyi. Sedangkan orientasi untuk Anak kelas I dan II Sekolah Dasar adalah pengembangan kemampuan membaca, menulis dan berhitung, dengan suasana bermain, bernyanyi, dan berlatih secara sederhana dan tidak menekan.

Penampilan dari pembelajaran atraktif misalnya nampak pada ruangan kelas dekoratif, banyak dipajang dan juga digantungkan hiasan-hiasan yang bersifat mendidik untuk mengenalkan lingkungan terdekat anak-anak yang indah. Selain itu juga harus menunjukkan estetika, termasuk warna cat, jenis permainan, gambar-gambar. Di dalam rangan bermain hendaknya tersedia banyak media bagi anak-anak, media untuk mengenal bangunan, untuk mengenal gambar huruf dan angka, media untuk mengenal benda-benda sekitar, media untuk mengenal buah-buahan, sayur-sayuran. Pada pokoknya media yang dapat menolong anak untuk mengenali dirinya sendiri dalam tema “AKU”, “Panca Indera” dan “Keluarga”. Sejauh mungkin terdapat alat peraga dan alat bantu bermain atau berkegiatan, yang diusahakan oleh para pendidik. Penampilan taman bermain sejauh mungkin juga memperhatikan kaidah-kaidah estetika, warna-warni, bervariasi, dekoratif, tetapi tetap aman dan nyaman digunakan. Jangan lupa juga agar terdapat ilustrasi dan situasi penuh warna. Jadi singkatnya dalam penampilan kelas atau ruangan, taman bermain lengkap dengan alat-alat permainannya, gambar/ilustrasi, hendaknya menarik, mempesona dan memukau anak-anak. Diharapkan dengan penampilan yang demikian anak-anak akan merasa tidak bosan untuk belajar di sekolah. Hal ini masih penting juga diusahakan di kelas I dan II Sekolah Dasar.

Pada pendidikan usia dini yang ditekankan ialah pembiasaan-pembiasaan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Untuk Taman Kanak-Kanak lebih ditekankan pada pengenalan dan pengembangan peran serta fungsi diri dengan Tema “AKU”, pengenalan dan pengembangan fungsi “Panca Indera”, serta pengenalan dan pengembangan hubungannya dalam “Keluarga”. Dari situ baru dikembangkan dalam hal kemampuan daya pikir, perasaan dan keterampilan seperti membaca, menulis dan berhitung, mengendalikan diri, bekerja sama, yang semuanya masih disampaikan dalam suasana gembira, ceria dalam bermain dan bernyanyi serta menari/gerak.

PEMBELAJARAN BERDASARKAN KECERDASAN JAMAK

Pendidikan sekarang ini terlalu dipersempit pada pengembangan kecerdasan pikir yang diukur dengan IQ saja. Pengertian ini harus digeser pada pemahaman bahwa sebenarnya setiap orang memiliki kecerdasan jamak/majemuk. Pendidikan dan pembelajaran seharusnya memobilisasi kecerdasan jamak/majemuk. Artinya, sekolah dalam menyusun kurikulum, atau pendidik dalam menyusun proses pembelajaran, atau orang tua dalam mendidik dan melatih putra-putrinya, bertanya bagaimana dapat membantu sebaik mungkin anak-anak yang memiliki kecerdasan logika-bahasa (bercerita), musik, berelasi dan berkomunikasi, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan gerakan badan, kecerdasan ruang, dan kecerdasan intra pribadi. Kurikulum kita yang tradisional ternyata tidak banyak membantu perkembangan kecerdasan peserta didik. Banyak anak tidak sukses dalam belajar, hasilnya dibawah ukuran kecerdasannya, sebab tidak ada sarana dan kesempatan untuk mengambangkan dan melatih kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki. Menurut Howard Gardner, hanya dua saja yang sangat ditekankan di sekolah-sekoloah yaitu kecerdasan logika matematis dan logika bahasa.

Dalam kecerdasan jamak, anak yang mungkin tidak mampu di dalam kecerdasan logika matematika dan bahasa, dia dapat dikembangkan dengan lima kecerdasan lainnya. Mungkin dapat dibantu untuk mengembangkan kecerdasan musiknya, keterampilan gerak badannya dalam menari atau berolah raga, dilatih kecerdasannya dalam pergaulan, bagaimana memahami orang lain, bagaimana bekerjasama. Singkatnya setiap anak dapat dilatih dan dikembangkan melalui tujuh macam kecerdasan yang ada. Misalnya sejauh mungkin di dalam proses pembelajaran atau di dalam kelas, pendidik mengusahakan pusat-pusat pembelajaran atau waktu-waktu yang difokuskan pada bermacam kecerdasan yang ada. Misalnya ada pusat seni (baik untuk seni rupa/lukis, drama), pusat matematika (untuk berhitung, menggambar angka, himpunan), pusat musik (seni musik dan seni suara), pusat bahasa (untuk membaca, mengarang, komunikasi), pusat proyek bersama, dan pusat untuk kerja individual. Dengan demikian setiap anak akan terlayani dengan baik, tidak hanya terfokus pada mereka yang memiliki kecerdasan logika bahasa dan matematika.

Salah satu penyebab kegagalan belajar di sekolah dikarenakan pendidik memandang bahwa setiap anak itu memiliki pola belajar mengajar yang sama, sehingga tidak menyediakan proses dan menu pembelajaran yang berbeda-beda. Akibatnya hanya anak-anak tertentu saja yang maju yaitu yang memiliki kecerdasan logika bahasa dan matematika yang lumayan baik. Kita kurang mengembangkan metode kolaboratif dan variatif dan pusat-pusat pembelajaran, sehingga sangat sedikit anak yang terbantu dalam mengembangkan dan melatih kecerdasan. Kita juga kurang mengembangkan pendekatan pembelajaran yang berdasar pada kecerdasan majemuk seperti supermarket yang menyediakan berbagai menu dan cara pendekatan pembelajaran.

Di Taman Kanak-Kanak dan kelas I dan II Sekolah Dasar sangat diperlukan menu dan proses pembelajaran berdasarkan kecerdasan jamak/majemuk. Pendidik merancang sedemikian rupa ruangan kelas, alat peraga, alat permainan, kelompok belajar, metode, tugas, sehingga ketujuh kecerdasan yang ada dapat dilatihkan dan dikembangkan. Juga yang tidak kalah penting adalah menyediakan sarana dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berinteraksi, baik berinteraksi dengan dirinya sendiri maupun berinteraksi secara sosial dengan orang-orang terdekat. Sebab suasana yang kondusif dalam pergaulan (relasi dan komunikasi), serta kemampuan untuk mengenal diri sendiri, mengembangkan sikap empati, simpati dan juga rasa persaudaraan yang saling mengembangkan. Mungkin dua motto berikut dapat memotivasi kita dalam melaksanakan proses pembelajaran berdasar kecerdasan jamak: Pertama, “Semua anak itu cerdas dan ajarlah (didiklah) setiap anak sesuai dengan keunikan talentanya masing-masing.” Kedua, ” Kenalilah dirimu sendiri dan berjalanlah beriringan dengan teman-temanmu, merupakan keterampilan kunci untuk mengembangkan kecerdasan.”

Hasil salah satu penelitian:
Hasil penelitian dari suatu sekolah yang telah melaksanakan pendekatan pembelajaran dengan tujuh pusat atau tujuh kecerdasan yang berbeda-beda, menunjukkan suatu hasil yang sangat penting. Siswa belajar melalui membaca, menulis, komputer, pemecahan masalah secara kooperatif, bergerak dan “membangun sesuatu”, menyanyi dan menciptakan irama, dan melalui bentuk-bentuk seni yang lain. Kurikulum dan proses pembelajarannya dirancang baik secara tematis maupun perpaduan antar berbagai disiplin ilmu. Setelah diadakan penelitian selama tiga tahun melalui jurnal harian, penelitian suasana kelas, dan juga peningkatan hasil belajar siswa, hasilnya sebagai berikut:

a) Menunjukkan adanya peningkatan sikap ketidaktergantungan, tanggungjawab dan kemandirian peserta didik dalam proses pembelajaran
b) Menunjukkan perubahan perilaku untuk menghadapi suatu masalah
c) Menunjukkan adanya peningkatan kemampuan untuk bekerja sama secara kooperatif
d) Kemampuan kelompok dalam bekerja menggunakan berbagai macam cara dan media, paling tidak menggunakan 4 sampai 5 pendekatan kecerdasan jamak
e) Peserta didik yang memiliki kecerdasan gerak tubuh umumnya lebih beruntung karena pendekatan dinamis dan bergerak
f) Terlatih sikap-sikap kepemimpinan, karena aktif bekerja dalam kelompok-kelompok kecil
g) Di rumah menjadi lebih rajin, lebih aktif belajar, lebih positif sikapnya terhadap kegiatan-kegiatan sekolah
h) Proses kegiatan dengan musik atau lagu dan bergerak dari pusat belajar yang satu dengan yang lainnya, menjadikan anak lebih bergairah dalam hidup dan bahagia
i) Peran pendidik semakin berubah dari instruktor, informator ke fasilitator, pendamping lebih sebagai sumber belajar yang mendampingi peserta didik
j) Peserta didik menunjukkan peningkatan kemampuan dalam berpikir, merasakan, bekerjasama, dan menunjukkan keaktifan yang efektif

PANDUAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IPS TERPADU

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 1:17 pm

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), meliputi bahan kajian: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi. Bahan kajian itu menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Mata pelajaran IPS bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa kehidupan masyarakat (Nursid Sumaatmaja, 1980;20)

Dalam implementasinya, perlu dilakukan berbagai studi yang mengarah pada peningkatan efisiensi dan efektivitas layanan dan pengembangan sebagai konsekuensi dari suatu inovasi pendidikan. Salah satu bentuk efisiensi dan efektivitas implementasi kurikulum, perlu dikembangkan berbagai model pembelajaran kurikulum.

Model pembelajaran terpadu merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD/MI) sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA/MA). Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3).
Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara holistik, bermakna, otentik, dan aktif. Cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang guru sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman bagi para peserta didik. Pengalaman belajar lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual yang dipelajari dengan sisi bidang kajian yang relevan akan membentuk skema (konsep), sehingga peserta didik akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Perolehan keutuhan belajar, pengetahuan, serta kebulatan pandangan tentang kehidupan dan dunia nyata hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran terpadu (Williams, 1976:116).

Namun demikian, pelaksanaannya di sekolah SMP/MTs pembelajaran IPS sebagian besar masih dilaksanakan secara terpisah. Pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran IPS masih dilakukan sesuai dengan bidang kajian masing-masing (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi) tanpa ada keterpaduan di dalamnya. Hal ini tentu saja menghambat ketercapaian tujuan IPS itu sendiri yang dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, budaya). Hal ini disebabkan antara lain: (1) kurikulum IPS itu sendiri tidak menggambarkan satu kesatuan yang terintegrasi, melainkan masih terpisah-pisah antarbidang ilmu-ilmu sosial; (2) latar belakang guru yang mengajar merupakan guru disiplin ilmu seperti geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi, antropologi sehingga sangat sulit untuk melakukan pembelajaran yang memadukan antardisiplin ilmu tersebut; serta (3) terdapat kesulitan dalam pembagian tugas dan waktu pada masing-masing guru ”mata pelajaran” untuk pembelajaran IPS secara terpadu. (4) meskipun pembelajaran terpadu bukan merupakan hal yang baru namun para guru di sekolah tidak terbiasa melaksanakannya sehingga ”dianggap” hal yang baru.

Atas dasar pemikiran di atas, maka dalam rangka implementasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta untuk memenuhi ketercapai pembelajaran, maka diperlukan pedoman pelaksanaan model pembelajaran IPS Terpadu pada tingkat SMP/MTs. Hal ini penting, untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran terpadu yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret dalam kerangka implementasi Standar Kompetensi Dan Kompetensi Dasar.

B. Tujuan

Tujuan penyusunan model pembelajaran IPS Terpadu pada tingkat SMP/MTs pada dasarnya untuk memberikan pedoman yang dapat dijadikan sebagai kerangka acuan bagi guru dan pihak terkait. Secara rinci, penyusunan model ini diantaranya bertujuan untuk:
1) memberikan wawasan dan pemahaman tentang pembelajaran terpadu, khususnya paduan pembelajaran IPS pada tingkat SMP/MTs;
2) membimbing guru agar memiliki kemampuan melaksanakan pembelajaran terpadu antardisiplin ilmu-ilmu sosial pada mata pelajaran IPS;
3) memberikan keterampilan kepada guru untuk dapat menyusun rencana pembelajaran dan penilaian secara terpadu dalam pembelajaran IPS;
4) memberikan wawasan, pengetahuan, dan pemahaman bagi pihak terkait, sehingga mereka dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran dan ketepatan pelaksanaan pembelajaran terpadu; dan
5) memberikan acuan dasar dalam pelaksanaan pembelajaran IPS Terpadu di SMP/MTs.

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penyusunan model pembelajaran IPS Terpadu antara lain mencakup hal-hal berikut.
1. Pemetaan kompetensi yang dapat dipadukan dari masing-masing Kompetensi Dasar yang sudah ditetapkan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk IPS tingkat SMP/MTs.
2. Pengembangan strategi model pembelajaran IPS Terpadu pada tingkat SMP/MTs.
3. Pengembangan penilaian model pembelajaran IPS Terpadu pada tingkat SMP/MTs.
4. Pengembangan contoh model rencana pembelajaran IPS Terpadu pada tingkat SMP/MTs untuk kelas VII, VIII, dan IX.

D. Sistematika

Model Pembelajaran IPS Terpadu memuat beberapa keterpaduan antar-Kompetensi Dasar. Model ini juga menyangkut apa dan bagaimana seorang guru di SMP/MTs mengembangkan dan melaksanakan model tersebut. Sistematika Panduan Pengembangan Pembelajaran IPS Terpadu SMP/MTs terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut.

Bab satu, merupakan pendahuluan yang memuat penjelasan tentang latar belakang serta pentingnya keberadaan pedoman. Selain itu juga mengungkapkan tujuan serta sistematika sajian.

Bab dua, berisi penjelasan tentang kerangka berpikir yang mencakup tentang karakteristik, tujuan, konsep keterpaduan IPS, dan model keterpaduan berdasarkan topik.

Bab tiga, berisi tentang strategi pelaksanaan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu, yang menjelaskan tahapan tentang perencanaan (meliputi pemetaan Kompetensi Dasar, pemilihan topik, penjabaran Kompetensi Dasar ke dalam indikator, penyusunan silabus, dan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), pelaksanaan pembelajaran (meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir serta tindak lanjut), dan penilaian (meliputi tahapan penilaian dan penentuan kriteria ketuntasan belajar).

Bab empat, berisi tentang implikasi pembelajaran IPS Terpadu yang menjelaskan peran guru, peserta didik, serta sarana dan prasarana pembelajaran.

BAB II
KERANGKA BERPIKIR

A. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial.

Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan studi-studi sosial.

B. Karakteristik Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Karateristik mata pelajaran IPS SMP/MTs antara lain sebagai berikut.
1. Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan dan agama (Numan Soemantri, 2001).
2. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi, yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi pokok bahasan atau topik (tema) tertentu.
3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS juga menyangkut berbagai masalah sosial yang dirumuskan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner.
4. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dapat menyangkut peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat dengan prinsip sebab akibat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan, struktur, proses dan masalah sosial serta upaya-upaya perjuangan hidup agar survive seperti pemenuhan kebutuhan, kekuasaan, keadilan dan jaminan keamanan (Daldjoeni, 1981).
5. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS menggunakan tiga dimensi dalam mengkaji dan memahami fenomena sosial serta kehidupan manusia secara keseluruhan. Ketiga dimensi tersebut terlihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Dimensi IPS Dalam Kehidupan Manusia

Dimensi dalam kehidupan manusia Ruang Waktu Nilai/Norma
Area dan substansi pembelajaran Alam sebagai tempat dan penyedia potensi sumber daya Alam dan kehidupan yang selalu berproses, masa lalu, saat ini, dan yang akan datang Kaidah atau aturan yang menjadi perekat dan penjamin keharmonisan kehidupan manusia dan alam
Contoh Kompetensi Dasar yang dikembangkan Adaptasi spasial dan eksploratif Berpikir kronologis, prospektif, antisipatif Konsisten dengan aturan yang disepakati dan kaidah alamiah masing-masing disiplin ilmu
Alternatif penyajian dalam mata pelajaran Geografi Sejarah Ekonomi, Sosiologi/Antropologi
Sumber: Sardiman, 2004
C. Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin, 1998).
1. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.
2. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
3. Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.
4. Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
5. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.

D. Konsep Pembelajaran Terpadu dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3). Salah satu di antaranya adalah memadukan Kompetensi Dasar. Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.

Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang. Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial.
1. Model Integrasi Berdasarkan Topik

Dalam pembelajaran IPS keterpaduan dapat dilakukan berdasarkan topik yang terkait, misalnya ‘Kegiatan ekonomi penduduk’. Kegiatan ekonomi penduduk dalam contoh yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam IPS. Kegiatan ekonomi penduduk dalam hal ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisis-geografis yang tercakup dalam disiplin Geografi.

Secara sosiologis, Kegiatan ekonomi penduduk dapat mempengaruhi interaksi sosial di masyarakat atau sebaliknya. Secara historis dari waktu ke waktu kegiatan ekonomi penduduk selalu mengalami perubahan. Selanjutnya penguasaan konsep tentang jenis-jenis kegiatan ekonomi sampai pada taraf mampu menumbuhkan krteatifitas dan kemandirian dalam melakukan tindakan ekonomi dapat dikembangkan melalui kompetensi yang berkaitan dengan ekonomi.

Skema berikut memberikan gambaran keterkaitan suatu topik/tema dengan berbagai disiplin ilmu

2. Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama
Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui topik yang didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah setempat; sebagai contoh, “Potensi Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran yang dikembangkan dalam Kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari faktor alam, historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya, maka peserta didik selain dapat memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam IPS .
• Potensi objek wisata
• Memupuk aspirasi terhadap kesenian
• Perkembangan masyarakat Azas manfaat terhadap
setempat kesejahteraan penduduk

Gambar 3: Model Integrasi IPS Berdasarkan Potensi Utama

3. Model Integrasi Berdasarkan Permasalahan
Model pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah “Pemukiman Kumuh”. Pada pembelajaran terpadu, Pemukiman Kumuh ditinjau dari beberapa faktor sosial yang mempengaruhinya. Di antaranya adalah faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Juga dapat dari faktor historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan/norma.

BAB III
STRATEGI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
ILMU PENGETAHUAN SOSIAl TERPADU

A. Perencanaan
Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran terpadu bergantung pada kesesuaian rencana yang dibuat dengan kondisi dan potensi peserta didik (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Untuk menyusun perencanaan pembelajaran terpadu perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini.
1. Pemetaan Kompetensi Dasar
2. Penentuan Topik/tema
3. Penjabaran (perumusan) Kompetensi Dasar ke dalam indikator sesuai topik/tema
4. Pengembangan Silabus
5. Penyusunan Desain/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Langkah-langkah tersebut secara rinci dijelaskan sebagai berikut ini.
1. Pemetaan Kompetensi Dasar
Langkah pertama dalam pengembangan model pembelajaran terpadu adalah melakukan pemetaan pada semua Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar bidang kajian IPS per kelas yang dapat dipadukan. Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh.

Kegiatan yang dapat dilakukan pada pemetaan ini antara lain dengan:
1) mengidentifikasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS yang dapat dipadukan dalam satu tingkat kelas yang sama; dan
2) menentukan tema/topik pengikat antar-Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.

Beberapa ketentuan dalam pemetaan Kompetensi Dasar dalam pengembangan model pembelajaran terpadu IPS adalah sebagai berikut.
a. Mengidentifikasikan beberapa Kompetensi Dasar dalam berbagai Standar Kompetensi yang memiliki potensi untuk dipadukan.
b. Beberapa Kompetensi Dasar yang tidak berpotensi dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan dalam pembelajaran. Kompetensi Dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan/disajikan secara tersendiri.
c. Kompetensi Dasar dipetakan tidak harus berasal dari semua Standar Kompetensi yang ada pada mata pelajaran IPS pada kelas yang sama, melainkan memungkinkan hanya dua atau tiga Kompetensi Dasar saja.
d. Kompetensi Dasar yang sudah dipetakan dalam satu topik/tema masih bisa dipetakan dengan topik/tema lainnya.

Berikut ini contoh pemetaan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS yang dapat diintegrasikan/dipadukan.
Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu
Kelas VII

No. Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah Tema
1. Semester 2
6.1 Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan, dan pola permukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi.
Semester 1
2.3 Mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi sosial

2.4 Menguraikan proses interaksi sosial
Semester 2
6.2 Mendeskripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa.

6.2. Mendeskripsikan kegiatan pokok ekonomi, yang meliputi kegiataan konsumsi, produksi, dan distribusi barang /jasa

6.3. Mendes-kripsikan peran badan usaha, termasuk koperasi, sebagai tempat berlangsungnya proses produksi dalam kaitannya dengan pelaku ekonomi Semester 1
5.1 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Hindu-Buddha, serta peninggalan-peningalannya

5.2 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-peningalannya

5.3 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Kolonial Eropa
Kegiatan Ekonomi Penduduk
2 Semester 1
1.1 Mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan dampaknya terhadap kehidupan Semester 1
2.1 Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial. Semester 1
6.2 Mendeskripsikan kegiatan pokok ekonomi, yang meliputi kegiataan konsumsi, produksi, dan distribusi barang /jasa

6.3. Mendes-kripsikan peran badan usaha, termasuk koperasi, sebagai tempat berlangsungnya proses produksi dalam kaitannya dengan pelaku ekonomi
6.4. Menggunakan gagasan kreatif dalam tindakan ekonomi untuk mencapai kemandirian dan kesejahteraan Semester 2
5.1 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-peninggalannya
Bali sebagai daerah tujuan wisata
Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu
Kelas VIII

No. Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah Tema
1
Semester 1
1.2 Mengidentifikasi permasalahan kependudukan dan upaya penanggulangan nya
1.4 Mendeskripsikan permasalahan kependudukan dan dampaknya terhadap pembangunan
Semester 1

3.1 Mengidentifikasi berbagai penyakit sosial (miras, judi, narkoba, HIV/Aids, PSK, dan sebagainya) sebagai akibat penyimpangan sosial dalam keluarga dan masyarakat

3.2 Mengidentifikasi berbagai usaha pencegahan penyimpangan sosial dalam keluarga dan masyarakat

Semester 1
4.1. Mendeskripsikan hubungan antara kelangkaan sumber daya dengan kebutuhan manusia yang tidak terbatas
Semester 2
7.1. Mendes-kripsikan permasalahan angkatan kerja dan tenaga kerja sebagai sumber daya dalam kegiatan ekonomi, serta peranan pemerintah dalam upaya penainggulangannya
Semester 1
2.1 Menjelaskan proses perkembangan kolonialisme dan imperalisme Barat, serta pengaruh yang ditimbulkannya di berbagai daerah

Penyimpangan Sosial
Semester 1
1.1 Mendeskripsikan kondisi fisik wilayah dan penduduk

Semester 2
6.1 Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat

Semester 2
7.1. Mendeskripsikan permasalahan angkatan kerja dan tenaga kerja sebagai sumber daya dalam kegiatan ekonomi, serta peranan pemerintah dalam upaya penainggulangannya
7.2. Mendeskripsikan pelaku-pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia
7.3. Mendes-kripsikan fungsi pajak dalam perekonomian nasional

– Otonomi Daerah

Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu
Kelas IX

No. Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah Tema
1
Semester 1
1.1 Mengidentifikasi ciri-ciri negara berkembang dan negara maju.

Semester 1
3.1 Mendeskripsikan perubahan sosial-budaya pada masyarakat
3.2 Menguraikan tipe-tipe perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan.
Semester 1
4.2. Mendes-kripsikan perdagangan internasio-nal dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia
Semester 1
2.1. Mendeskripsikan peristiwa-peristiwa politik dan ekonomi Indonesia pasca pengakuan kedaulatan

Tenaga Kerja Wanita (TKW)
2 Semester 2
5.2 Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur geografis dan penduduk di kawasan Asia Tenggara

5.3Mendeskrip-sikan pembagian permukaan bumi atas benua dan samudera.
Semester 2
7.3 Mengurai-kan perilaku masyarakat dalam perubahan sosial-budaya di era global Semester 2
7.4 Mendeskripsikan kerjasama antarnegara di bidang ekonomi

7.5.Mengiden-tifikasi dampak kerjasama antarne-gara terhadap perekonomian Indonesia

Semester 2
7.1 Menjelaskan berakhirnya masa Orde Baru dan lahirnya Reformasi
7.2 Mengurai-kan perkem-bangan lembaga internasi-onal dan peran Indonesia dalam kerjasama interna-sional

2. Penentuan Topik/Tema

Setelah pemetaan Kompetensi Dasar selesai, langkah selanjutnya dilakukan penentuan topik/tema. Topik/tema yang ditentukan harus relevan dengan Kompetensi Dasar yang telah dipetakan. Dengan demikian, dalam satu mata pelajaran IPS pada satu tingkatan kelas terdapat beberapa topik yang akan dibahas.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan topik/tema pada pembelajaran IPS Terpadu antara lain meliputi hal-hal berikut.
a. Topik, dalam pembelajaran IPS Terpadu, merupakan perekat antar-Kompetensi Dasar yang terdapat dalam satu rumpun mata pelajaran IPS.
b. Topik yang ditentukan selain relevan dengan Kompetensi-kompetensi Dasar yang terdapat dalam satu tingkatan kelas, juga sebaiknya relevan dengan pengalaman pribadi peserta didik, dalam arti sesuai dengan keadaan lingkungan setempat. Hal ini agar pembelajaran yang dilakukan dapat lebih bermakna bagi peserta didik; misalnya, untuk kelas VII disajikan dua contoh topik/tema yaitu: Kegiatan ekonomi penduduk dan Bali sebagai tujuan wisata.
c. Dalam menentukan topik, isu sentral yang sedang berkembang saat ini, dapat menjadi prioritas yang dipilih dengan tidak mengabaikan keterkaitan antar-Kompetensi Dasar pada satu rumpun yang telah dipetakan. Contohnya, Pemberlakuan Otonomi Daerah, Pertumbuhan Industri, Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung, Pasca Gempa Bumi dan Tsunami, Penyakit Folio, Penyakit Busung Lapar, Gempa Bumi di Yogyakarta, Masalah semburan lumpur di Sidoarjo

Berikut ini beberapa contoh Topik yang relatif relevan dengan pemetaan Kompetensi Dasar

Kelas VII SMP
1) Topik: Kegiatan Ekonomi Penduduk
No Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah
1. Semester 2
6.1 Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan, dan pola pemukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi.
Semester 1
2.1 Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial. Semester 2
6.2 Mendeskripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa.
Semester 2
5.2 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-peninggalannya

Kelas VIII SMP
2) Topik : Pelestarian Lingkungan
No Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah
1. Semester 1
1.3 Mendeskripsikan permasalahan lingkungan hidup dan upaya penang-gulangannya dalam pembangunan berkelanjutan. Semester 2
6.1 Mendeskripsikan bentuk-bentuk hubungan sosial

6.2 Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat

6.3 Mendeskripsikan upaya pengendalian penyimpangan sosial
Semester 1
4.1 Mendeskripsikan hubungan antara kelangkaan sumber daya dengan kebutuhan manusia yang tidak terbatas
Semester 1
2.1 Menjelaskan proses perkembangan kolonialisme dan imperialisme Barat, serta pengaruh yang ditimbulkannya di berbagai daerah di Indonesia.

Kelas IX SMP.
3) Topik: Pengembangan Pariwisata
No Geografi Sosiologi Ekonomi Sejarah
1. Semester 2
5.1 Menginterpretasi-kan peta tentang bentuk dan pola muka bumi.
Semester 1
3.1 Mendeskripsi-kan perubahan sosial-budaya pada masyarakat

3.2 Menguraikan tipe-tipe perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan Semester 1
4.1 Mendeskripsikan uang dan lembaga keuangan.

Semester 2
7.2 Menguraikan perkembangan lembaga-lembaga internasional dan peran Indonesia dalam kerjasama internasional

3. Penjabaran Kompetensi Dasar ke dalam Indikator

Setelah melakukan langkah Pemetaan Kompetensi Dasar dan Penentuan Topik/Tema sebagai pengikat keterpaduan, maka Kompetensi-kompetensi Dasar tersebut dijabarkan ke dalam indikator pencapaian hasil belajar yang nantinya digunakan untuk penyusunan silabus.

Contoh perumusan Kompetensi Dasar ke dalam berbagai indikator pencapaian

Kompetensi Dasar Geografi:
6.1 Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, penggunaan lahan,
dan pola pemukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan bumi.
Perumusan indikatornya:
• Mengidentifikasikan mata pencaharian penduduk (pertanian, nonpertanian).
• Mendeskripsikan bentuk penggunaan lahan di pedesaan dan perkotaan.
• Mendiskripsikan persebaran permukiman penduduk di berbagai bentang lahan dan mengungkapkan alasan penduduk memilih bermukim di lokasi tersebut.

Kompetensi Dasar Sosiologi:
2.1 Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial.
Perumusan indikatornya:
• Mengidentifikasi pola-pola keselarasan sosial dalam keluarga dan masyarakat.
• Menentukan sikap dalam keragaman sosial untuk mewujudkan keselarasan sosial.

Kompetensi Dasar Ekonomi:
6.2 Mendeksripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan
konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa.
Perumusan indikatornya:
• Menguraikan kegiatan konsumsi barang dan jasa.
• Menguraikan kegiatan produksi barang dan jasa.
• Menguraikan kegiatan distribusi barang dan jasa.

Kompetensi Dasar Sejarah:
5.2 Mendeksripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan
pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-
peninggalannya.
Perumusan indikatornya:
• Menyusun kronologis proses masuk berkembangnya Islam di Indonesia dengan menggunakan ensiklopedi dan referensi relevan lainnya.
• Menjelaskan peranan pedagang dan ulama dalam proses awal perkembangan Islam di Indonesia.

4. Penyusunan Silabus
Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada langkah-langkah sebelumnya dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan silabus pembelajaran terpadu. Komponen penyusunan silabus terdiri dari Standar Kompetensi IPS (Sosiologi, Sejarah, Geografi, dan Ekonomi), Kompetensi Dasar, Indikator, Pengalaman belajar, alokasi waktu, dan penilaian. Contoh format penyusunan silabus pembelajaran IPS terpadu adalah sebagai berikut.

5. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)/Skenario Pembelajaran

Setelah teridentifikasi peta Kompetensi Dasar dan topik yang terpadu, selanjutnya adalah menyusun desain/rencana pelaksanaan pembelajaran. Pada pembelajaran IPS Terpadu, sesuai dengan Standar Isi, keterpaduan terletak pada strategi pembelajaran. Hal ini disebabkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar telah ditentukan dalam Standar Isi.

Rencana pelaksanaan pembelajaran tersebut merupakan realisasi dari pengalaman belajar peserta didik yang telah ditentukan pada silabus pembelajaran terpadu. Komponennya terdiri atas: identitas mata pelajaran, Kompetensi Dasar yang hendak dicapai, materi pokok beserta uraiannya, langkah pembelajaran, alat media yang digunakan, penilaian dan tindak lanjut, serta sumber bahan yang digunakan. Contoh format desain/rencana pembelajaran terpadu adalah sebagai berikut.

Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran/ Skenario Pembelajaran Terpadu IPS lihat Lampiran.

CONTOH FORMAT
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPS TERPADU

Mata Pelajaran : ………………….
Satuan Pendidikan : ………………….
Kelas/Semester : ………………….
Topik/Tema : ………………….
Alokasi Waktu : ………………….

A. Kompetensi Dasar dan Indikator
………………………………….
B. Tujuan Pembelajaran
………………………………….
C. Metode Pembelajaran
…………………………………….
D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan 1
Tahapan Kegiatan Alokasi Waktu
Kegiatan Awal

Kegiatan Inti

Penutup

Pertemuan Ke-2
Tahapan Kegiatan Alokasi Waktu
Kegiatan Awal

Kegiatan Inti

Penutup

E. Sumber, Alat, dan Media Pembelajaran
……………………………………….
F. Penilaian:
• Tehnik
• Bentuk Instrumen
• Instrumen

Jakarta, …………..
Mengetahui, Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran…..,
……………………………. ……………………………..
NIP…………………….. NIP………………………….

B. Model Pelaksanaan Pembelajaran

1. Kegiatan Pendahuluan (Awal)
Kegiatan pendahuluan (introduction) pada dasarnya merupakan kegiatan awal yang harus ditempuh guru dan peserta didik pada setiap kali pelaksanaan pembelajaran terpadu. Fungsinya terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif yang memungkinkan peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Efisiensi waktu dalam kegiatan pendahuluan pembelajaran terpadu ini perlu diperhatikan, karena waktu yang tersedia untuk kegiatan tersebut relatif singkat, berkisar antara 5-10 menit. Dengan waktu yang relatif singkat tersebut diharapkan guru dapat menciptakan kondisi awal pembelajaran dengan baik, sehingga dalam kegiatan inti pembelajaran terpadu peserta didik sudah siap untuk mengikuti pelajaran dengan seksama.
Kegiatan utama yang dilaksanakan dalam pendahuluan pembelajaran ini di antaranya untuk menciptakan kondisi-kondisi awal pembelajaran yang kondusif, melaksanakan kegiatan apersepsi (apperception), dan penilaian awal (pre-test). Penciptaan kondisi awal pembelajaran dilakukan dengan cara: mengecek atau memeriksa kehadiran peserta didik (presence, attendance), menumbuhkan kesiapan belajar peserta didik (readiness), menciptakan suasana belajar yang demokratis, membangkitkan motivasi belajar peserta didik, dan membangkitkan perhatian peserta didik. Melaksanakan apersepsi (apperception) dilakukan dengan cara: mengajukan pertanyaan tentang bahan pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya dan memberikan komentar terhadap jawaban peserta didik, dilanjutkan dengan mengulas materi pelajaran yang akan dibahas. Melaksanakan penilaian awal dapat dilakukan dengan cara lisan pada beberapa peserta didik yang dianggap mewakili seluruh peserta didik, bisa juga penilaian awal ini dalam prosesnya dipadukan dengan kegiatan apersepsi.

2. Kegiatan Inti Pembelajaran
Kegiatan inti merupakan kegiatan dalam rangka pelaksanaan pembelajaran terpadu yang menekankan pada proses pembentukan pengalaman belajar peserta didik (learning experiences). Pengalaman belajar tersebut bisa dalam bentuk kegiatan tatap muka dan nontatap muka. Pengalaman belajar tatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan mengembangkan bentuk-bentuk interaksi langsung antara guru dengan peserta didik, sedangkan pengalaman belajar nontatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik dalam berinteraksi dengan sumber belajar lain yang bukan kegiatan interaksi guru-peserta didik.
Kegiatan inti dalam pembelajaran terpadu bersifat situasional, dalam arti perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat proses pembelajaran itu berlangsung. Terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam kegiatan inti pembelajaran terpadu. Kegiatan paling awal yang perlu dilakukan guru adalah memberitahukan tujuan atau Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik beserta garis-garis besar materi/bahan pembelajaran yang akan dipelajari. Hal ini perlu dilakukan agar peserta didik mengetahui sejak awal kemampuan-kemampuan apa saja yang akan diperolehnya setelah proses pembelajaran berakhir. Cara yang cukup praktis untuk memberitahukan tujuan atau kompetensi tersebut kepada peserta didik bisa dilakukan dengan cara tertulis atau lisan, atau kedua-duanya. Guru menuliskan tujuan/kompetensi tersebut di papan tulis dilanjutkan dengan penjelasan secara lisan mengenai pentingnya tujuan/kompetensi tersebut dikuasai peserta didik.
Kegiatan lainnya di awal kegiatan inti pembelajaran terpadu yaitu menjelaskan alternatif kegiatan belajar yang akan dialami peserta didik. Dalam tahapan ini guru perlu menyampaikan kepada peserta didik tentang kegiatan-kegiatan belajar yang harus ditempuh peserta didik dalam mempelajari tema/topik, atau materi pembelajaran terpadu. Kegiatan belajar yang ditempuh peserta didik dalam pembelajaran terpadu lebih diutamakan pada terjadinya proses belajar yang berkadar aktivitas tinggi. Pembelajaran berorientasi pada aktivitas peserta didik, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator yang memberikan kemudahan-kemudahan kepada peserta didik untuk belajar. Peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri apa yang dipelajarinya, sehingga prinsip-prinsip belajar dalam teori konstruktivisme dapat dijalankan.
Dalam membahas dan menyajikan materi/bahan pembelajaran terpadu harus diarahkan pada suatu proses perubahan tingkah laku peserta didik. Penyajian bahan pembelajaran harus dilakukan secara terpadu melalui penghubungan konsep dari mata pelajaran satu dengan konsep mata pelajaran lainnya. Dalam hal ini, guru harus berupaya menyajikan bahan pelajaran dengan strategi mengajar yang bervariasi, yang mendorong peserta didik pada upaya penemuan pengetahuan baru. Kegiatan pembelajaran terpadu bisa dilakukan melalui kegiatan pembelajaran secara klasikal, kelompok, dan perorangan.

3. Kegiatan Akhir (Penutup) dan Tindak Lanjut
Kegiatan akhir dalam pembelajaran terpadu tidak hanya diartikan sebagai kegiatan untuk menutup pelajaran, tetapi juga sebagai kegiatan penilaian hasil belajar peserta didik dan kegiatan tindak lanjut. Kegiatan tindak lanjut harus ditempuh berdasarkan pada proses dan hasil belajar peserta didik. Waktu yang tersedia untuk kegiatan ini relatif singkat, oleh karena itu guru perlu mengatur dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Secara umum kegiatan akhir dan tindak lanjut dalam pembelajaran terpadu di antaranya:
melaksanakan§ dan mengkaji penilaian akhir;
melaksanakan tindak lanjut pembelajaran§ melalui kegiatan pemberian tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah, menjelaskan kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi pelajaran tertentu, dan memberikan motivasi atau bimbingan belajar; dan
mengemukakan topik yang akan dibahas pada waktu yang akan§ datang, dan menutup kegiatan pembelajaran.

C. Penilaian
Objek dalam penilaian pembelajaran terpadu mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Penilaian proses belajar adalah upaya pemberian nilai terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan peserta didik, sedangkan penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan kriteria tertentu. Hasil belajar tersebut pada hakikatnya merupakan pencapaian kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi tersebut dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Penilaian proses dan hasil belajar itu saling berkaitan satu dengan lainnya, hasil belajar merupakan akibat dari suatu proses belajar.
Penilaian yang dikembangkan mencakup teknik, bentuk dan instrumen yang digunakan terdapat pada lampiran.

a. Teknik Penilaian
Teknik penilaian merupakan cara yang digunakan dalam melaksanakan penilaian tersebut. Teknik-teknik yang dapat diterapkan untuk jenis tagihan tes meliputi: (1) Kuis dan (2) Tes Harian.
Untuk jenis tagihan nontes, teknik-teknik penilaian yang dapat diterapkan adalah: (1) observasi, (2) angket, (3) wawancara,(4) tugas, (5) proyek, dan (6) portofolio.
b. Bentuk Instrumen
Bentuk instrumen merupakan alat yang digunakan dalam melakukan penilaian/pengukuran/evaluasi terhadap pencapaian kompetensi peserta didik. Bentuk-bentuk instrumen yang dikelompokkan menurut jenis tagihan dan teknik penilaian adalah:
• Tes: isian, benar-salah, menjodohkan, pilihan ganda, uraian, dan unjuk kerja
• Nontes: panduan observasi, kuesioner, panduan wawancara, dan rubrik.
c. Instrumen
Instrumen merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian kompetensi.
Apabila penilaian menggunakan tehnik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja dan tugas rumah yang berupa proyek, harus disertai rubrik penilaian.

BAB IV
IMPLIKASI PEMBELAJARAN IPS TERPADU

A. Guru
Oleh karena pembelajaran IPS Terpadu merupakan gabungan antara berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial, yang biasanya terdiri atas beberapa mata pelajaran seperti Geografi, Sosiologi/Antropologi, Ekonomi, dan Sejarah, maka dalam pelaksanaannya tidak lagi terpisah-pisah melainkan menjadi satu kesatuan. Hal ini memberikan implikasi terhadap guru yang mengajar di kelas. Seyogianya guru dalam pembelajaran IPS dilakukan oleh seorang guru mata pelajaran, yakni Guru Mata Pelajaran IPS.
Di sekolah pada umumnya guru-guru yang tersedia terdiri atas guru-guru disiplin ilmu seperti guru Geografi, Sosiologi/Antropologi, Ekonomi, dan Sejarah. Guru dengan latar belakang tersebut tentunya sulit untuk beradaptasi ke dalam pengintegrasian disiplin ilmu-ilmu sosial, karena mereka yang memiliki latar belakang Geografi tidak memiliki kemampuan yang optimal pada Ekonomi dan Sejaran, begitu pula sebaliknya. Di samping itu, pembelajaran IPS Terpadu juga menimbulkan konsekuensi terhadap berkurangnya beban jam pelajaran yang diemban guru-guru yang tercakup ke dalam IPS, sementara ketentuan yang berkaitan dengan kewajiban atas beban jam mengajar untuk setiap guru masih tetap.
Untuk itu, dalam pembelajaran IPS dapat dilakukan dengan dua cara, yakni: (1) team teaching, dan (2) guru tunggal. Hal tersebut disesuaikan dengan keadaan guru dan kebijakan sekolah masing-masing.
1. Team Teaching
Pembelajaran terpadu dalam hal ini diajarkan dengan cara team; satu topik pembelajaran dilakukan oleh lebih dari seorang guru. Setiap guru memiliki tugas masing-masing sesuai dengan keahlian dan kesepakatan. Kelebihan sistem ini antara lain adalah: (1) pencapaian KD pada setiap topik efektif karena dalam tim terdiri atas beberapa yang ahli dalam ilmu-ilmu sosial, (2) pengalaman dan pemahaman peserta didik lebih kaya daripada dilakukan oleh seorang guru karena dalam satu tim dapat mengungkapkan berbagai konsep dan pengalaman, dan (3) peserta didik akan lebih cepat memahami karena diskusi akan berjalan dengan narasumber dari berbagai disiplin ilmu.
Kelemahan dari sistem ini antara lain adalah jika tidak ada koordinasi, maka setiap guru dalam tim akan saling mengandalkan sehingga pencapaian KD tidak akan terpenuhi. Selanjutnya, jika kurang persiapan, penampilan di kelas akan tersendat-sendat karena skenario tidak berjalan dengan semestinya, sehingga para guru tidak tahu apa yang akan dilakukan di dalam kelas.
Untuk itu maka diperlukan beberapa langkah seperti berikut.
(a) Dilakukan penelaahan untuk memastikan berapa KD dan SK yang harus dicapai dalam satu topik pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan berapa guru bidang studi IPS yang dapat dilibatkan dalam pembelajaran pada topik tersebut.
(b) Setiap guru bertanggung jawab atas tercapainya KD yang termasuk dalam SK yang ia mampu, seperti misalnya SK-1 oleh guru dengan latar belakang Sosiologi/Antropologi, SK-2 oleh guru dengan latar belakang Geografi, dan seterusnya.
(c) Disusun skenario pembelajaran dengan melibatkan semua guru yang termasuk ke dalam topik yang bersangkutan, sehingga setiap anggota memahami apa yang harus dikerjakan dalam pembelajaran tersebut.
(d) Sebaiknya dilakukan simulasi terlebih dahulu jika pembelajaran dengan sistem ini merupakan hal yang baru, sehingga tidak terjadi kecanggungan di dalam kelas.
(e) Evaluasi dan remedial menjadi tanggung jawab masing-masing guru sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, sehingga akumulasi nilai gabungan dari setiap Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi menjadi nilai mata pelajaran IPS.

2. Guru Tunggal
Pembelajaran IPS dengan seorang guru merupakan hal yang ideal dilakukan. Hal ini disebabkan: (1) IPS merupakan satu mata pelajaran, (2) guru dapat merancang skenario pembelajaran sesuai dengan topik yang ia kembangkan tanpa konsolidasi terlebih dahulu dengan guru yang lain, dan (3) oleh karena tanggung jawab dipikul oleh seorang diri, maka potensi untuk saling mengandalkan tidak akan muncul.
Namun demikian, terdapat beberapa kelemahan dalam pembelajaran IPS terpadu yang dilakukan oleh guru tunggal, yakni: (1) oleh karena mata pelajaran IPS terpadu merupakan hal yang baru, sedangkan guru-guru yang tersedia merupakan guru bidang studi sehingga sangat sulit untuk melakukan penggabungan terhadap berbagai bidang studi tersebut, (2) seorang guru bidang studi geografi tidak menguasai secara mendalam tentang sejarah dan ekonomi sehingga dalam pembelajaran IPS terpadu akan didominasi oleh bidang studi geografi, serta (3) jika skenario pembelajaran tidak menggunakan metode yang inovatif maka pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tidak akan tercapai karena akan menjadi sebuah narasi yang kering tanpa makna.
Untuk tercapainya pembelajaran IPS Terpadu yang dilakukan oleh guru tunggal tersebut, maka dapat dilakukan beberapa hal sebagai berikut.
a. Guru-guru yang tercakup ke dalam mata pelajaran IPS diberikan pelatihan bidang-bidang studi di luar bidang keahliannya, seperti guru bidang studi Sejarah diberikan pelatihan tentang bidang studi Geografi dan Ekonomi.
b. Koordinasi antarbidang studi yang tercakup dalam mata pelajaran IPS tetap dilakukan, untuk mereviu apakah skenario yang disusun sudah dapat memenuhi persyaratan yang berkaitan dengan bidang studi di luar yang ia mampu.
c. Disusun skenario dengan metode pembelajaran yang inovatif dan memunculkan nalar para peserta didik sehingga guru tidak terjebak ke dalam pemaparan yang parsial bidang studi.
d. Persiapan pembelajaran disusun dengan matang sesuai dengan target pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sesuai dengan topik yang dihasilkan dari pemetaan yang telah dilakukan.

B. Peserta didik
Dilihat dari aspek peserta didik, pembelajaran IPS Terpadu memiliki peluang untuk pengembangan kreativitas akademik. Hal ini disebabkan model ini menekankan pada pengembangan kemampuan analitik, kemampuan asosiatif, serta kemampuan eksploratif dan elaboratif. Pembelajaran IPS Terpadu ini akan lebih dipahami peserta didik jika dalam penyajiannya lebih mengupas pada permasalahan sosial yang ada, terutama permasalahan sosial di lingkungan peserta didik itu sendiri.
Selain itu, model pembelajaran IPS Terpadu dapat mempermudah dan memotivasi peserta didik untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan antara konsep, pengetahuan, nilai atau tindakan yang terdapat dalam beberapa indikator dan Kompetensi Dasar. Dengan mempergunakan model pembelajaran IPS Terpadu, secara psikologik, peserta didik digiring berpikir secara luas dan mendalam untuk menangkap dan memahami hubungan-hubungan konseptual yang disajikan guru. Selanjutnya, peserta didik akan terbiasa berpikir terarah, teratur, utuh, menyeluruh, sistemik, dan analitik. Dengan demikian, pembelajaran model ini menuntun kemampuan belajar peserta didik lebih baik, baik dalam aspek intelegensi maupun kreativitas.

C. Bahan Ajar
Bahan ajar memiliki peran yang penting dalam pembelajaran termasuk dalam pembelajaran terpadu. Oleh karena pembelajaran terpadu pada dasarnya merupakan perpaduan dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam ilmu-ilmu sosial, maka dalam pembelajaran ini memerlukan bahan ajar yang lebih lengkap dan komprehensif dibandingkan dengan pembelajaran monolitik. Dalam satu topik pembelajaran, dalam hal ini, diperlukan sejumlah sumber belajar yang sesuai dengan jumlah Standar Kompetensi yang merupakan jumlah bidang studi yang tercakup di dalamnya. Jika pembelajaran dalam satu topik tersebut mencakup seluruh SK (4 Standar Kompetensi), maka ia akan memerlukan bahan ajar yang mencakup empat bidang studi yakni Sosiologi/Antroplogi, Geografi, Sejarah, dan Ekonomi.
Sumber belajar utama yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPS Terpadu dapat berbentuk teks tertulis seperti buku, majalah, brosur, surat kabar, poster dan informasi lepas, atau berupa lingkungan sekitar seperti: lingkungan alam, lingkungan sosial sehari-hari. Seorang guru yang akan menyusun materi perlu mengumpulkan dan mempersiapkan bahan kepustakaan atau rujukan (buku dan pedoman yang berkaitan dan sesuai) untuk menyusun dan mengembangkan silabus. Pencarian informasi ini, sebenarnya dapat pula memanfaatkan perangkat teknologi informasi mutakhir seperti multimedia dan internet.
Bahan yang akan digunakan dapat berbentuk buku sumber utama Sosiologi/Antropologi, Geografi, Sejarah, dan Ekonomi maupun buku penunjang lainnya. Di samping itu, bahan bacaan penunjang seperti jurnal, hasil penelitian, majalah, koran, brosur, serta alat pembelajaran yang terkait dengan indikator dan Kompetensi Dasar ditetapkan. Sebagai bahan penunjang, dapat juga digunakan disket, kaset, atau CD yang berisi cerita atau tayangan yang berkaitan dengan bahan yang akan dipadukan. Guru, dalam hal ini, dituntut untuk rajin dan kreatif mencari dan mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan dalam pembelajaran. Keberhasilan seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran terpadu tergantung pada wawasan, pengetahuan, pemahaman, dan tingkat kreativitasnya dalam mengelola bahan ajar. Semakin lengkap bahan yang terkumpulkan dan semakin luas wawasan dan pemahaman guru terhadap materi tersebut maka berkecenderungan akan semakin baik pembelajaran yang dilaksanakan.
Bahan yang sudah terkumpul selanjutnya dipilah, dikelompokkan, dan disusun ke dalam indikator dari Kompetensi Dasar. Setelah bahan-bahan yang diperlukan terkumpul secara memadai, seorang guru selanjutnya perlu mempelajari secara cermat dan mendalam tentang isi bahan ajar yang berkaitan dengan langkah kegiatan berikutnya.

D. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang harus tersedia dalam pembelajaran IPS Terpadu pada dasarnya relatif sama dengan pembelajaran yang lainnya, hanya saja ia memiliki kekhasan tersendiri dalam beberapa hal. Dalam pembelajaran IPS Terpadu, guru harus memilih secara jeli media yang akan digunakan, dalam hal ini media tersebut harus memiliki kegunaan yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang studi yang terkait dan tentu saja terpadu. Misalnya, peta yang digunakan tidak hanya peta yang dapat digunakan untuk Standar Kompetensi yang berkaitan dengan Geografi saja melainkan juga seyogianya dapat digunakan untuk mencapai Standar Kompetensi yang lainnya. Dengan demikian, efisiensi pemanfaatan sarana dapat terlaksana dalam pembelajaran ini.
Namun demikian, dalam pembelajaran ini tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan sarana yang relatif lebih banyak dari pembelajaran monolitik. Hal ini disebabkan untuk memberikan pengalaman yang terpadu, peserta didik harus diberikan ilustrasi dan demonstrasi yang komprehensif untuk satu topik tertentu. Guru dalam pembelajaran ini diharapkan dapat mengoptimalkan sarana yang tersedia untuk mencapai tujuan pembelajaran IPS Terpadu.

Strategi Pembelajaran Sosiologi Tingkat SMA

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 1:14 pm

Pendahuluan
Persepsi-persepsi kronis telah menjadi milik sejumlah siswa SMA. Ilmu-ilmu sosial itu membosankan karena sajiannya bertele-tele dan untuk menguasainya dibutuhkan kemampuan menghafal yang luar biasa. Stereotip yang kurang mengesankan ini terajut dari impresi sosiologi sebagai produksi masa lampau yang dalam penyajiannya tidak relevan dengan konteks sosial siswa. Kontekstualisme ini diperhebat dengan kejenuhan mental dalam mengejar tuntutan pemenuhan kurikulum yakni menghafal sejumlah bab materi yang tersajikan dalam aneka buku wajib mata pelajaran. Seolah-olah para pelajar telah teralienasi dari diri mereka dan telah menjadi robot kurikulum, sehingga mereka tidak mempunyai waktu lagi untuk bermain, refreshing dan melakukan interaksi sosial.

Tatkala guru menyajikan sejumlah teori sosial, mereka semakin bingung. Apa lagi, sajian-sajian itu tidak tepat sasaran dan tidak sesuai dengan situasi sosial lingkungan sekitarnya. Mereka harus berpikir dua kali untuk mengasosiasikan teori dengan kenyataan hidupnya dan selanjutnya mencerna teori sajian guru. Keterlambatan dalam menginternalisasi materi pun terjadi. Konsep siswa baru pada tahap asosiasi, tetapi waktu pelajarannya keburu selesai. Siswa enggan melanjutkan hal itu lagi karena sudah terjaring limit waktu dan harus beralih ke mata pelajaran yang lain.

Ketika persepsi negatif merasuki pikiran siswa, minat dan motivasi belajarnya merosot. Interaksi belajar dalam kelas cenderung monoton. Guru asyik berceramah, sedangkan para siswa mengangguk-angguk pertanda guru harus segera mengakhiri pembelajaran itu. Ada yang melakukan aktivitas yang lain, seperti mengganggu teman, mendesah dan merintih. Ketika diadakan evaluasi ringan, banyak yang menunjukkan ketidakmengertiannya, lalu mereduksi bahwa mata pelajaran sosial seperti sosiologi sulit dan menjenuhkan.

Hal lain yang memperhebat persepsi negatif siswa adalah kurangnya pengetahuan guru akan situasi-situasi sosial actual, yang tengah berlangsung dalam masyarakat. Guru kurang mampu menghubungkan relevansi pelajaran dengan kenyataan praktis dan keterkaitannya dengan ilmu-ilmu lain dalam mengeksplorasi bahan pembelajaran. Selain itu, situasi dan kondisi belajar yang tidak nyaman, bising, panas dan kurang variatif juga akan mengurangi gairah belajar siswa.

Adanya indikasi kegagalan siswa dalam mempelajari sosiologi mendesak penulis untuk melihat masalah-masalah itu dalam kaitannya dengan alternatif pemecahan yang boleh ditempuh dalam proses pembelajaran, sehingga ada harapan bagi guru bahkan siswa sendiri untuk bisa menghengkangkan persepsi dan gejala yang menghantui sebagian pelajar itu.

Sekurang-kurangnya ada tiga masalah pokok yang melatarbelakangi keengganan peserta didik untuk mempelajari Sosiologi. Pertama, masalah teknik pembelajaran yang tidak menumbuhkan motivasi siswa. Seharusnya, proses pembelajaran itu dapat memacu keingintahuan siswa untuk membedah masalah-masalah seputar lingkungan sosialnya sekaligus dapat membentuk opini pribadi terhadap masalah-masalah tersebut. Di sini, mereka bukan lagi dianggap sebagai ¡¥tabula rasa¡¦, kertas kosong atau pribadi yang menerima secara pasif sajian yang tidak tepat sasaran empunya guru; pribadi yang tidak mengetahui apa-apa, melainkan pribadi yang telah berinteraksi dengan lingkungan dan berhak untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.

Kedua, eksistensi guru bukan sebagai fasilitator yang membelajarkan siswa, melainkan pribadi yang mengajar atau menggurui siswa. Kalau hal ini menjadi prioritas dalam pembelajaran maka kesan negatif yang bisa mematikan kreativitas siswa pun timbul, bahwa guru itu sumber ilmu tetapi siswa gudangnya ilmu. Siswa adalah ¡§bank¡¨ dan guru adalah nasabahnya. Guru menabung ilmu dalam bank empunya siswa, sedangkan siswa tidak memiliki ilmu itu. Bukankah kehadiran seorang guru ¡¥ibarat seorang bidan yang membantu mengeluarkan bayi dari perut seorang ibunya¡¦?. Peran aktif siswa dalam mengeksplorasi dan mengkonstruksi pengetahuannya sangat diutamakan. Guru cuma memfasilitasi siswa guna mengikuti pola-pola kognitif dan memperlihatkan konsep pengetahuannya itu dapat berlaku benar untuk setiap keadaan atau sudah baku menurut referensi ilmu dan kebenaran epistemologis tertentu. Jadi, masalahnya terletak pada proses pembelajaran yang masih menganggap siswa sebagai obyek yang tidak mengetahui sesuatu.

Siswa membentuk konsep atau skemata melalui proses asimilasi dan akomodasi; sedangkan guru menunjukkan kebenaran konsep atau skemata pengetahuan siswa itu dengan hukum, teori dan kebenaran yang berlaku umum. Jika yang diperoleh siswa adalah ketidaksesuaian, maka guru dapat menunjukkan kesalahan konsep itu dan memperlihatkan yang benar, atau membantu mencari alasan, bukti dan referensi ilmiah untuk mengkonstruksi pengetahuan baru. Yang diharapkan dari guru adalah menguasai ketrampilan professional dan unjuk kerjanya. Membuat skenario pembelajaran yang mengesankan dan memacu keingintahuan peserta didik. Melatih kemampuan berpikir dan berinteraksi siswa secara benar sehingga siswa terpesona lalu berkesimpulan ¡§Saya berpikir, maka saya ada, saya mengalaminya, maka saya bisa¡¨

Ketiga, penyampaian pesan pembelajaran dengan media yang kurang interaktif dan atraktif. Yang diharapkan dari siswa adalah merasa at home, menyenangi pelajaran, merasa membutuhkan ilmu itu serta dapat melaksanakan pesan pembelajaran.. Siswa dapat menterjemahkan isi pesan itu ke dalam ranah – ranah kognitif karena dari situlah sumber kompetensi baginya dan haluan evaluasi bagi guru. Siswa dapat memiliki keahlian afektif dan psikomotorik yang bisa diukur.

Menumbuhkan Motivasi

Jika keacuhan siswa karena kehilangan persepsi positif dalam mempelajari sosiologi maka urgensitas tindakan guru adalah mempunyai pemahaman yang tangguh tentang motivasi dan menemukan pola pembelajaran yang menumbuhkan motivasi siswa. Morgan (1986) dalam bukunya Introduction To Psychology, menjelaskan bahwa peserta didik yang malas itu disebabkan karena tidak adanya insentif yang menarik bagi dirinya dan ia pun tidak merasakan perasaan yang menyenangkan dari pembelajaran. Insentif dan perasaaan menyenangkan ini menjadi dorongan yang berarti bagi peserta didik. Seseorang berperilaku tertentu karena ingin mendapatkan sesuatu. Contoh insentif yang paling umum dan paling dikenal oleh peserta didik misalnya jika mereka naik kelas akan dibelikan mobil atau sepeda baru oleh orang tua. Hal ini bukan berarti guru harus seperti orang tua yang membelikan mobil, tetapi menyiapkan insentif berupa pujian (reinforcement) atau kesempatan melakukan pekerjaan lain yang memungkinkan mereka tidak terpinggirkan dari kawan-kawan lainnya.

Pujian guru menunjukkan penghargaan dan perhatian terhadap siswa. Siswa seringkali haus perhatian dan senang dipuji. Jadi dari pada memberikan perhatian ketika siswa tidak mau belajar dengan cara marah-marah dan hanya berkomentar yang merendahkan siswa, akan lebih efektif perhatian guru diarahkan pada suatu hal yang menumbuhkan rasa percaya diri dan kemauan untuk mencari informasi. Misalnya, si A pada saat ini belum bisa menjawabnya dengan baik, mungkin besok dia akan mempresentasikan informasi tersebut secara lebih lengkap.

Kerapkali insentif positif seperti di atas kurang manjur dan bahkan tidak memberi faedah perubahan bagi siswa. Kalau demikian halnya maka guru harus melihat kondisi yang memungkinkannya. Jika kondisi memaksa guru harus mempergunakan insentif negatif maka tipe insentif itu haruslah yang bermaksud untuk menghindar perolehan insentif yang tidak menyenangkan itu. Misalnya, si A tidak mengerjakan tugas bukan karena ia tidak bisa tetapi karena malas, maka insentif yang bisa diberikan adalah menyuruhnya untuk mengerjakan tugas tetapi dalam porsi yang lebih banyak untuk mengejar ketinggalannya. Pada kondisi ini diperlukan keahlian guru untuk melihat karakter siswa. Jika karakternya dipahami maka guru akan memberikan insentif yang lebih tepat.

Selain adanya insentif, motivasi juga bisa muncul bila ada pemenuhan kebutuhan yang signifikan dalam mempelajari sesuatu. Siswa akan dipacu jika ia menemukan manfaat yang berarti bagi dirinya yang kemudian bisa dilanjutkan dengan aktualisasi dirinya melalui pembelajaran itu, sebagaimana dikatakan oleh Abraham Maslow (1908-1970) dalam teori psikologinya, yakni semakin tinggi need achievement yang dimiliki seseorang semakin serius ia menggeluti sesuatu itu. Jadi, guru merupakan motivator yang memperlihatkan sejumlah manfaat dalam setiap sajian pembelajaran.

Hal lain yang bisa dilakukan untuk mengembangkan motivasi dan minat peserta didik adalah dengan mengajak mereka melihat pengalaman-pengalaman yang pernah dimilikinya dan dijadikan topik pembelajaran dengan memperhatikan konteks kurikulum dan emosional psikologis peserta didik. Banyak lembaga pra-sekolah sudah mulai menggunakan metode active learning atau learning by doing, atau learning through playing, salah satu tujuannya adalah agar peserta didik mengasosiasikan belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan. Peserta didik diberi kebebasan untuk mengekspresikan dirinya melalui apresiasi pengalaman konkret. Tapi seringkali karena keterbatasan waktu dan banyaknya mata pelajaran yang harus disajikan untuk peserta didik, hal ini agak sulit dipraktekkan. Minimalnya, guru mensetting suasana belajar dengan menghindari omelan-omelan, karena dengan itu peserta didik akan mengasosiasikan suasana belajar sebagai hal yang menarik.

Membentuk Kemampuan Berpikir

Proses pembelajaran itu sangat berkaitan erat dengan pembentukan dan penggunaan kemampuan berpikir. Peserta didik akan lebih mudah mencerna konsep dan ilmu pengetahuan apabila di dalam dirinya sudah ada struktur dan strata intelektual, sehingga ketika ia berhadapan dengan bahan atau materi pembelajaran, ia mudah menempatkan, merangkai dan menyusun alur logis, menguraikan dan mengobjeksinya.

Struktur dan strata intelektual terbentuk ketika intelek manusia beradaptasi dengan hal-hal yang diserap oleh pancaindera. Menurut ahli psikologi, Jean Piaget (1896-1980), sebagaimana tubuh kita mempunyai struktur tertentu agar dapat berfungsi, pikiran kita juga mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata. Skema adalah struktur mental atau kognitif yang dengannya seorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya.

Skema juga bisa disebut sebagai konsep, gambaran atau kategori dalam diri manusia yang terjadi ketika manusia menggunakan pancainderanya. Gambaran itu akan semakin berkembang dan lengkap sesuai dengan tingkat kedewasaan manusia. Misalnya, anak yang sedang berjalan dengan ayahnya melihat seekor lembu. Ayahnya bertanya, ¡§Nak, lihat binatang apa itu? Andaikan saja anak itu belum pernah melihat lembu tetapi sudah pernah melihat kambing, maka yang sudah ada dalam pikirannya adalah skema tentang kambing. Dia menjawab,¡¨itu kambing.¡¨ Anak itu melihat ada sesuatu yang sama antara lembu dengan konsep kambing yang ia punyai. Misalnya, berkaki empat, bermata dua, berjalan merangkak dan bertelinga dua. Anak itu belum melihat perbedaannya dengan kambing. Apabila si anak mampu melihat perbedaan-perbedaannya, ia akan mengembangkan skemanya tentang lembu, tidak sebagai kambing lagi .

Apabila manusia mengintegrasikan gambaran baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya, maka ia melakukan proses asimilasi. Proses ini terjadi bila ada kesamaan dengan konsep yang sudah ada atau melengkapi konsep itu. Dikala manusia tidak menemukan kecocokan dengan konsep yang sudah ada maka manusia melakukan akomodasi. Dalam proses ini manusia membentuk skema baru. Seorang pelajar mempunyai skema dalam pikirannya bahwa air mendidih pada suhu 100″aC. Tetapi ketika ia memanaskan beberapa air ternyata ada yang mendidih pada suhu 90″aC, 110″aC dan 80″aC. Ia menemukan bahwa air itu tidak murni atau tercampur dengan zat lain, karena air mendidih pada suhu yang berbeda. Akhirnya, pelajar itu mengembangkan skemanya yang baru tentang air, bahwasannya hanya air yang murni bisa mendidih pada suhu 100″aC.

Benyamin S. Bloom (1956) melengkapi pendapat Jean Piaget dengan membuat stratifikasi intelektual yaitu menerapkan gaya pembelajaran dengan memperhatikan aspek pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Memang diakui bahwa identifikasi strata intlektual ini jarang dimengerti dan diterapkan guru. Barangkali karena ketidaktahuan menggunakan prinsip-prinsip logika. Ukuran kemengertian siswa sebatas mempunyai jawaban persis sama dengan apa yang ada dalam buku, bukannya peta konsep (concept map) yang sama seperti kepunyaan guru. Belajar yang sesungguhnya adalah proses mentransfer konsep, seperti mempunyai kemampuan mengetahui apa yang dipelajari, membahasakannya dengan bahasa sendiri, menerapkannya dalam konteks yang praktis, mempunyai keahlian untuk membandingkan dan menganalisa serta bisa memberikan kesimpulan logis secara deduktif dan induktif dan seterusnya bisa menguraikan secara dialektis kesimpulan yang sudah disusunnya itu.

Kehadiran guru tidak lain membantu peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri berdasarkan strata intelektual itu dan memperlihatkan kesesuaiannya dengan kriteria kebenaran pengetahuan, yakni kebenaran yang selalu benar untuk setiap keadaan dengan konsep atau cara belajar yang sama, atau menurut referensi ahli dan acuan epistemologis yang membidanginya.

Belajar dengan Multimedia

Pembelajaran adalah proses rangsangan dan gerak balas peserta didik. Dalam rangsangan itu terkandung pesan intelektual, emotif dan afektif. Pesan akan lebih muda ditangkap oleh peserta didik apabila tersajikan melalui media empirik yang beranekaragam, seperti film, slide, foto, grafik serta diagram. Dari media inilah peserta didik terpacu untuk mengeluarkan ide, konsep atau membantu mereka mencerna sesuatu yang abstrak.

Dengan fasilitas empirik itu sesuatu yang abstrak atau bersifat historis direduksi pada suatu kenyataan yang bisa diinderai. Dengan demikian, persepsi temporal dan kebutuhan untuk mempelajarinya bisa muncul. Apabila siswa dilengkapi dengan insentif yang memadai maka kemampuannya untuk berasosiasi dan beradaptasi pun dapat diperoleh dengan segera.

Berkaitan dengan aktualisasi fasilitas empirik ini, tidak ada salahnya bagi guru untuk menjadikan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat sebagai topik aktual dalam pembelajaran. Hal ini penting dilakukan agar peserta didik berimpresi positif bahwa sebenarnya pengetahuan itu bisa diperoleh lewat lingkungan sekitarnya, dan bahkan pengetahuan itu terjadi dan sudah ada dalam dirinya. Yang harus mereka lakukan sekarang adalah memposisikannya secara konseptual dan tercerna dalam strata yang diajukan oleh Bloom. Agar hal ini bisa terjadi maka guru perlu mempersiapkan skenario pembelajaran yang tepat dan sesuai.

Di bawah ini diberikan salah satu contoh pembelajaran yang menggunakan strata intelektual dan multimedia. Sebelum guru tampil di depan siswanya, guru sudah memikirkan atau memiliki konsep tertentu tentang topik yang ingin dibahas. Konsep itu tidak lain berupa sasaran kompetensi dan suasana yang ingin dibangun dalam pembelajaran. Dalam bahasa khas standarisasi nasional disebut dengan istilah RP (Rencana Pengajaran) berupa penetapan tujuan pembelejaran umum dan tujuan pembelajaran khusus dari suatu topik bahasan. Misalnya, suatu topik mengenai Dampak-Dampak Negatif dari Urbanisasi. Tujuan Pembelajaran Umumnya adalah siswa dapat memahami dampak-dampak negatif dari urbanisasi dan mengekplorasi pengalaman inderawinya serta mempunyai perspektif tertentu terhadap dampak-dampak tersebut. Kompetensi yang harus dimiliki siswa setelah pelajaran itu usai ialah menyebutkan dampak-dampak negatif dari urbanisasi, menghubungkan dampak yang satu dengan dampak yang lain, menjelaskan kebijaksanaan yang ditempuh pemerintah, siswa dapat mengobjeksi kebijaksanaan tersebut, memberikan alternatif pemecahan dan siswa dapat mempunyai konsep sendiri tentang usaha-usaha mengerem laju urbanisasi.

Guru dapat menggunakan pendekatan rasional atau fungsional untuk topik ini karena selain guru menyampaikan konsep atau teori yang harus dicerna oleh peserta didik, guru juga menginginkan perilaku tertentu yang harus dimiliki oleh siswa, seperti aktivitas membaca koran/majalah atau mengangkat situasi-situasi hidupnya. Dalam pembelajaran, guru boleh menggunakan tiga metode sekaligus yaitu metode ceramah, diskusi dan tugas. Tentu saja guru harus terlebih dahulu mencari referensi buku, media masssa dan pengalaman-pengalaman aktual pada lingkungan sekitarnya.

Pada sesi pembahasan guru dapat menyajikan informasi mengenai urbanisasi, seperti pengertiannya, sebab-sebab terjadinya urbanisasi, contoh-contoh mengenai dampak positif dan negatifnya. Uraian itu disajikan terstruktur, singkat dan jelas.

Untuk membangkitkan perhatian dan menarik minat peserta didik maka sebelum memulai topik itu, terlebih dahulu disajikan gambar, foto, film atau slide OHP yang berhubungan dengan dampak-dampak negatif urbanisasi. Guna merangsang ingatan dan pengetahuan siswa, mereka diberi kesempatan untuk berkomentar atau menyampaikan tanggapannya masing-masing terhadap apa yang disajikan itu. Guru juga boleh menanyakan apakah mereka mempunyai cerita atau pengalaman yang mirip sama. Bagaimana mereka memberikan tanggapannya masing-masing terhadap cerita atau pengalaman itu. Guru kemudian menghubungkan realitas atau kesan inderawi itu dengan topik bahasan yang ingin dipelajari. Setiap jawaban yang diberikan selalu ditanggapi dengan reiforcement yang tepat.

Guru menjelaskan pengertian urbanisasi dan faktor-faktor yang menyebabkan urbanisasi serta memperlihatkan contoh-contoh positif dan negatif dari urbanisasi serta menyebutkan salah satu kebijaksanaan yang ditempuh oleh pemerintah, misalnya demi penertiban dan keindahan kota maka diadakan penggusuran rumah liar.

Demi melibatkan peran aktif peserta didik, maka mereka dibagi dalam kelompok-kelompok dan mendiskusikan dampak-dampak negatif itu, membandingkan dampak yang satu dengan yang lain. Mereka menjelaskan strategi yang pernah mereka atau pemerintah lakukan. Melihat keunggulan dan kelemahannya dan mengemukakan alternatif pemecahan baru. Guru bisa melakukan gerak mendekati, mengunjungi kelompok-kelompok itu dan menanyakan kesulitan apa yang dialami siswa dalam tugas itu.

Hasil diskusi kelompok dilaporkan dan masing-masing kelompok memberikan kritik dan tanggapan atas hasil diskusi itu. Kemudian, sebagai moderator guru memberikan masukan seimbang terhadap yang masih kurang. Salah seorang siswa diminta menyimpulkan hasil diskusi. Sebagai bahan tugas dan sekaligus mengevaluasi konsep yang dimiliki siswa, guru menyampaikan salah satu dampak positif dan negatif dari urbanisasi dan meminta siswa membeberkan solusi yang sudah pernah diambil pemerintah, menemukan kelemahan dan kelebihannya, mencari solusi alternatif serta memikirkan langkah-langkah apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi laju urbanisasi.

Evaluasi Rutin dan Penelitian Kelas

Evaluasi yang dimaksudkan adalah melihat sejauh mana keterlibatan aktif peserta didik dalam pembelajaran dan sejauh mana mereka memiliki kemampuan-kemampuan tertentu seperti yang digariskan dalam tujuan pembelajaran khusus. Bahan evaluasi bisa diperoleh dengan riset sederhana dan populasi kelas sebagai ruang lingkupnya. Guru mengukur keberhasilan itu lewat ujian dan latihan-latihan. Apabila 70 % siswa telah memiliki komptensi seperti yang diharapkan maka keberhasilan guru telah terukur. Apabila ditemukan daya beda atau angka perbandingan siswa yang mampu dan yang tidak mampu begitu tinggi maka guru perlu mengkaji bahan dan strategi yang cocok.. Guru juga bisa mendapatkan masukan bagi perbaikan pengajaran baik dari siswa sendiri maupun dari rekan sekerjanya.

Peserta didik diajak untuk mengemas cara pembelajaran yang serius dan menyenangkan. Mereka bisa mengkritik guru dan menunjukkan hal-hal mana yang harus diperbaiki sehingga pendekatan dalam pembelajaran bukannya top down, melainkan bottom up. Kalau boleh mereka sendiri yang menentukan hal-hal mana yang harus mereka pelajari yang kiranya mendesak dan bermanfaat bagi hidup mereka. Adanya kurikulum hanya sebagai referensi dan patokan alternatif.

Simpul Pembelajaran

Kegagalan guru dalam mengkonstruksi dan mengelola pembelajaran akan mengakibatkan ketidakberhasilan bagi peserta didik. Selain, peserta didik kehilangan minat dan perhatian dalam pembelajaran itu, mereka juga kehilangan motivasi untuk menggeluti mata pelajaran tersebut.

Indikasi positif dan sederhana yang harus dimiliki peserta didik adalah adanya gairah dan menyenangi pelajaran itu serta terpacu untuk mencari tahu sejauh mana pelajaran itu bermanfaat bagi dirinya. Bila ditemukan banyak siswa yang mulai menggeluti suatu problem sosial dengan bertanya, mengumpulkan informasi serta tidak jenuh menggunakan perpustakaan maka hampir bisa dipastikan bahwa antusiasisme siswa terhadap ilmu-ilmu sosial perlahan-lahan bangkit. Kalau indikasi itu yang terjadi maka guru wajib memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana memahami suatu peristiwa sosial dari kaca mata sosiologis dan menawarkan bagaimana cara membaca yang menggunakan peta konsep, dalam arti menggiatkan berbagai jenis kemampuan seperti yang diajukan oleh Bloom.

Hasil permenungan penulis atas pembelajaran sosiologi di masa lalu mengurgenkan penulis untuk menyuarakan beberapa saran. Bagi guru, perlu ada peningkatan unjuk profesionalnya dalam mengemas bahan pelajaran, menyampaikannya, mengelola dan membuat evaluasi atas pembelajaran yang terjadi serta melengkapi diri dengan keahlian menerapkan konsep logika dalam pembelajaran. Selain itu, mempersiapkan fasilitas yang lahir dari kreativitasnya, bukan sekedar menunggu dipenuhi oleh lembaga tertentu. Menambah wawasan dengan membaca dan melihat keterkaitan ilmunya dengan ilmu-ilmu lain serta menyajikan manfaat yang bisa diperoleh siswa dengan mempelajari pelajaran tertentu, sehingga mereka termotivasi untuk menggelutinya.

Oleh karena kualitas siswa yang menjadi sorotan keberhasilan pendidikan, maka siswa sendiri perlu mempertanyakan eksistensinya dalam belajar. Siswa dapat membuat refleksi yang memadai tentang dirinya, aktivitasnya, harapannya, cita-citanya dukungan orang tua, menyadari betapa pentingnya waktu, dan terutama mempertanyakan dirinya tentang apa arti hidupnya.

Bagi organ sekolah dan stakeholders pendidikan agar tidak melihat keberhasilan dunia pendidikan saja tetapi mempertanyakan apa perannya masing-masing. Tidak lupa penulis mengharapkan decision makers agar menyederhanakan jumlah mata pelajaran sehingga siswa tidak terbebani dengan begitu banyak jumlah pelajaran dan akhirnya kehilangan motivasi belajar. Kita menginginkan sesuatu yang jumlahnya sedikit tetapi isinya padat dari pada jumlahnya banyak tetapi isinya tiada. Barangkali perlu dipikirkan cara-cara untuk menumbuhkembangkan konsep berpikir yang tahan uji pada diri peserta didik, bukan sekedar menuntut prosentase kelulusan. Oleh karena itu, perlu juga dibangkitkan wacana publik tentang adanya konstitusi pendidikan yang tidak terkontaminasi dengan muatan-muatan politis dan mengatur secara jelas kurikulum yang stabil serta pengalokasian dana pendidikan yang cukup untuk membiayai pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Munir Mulkan. Peny. (2002). John Muller: Cerdas di Sekolah Kepribadian. Jakarta: 2002
H. Chalijah Hasan (1994). Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan. Jakarta: Al-Ikhlas.
Rini, M. (2002). Anakku Malas Belajar. Jakarta: Majalah Psikologi(Internet).
Sumadi Suryabrata (1984). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.
Suparno, P. (2002). Filsafat Konstuksivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

SIKAP INDIVIDUAL ANTAR MAHASANTRI MABNA FATIMAH AZ-ZAHRO LANTAI 3

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 1:09 pm

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami, penyusun makalah ini dapat menyelesaikannya.

Penyajian makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah Teory Sosial Budaya semester ll, sehingga hal ini nantinya dapat dijadikan pengalaman dalam tugas-tugas makalah selanjutnya.

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Ibu Samsul Susilowati ,S.Ag,M.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah Teori Sosial Budaya. Dan juga tak lupa pula kami atas nama penyusun makalah ini mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu demi terselesainya makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak selalu kami harapkan, untuk kami jadikan bahan evalusi pembuatan makalah selanjutnya.

Dengan adanya makalah ini, maka pada akhirnya diharapkan dapat memberikan manfaat bagi teman-teman khususnya yang masih menjalani masa pendidikan atau perkuliahan.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sikap individualis sangat bertentangan dengan kehidupan sehari-hari karena pada hakekatnya kita adalah makhluk sosial yang bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Disadari atau tidak kita selalu butuh orang lain kapanopun dan dimanapun kita berada. Ada saatnya bersikap individualis seperti ini diterapkan, namun hanya 1% naya saja dari 100%.

Kita hidup ditengah-tengah masyarakat yang saling membutuhkan, tidak sepantasnya sikap individualis diterapkan didalamnya, apalagi kita hidup disatu komunitas yang mana antara kamar yang satu dengan kamar yang lain saling berdekatan. Setidaknya kita sadar bahwa kita adalah makhluk sosial.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana sikap individualis antar mahasantri yang satu dengan yang lain?
  2. Apa yang menyebabkan sikap individualis tersebut?
  3. Apa dampak yang akan terjadi dari sikap individualis tersebut?

1.3 Tujuan

  1. Untuk mengetahui sikap individualis antara mahasantri yang satu dengan yang lain dimabna fatimah az-zahra lantai 3.
  2. Untuk mengetahui penyebab sikap individualis tersebut.
  3. Untuk mengetahui dampak yang terjadi dari sikap individualis.

BAB II

Review Teori Sosial Budaya yang berhubungan dengan masalah social yang diangkat

2.1 Pengertian Individualis

Individualis merupakan satu filsafah yang mempunyai pandangan moral, politik atau sosial yang menekankan kemerdekaan manusia serta kepentingan bertanggung jawab dan kebebasan sendiri. Seorang individualis akan melanjutkan percapaian dan kehendak pribadi. Mereka menentang campur tangan dari pihak luar seperti masyarakat, negara dan segala badan atau komunitas yang lain. Oleh karena itu, individualis menentang segala pendapat yang meletakkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Falsafah ini juga kurang senang pada segala standard moral yang dikenakan ke atas seseorang karena peraturan-peraturan itu menghalang kebebasan seseorang. Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga makhluk individual, maka terdapat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya (Wolberg, 1967). Adanya perbedaan inilah yang antara lain menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini sangat tergantung bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya.

Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Menurut Young (1956) persepsi merupakan aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Sensasi-sensasi dari lingkungan akan diolah bersama-sama dengan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya baik hal itu berupa harapan-harapan,nilai-nilai, sikap, ingatan dan lain-lain. Branca (1965) mengemukakan: Perceptions are orientative reactions to stimuli. They have in past been determined by the past history and the present attitude of the perceiver. Sedangkan menurut Wagito (1981) menyatakan bahwa persepsi merupakan proses psikologis dan hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Dalam ilmu sosial individu merupakan bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Umpama keluarga sebagai kelompok sosial yang terkecil terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ayah merupakan individu yang sudah tidak dapat dibagi lagi, demikian pula Ibu. Anak masih dapat dibagi sebab dalam suatu keluarga jumlah anak dapat lebih dari satu.

Teori individualisme dari Spencer harus kita terangkan sebagai suatu ideologi, yang sebetulnya tidak dapat disimpulkan dari ajarannya bahwa masyarakat adalah organisme. Ajaran itu semestinya membawa dia kepada kolektivitasme, holisme, dan organisme. Tetapi sebagaimana kami katakan, Spencer berada dibawah pengaruh zamannya. Di waktu ia mengarang buku-bukunya, keadaan politik diinggris cukup stabil sebanding dengan keadaan di Eropa kontinental. Keadaan stabil itu dengan mudah membangkitkan dan menguatkan kayakinan akan keunggulan dan kedamaian masyarakat industri, yang dikenal dinegrinya sendiri. Tambah pula bahwa independensi ekonomi inggris, yang diperoleh dari wilayah-wilayah jajahannya, mempengaruhi dia juga dalam merumuskan dan mewartakan suatu ekonomi yang otonom dan bebas. Hubungan individu dan masyarakat berdasarkan kolektivisme. Menurut pandangan kolektif masyarakat mempunyai realitas yang kuat. Segala sesuatu kepentingan individu ditentukan oleh masyarakat. Masyarakat mengatur secara seragam untuk kepentingan kolektif.

2.2 Pengertian Sikap

Adapun beberapa definisi tentang sikap antara lain:

  1. L.L.THURSTONE (1949):

Sikap sebagai tingkatan kecenderungan yang bersifat positif atau negatif yang berhubungan dengan obyek psikologi, disini meliputi: symbol, kata-kata, slogan, orang, lembaga, ide dan lain-lain.

Orang dikatakan memiliki sikap positif terhadap suatu obyek psikologi apabila ia suka atau memiliki sikap yang favorable, sebaliknya orang yang dikatakan memiliki sikap yang negative terhadap obyek psikologi bila ia tidak suka atau sikapnya unfavorable terhadap obyek psikologi.

Adapun pengertian sikap, sebagai berikut:

1. ZIMBARDON dan EBBESEN:

Sikap adalah suatu predisposisi (keadaan mudah terpengaruhi) terhadap seseorng, ide atau obyekyang berisi komponen-komponen yang kopnitif, efektip, dan behavior.

  1. D.KRECH dan CRUTCHFIELD

Sikap adalah organisasi yang tetap dari proses motifasi, emosi, persepsi atau pengaamatan atas suatu apek dari kehidupan individu.

  1. JOHN H. HARVEY dan WILLIAM P. SMITH

Sikap adalah kesiapan merespn secara konsisten dalam bentuk fositip atau negative terhadap obyek atau situasi.

  1. GERUNGAN

Pengertian attitude dapat di terjemahkan dengan kata sikapterhadap obyek tertentu, yang merupakan sikap, pandangan atau sikap perasaan, tetapi sikap yang di sertai oleh kecendrungan untuk berttindak sesuai dengan sikap terhadap obyek tersebut. Jadi attitude itu lebih diterjemahkan sebagai sikap dan kesediaan beraksi terhadap suatu hal.

Meskipun ada beberapa perbedaan pengertian tentang sikap, namun ada beberapa ciri yang dapat di setujui. Sebagian besar ahli dan penelitian sikap setuju bahwa sikap adalah predeposisi yang di pelajari yang mempengaruhi tingkah laku, berubah dalam hal predesposisi yang pelajari yang mempengaruhi tingkah laku, berubah dalam hal intensitasnya, biasanya konsisten sepanjang waktu dalam situasi yang sama dan komposisinya hamper selalu kompleks. Di dalam kehidupan sehari-hari ada dua sikap, yang pertama sikap positif yang kedua sikap negative, sedangkan sikap positif itu sendiri adalah sikap yang menunjukksn stsu memperhatikan, menerima, mengakui, menyetujui, serta melaksanakan norma-norma yang berlaku dimana individu itu berbeda.

Apabila individu memiliki sikap yang positif terhadap suatu obyek ia akan siap membantu,memperlihatkan, berbuat sesuatu yang menggantungkan obyek itu. Sabaliknya, bila ia memiliki sikap yang negative terhadap suatu obyek, maka ia akan mengecam, mencela, menyerang, bahkan membinasakan obyek itu. Dalam hal ini SHERIF mengemukakan bahwa sikap individual itu dapat di ubah atau di bentuk apabila:

  1. Terdapat hubungan timbal-balik yang antara individu.
  2. Adanya komunikasi (yaitu hubungan langsung) dari satu pihak.

Beberapa ciri dari sikap individualis, antara lain sebagai berikut:

    1. Aggressor (berbuat macam-macam), merendahkan status yang lain, menolak nilai, atau perasaan yang lain. Menyerang kelompok atau masalah yang diatasinya, iri hati pada kontribusi yang lain dan berupaya mengakui kontribusi itu untuk dirinya.
    2. Blocker (penghambat), cenderung bersifat negative dan secara kepala batu selalu menolak, membantah, dan menentang tanpa alasan yang kuat dan berusaha untuk mempertahankan atau membuka kembali persoalan yang sudah di tolak oleh kelompok.
    3. Recognition Seeker (pencari muka), berusaha berbagai cara untuk menarik perhatian orang, sering dengan cara membual, bertindak dengan cara yang tidak biasa, berjuang untuk tidak di tempatkan pada posisi rendah.
    4. Help Seeker, berusaha untuk menarik simpati dari anggota kelompok yang lain atau dari seluruh kelompok dengan mengungkapkan rasa tidak aman dan ketidaktahuan.
    5. Dominator, berusaha menegaskan otoritas atau superotoritasnya ketika mengendalikan kelompok atau anggota-anggota tertentu. Dominasi ini dapat berupa kata-kata menjilat.

Dari ciri-ciri tersebut dapat menimbulkan beberapa faktor individualis ilmu social klasik memandang gejala dimasyarakat dengan dasar pro dan kontra. Schwarz/Thompson membagi empat budaya yang mungkin terjadi dalam cara memndang, yang menentukan interprestasi-interprestasi tadi, berdasarkan model yang diturunkan antropologi Mary Douglas:

  • Budaya Hirarchis, yang mementingkan prosedur yang benar dan penguraian yang persis dalam hal pembagian kekuasaan.
  • Budaya Individualis, yang dapat disamakan dengan prilaku seorang pengusaha.
  • Budaya Egaliteris, yang mementingkan kepentingan group social dimana para anggotanya memiliki kemampuan dan kapasitas yang sama.
  • Budaya Fatalis, mayoritas yang selalu diam.

Dan digabungkan dengan model dari ekolog holling tentang cara ekologi memandang lingkungan hidup:

  1. Dalam batas-batas tertentu limgkungan hidup dapat mengatasi gangguan-gangguan.
  2. Lingkungan selalu kembali dalam keadaan stabil seperti sediakala.
  3. Setiap gangguan terhadap lingkungan berarti bencana.

Pembahasan yang paling penting mengenai hubungan tampak tersembunyi berpusat pada hubungan antara sikap dan prilaku. Sebagaimana di kemukakan oleh Meguire(1969 :156) konsep tentang sikap merupakan konsruk yang multi dimensional(termasuk kognitif, efektif dan unsur prilaku), karena” laporan sikap secara verbal mempunyai korelasi yang agak rendah dengan perilaku yang sebenarnya”. Dalam suatu survey tentang studi psikologis sikap dan prilaku, wicker (1969) sampai pada kesimpulan yang sama, bahwa hasil penelitian telah memperlihatkan tidak ada konsistensi yang jelas antara sikap yang sifatnya ersembunyi itu dan preilaku yang sifatnya terbuka.

2.3 Pengertian Komunikasi

Adapun beberapa definisi tentag komunikasi antra lain:

1.SHANNON DAN WEAVER(1949)

Komunikasi adalah mencakup semua prosedur melalui pikiran seseorang yang dapat mempengaruhi rang lain.

2. SHACHTHER(1961)

Komunikasi merupakan mekanisme untuk melaksanakan kekuasannya, komunikasi sebagai unsure kontrol social dimana seseorang mempengaruhi atau berusaha mempengaruhi perilaku, keyakinan, dan sikap dari rang lain dalam suatu suasana social.

3 .DANCE (1967)

Komunikasi adalah pengungkapan respon melalui symbol-simbol verbal, dimana symbol-simbol erbal itu bertindak sebagai perangsang (stimuli) bagi respon yang terungkap tadi.

4. COLIN CHERRY(1964)

Komunikasi adalah pembentukan suatu sosial yang terdiri dari individu-individu melalui pengggunaan bahasa dan tanda, memiliki kebersamaan dalam peraturan, untuk berbagai aktaifitas pencapaian tujuan.

Jadi kesimpulannya, komunikasi adalah sesuatu yang konstan yang tidak berubah, hanya saja pemahaman kita tentangnya yang berubah. Artinya komunikasi, fenomenanya sendiri, tidaklah menjadi masalah. Hanya pemahaman manusia atas komunikasi yang menjadi permasalahan.

Adapun pengaruh sosiopsikologi dalam komunikasi itu dengan jelas tampak bahwa bidang kajian yang paling wajar dan menjadi kepentingan bersama baik bagi komuikasi maupun psikilogi sosial adalah studi psikologi tentang sikap dan perubahan sikap manusia. Bagi para ilmuan komunikasi (oleh pengarang di gunakan istilah COMMUNICOLOGISTS sebagai akibat kekurangan istilah yang lebih baik) abad ke-20, yang menganut versi Aristoteles yang memandang retorika sebagai aktivitas persuasif, penelitian para ahli psikologi yang mengkaji perkembangan sikap, keyakinan, dan nilai bersama-sama dengan modivikasi mereka, hasil penelitian itu di pandang relevan dan menjadi titik tolak yang logis bagi suatu studi fenomena komunikasi yang sifatnya interdisipliner. Barangkali dapat dikatakan bahwa pengaruh terbesar dari psikologi, terutama sekali psikologi sosial, pada studi komunikasi adalah pengembangan metodologi penelitian yang di pergunakan dalam penelitian komunikasi.

BAB III

LAPORAN OBSERVASI

Setting Lingkungan Sosial

Observasi ini kami lakukan disatu komunitas yang dihuni dari berbagai latar belakang atau kepribadian orang yang berbeda-beda yakni di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali Mabna Fatimah Az-Zahro Lantai 3 yang terletak di kawasan Jl.Gajayana no.50 Dinoyo, Malang.

Permasalahan Sosial Yang Terjadi

Berangkat dari sebuah latar belakang, kepribadian atau sifat seseorang yang berbeda-beda, kami mengangkat tema “INDIVIDUALIS” dikalangan mahasantri Mabna Fatimah Az-Zahro lantai 3 ini karena fenomena tersebut terjadi disekitar kami.

Sikap keindividualisannya sangat nyata dilihat dari kehidupan ini, faktanya antara kamar yang satu dengan kamar yang lain tidak saling mengenal, apalagi dari mahasantri yang satu dengan yang lain, mereka baru mengenal apabila mereka satu kelas, baik satu kelas PKPBA,TA’LIM maupun REGULER.

Tidak selayaknya jika didalam suatu komunitas, kelompok dan masyarakat memupuk sikap individualis, karena ditengah-tengah masyarakat itulah kiat hidup, tumbuh, dan berinteraksi. Bisa dibayangkan apabila ditengah-tengah masyarakat diterapkan sikap individualis, masyarakat akan memandang negatif kaum individualis tersebut.

Apalagi disatu komunitas atau lingkungan yang mana seperti disebuah asrama yang antara kamar satu dengan kamar yang lain saling berdekatan, yang lebih anehnya lagi, meski kamarnya berdekatan namun kita tidak saling mengenal, dibenak mereka “aku ya aku, kamu ya kamu” masalah kamar “ini kamar urusan kamarku, urus saja kamarmu sendiri”. Itulah fikiran perindividu yang menyebabkan munculnya sikap induvidualis ditengah-tengah kehidupan sosial.

3.3 Bentuk-bentuk Permasalah Sosial

Dengan munculnya sikap individualis ditengah-tengah kehidupan sosial maka muncullah bentuk-bentuk permasalahan sosial, antara lain:

  1. Prasangka Sosial yang bersifat negative

Prasangka ini timbul karena adanya perbedaan, dimana perbedaan ini menimbulkan perasaan Superior antara satu individu dengan individu yang lain. Individu atau elompok yang meliputi prasangka negatif memiliki sikap serta pandangan yang tidak obyektif dan wajar, hal ini tentu saja merupakan perkembangan kepribadian.

  1. Jarak Sosial (social distance)

Jika antara individu yang satu dengan yang lain semakin bertentangan bahkan saling membenci maka akan menimbulkan semakin jauhnya jarak sosial diantara mereka.

  1. Egoistis

Individu akan menjadi lebih egois apabila sikap individualisnya masih sangat kental atau masih melekat pada diri seseorang.

3.5 Penyebab Munculnya Masalah Sosial

Adapun penyebab munculnya masalah sosial antara lain:

  1. Perbedaan Fisik atau Ras.
  2. Perbedaan lingkungan.
  3. Perbedaan kekayaan.
  4. Perbedaan Status sosial.
  5. Perbedaan Norma sosial.

3.6 Dampak Riil Masalah Sosial Dalam Kehidupan Sosial Masyarakat

Adapun dampak riil masalah social dalam kehidupan social,antara lain:

a.Kurangnya harmonis antara individu yang satu dengan individu yang lain.

b.Timbul prasangka negative antar individu.

c. Sulitnya menyatukan antara individu yang satu dengan individu yang lain.

BAB IV

ANALISA, PEMBAHASAN DAN SOLUSA

ANALISA

Kami melakukan penelitian dima’had Sunan Ampel Al-Ali, dimabna Fatimah Az-Zahro lantai 3 dengan menganalisa sikap individualis antar mahasantri yang satu dengan yang lain, ternyata dari hasil analisa yang kami teliti kebanyakkan dari mereka masih belum sadar tentang tidak pentingnya sikap individual dan nereka juga belum sadar bahwa mereka hidup ditengah-tengah komunitas sosial dan tidak lain mereka adalah sebagai makhluk sosial (sosial animal) yang selalu membutuhkan orang lain kapanpun dan dimanapun mereka berada.

Kohesi kelompok adalah faktor utama didalam sebuah komunitas sosial, contohnya, pada masa nabi, ini terjadi pada perang Yamruk, banyak sahabat nabi Muhammad SAW gugur sebagai syuhada’. Hudzaifah Ai-Adawi datnag kemedan peperangan dengan membawa secerek air. Ia ingin memberi minum kepada saudaranya yang luka parah. Pada saat ia ingin memberikan minum kepadanya, dari jarak yang tidak begitu jauh terdengar orang mengaduh, “Berilah dia lebih dulu” kata saudara hudzaifah. Segera ia mendekati orang yang mengaduh itu. Ketika air sudah hamper diminumkan kepadanya, terdengar orang lain mengaduh, “Berilah dia lebih dahulu ” kata orang itu. Hudzaifah berlari kesana, dan mendapatkannya sudah meninggal. Kembali kepada orang ke dua, juga sudah meninggal. Ia juga mendapatkan saudaranya sudah meninggal. Air yang ada ditangannya masih utuh. Mereka memiliki semangat kelompok yang tinggi. Cerita diatas menggambarkan bahwa hubungan interpersonal yang akrab, kesetiakawanan dan perasaan yang dalam.

Kohesi kelompok di definisikan sebagai kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok dan mencegahnya untuk meninggalkan kelompok tersebut(Collins dan Raven, 1964).

Menurut McDavid dan Harari, 1968:280, kohesi diukur dari:

  1. Ketertarikan anggota secara interpersonal pada satu sama lain,
  2. Ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok,
  3. Sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan personalnya.

4.2 PEMBAHASAN

Kata INDIVIDUALIS tidak asing lagi ditelinga kita, namun faktanya banyak orang mempertanyakan apa sebenarnya individualis itu?

Individualis merupakan satu filsafah yang mempunyai pandangan moral, politik atau sosial yang menekankan kemerdekaan manusia serta kepentingan bertanggung jawab dan kebebasan sendiri. Seorang individualis akan melanjutkan percapaian dan kehendak pribadi. Mereka menentang campur tangan dari pihak luar seperti masyarakat, negara dan segala badan atau komunitas yang lain. Oleh karena itu, individualis menentang segala pendapat yang meletakkan kepentingan umm diatas kepentingan pribadi. Falsafah ini juga kurang senang pada segala standard moral yang dikenakan ke atas seseorang karena peraturan-peraturan itu menghalang kebebasan seseorang.

Hubungan diantara individualisme dan egoisme telah menghasilkan satu perdebatan yang hebat. Walaupun setengah individualis juga termasuk egois, mereka tidak menyatakan bahwa mementingkan diri sendiri adalah suatu sifat yang terpuji dengan sendirinya. Sebaliknya, mereka percaya seseorang yang individualis tidak terikat pada moral yang digunakan oleh masyarakat. Individualis bebas untuk mementingkan diri sendiri, hidup dengan altruisme atau cara yang mereka sukai.

Individualis sangat dipengaruhi oleh factor sikap seseorang, kita tinjau kembali mengenai pengertian sikap. Kesadaran individu yang menentukan perbuatan nyata dan perbuatan-perbuatan yang mungkin akan terjadi, kesadaran ini tidak hanya mengenai tingkah laku yang sudah terjadi, tetapi juga tingkah laku yang mungkin akan terjadi itulah yang dinamakan sikap.

Bagi para ahli sosiologi, sikap memiliki arti yang lebih besar untuk menerangkan perubahan social dan kebudayaan. Pembahasan yang paling penting mengenai hubungan tampak tersembunyi berpusat pada hubungan antara sikap dan prilaku. Sebagaimana di kemukakan oleh Meguire(1969 :156) konsep tentang sikap merupakan konsruk yang multi dimensional(termasuk kognitif, efektif dan unsur prilaku), karena” laporan sikap secara verbal mempunyai korelasi yang agak rendah dengan perilaku yang sebenarnya”. Dalam suatu survey tentang studi psikologis sikap dan prilaku, wicker (1969) sampai pada kesimpulan yang sama, bahwa hasil penelitian telah memperlihatkan tidak ada konsistensi yang jelas antara sikap yang sifatnya ersembunyi itu dan preilaku yang sifatnya terbuka.

Adapun pengaruh sosiopsikologi dalam komunikasi itu dengan jelas tampak bahwa bidang kajian yang paling wajar dan menjadi kepentingan bersama baik bagi komuikasi maupun psikilogi social adalah studi psikologi tentang sikap dan perubahan sikap manusia. Bagi para ilmuan komunikasi (oleh pengarang di gunakan istilah COMMUNICOLOGISTS sebagai akibat kekurangan istilah yang lebih baik) abad ke-20, yang menganut versi Aristoteles yang memandang retorika sebagai aktivitas persuasiv, penelitian para ahli psikologi yang mengkaji perkembangan sikap, keyakinan, dan nilai bersama-sama dengan modivikasi mereka, hasil penelitian itu di pandang relevan dan menjadi titik tolak yang logis bagi suatu studi fenomena komunikasi yang sifatnya interdisipliner. Barangkali dapat dikatakan bahwa pengaruh terbesar dari psikologi, terutama sekali psikologi social, pada studi komunikasi adalah pengembangan metodologi penelitian yang di pergunakan dalam penelitian komunikasi.

Solusi

Salah satu faktor yang utama dalam mengatasi masalah individualis ini adalah diri sendiri atau pribadi suatu individu, sedangkan faktor lingkungan dan masyarakat adalah hanya merupakan faktor pendukung, jika pribadi individu sadar akan pentingnya orang lain dan sadar akan hakekatnya sebagai makhluk sosial maka dengan mudah sikap individualis ini akan hilang dari individu tersebut.

    1. Kesimpulan

Individualis merupakan satu filsafah yang mempunyai pandangan moral, politik atau sosial yang menekankan kemerdekaan manusia serta kepentingan bertanggung jawab dan kebebasan sendiri. Seorang individualis akan melanjutkan percapaian dan kehendak pribadi. Mereka menentang campur tangan dari pihak luar seperti masyarakat, negara dan segala badan atau komunitas yang lain. Oleh karena itu, individualis menentang segala pendapat yang meletakkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Falsafah ini juga kurang senang pada segala standard moral yang dikenakan ke atas seseorang karena peraturan-peraturan itu menghalang kebebasan seseorang.

Setidaknya kita sadar bahwa kita adalah makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga makhluk individual, maka terdapat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya (Wolberg, 1967). Adanya perbedaan inilah yang antara lain menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini sangat tergantung bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya.

Tidak selayaknya jika didalam suatu komunitas, kelompok dan masyarakat memupuk sikap individualis, karena ditengah-tengah masyarakat itulah kita hidup, tumbuh, dan berinteraksi. Bisa dibayangkan apabila ditengah-tengah masyarakat diterapkan sikap individualis, masyarakat akan memandang negatife kaum individualis tersebut. Apalagi disatu komunitas atau lingkungan yang mana seperti disebuah asrama yang antara kamar satu dengan kamar yang lain saling berdekatan.

DAFTAR PUSTAKA

Strinati,Domonic, Popular Culture (2003), Yogyakarta: Bentang Budaya.

Veeger,K.J, Realitas Sosial (1985), Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Fisher, B.Aubrey, Teori-teori Komunikasi (1978), Bandung: PT. Remaja.

Sarwono, Sarlito, Teori-teori Psikologi Sosial (1984), Jakarta: CV.Rajawali.

Mar’at. 9182. Sikap Manusia Perubahan dan Pengukurannya. Indonesia: Galia

Sarwono, Sarlito, Teori-teori Psikologi Sosial (1984), Jakarta: CV.Rajawali.

Syamsu Yusuf. 2002. Pengantar Teori Kepribadian. Bandung: Publikasi Jurusan PPB FIP UPI

Sumadi Suryabrata. 1982. Perkembangan Individu. Jakarta. CV Rajawali.

http://pakguruonline.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_15.html.

http://www.infoskripsi.com./Artikel/pengertian-persepsi.html.

http://organisasi.org/macam-jenis-pengertian-penyimpangan-sosial-individual-dan-kolektif-pelajaran-sosiologi-ips.

Dampak Iptek Terhadap Lingkungan

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 12:43 pm

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kita ketahui bahwa sebenarnya sejak dulu teknologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan teknologi. Seseorang menggunakan teknologi karena manusia berakal. Dengan akalnya ia ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih aman dan sebagainya. Perkembangan teknologi terjadi karena seseorang menggunakan akalnya dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya.
Pada satu sisi, perkembangan dunia IPTEK yang demikian mengagumkan itu memang telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis, Demikian juga ditemukannya formulasi-formulasi baru kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktifitas manusia. Ringkas kata kemajuan IPTEK yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia. Sumbangan IPTEK terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri sendiri akan kenyataan bahwa IPTEK mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia.
Kalaupun teknologi mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti teknologi sinonim dengan kebenaran. Sebab IPTEK hanya mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan. Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan, oleh karena iptek tidak pernah bisa menjadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah manusia.
B. Rumusan masalah
Berpijak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah:
1.    Apa Pengertian IPTEK?
2.    Apakah Dampak IPTEK Terhadap Lingkungan dan Sumber Daya Alam?
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian IPTEK
Ilmu pengetahuan merupakan kata majemuk, terdiri atas kata “ilmu” dan “pengetahuan. Kata majemuk ini biasa digunakanmenegaskan arti. Pengetahuan ialah segala hal yang dikenali, difahami dan alami yang membentuk suatu rentangan informasi yang dimiliki seorang. Ilmu ialah pengetahuan yang telah disistemkan dan dirumuskan, atau seperangkat pengetahuan yang telah diatur menjadi suatu system pemahaman. Secara ringkas, pengetahuan ialah komponen ilmu.
Teknologi ialah ilmu atau pengetahuan yang diterapkan pada penciptaan barang yang diperlukan atau diinginkan manusia. Dapat juga dikatakan teknologi ialah ilmu tentang seni keindustrian, yang mana industri diartikan upaya sungguh-sungguh dan ajek dalam produksi, perniagaan dan atu pembuatan (manufacture). Teknologi juga dapat diartikan penerapan pengetahuan secara sistematis pada tugas praktis dalam industri (Flower, dkk, 1970; 1984). Jadi, teknologi adalah anak kandung ilmu pengetahuan.
B. Dampak IPTEK Terhadap Lingkungan dan SDA
Pengalaman beberapa negara berkembang khususnya negara-negara latin yang gandrung memakai teknologi dalam industri yang ditransfer dari negara-negara maju (core industry) untuk pembangunan ekonominya seringkali berakibat pada terjadinya distorsi tujuan. Keadaan ini terjadi karena aspek-aspek dasar dari manfaat teknologi bukannya dinikmati oleh negara importir, tetapi memakmurkan negara pengekpor atau pembuat teknologi. Negara pengadopsi hanya menjadi komsumen dan ladang pembuangan produk teknologi karena tingginya tingkat ketergantungan akan suplai berbagai jenis produk teknologi dan industri dari negara maju. Alasan umum yang digunakan oleh negara-negara berkembang dalam mengadopsi teknologi (iptek) dan industri, searah dengan pemikiran Alfin Toffler maupun John Naisbitt yang meyebutkan bahwa untuk masuk dalam era globalisasi dalam ekonomi dan era informasi harus melewati gelombang agraris dan industrialis. Hal ini didukung oleh itikad pelaku pembangunan di negara-negara untuk beranjak dari satu tahapan pembangunan ke tahapan pembangunan berikutnya.
Tetapi akibat tindakan penyesuaian yang harus dipenuhi dalam memenuhi permintaan akan berbagai jenis sumber daya (resources), agar proses industri dapat menghasilkan berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia, seringkali harus mengorbankan ekologi dan lingkungan hidup manusia. Hal ini dapat kita lihat dari pesatnya perkembangan berbagai industri yang dibangun dalam rangka peningkatan pendapatan (devisa) negara dan pemenuhan berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia. Disamping itu, IPTEK dikembangkan dalam bidang antariksa dan militer, menyebabkan terjadinya eksploitasi energi, sumber daya alam dan lingkungan yang dilakukan untuk memenuhi berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari.
Gejala memanasnya bola bumi akibat efek rumah kaca (greenhouse effect) akibat menipisnya lapisan ozone, menciutnya luas hutan tropis, dan meluasnya gurun, serta melumernnya lapisan es di Kutub Utara dan Selatan Bumi dapat dijadikan sebagai indikasi dari terjadinya pencemaran lingkungan kerena penggunaan energi dan berbagai bahan kimia secara tidak seimbang (Toruan, dalam Jakob Oetama, 1990: 16 – 20). Selain itu, terdapat juga indikasi yang memperlihatkan tidak terkendalinya polusi dan pencemaran lingkungan akibat banyak zat-zat buangan dan limbah industri dan rumah tangga yang memperlihatkan ketidak perdulian terhadap lingkungan hidup. Akibat-akibat dari ketidak perdulian terhadap lingkungan ini tentu saja sangat merugikan manusia, yang dapat mendatangkan bencana bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, masalah pencemaran lingkungan baik oleh karena industri maupun komsumsi manusia, memerlukan suatu pola sikap yang dapat dijadikan sebagai modal dalam mengelola dan menyiasati permasalahan lingkungan.
Seringkali ditemukan pernyataan yang menyamakan istilah ekologi dan lingkungan hidup, karena permasalahannya yang bersamaan. Inti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan mahluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. IImu tentang hubungan timbal balik mahluk hidup dengan lingkungan hidupnya di sebut ekologi (Soemarwoto, 1991: 19). Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya. keadaan dan mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dengan prilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupannya dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya (Soerjani, dalam Sudjana dan Burhan, 1996: 13).
Dari definisi diatas tersirat bahwa mahluk hidup khususnya merupakan pihak yang selalu memanfaatkan lingkungan hidupnya, baik dalam hal respirasi, pemenuhan kebutuhan pangan, papan dan lain-lain. Manusia berinteraksi dengan lingkungan hidupnya, yang dapat mempengaruhi dan mempengaruhi oleh lingkungan hidupnya, membentuk dan dibentuk oleh lingkungan hidupnya. Hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya adalah sirkuler, berarti jika terjadi perubahan pada lingkungan hidupnya maka manusia akan terpengaruh.
Uraian ini dapat menjelaskan akibat yang ditimbulkan oleh adanya pencemaran lingkungan, terutama terhadap kesehatan dan mutu hidup manusia. Misalnya, akibat polusi asap kenderaan atau cerobong industri, udara yang dipergunakan untuk bernafas oleh manusia yang tinggal di lingkungan itu akan tercemar oleh gas CO (karbon monoksida). Berkaitan dengan paparan ini, perlakuan manusia terhadap lingkungan akan mempengaruhi mutu lingkungan hidupnya.
Masalah pencemaran lingkungan hidup, secara teknis telah didefinisikan dalam UU No. 4 Tahun 1982, yakni masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat lagi berfungsi sesuai peruntukannya.
Dari definisi yang panjang tersebut, terdapat tiga dampak IPEK terhadap lingkungan hidup dan sumber daya alam yaitu; dampak secara kimiawi, fisik dan biologis. Resiko kimiawi akibat IPTEk adalah: senyawa-senyawa kimia berbahaya yang terdapat di air, tanah, udara dan makanan. Resiko fisik akibat IPTEk adalah kebakaran, gempa bumi, letusan gunung berapi, kebisingan, radiasi, sedimentasi. Resiko biologis akibat IPTEk adalah pathogen (bakteri, virus, parasit), dan bahan kimia yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan tubuh.
Pencemaran terjadi bila dalam lingkungan terdapat bahan yang menyebabkan timbulnya perubahan yang tidak diharapkan, baik yang bersifat fisik, kimiawi maupun biologis sehingga mengganggu eksistensi manusia dan aktivitas manusia serta organisme lainnya. Bahan penyebab pencemaran tersebut disebut polutan. Polusi disebabkan terjadinya factor-faktor tertentu yang sangat menentukan ialah:
1.    Jumlah penduduk
2.    Jumlah sumberdaya alam yang digunakan oleh setiap individu
3.    Jumlah Polutan yang dikeluarkan oleh setiap jenis SDA
4.    Teknologi yang digunakan
Penggunaan sumberdaya yang salah menimbulkan erosi, sedimentasi yang merusak, penggaraman tanah dan air, penggersangan lahan, banjri dsb. Limbah dan sisa proses menimbulkan contamination dan pollution atas udara, tanah dan air. Dampak menyebar dan meluas cepat lewat udara dan air. Penyebaran dan peluasan dampak lewat tanah langsung berjalan sangat lambat. Akan tetapi tanah dapat bertindak sebagai penyimpan zat atau bahan pencemar atau pengotor selama waktu lama dan dengan demikian menjadi sumber dampak yang nantinya akan tersebar lewat udara atau air. Zat pencemar yang tersimpan dalam tanah juga dapat menyebar lewat serapan tanaman bersama dengan panenan yang diangkut dan digunakan ditempat-tempat lain. Kalau zat pencemar diserap tanaman pangan atau pakan, akan dapat mnimbulkan pencemaran dakhil (internal pollution) atas orang atau ternak dimana-mana tempat memperjual belikan bahan pangan atau pakan tersebut. Sumber pencemaran dakhil lebih sulit dilacak daripada sumber pencemaran lewat udara dan air.
Pencemaran dapat datang dari sumber pasti misalnya dari saluran pembuang limbah pabrik atau datang dari sumber baur, misalnya dari aliran limpas lahan pertanian, pencemaran sumber pasti secara nisbi lebih mudah ditangani karena titik pelepasan bahan pencemar jelas dan susunan bahan pencemar terbatas keanekaannya. Pencemaran sumber baur lebih suli ditangani kerana titik pelepasannya dan titik asalnya berada di mana-mana dan susunan bahan pencemarannya sangat beraneka.
Ada dampak yang tinggal di tempat dampak itu ditimbulkan, misalnya pemampatan tanah oleh alat-alat berat dalam pembukaan lahan atau penggaraman tanah oleh system irigasi yang dirancang tanpa memperhitungkan neraca air pada antarmuka atmosfer tanah. Ada dampak yang diekspor ke tempat lain dari tempat asalnya, misalnya erosi di hulu mengekspor dampak sedimentasi ke hilir atau asap kendaraan bermotor dari jalur jalan diekspor ke kawasan pertanian atau pemukiman sepanjang jalan. Kawasan yang menimpor dampak menghadapi persoalan serupa dengan yang terkena.
Teknologi yang diandalkan sebagai istrumen utama dalam “revolusi hijau” mampu meningkatkan hasil pertanian, karena adanya bibit unggul, bermacam jenis pupuk yang bersifat suplemen, pestisida dan insektisida. Dibalik itu, teknologi yang sama juga menghasilkan berbagai jenis racun yang berbahaya bagi manusia dan lingkungannya, bahkan akibat rutinnya digunakan berbagi jenis pestisida ataupun insektisida mampu memperkuat daya tahan hama tananam misalnya wereng dan kutu loncat.
Berdasarkan hasil studi empiris yang pernah dilakukan oleh Magrath dan Arens pada tahun 1987 (Prasetiantono, di dalam Sudjana dan Burhan (ed.), 1996: 95), diperkirakan bahwa akibat erosi tanah yang terjadi di Jawa nilai kerugian yang ditimbulkannya telah mencapai 0,5 % dari GDP, dan lebih besar lagi jika diperhitungkan kerusakan lingkungan di Kalimantan akibat kebakaran hutan, polusi di Jawa, dan terkurasnya kandungan sumber daya tanah di Jawa.
Terlepas dari berbagai keberhasilan pembangunan yang disumbangkan oleh teknologi dan sektor indusri di Indonesia, sesungguhnya telah terjadi kemerosotan sumber daya alam dan peningkatan pencemaran lingkungan, khususnya pada kota-kota yang sedang berkembang seperti Gresik, Suarbaya, Jakarta, bandung Lhoksumawe, Medan, dan sebagainya. Bahkan hampir seluruh daerah di Jawa telah ikut mengalami peningkatan suhu udara, sehingga banyak penduduk yang merasakan kegerahan walaupun di daerah tersebut tergolong berhawa sejuk dan tidak pesat industrinya.
Berkaitan dengan pernyataan tersebut, Amsyari (Sudjana dan Burhan (ed.), 1996:104), mencatat keadaaan lingkungan di beberapa kota di Indonesia, yaitu: Terjadinya penurunan kualitas air permukaan di sekitar daerah-daerah industri. Konsentrasi bahan pencemar yang berbahaya bagi kesehatan penduduk seperti merkuri, kadmium, timah hitam, pestisida, meningkat tajam dalam kandungan air permukaan dan biota airnya.
Kelangkaan air tawar semakin terasa, khususnya di musim kemarau, sedangkan di musim penghujan cenderung terjadi banjir yang melanda banyak daerah yang berakibat merugikan akibat kondisi ekosistemnya yang telah rusak. Temperatur udara maksimal dan minimal sering berubah-ubah, bahkan temperatur tertinggi di beberapa kola seperti Jakarta sudah mencapai 37 derajat celcius. Terjadi peningkatan konsentrasi pencemaran udara seperti CO, NO2r S02, dan debu. Sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia terasa semakin menipis, seperti minyak bumi dan batubara yang diperkirakan akan habis pada tahun 2020. Luas hutan Indonsia semakin sempit akibat tidak terkendalinya perambahan yang disengaja atau oleh bencana kebakaran. Kondisi hara tanah semakin tidak subur, dan lahan pertanian semakin memyempit dan mengalami pencemaran.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
a.    Ilmu Pengetahuan dan Teknologi diartikan penerapan pengetahuan secara sistematis pada tugas praktis dalam industri
b.    Pembangunan yang mengandalkan teknologi dan industri dalam mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi seringkali membawa dampak negatif bagi lingkungan hidup manusia.
c.    Pencemaran lingkungan akan menyebabkan menurunnya mutu lingkungan hidup, sehingga akan mengancam kelangsungan mahluk hidup, terutama ketenangan dan ketentraman hidup manusia.
d.    Terdapat tiga dampak IPEK terhadap lingkungan hidup dan sumber daya alam yaitu; dampak secara kimiawi, fisik dan biologis.
B.    Saran
a.    Sebaiknya dalam mengeksploitasi sumber daya alam dan lingkungan serta kegiatan yang berorientasi pada teknologi, yang dilakukan oleh dunia industri tidak hanya bertujuan meningkatkan keuntungan ekonomi semata, tetapi harus pula memperhatikan lingkungan dan SDA serta diiringi dengan kemauan untuk menyisihkan biaya pemeliharaan lingkungan.
b.    Perlu dilibatkan masyarakat dalam pengawasan pengolahan limbah buangan industri agar lebih intens dalam menjaga mutu lingkungan hidup. Ikhtiar ini merupakan salah satu bentuk partisipasi dan pengawasan biar untuk memelihara kelestarian lingkungan hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Ibrahim M., Sekilas Perkembangan Alih Teknologi di Indonesia. Prisma No. 4, LP3ES, Jakarta, 1987.
Kusumaatmadja, Sarwono., Persepsi, Kesadaran, dan Pentaalan Terhadap lingkungan hidup, dalam Sudjana, Eggi dan Burhan, Latif(ed.).Upaya Penyamaan Persepsi, Kesadaran dan Pentaatan Terhadap Pemecahan Masalah Lingkungan hidup. CIDES, Jakarta, 1996.
Soemarwoto, Olto., Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Djambatan: Jakarta, 1991.
Soerjani, Mohammad., Permasalahan lingkungan hidup dalam tinjauan Filosofis ekologis dalam Sudjana, Eggi dan Burhan, Latif (ed.). Upaya Penyamaan Persepsi, Kedadaran dan Pentaan terhadap pemecahan Masalah Lingkungan Hidup, CIDES, Jakarta, 1996.
Susastro, Hadi., Teknologi dan Keunggulan Komparatif, CSIS, Jakarta, Maret 1992.

Kerusakan Lingkungan Oleh Limbah Industri

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 12:39 pm

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kita ketahui bahwa sebenarnya sejak dulu teknologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan teknologi. Seseorang menggunakan teknologi karena manusia berakal. Dengan akalnya ia ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih aman dan sebagainya. Perkembangan teknologi terjadi karena seseorang menggunakan akalnya dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya.

Pada satu sisi, perkembangan dunia IPTEK yang demikian mengagumkan itu memang telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis, Demikian juga ditemukannya formulasi-formulasi baru kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktifitas manusia. Ringkas kata kemajuan IPTEK yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia. Sumbangan IPTEK terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri sendiri akan kenyataan bahwa IPTEK mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia.

Kalaupun teknologi mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti teknologi sinonim dengan kebenaran. Sebab IPTEK hanya mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan. Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan, oleh karena iptek tidak pernah bisa menjadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah manusia.

B. Rumusan masalah

Berpijak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah:

  1. Apa Pengertian IPTEK?
  2. Apakah Dampak IPTEK Terhadap Lingkungan dan Sumber Daya Alam?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian IPTEK

Ilmu pengetahuan merupakan kata majemuk, terdiri atas kata “ilmu” dan “pengetahuan. Kata majemuk ini biasa digunakanmenegaskan arti. Pengetahuan ialah segala hal yang dikenali, difahami dan alami yang membentuk suatu rentangan informasi yang dimiliki seorang. Ilmu ialah pengetahuan yang telah disistemkan dan dirumuskan, atau seperangkat pengetahuan yang telah diatur menjadi suatu system pemahaman. Secara ringkas, pengetahuan ialah komponen ilmu.

Teknologi ialah ilmu atau pengetahuan yang diterapkan pada penciptaan barang yang diperlukan atau diinginkan manusia. Dapat juga dikatakan teknologi ialah ilmu tentang seni keindustrian, yang mana industri diartikan upaya sungguh-sungguh dan ajek dalam produksi, perniagaan dan atu pembuatan (manufacture). Teknologi juga dapat diartikan penerapan pengetahuan secara sistematis pada tugas praktis dalam industri (Flower, dkk, 1970; 1984). Jadi, teknologi adalah anak kandung ilmu pengetahuan.

B. Dampak IPTEK Terhadap Lingkungan dan SDA

Pengalaman beberapa negara berkembang khususnya negara-negara latin yang gandrung memakai teknologi dalam industri yang ditransfer dari negara-negara maju (core industry) untuk pembangunan ekonominya seringkali berakibat pada terjadinya distorsi tujuan. Keadaan ini terjadi karena aspek-aspek dasar dari manfaat teknologi bukannya dinikmati oleh negara importir, tetapi memakmurkan negara pengekpor atau pembuat teknologi. Negara pengadopsi hanya menjadi komsumen dan ladang pembuangan produk teknologi karena tingginya tingkat ketergantungan akan suplai berbagai jenis produk teknologi dan industri dari negara maju. Alasan umum yang digunakan oleh negara-negara berkembang dalam mengadopsi teknologi (iptek) dan industri, searah dengan pemikiran Alfin Toffler maupun John Naisbitt yang meyebutkan bahwa untuk masuk dalam era globalisasi dalam ekonomi dan era informasi harus melewati gelombang agraris dan industrialis. Hal ini didukung oleh itikad pelaku pembangunan di negara-negara untuk beranjak dari satu tahapan pembangunan ke tahapan pembangunan berikutnya.

Tetapi akibat tindakan penyesuaian yang harus dipenuhi dalam memenuhi permintaan akan berbagai jenis sumber daya (resources), agar proses industri dapat menghasilkan berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia, seringkali harus mengorbankan ekologi dan lingkungan hidup manusia. Hal ini dapat kita lihat dari pesatnya perkembangan berbagai industri yang dibangun dalam rangka peningkatan pendapatan (devisa) negara dan pemenuhan berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia. Disamping itu, IPTEK dikembangkan dalam bidang antariksa dan militer, menyebabkan terjadinya eksploitasi energi, sumber daya alam dan lingkungan yang dilakukan untuk memenuhi berbagai produk yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari.

Gejala memanasnya bola bumi akibat efek rumah kaca (greenhouse effect) akibat menipisnya lapisan ozone, menciutnya luas hutan tropis, dan meluasnya gurun, serta melumernnya lapisan es di Kutub Utara dan Selatan Bumi dapat dijadikan sebagai indikasi dari terjadinya pencemaran lingkungan kerena penggunaan energi dan berbagai bahan kimia secara tidak seimbang (Toruan, dalam Jakob Oetama, 1990: 16 – 20). Selain itu, terdapat juga indikasi yang memperlihatkan tidak terkendalinya polusi dan pencemaran lingkungan akibat banyak zat-zat buangan dan limbah industri dan rumah tangga yang memperlihatkan ketidak perdulian terhadap lingkungan hidup. Akibat-akibat dari ketidak perdulian terhadap lingkungan ini tentu saja sangat merugikan manusia, yang dapat mendatangkan bencana bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, masalah pencemaran lingkungan baik oleh karena industri maupun komsumsi manusia, memerlukan suatu pola sikap yang dapat dijadikan sebagai modal dalam mengelola dan menyiasati permasalahan lingkungan.

Seringkali ditemukan pernyataan yang menyamakan istilah ekologi dan lingkungan hidup, karena permasalahannya yang bersamaan. Inti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan mahluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. IImu tentang hubungan timbal balik mahluk hidup dengan lingkungan hidupnya di sebut ekologi (Soemarwoto, 1991: 19). Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya. keadaan dan mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dengan prilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupannya dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya (Soerjani, dalam Sudjana dan Burhan, 1996: 13).

Dari definisi diatas tersirat bahwa mahluk hidup khususnya merupakan pihak yang selalu memanfaatkan lingkungan hidupnya, baik dalam hal respirasi, pemenuhan kebutuhan pangan, papan dan lain-lain. Manusia berinteraksi dengan lingkungan hidupnya, yang dapat mempengaruhi dan mempengaruhi oleh lingkungan hidupnya, membentuk dan dibentuk oleh lingkungan hidupnya. Hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya adalah sirkuler, berarti jika terjadi perubahan pada lingkungan hidupnya maka manusia akan terpengaruh.

Uraian ini dapat menjelaskan akibat yang ditimbulkan oleh adanya pencemaran lingkungan, terutama terhadap kesehatan dan mutu hidup manusia. Misalnya, akibat polusi asap kenderaan atau cerobong industri, udara yang dipergunakan untuk bernafas oleh manusia yang tinggal di lingkungan itu akan tercemar oleh gas CO (karbon monoksida). Berkaitan dengan paparan ini, perlakuan manusia terhadap lingkungan akan mempengaruhi mutu lingkungan hidupnya.

Masalah pencemaran lingkungan hidup, secara teknis telah didefinisikan dalam UU No. 4 Tahun 1982, yakni masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat lagi berfungsi sesuai peruntukannya.

Dari definisi yang panjang tersebut, terdapat tiga dampak IPEK terhadap lingkungan hidup dan sumber daya alam yaitu; dampak secara kimiawi, fisik dan biologis. Resiko kimiawi akibat IPTEk adalah: senyawa-senyawa kimia berbahaya yang terdapat di air, tanah, udara dan makanan. Resiko fisik akibat IPTEk adalah kebakaran, gempa bumi, letusan gunung berapi, kebisingan, radiasi, sedimentasi. Resiko biologis akibat IPTEk adalah pathogen (bakteri, virus, parasit), dan bahan kimia yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan tubuh.

Pencemaran terjadi bila dalam lingkungan terdapat bahan yang menyebabkan timbulnya perubahan yang tidak diharapkan, baik yang bersifat fisik, kimiawi maupun biologis sehingga mengganggu eksistensi manusia dan aktivitas manusia serta organisme lainnya. Bahan penyebab pencemaran tersebut disebut polutan. Polusi disebabkan terjadinya factor-faktor tertentu yang sangat menentukan ialah:

  1. Jumlah penduduk
  2. Jumlah sumberdaya alam yang digunakan oleh setiap individu
  3. Jumlah Polutan yang dikeluarkan oleh setiap jenis SDA
  4. Teknologi yang digunakan

Penggunaan sumberdaya yang salah menimbulkan erosi, sedimentasi yang merusak, penggaraman tanah dan air, penggersangan lahan, banjri dsb. Limbah dan sisa proses menimbulkan contamination dan pollution atas udara, tanah dan air. Dampak menyebar dan meluas cepat lewat udara dan air. Penyebaran dan peluasan dampak lewat tanah langsung berjalan sangat lambat. Akan tetapi tanah dapat bertindak sebagai penyimpan zat atau bahan pencemar atau pengotor selama waktu lama dan dengan demikian menjadi sumber dampak yang nantinya akan tersebar lewat udara atau air. Zat pencemar yang tersimpan dalam tanah juga dapat menyebar lewat serapan tanaman bersama dengan panenan yang diangkut dan digunakan ditempat-tempat lain. Kalau zat pencemar diserap tanaman pangan atau pakan, akan dapat mnimbulkan pencemaran dakhil (internal pollution) atas orang atau ternak dimana-mana tempat memperjual belikan bahan pangan atau pakan tersebut. Sumber pencemaran dakhil lebih sulit dilacak daripada sumber pencemaran lewat udara dan air.

Disamping dampak yang bersifat material, ada pula dampak yang bersifat niskala yang tidak kala berbahaya. Dampak nikala terjadi oleh pereapan gagasan, pandangan hidup atau ajaran ke dalam alam fikiran orang dan kemudian menyebar dan meluas lewat proses komunikasi.

Pencemaran dapat datang dari sumber pasti misalnya dari saluran pembuang limbah pabrik atau datang dari sumber baur, misalnya dari aliran limpas lahan pertanian, pencemaran sumber pasti secara nisbi lebih mudah ditangani karena titik pelepasan bahan pencemar jelas dan susunan bahan pencemar terbatas keanekaannya. Pencemaran sumber baur lebih suli ditangani kerana titik pelepasannya dan titik asalnya berada di mana-mana dan susunan bahan pencemarannya sangat beraneka.

Ada dampak yang tinggal di tempat dampak itu ditimbulkan, misalnya pemampatan tanah oleh alat-alat berat dalam pembukaan lahan atau penggaraman tanah oleh system irigasi yang dirancang tanpa memperhitungkan neraca air pada antarmuka atmosfer tanah. Ada dampak yang diekspor ke tempat lain dari tempat asalnya, misalnya erosi di hulu mengekspor dampak sedimentasi ke hilir atau asap kendaraan bermotor dari jalur jalan diekspor ke kawasan pertanian atau pemukiman sepanjang jalan. Kawasan yang menimpor dampak menghadapi persoalan serupa dengan yang terkena.

Teknologi yang diandalkan sebagai istrumen utama dalam “revolusi hijau” mampu meningkatkan hasil pertanian, karena adanya bibit unggul, bermacam jenis pupuk yang bersifat suplemen, pestisida dan insektisida. Dibalik itu, teknologi yang sama juga menghasilkan berbagai jenis racun yang berbahaya bagi manusia dan lingkungannya, bahkan akibat rutinnya digunakan berbagi jenis pestisida ataupun insektisida mampu memperkuat daya tahan hama tananam misalnya wereng dan kutu loncat.

Berdasarkan hasil studi empiris yang pernah dilakukan oleh Magrath dan Arens pada tahun 1987 (Prasetiantono, di dalam Sudjana dan Burhan (ed.), 1996: 95), diperkirakan bahwa akibat erosi tanah yang terjadi di Jawa nilai kerugian yang ditimbulkannya telah mencapai 0,5 % dari GDP, dan lebih besar lagi jika diperhitungkan kerusakan lingkungan di Kalimantan akibat kebakaran hutan, polusi di Jawa, dan terkurasnya kandungan sumber daya tanah di Jawa.

Terlepas dari berbagai keberhasilan pembangunan yang disumbangkan oleh teknologi dan sektor indusri di Indonesia, sesungguhnya telah terjadi kemerosotan sumber daya alam dan peningkatan pencemaran lingkungan, khususnya pada kota-kota yang sedang berkembang seperti Gresik, Suarbaya, Jakarta, bandung Lhoksumawe, Medan, dan sebagainya. Bahkan hampir seluruh daerah di Jawa telah ikut mengalami peningkatan suhu udara, sehingga banyak penduduk yang merasakan kegerahan walaupun di daerah tersebut tergolong berhawa sejuk dan tidak pesat industrinya.

Berkaitan dengan pernyataan tersebut, Amsyari (Sudjana dan Burhan (ed.), 1996:104), mencatat keadaaan lingkungan di beberapa kota di Indonesia, yaitu: Terjadinya penurunan kualitas air permukaan di sekitar daerah-daerah industri. Konsentrasi bahan pencemar yang berbahaya bagi kesehatan penduduk seperti merkuri, kadmium, timah hitam, pestisida, meningkat tajam dalam kandungan air permukaan dan biota airnya.

Kelangkaan air tawar semakin terasa, khususnya di musim kemarau, sedangkan di musim penghujan cenderung terjadi banjir yang melanda banyak daerah yang berakibat merugikan akibat kondisi ekosistemnya yang telah rusak. Temperatur udara maksimal dan minimal sering berubah-ubah, bahkan temperatur tertinggi di beberapa kola seperti Jakarta sudah mencapai 37 derajat celcius. Terjadi peningkatan konsentrasi pencemaran udara seperti CO, NO2r S02, dan debu. Sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia terasa semakin menipis, seperti minyak bumi dan batubara yang diperkirakan akan habis pada tahun 2020. Luas hutan Indonsia semakin sempit akibat tidak terkendalinya perambahan yang disengaja atau oleh bencana kebakaran. Kondisi hara tanah semakin tidak subur, dan lahan pertanian semakin memyempit dan mengalami pencemaran.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

  1. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi diartikan penerapan pengetahuan secara sistematis pada tugas praktis dalam industri
  2. Pembangunan yang mengandalkan teknologi dan industri dalam mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi seringkali membawa dampak negatif bagi lingkungan hidup manusia.
  3. Pencemaran lingkungan akan menyebabkan menurunnya mutu lingkungan hidup, sehingga akan mengancam kelangsungan mahluk hidup, terutama ketenangan dan ketentraman hidup manusia.
  4. Terdapat tiga dampak IPEK terhadap lingkungan hidup dan sumber daya alam yaitu; dampak secara kimiawi, fisik dan biologis.
  1. Saran
    1. Sebaiknya dalam mengeksploitasi sumber daya alam dan lingkungan serta kegiatan yang berorientasi pada teknologi, yang dilakukan oleh dunia industri tidak hanya bertujuan meningkatkan keuntungan ekonomi semata, tetapi harus pula memperhatikan lingkungan dan SDA serta diiringi dengan kemauan untuk menyisihkan biaya pemeliharaan lingkungan.
    2. Perlu dilibatkan masyarakat dalam pengawasan pengolahan limbah buangan industri agar lebih intens dalam menjaga mutu lingkungan hidup. Ikhtiar ini merupakan salah satu bentuk partisipasi dan pengawasan biar untuk memelihara kelestarian lingkungan hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Ibrahim M., Sekilas Perkembangan Alih Teknologi di Indonesia. Prisma No. 4, LP3ES, Jakarta, 1987.

Kahazu, Hiroshi., Terjemahan Industrial Technology Capabililies And Policies In Asia Developing Countries, Asia Development Review Vol. 11 No. 2, 1990.

Kusumaatmadja, Sarwono., Persepsi, Kesadaran, dan Pentaalan Terhadap lingkungan hidup, dalam Sudjana, Eggi dan Burhan, Latif(ed.).Upaya Penyamaan Persepsi, Kesadaran dan Pentaatan Terhadap Pemecahan Masalah Lingkungan hidup. CIDES, Jakarta, 1996.

Prastiantono, Tony., Menghitung “Green” GDP: substansi dan Urgensi, dalam Sudjana, Eggic dan Burhan, Latif (ed.), Upaya Penyamaan Persepsi, Kesadaran dan Penataan Terhadap Pemecahan Masalah Lingkungan Hidup, CIDES, Jakarta, 1996.

Soemarwoto, Olto., Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Djambatan: Jakarta, 1991.

Soerjani, Mohammad., Permasalahan lingkungan hidup dalam tinjauan Filosofis ekologis dalam Sudjana, Eggi dan Burhan, Latif (ed.). Upaya Penyamaan Persepsi, Kedadaran dan Pentaan terhadap pemecahan Masalah Lingkungan Hidup, CIDES, Jakarta, 1996.

Susastro, Hadi., Teknologi dan Keunggulan Komparatif, CSIS, Jakarta, Maret 1992.

Toruan Raymond, Globalisasi : Bumi Makin Panas, dalam Oetama, Jakob., (ed.), Menuju Masyarakat Baru Indonesia: Antisipasi Terhadap Tantangan Abad XXI, PT Gramedia, Jakarta, 1990.

FROFESI GURU DAN PERMASALAHANNYA PROFESIONAL GURU DAN PERMASALAHANNYA

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 12:35 pm

PENDAHULUAN

Guna meningkatkan mutu pembelajaran dan pendidikan di Indonesia, pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan, salah satunya yang saat ini sedang hangat dibicarakan adalah kebijakan yang berkaitan dengan sertifikasi guru. Meski dengan kuota yang terbatas, di beberapa daerah, melalui Dinas Pendidikan setempat- saat ini sedang menawarkan kepada guru-guru yang dianggap telah memenuhi syarat untuk diajukan sebagai calon peserta sertifikasi.

Sambutannya memang luar biasa, para guru sangat antusias untuk mengikuti kegiatan seleksi ini, bahkan para guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah pun ramai-ramai ikut mendaftarkan diri sebagai calon peserta, terlepas apakah yang bersangkutan masih aktif atau tidak aktif menjalankan profesi keguruannya. Barangkali, motivasi yang sangat kuat untuk ikut serta dalam ajang ini adalah disamping keinginan memperoleh legitimasi sebagai guru profesional atau guru yang kompeten, tentunya daya tarik dari disediakannya tunjangan profesi dan fasilitas lainnya yang lumayan menggiurkan.

Kompetensi Guru

Sebenarnya apakah seorang guru itu harus profesional? Dalam pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa standar nasional pendidikan yang terdiri atas standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mengisyaratkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesionalisme dalam pendidikan perlu dimaknai bahwa guru haruslah orang yang memiliki instink sebagai pendidik, mengerti dan memahami peserta didik. Guru harus menguasai secara mendalam minimal satu bidang keilmuan. Guru harus memiliki sikap integritas profesional. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Yang dimaksud dengan guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik.

Kompetensi guru sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 8 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Keempat kompetensi tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut:

  1. Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, sekurang-kurangnya meliputi (1) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, (2) pemahaman terhadap peserta didik, (3) pengembangan kurikulum/silabus, (4) perancangan pembelajaran, (5) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, (6) pemanfaatan teknologi pembelajaran, (7) evaluasi proses dan hasil belajar, dan (8) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

  2. Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup (1) berakhlak mulia, (2) arif dan bijaksana, (3) mantap, (4) berwibawa, (5) stabil, (6) dewasa, (7) jujur, (8) mampu menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, (9) secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan (10) mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

  3. Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, sekurang-kurangnya meliputi (1) berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat, (2) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional,(3) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua/wali peserta didik, (4) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku, dan (5) menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan dan semangat kebersamaan.

  4. Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu, teknologi, dan/atau seni yang sekurang-kurang meliputi penguasaan (1) materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampunya, dan (2) konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampu.

Keempat kompetensi tersebut di atas bersifat holistik dan integratif dalam kinerja guru. Oleh karena itu, secara utuh sosok kompetensi guru meliputi (a) pengenalan peserta didik secara mendalam; (b) penguasaan bidang studi baik disiplin ilmu (diciplinary content) maupun bahan ajar dalam kurikulum sekolah (pedagogical content); (c) penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi proses dan hasil belajar, serta tindak lanjut untuk perbaikan dan pengayaan; dan (d) pengembangan kepribadian dan profesionalitas secara berkelanjutan.

Profesi, Profesional Dan Profesionalisme

Profesi:

Profesi menunjuk pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian , tanggung jawab, dan kesetiaan terhadap profesi. Suatu profesi secara teori tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak dilatih atau disiapkan untuk itu. (Dedi Supriadi: 1999).

Jadi profesi bukanlah sembarang pekerjaan tetapi pekerjaan yang berlandaskan pada keahlian. Keahlian tersebut diperoleh melalui suatu pendidikan dan pelatihan melalui suatu lembaga yang telah mendapat otoritas.

Guru diwacanakan sebagai profesi sebagaimana profesi pengacara, dokter, ataupun akuntan. Profesi yang dipahami secara ilmiah dengan pengertian sbb:

  1. Berdasarkan ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan atau pelatihan.
  2. Pengetahuan tersebut memuat teknik-teknik bekerja.
  3. Adanya standar kompetensi yang ditetapkan.
  4. Bekerja demi pelanggan.
  5. Dibutuhkan oleh masyarakat.
  6. Adanya prosedur kerja.
  7. Mengutaman kualitas.
  8. Menjunjung kode etik profesi.
  9. Mempunyai organisasi profesi.
  10. Mempunyai badan kehormatan profesi

Prinsip Profesi Guru

  • Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme.

  • Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.

  • Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas.

  • Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas

  • Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan

  • Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja

  • Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat

  • Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

  • Memiliki organisasi profesional yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Karena guru sebagai profesi, berdasarkan kriterian tersebut sudah barang tentu tidak semua orang yang mengajar bisa disebut guru. Dan secacara otomatis para guru adalah profesional. Semua itu merupakan tantangan dan tuntutan agar ke depan guru brtindak profesional.

Profesional:

Profesional secara kebahasaan berarti expert (ahli) atau specialist (seorang spesialis). Pengertian umum sering dimaksud dengan seorang yang bekerja baik dengan keras, tanpa menunjuk pada pekerjaan tersebut sebagai profesi atau tidak.

Profesional adalah orang yang melaksanakan profesi yang berpendidikan minimal S1 dan mengikuti pendidikan profesi dan lulus ujian profesi. Dokter, akuntan, notaris, penasihat hukum, psikolog di samping lulus pendidikan S1 dalam bidangnya juga harus mengikuti pendidikan profesi (dokter, notaris, psikolog) atau lulus ujian profesi (akuntan dan penasihat hukum) dengan cara itu profesional dapat buka praktek profesional sendiri melayani masyarakat tanpa harus bekerja di suatu organisasi. (Wirawan: 2001)

Ada juga yang mengartika profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Guru sebagai tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu.

Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban:

  1. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;

  2. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;

  3. Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;

  4. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan
  5. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangs

Profesionalisme:

Dedi Supriadi (1999) mengatakan bahwa bahwa profesionalisme menunjuk pada derajat penampilan seseorang sebagai profesional atau penampilan suatu pekerjaan sebagai profesi, ada yang profesionalismenya tinggi, sedang, dan rendah. Profesionalisme juga mengacu kepada sikap dan komitmen anggota profesi untuk bekerja berdasarkan standar yang tinggi dan kode etik profesi.

Dengan demikian profesionalisme merupakan performance quality dan sekaligus sebagai tuntutan perilaku profesional dalam melaksanakan tugasnya. Konsekuensinya guru sebagai profesional dituntut untuk bisa bekerja dalam koridor profesionalisme.
Guru adalah pekerja profesi oleh karena itu harus menjunjung profesionalisme. Pengertian umum profesionalisme menunjukkan kerja keras secara terlatih tanpa adalanya persyaratan tertentu. Pemahaman secara scientific profesionalisme menunjuk pada ide, aliran, atau pendapat bahwa suatu profesi harus dilksanakan oleh profesional denganmengacu kepada profesionalisme (Wirawan: 2001)

Hak Guru

  1. memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial.

  2. mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja.

  3. Memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan berhak atas kekayaan intelektual.

  4. Memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi.

  5. Memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan.

  6. Memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan atau sangsi pada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.

  7. Memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas

  8. Memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi

  9. Memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan.

  10. Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi

  11. Memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.

Kewajiban Guru

  • Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

  • Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berlanjut sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

  • Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran.

  • Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan hukum, kode etika, dan nilai-nilai etika.

  • Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Tujuan Kedudukan Guru Sebagai Tenaga Profesional

Menurut UU No 14 Tahun 2005, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama: mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Melaksanakan sistem pendidikan nasional sistem pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Pemberdayaan profesi guru diselenggarakan melalui pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, keahlian, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, kemajemukan bangsa dan kode etik profesi.

Suatu pekerjaan profesional jelas memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Sehingga yang dimaksud dengan guru profesional adalah guru yang memiliki keahlian, kemahiran, atau kecakapan dalam mendidik, membelajarkan, membimbing, mengarahkan, melatih dan mengevaluasi peserta didik.

Pengakuan dan kedudukan guru sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Jadi sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional.

Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan

Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan bahwa guru adalah pendidik profesional. Seorang guru atau pendidik profesional harus memiliki kualifikasi akademik minimum sarjana (S1) atau diploma empat (D4), menguasai kompetensi (pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian), memiliki sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Sertifikasi guru merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu dan kesejahteraan guru, serta berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran. Dengan terlaksananya sertifikasi guru, diharapkan akan berdampak pada meningkatnya mutu pembelajaran dan mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Sasaran sertifikasi guru dalam jabatan melalui penilaian portofolio tahun 2008 ditetapkan oleh pemerintah sejumlah 200.000 guru, meliputi PNS dan bukan PNS pada satuan pendidikan negeri atau swasta yang meliputi TK, SD, SMP, SMA, SMK dan SLB.

Persyaratan peserta sertifikasi guru melalui penilaian portofolio sebagai berikut.

  1. Memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV) dari program studi yang terakreditasi.

  2. Mengajar di sekolah umum di bawah binaan Departemen Pendidikan Nasional.

  3. Guru PNS yang mengajar pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah atau guru yang diperbantukan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.

  4. Guru bukan PNS yang berstatus guru tetap yayasan (GTY) atau guru yang diangkat oleh Pemda yang mengajar pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah.

  5. Memiliki masa kerja sebagai guru minimal 5 tahun pada satu sekolah atau sekolah yang berbeda dalam yayasan yang sama;

  6. Memiliki nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK). Persyaratan dan prioritas penentuan calon peserta sertifikasi guru baik untuk guru PNS maupun bukan PNS berlaku sama, kecuali pangkat dan golongan.

Dalam Permendiknas Nomor 18 tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan disebutkan bahwa sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi dalam bentuk penilaian portofolio alias penilaian kumpulan dokumen yang mencerminkan kompetensi guru, dengan mencakup 10 (sepuluh) komponen yaitu : (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang pendidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

Tabel 1 Pemetaan Komponen Portofolio dalam konteks Kompetensi Guru

No.

KOMPONEN PORTOFOLIO

(Sesuai Permendiknas No. 18 Tahun 2007)

KOMPETENSI GURU

Pedg

Kepri

Sos

Profe

Kualifikasi Akademik

Pendidikan dan Pelatihan

Pengalaman Mengajar

Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran

Penilaian dari Atasan dan Pengawas

Prestasi Akademik

Karya Pengembangan Profesi

Keikutsertaan dalam Forum Ilmiah

Pengalaman Menjadi Pengurus Organisasi di Bidang Kependidikan dan Sosial

Penghargaan yang Relevan dengan Bidang

Pendidikan

Jika kesepuluh komponen tersebut telah dapat terpenuhi secara obyektif dengan mencapai skor minimal 850 atau 57% dari perkiraan skor maksimum (1500), maka yang bersangkutan bisa dipastikan untuk berhak menyandang predikat sebagai guru profesional, beserta sejumlah hak dan fasilitas yang melekat dengan jabatannya.

Sayangnya, untuk memenuhi batas minimal 57 % saja ternyata tidak semudah yang dibayangkan, sejumlah permasalahan masih menghadang di depan. Permasalahan tidak hanya dirasakan oleh para guru yang belum memiliki kualifikasi D4/S1 saja, yang jelas-jelas tidak bisa diikutsertakan, tetapi bagi para guru yang sudah berkualifikasi D4/S1 pun tetap akan menjumpai sejumlah persoalan, terutama kesulitan guna memenuhi empat komponen lainnya, yaitu komponen : (1) pendidikan dan pelatihan, (2) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (3) prestasi akademik, dan (4) karya pengembangan profesi. Saat ini, keempat komponen tersebut belum sepenuhnya dapat diakses dan dikuasai oleh setiap guru, khususnya oleh guru-guru yang berada jauh dari pusat kota. Frekuensi kegiatan pelatihan dan pendidikan, forum ilmiah, dan momen-momen lomba akademik relatif masih terbatas. Begitu juga budaya menulis, budaya meneliti dan berinovasi belum sepenuhnya berkembang di kalangan guru. Semua ini tentu akan menyebabkan kesulitan tersendiri bagi para guru untuk meraih poin dari komponen-komponen tersebut.

Oleh karena itu, jika ke depannya kegiatan sertifikasi guru masih menggunakan pola yang sama, yaitu dalam bentuk penilaian portofolio dengan mencakup 10 (sepuluh komponen) seperti di atas, maka perlu dipikirkan upaya-upaya agar setiap guru dapat memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk meraih poin dari komponen-komponen tersebut, diantaranya melalui beberapa upaya berikut ini :

Pertama, Meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan pendidikan dan pelatihan, serta forum ilmiah di setiap daerah dan para guru perlu terus-menerus dimotivasi dan difasilitasi untuk dapat berpartisipasi di dalamnya. Memang idealnya, kegiatan pendidikan dan pelatihan atau mengikuti forum ilmiah sudah harus merupakan kebutuhan yang melekat pada diri individu guru itu sendiri, sehingga guru pun sudah sewajarnya ada kerelaan berkorban, baik berupa materi, tenaga dan fikiran guna dan mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan maupun forum ilmiah. Tetapi harus diingat pula bahwa kegiatan pendidikan, pelatihan dan forum ilmiah tidak hanya untuk kepentingan individu guru yang bersangkutan semata, tetapi organisasi pun (baca : sekolah atau dinas pendidikan) didalamnya memiliki kepentingan. Oleh karena itu sudah sewajarnya jika sekolah atau dinas pendidikan berusaha seoptimal mungkin untuk memfasilitasi kegiatan pendidikan dan pelatihan atau forum ilmiah bagi para guru

Kedua, Meningkatkan frekuensi moment lomba-lomba, baik untuk kalangan guru maupun siswa (guru akan diperhitungan dalam perannya sebagai pembimbing) di daerah-daerah, secara berjenjang mulai dari tingkat sekolah, kecamatan sampai dengan tingkat kabupaten dan bahkan bila memungkinkan bisa diikutsertakan pada tingkat yang lebih tinggi. Lomba bagi guru tidak hanya diartikan dalam bentuk pemilihan guru berprestasi yang sudah biasa dilaksanakan setiap tahunnya, tetapi juga bentuk-bentuk perlombaan lainnya yang mencerminkan kemampuan akademik, pedagogik dan sosio-personal guru. Kegiatan lomba bagi guru dan siswa pada tingkat sekolah sebenarnya jauh lebih penting, karena melalui ajang lomba pada tingkat sekolah inilah dapat dihasilkan guru-guru dan siswa terpilih, yang selanjutnya dapat diikutsertakan berkompetisi pada ajang lomba tingkat berikutnya. Agar kegiatan lomba pada tingkat sekolah memperoleh respons positif, khususnya dari para guru, sudah barang tentu sekolah harus mampu memberikan apresiasi yang seimbang dan menarik

Ketiga, Untuk menumbuhkan budaya menulis, kiranya perlu dipikirkan agar di setiap sekolah diterbitkan bulletin, majalah sekolah atau media lainnya (publikasi melalui internet atau majalah dinding, misalnya), yang beberapa materinya berasal dari para guru secara bergiliran. Dalam hal ini, untuk sementara bisa saja mengabaikan dulu apakah berbobot atau tidaknya karya tulisan mereka, yang diutamakan di sini adalah kemauan mereka untuk memulai menulis. Apabila memang ditemukan karya guru yang dipandang bagus dan berbobot, tidak ada salahnya untuk mencoba dikirimkan ke majalah atau koran-koran tertentu yang memungkinkan bisa dipertimbangkan untuk kepentingan penilaian sertifikasi.

Keempat, Untuk menanamkan budaya meneliti di kalangan guru, sekolah-sekolah dapat memfasilitasi dan memberikan motivasi kepada guru untuk melaksanakan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas, bisa saja dalam bentuk lomba Penelitian Tindakan Kelas atau bahkan bila perlu dengan cara mewajibkan para guru untuk melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas, minimal dalam satu tahun satu kali. Di samping untuk kepentingan penilaian sertifikasi, kegiatan Penelitian Tindakan Kelas terutama dapat dimanfaatkan untuk kepentingan perbaikan mutu proses pembelajaran guru yang bersangkutan, sehingga guru tidak terjebak dan berkutat dalam proses pembelajaran yang sama sekali tidak efektif. Tentunya, dalam hal ini setiap hasil karya dari setiap guru perlu diapresiasi secara seimbang pula, baik dalam bentuk materi maupun non materi.

Penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pelatihan, forum ilmiah dan aneka lomba akademik bagi guru, sudah pasti harus menjadi tanggung jawab pemerintah, khususnya pemerintah daerah melalui sekolah atau Dinas Pendidikan setempat. Akan tetapi, organisasi profesi, perguruan tinggi dan masyarakat setempat pun seyogyanya dapat turut ambil bagian untuk menyelenggarakan dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan tersebut, sebagai wujud nyata dari tanggung jawab dan kepeduliannya terhadap pendidikan.

Dengan semakin terbukanya peluang-peluang untuk mengikuti berbagai kegiatan di atas, maka kesempatan guru untuk memperoleh poin penilaian dalam rangka mengikuti program sertifikasi pun semakin terbuka lebar. Bersamaan itu pula, niscaya kualitas guru dapat menjadi lebih baik dalam mengantarkan pendidikan dan sumber daya manusia Indonesia menuju ke arah yang lebih berkualitas sesuai dengan tujuan dan manfaat sertifikasi.

Permasalahan Guru

Salah satu bukti rendahnya mutu pendidikan di Indonesia terlihat dari laporan International Education Achievement (IEA). Menurut IEA, kemampuan membaca untuk tingkat SD siswa Indonesia berada dalam urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sementara kemampuan matematika siswa SLTP Indonesia berada dalam urutan ke-39 dari 42 negara. Adapun kemampuan IPA, Indonesia masuk dalam urutan ke-40 dari 42 negara Jika dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN, ternyata posisi Indonesia tetap berada pada urutan paling bawah. Selanjutnya Peringkat indeks pengembangan manusia (Human Development Index) masih sangat rendah. Menurut data tahun 2004, dari 117 negara yang disurvei Indonesia berada pada peringkat 111 dan pada tahun 2005 peringkat 110 dibawah Vietnam yang berada di peringkat 108. sebagai konsekuensi logis dari indikator-indikator di atas adalah penguasaan terhadap IPTEK di mana kita masih tertinggal dari negara-negara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. (H. Isjoni, 2006:19-20).

Berkaitan dengan fenomena di atas, setidak tidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan kondisi dunia pendidikan kita saat ini, yaitu: issu seputar masalah guru, kebijakan pemerintah sebagai penyelenggara Negara, manajemen internal sekolah dan issu sarana dan prasarana belajar mengajar.

  1. ISSU seputar masalah guru

Dalam dunia pendidikan, keberadaan peran dan fungsi guru merupakan salah satu faktor yang sangat signifikan. Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar mengajar, baik di jalur pendidikan formal maupun informal. Oleh sebab itu, dalam setiap upaya peningkatan kualitas pendidikan di tanah air, tidak dapat dilepaskan dari berbagai hal yang berkaitan dengan eksistensi guru itu sendiri.

Filsofi sosial budaya dalam pendidikan di Indonesia, telah menempatkan fungsi dan peran guru sedemikian rupa sehingga para guru di Indonesia tidak jarang telah di posisikan mempunyai peran ganda bahkan multi fungsi. Mereka di tuntut tidak hanya sebagai pendidik yang harus mampu mentransformasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan, tetapi sekaligus sebagai penjaga moral bagi anak didik. Bahkan tidak jarang, para guru dianggap sebagai orang kedua, setelah orang tua anak didik dalam proses pendidikan secara global.

Dalam konteks sosial budaya MBOJO misalnya, kata guru sering dikonotasikan sebagai kepanjangan dari kata “dou ma di to’a” (menjadi panutan utama). Begitu pula dalam khasanah bahasa Indonesia, dikenal adanya sebuah peribahasa yang berunyi “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Semua perilaku guru akan menjadi panutan bagi anak didiknya. Sebuah posisi yang mulia dan sekaligus memberi beban psykologis tersendiri bagi para guru kita.

Saat ini setidak-tidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi guru di Indonesia, yaitu : pertama, masalah kualitas/mutu guru, kedua, jumlah guru yang dirasakan masih kurang, ketiga, masalah distribusi guru dan masaah kesejahteraan guru.

  • Masalah kualitas guru

Kualitas guru kita, saat ini disinyalir sangat memprihatinkan. Berdasarkan data tahun 2002/2003, dari 1,2 juta guru SD kita saat ini, hanya 8,3%nya yang berijasah sarjana. Realitas semacam ini, pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas anak didik yang dihasilkan. Belum lagi masalah, dimana seorang guru sering mengajar lebih dari satu mata pelajaran yang tidak jarang, bukan merupakan corn/inti dari pengetahuan yang dimilikinya, telah menyebabkan proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal.

Banyak guru yang belum memiliki persyaratan kualifikasi. Guru TK sebanyak 137.069 orang, yang sudah memiliki kewenangan mengajar sesuai dengan kualifikasi pendidikan baru 12.929 orang (9,43%). Guru SD sebanyak 1.234.927 orang, yang sudah memiliki kewenangan mengajar sesuai dengan kualifikasi pendidikan baru 625.710 orang (50,67%). Guru SMP sebanyak 466.748 orang, yang sudah memiliki kewenangan mengajar sesuai dengan kualifikasi pendidikan baru 299.105 orang (64,08%). Guru SMA sebanyak 377.673 orang, yang sudah memiliki kewenangan mengajar sesuai dengan kualifikasi pendidikan baru 238.028 orang (63,02%).

Persentase guru layak mengajar terhadap guru menurut status sekolah di NTB SMP/ junior secondary school (JSS) tahun: 2006/2007.

No Guru Jumlah/total %
Negeri Layak % Swasta Layak % Guru Layak
1 10,736 8,105 75.49 1,374 1,066 77.58 12,110 9,171 75.73
  • Jumlah guru yang masih kurang

Jumlah guru di Indonesia saat ini masih dirasakan kurang, apabila dikaitkan dengan jumlah anak didik yang ada. Oleh sebab itu, jumlah murid per kelas dengan jumlah guru yag tersedia saat ini, dirasakan masih kurang proporsional, sehingga tidak jarang satu raung kelas sering di isi lebih dari 30 anak didik. Sebuah angka yang jauh dari ideal untuk sebuah proses belajar dan mengajar yang di anggap efektif. Idealnya, setiap kelas diisi tidak lebih dari 15-20 anak didik untuk menjamin kualitas proses belajar mengajar yang maksimal.

Di NTB perkembangan jumlah guru Negeri dan swasta dari tahun 2003/2004 s/d tahun 2005/2006 yaitu :

No Tahun Status sekolah Jumlah
Negeri Swasta
1 2003/2004 7,295 673 7,968
2 2004/2005 8,612 884 9,496
3 2005/2006 9,067 1,174 10,241
  • Masalah distribusi guru

Masalah distribusi guru yang kurang merata, merupakan masalah tersendiri dalam dunia pendidikan di Indonesia. Di daerah-daerah terpencil, masing sering kita dengar adanya kekurangan guru dalam suatu wilayah, baik karena alasan keamanan maupun faktor-faktor lain, seperti masalah fasilitas dan kesejahteraan guru yang dianggap masih jauh yang diharapkan.

  • Masalah kesejahteraan guru

Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa tingkat kesejahteraan guru-guru kita sangat memprihatinkan. Penghasilan para guru, dipandang masih jauh dari mencukupi, apalagi bagi mereka yang masih berstatus sebagai guru bantu atau guru honorer. Kondisi seperti ini, telah merangsang sebagian para guru untuk mencari penghasilan tambahan, diluar dari tugas pokok mereka sebagai pengajar, termasuk berbisnis dilingkungan sekolah dimana mereka mengajar tenaga pendidik. Peningkatan kesejahteaan guru yang wajar, dapat meningkatkan profesinalisme guru, termasuk dapat mencegah para guru melakukan praktek bisnis di sekolah.

  1. Kebijakan pemerintah

Tidak dapat disangkal lagi bahwa pemerintah sebagai institusi penyelenggara Negara mempunyai peranan tersendiri dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Kebijakan pemerintah, pada dasarnya dapat dikatagorikan dalam dua bentuk, yaitu kebijakan yang bersifat konstitusional dan kebijakan yang bersifat operasional. Kebijakan konstitusional lebih mengarah pada bagaimana pemerintah menetapkan perundang-undangan maupun peraturan-peraturan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional kita. Dalam Konteks ini, beberapa langkah maju telah dicapai oleh pemerintah saat ini. Lahirnya UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, merupakan strategi jangka panjang dalam membenahi carut marut dunia pendidikan kita. Sudah barang tentu, UU tersebut masih diperlukan penjabaran lebih lanjut dalam berbagai bentuk peratutan-peraturan yang berada dibawahnya, termasuk issu Badan Hukum Pendidikan (BHP), peraturan perbukuan maupun issu sertifikasi bagi para pengajar untuk meningkatkan standar kualitas mereka.

Kebijakan operasioanal pemerintah, lebih mengarah pada kebijakan alokasi anggaran yang ditujukan bagi sektor pendidikan nasional. UU No. 20 Tahun 2003, memang telah mengamanatkan untuk menglaokasikan 20% dari APBN/APBD untuk sektor pendidikan. Namun mengingat kemampuan keuangan Negara yang masih terbatas, maka alokasi 20% ini rencananya akan dicapai dalam beberapa tahap sesuai dengan kemampuan keuangan Negara. Dalam tahun anggaran 2004 yang lalu, untuk sektor pendidikan baru di alokasikan sebesar 6,6%. Tahun 2005, jumlahnya telah meningkat menjadi 9,29% dan tahun 2006, rencananya akan dialokasikan 12,01%, 14,60% untuk anggaran tahun 2007 dan berturut-turut sampai tahun 2009 nanti, diharapkan anggaran untuk sektor pendidikan akan menjadi 17,40% dan 20,10%.

  1. Manajemen sekolah

Manajemen pendidikan di Indonesia, secara umum dikatagorikan dalam dua kelompok yaitu yang diatur dan dibawah kendali langsung pemerintah (sekolah negeri) dan sekolah-sekolah yang di kelola oleh pihak swasta (sekolah swasta). Perbedaan manajemen ini pada akhirnya, sedikit banyak akan mempengaruhi mutu dan kualitas anak didik di masing-masih sekolah serta secara tidak langsung telah ikut menciptakan “ketimpangan” dalam pengelolaan sekolah. Bagi para keluarga yang secara ekonomi mapan, maka mereka cenderung akan mampu memasukkan anak-anaknya pada sekolah-seklah favorit yang biasanya memerlukan alokasi dana yang tidak sedikit. Begitu pula sebaliknya, bagi yang keluarga yang kurang mampu, biaya sekolah dirasakan mahal dan menjadi beban tersendiri bagi ekonomi keluarga. Belum lagi kebijakan pemerintah dimasa lampau yang cenderung membedakan berbagai bentuk bantuan untuk sekolah negeri dan swasta, secara langsung maupun tidak telah ikut memperparah ketimpangan dunia pendidikan. Dalam konteks ini, pemerintah telah mengambil kebijakan untuk tidak membedakan antara sekolah yang di kelola oleh Negara maupun sekolah yang di kelola oleh pihak swasta.

  1. Saran dan prasarana sekolah

Sarana dan prasarana sekolah, merupakan salah satu kendala yang masih dihadapi oleh dunia pendidikan kita. Kemampuan keuangan yang masih terbatas, salah kelola maupun tingkat KKN yang masih tinggi serta faktor-faktor lain, telah menyebabkan kondisi sekolah masih jauh dari memadai. Mulai dari jumlah gedung yang rusak, ruang kelas yang terbatas maupun kelengkapan alat-alat laboratorium yang sangat dibutuhkan dalam pencapaian proses belajar mengajar yang belum maksimal, merupak beberapa kendala nyata yang masih kita hadapi.

Sarana dan Prasarana Pendidikan. Banyaknya ruang kelas yang tidak layak untuk proses belajar. Ruang kelas TK yang jumlahnya 93.629 ruang, yang kondisinya masih baik 77.399 ruang (82,67%), Ruang kelas SD yang jumlahnya 865.256 ruang, yang kondisinya masih baik 364.440 ruang (42,12%), Ruang kelas SMP yang jumlahnya 187.480 ruang, yang kondisinya masih baik 154.283 ruang (82,29%), Ruang kelas SMA yang jumlahnya 124.417 ruang, yang kondisinya masih baik 115.794 ruang (93,07%), (Sumber : Indonesia Educational statistics in brief 2003/2004; Balitbang Diknas).

Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui peningkatan mutu pendidikan. Tantngan ke depan bukanlah semakin ringan tetapi justru bertambah berat, karena kondisi ekonomi yang sepenuhnya belum pulih dari krisis berdampak lambannya pembngunan pendidikan, artinya permasalahan yang bakal muncul menjadi beragam yang menuntut profesionalisme dari semua pihak. Keterpurukan SDM Indonesia tidak lepas dari peranan guru, namun tidak semuanya menjadi tanggung jawab guru.

Dalam GBHN diamanatkan bahwa Pendidikan Nasionl bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, dan bertakwa terhdap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rochani, kepribdian yang mantap dan mandiri serta rsa tanggung jawab kemasyarakatan serta kebangsaan (Departemen P dan K: 1999). Hal tersebut dapat memberi gambaran ke depan tanggung jawab yang harus diemban oleh guru.

Tanggung jawab utama guru tidak sekedar mengajar namun sekaligus mendidik, sesungguhnya suatu kegiatan yang sangat kompleks, karena tidak hanya berhubungan dengan ilmu, teknologi, seni, namun juga berhubungan dengan nilai-nilai lain. Apalagi dengan diberlakukannya kurikulum KTSP yang menuntut guru bersikap profesional agar tugas yang diemban dapat bermakna bagi siswa.

Seiring dengan otonomi daerah maka muncullah paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan, yaitu manajemen berbasis sekolah, yang secara operasional dikenal dengan nama Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). MPMBS diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langung semua warga sekolah ( kepala sekolah, guru, karyawan, orang tua siswa,dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah.

Dengan berbagai permasalahan di atas maka gurulah yang banyak disorot dan disalahkan dan guru, akhirnya menjadi salah satu faktor menentukan dalam konteks meningkatkan mutu pendidikan dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas karena guru adalah garda terdepan yang berhadapan langsung dan berinteraksi dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Mutu pendidikan yang baik dapat dicapai dengan guru yang profesional dengan segala kompetensi yang dimiliki.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen merupakan sebuah perjuangan sekaligus komitmen untuk meningakatkan kualitas guru yaitu kualifikasi akademik dan kompetensi profesi pendidik sebagai agen pembelajaran. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana (S1) atau D4. Sedangkan kompetensi profesi pendidik meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Dengan sertifikat profesi, yang diperoleh setelah melalui uji sertifikasi lewat penilaian portofolio (rekaman kinerja) guru, maka seorang guru berhak mendapat tunjangan profesi sebesar 1 bulan gaji pokok. Intinya, Undang-Undang Guru dan Dosen adalah upaya meningkatkan kualitas kompetensi guru seiring dengan peningkatan kesejahteraan mereka.

Persoalannya sekarang , bagaimana persepsi guru terhadap uji sertifikasi?, bagaimana pula kesiapan guru untuk menghadapi pelaksanaan sertifikasi tersebut ? dan adakah suatu garansi bahwa dengan memiliki sertifikasi, guru akan lebih bermutu ?. Analisa terhadap pertanyaan-pertanyaan ini mesti dikritisi sebagai sebuah feed back untuk pencapaian tujuan dan hakekat pelaksanaan uji sertifikasi itu sendiri.

Pengalaman di lapangan, menunjukan bahwa di mata guru, uji sertifikasi adalah sebuah ” revolusi” untuk peningkatan gaji guru. Padahal, ini adalah suatu political will pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas guru yang sangat besar kontribusinya bagi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Miskonsepsi semacam ini, membuat para guru dapat menghalalkan segala cara dalam membuat portofolionya dengan memalsukan dokumen prestasi atau kinerjanya, seperti yang terjadi di Yogyakarta dan Bali. Dalam konteks ini diperlukan kejelian dari tim penilai portofolio untuk melakukan identifikasi dan justifikasi. Semua penyimpangan harus diungkap atas nama kualitas, dengan melakukan cross check di lapangan.

Uji Sertifikasi bagi guru mesti dipahami sebagai sebuah sarana untuk mencapai tujuan yaitu kualitas guru. Sertifikasi bukan tujuan itu sendiri. Kesadaran dan pemahaman yang benar tentang hakekat sertifikasi akan melahirkan aktivitas yang benar dan elegan, bahwa apapun yang dilakukan adalah untuk mencapai kualitas. Kalau seorang guru kembali masuk kampus untuk kualifikasi, maka proses belajar kembali mesti dimaknai dalam konteks peningkatan kualifikasi akademik yaitu mendapatkan tambahan ilmu dan ketrampilan baru, sehingga mendapatkan ijazah S1 / D4. Ijazah S1 bukan tujuan yang harus dicapai dengan segala cara, termasuk cara yang tidak benar seperti jual-beli ijazah, melainkan konsekuensi dari telah belajar dan telah mendapat tambahan ilmu dan ketrampilan baru. Demikian pula kalau guru yang mengikuti uji sertifikasi, tujuan utama bukan untuk mendapatkan tunjangan profesi, melainkan untuk dapat menunjukan bahwa yang bersangkutan telah memiliki kompetensi sebagaimana diisyaratkan dalam standard kemampuan guru. Tunjangan profesi adalah konsekuensi logis yang menyertai adanya kemampuan dimaksud. Dengan menyadari hal ini maka guru tidak akan mencari jalan pintas guna memperoleh sertifikat profesi kecuali dengan mempersiapkan diri dengan belajar yang benar dan tekun berkinerja menyongsong sertifikasi.

Idealisme, semangat dan kinerja tinggi disertai rasa tanggung jawab mesti menjadi ciri guru yang profesional. Dengan kompetensi profesional, guru akan tampil sebagai pembimbing (councelor), pelatih (coach) dan manejer pembelajaran ( learning manager) yang mampu berinteraksi dengan siswa dalam proses transfer pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai yang baik. Semangat untuk tetap belajar (bukan hanya mengajar) akan membantu guru untuk meng-upgrade pengetahuannya, sehingga dapat menyiasati kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peluang pemanfaatannya untuk memajukan proses belajar mengajar di kelas. Sertifikasi guru adalah amanat Undang-undang bagi semua guru di Indonesia yang jumlahnya sekitar 2,8 juta baik negeri maupun swasta, jadi bukan sesuatu yang mesti diperebutkan oleh guru. Semua akan kebagian, asalkan telah memenuhi persyaratan. Marilah kita terus tingkatkan kompetensi dan profesionalisme kita, sehingga dapat meraih prestasi dan prestise dibidang pendidikan, untuk selanjutnya dapat berdiri sejajar dan bersaing dengan negara-negara lain.

Solusi :

Jalan yang dapat dilakukana untuk meningkatkan Profesionalisme guru antara lain:

  • Gaji yang memadai. Perlu ditata ulang sistem penggajian guru agar gaji yang diterimanya setiap bulan dapat mencukupi kebutuhan hidup diri dan keluarganya dan pendidikan putra-putrinya. Dengan penghasilan yang mencukupi, tidak perlu guru bersusah payah untuk mencari nafkah tambahan di luar jam kerjanya. Guru akan lebih berkonsentrasi pada profesinya, tanpa harus mengkhawatirkan kehidupan rumah tangganya serta khawatirakan pendidikan putra-putrinya. Guru mempunyai waktu yang cukup untukmempersiapkan diri tampil prima di depan kelas. Jika mungkin, seorang guru dapat meningkatkan profesinya dengan menulis buku materi pelajaran yang dapat dipergunakan diri sendiri untuk mengajar dan membantu guru-guru lain yang belum mencapai tingkatnya. Hal ini dapat lebih menyejahterakan kehidupan guru dan akan lebih meningkatkan status sosial guru. Guru akan lebih dihormati dan dikagumi oleh anak didiknya. Jika anak didik mengagumi gurunya maka motivasi belajar siswa akan meningkat dan pendidikan pasti akan lebih berhasil.
  • Kurangi beban guru dari tugas-tugas administrasi yang sangat menyita waktu. Sebaiknya tugas-tugas administrasi yang selama ini harus dikerjakan seorang guru, dibuat oleh suatu tim di Diknas atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang disesuaikan dengan kondisi daerah dan bersifat fleksibel (bukan harga mati) lalu disosialisasikan kepada guru melalui sekolah-sekolah. Hal ini dapat dijadikan sebagai pegangan guru mengajar dalam mengajar dan membantu guru-guru prmula untuk mengajar tanpa membebani tugas-tugas rutin guru.

  • Pelatihan dan sarana. Salah satu usaha untuk meningkatkan profesionalitas guru adalah pendalaman materi pelajaran melalui pelatihan-pelatihan. Beri kesempatan guru untuk mengikuti pelatihan-pelatihan tanpa beban biaya atau melengkapi sarana dan kesempatan agar guru dapat banyak membaca buku-buku materi pelajaran yang dibutuhkan guru untuk memperdalam pengetahuannya.

Namun menurut Supriadi dalam bukunya Mengangkat Citra Guru dan Martabat Guru, ia mengatakan bahwa masalah guru antara lain:

  1. Latar Belakang Guru

Latar belakang pendidikan guru sewaktu SLTA sebagian besar bersal dri SMA (71,7%) Namun sayang tidak disebutkan latar belakang sekolahnya. Padahal ini penting untuk mengetahui kecenderungan sikap siswa terhadap profesi guru.
Fakta di sekolah yang dianggap faforit pada tingkat Kabupaten atau Kota Besar sebagian kecil atau bahkan jarang siswa menduduki rangking atas mempunyai keinginan menjadi guru. Mereka lebih suka memilih profesi yang mempunyai prospek secara ekonomis lebih menjanjikan.

Pada lapisan sekolah di bawahnya, terutama untuk sekolah yang berada di pinggiran, jumlah siswa mendaftar pada Fakultas Keguruan agak lumayan besar. Tetapi hal tersebut lebih menyangkut pada keterpaksaan karena kondisi ekonomi orang tua. Dengan demikian pilihan profesi guru bukan merupakan top priority. ( Dedi Supriadi: 1999)

  1. Banyak Guru Tidak Layak Mengajar

Data Pusat Informatika Balitbang Dikbud 1996/1997 ada 3,72% guru SLTA berpendidikan D2, dan menurut statistik persekolahan 1995/1996 guru yang tidak memenuhi kualifikasi minimal pada tingkat SLTA 26%.

Jumlah guru yang tidak layak mengajar pada SMA ada 75.684 orang. Sedangkan guru yang mengajar tidak sesuai dengan keahliannya ada 15% dari seluruh guru dari tingkat SD sampai dengan SLTA yang berjumlah 2,6 juta guru (Kompas, 9-12-2005). Guru masih jauh dari nilai-nilai profesionalisme. Banyak pergurruan tinggi pendidikan menyelenggarakan program sarjana setengah matang, dengan cara perkuliahan yang minim dan jaminan lulus. Banyak guru mismatch, mengajar tidak sesuai dengan keahlian. Hal ini mengindikasikan bahwa sembarang orang bisa jadi guru, dan jelas tidak tidak mempunyai kompetensi kompetensi untuk mengajar mata pelajaran yang bukan bidang keahliannya, sehingga dapat menurunkan kualitas pembelajaran.

  1. Guru Berprestasi Minim Penghargaan

DP3 berfungsi untuk persyaratan kenaikan pangkat pegawai.Sistem penilaian DP3 tidak lagi bisa mencerminkan kinerja guru yang sesungguhnya. Guru tidak perlu bekerja keras agar DP3-nya mendapat nilai baik, karena kinerja guru seperti apapun, Kepala Sekolah tidak akan berani memberikan penilaian yang obyektif. Sehingga bisa saja terjadi guru yang sering membolos kenaikkan pangkatnya lancar dibanding guru yang rajin. Kasus ini terjadi karena guru yang malas, rajin mengurus kenaikan pangkatnya, sedangkan guru yang rajin malah sebaliknya.

Hak-hak guru berprestasi belum bisa diberikan oleh pemerintah, semua guru mendapat perlakuan yang sama. Hal ini menurunkan motivasi berprestasi dan semangat profesionalisme.

  1. Guru Semakin Terbelakang

Kondisi kesejahterann guru yang memprihatinkan ,mengisyaratkan perlunya perubahan secepatnya sistem penggajian guru berbeda dengan pegawai. Dampak dari sistem penggajian sekarang guru tidak mampu mengalokasikan gajinya untuk membeli buku apalagi melakukan saving. Dapatlah dimaklumi kalau referensi bacaan guru kebayakan berupa LKS atau buku-buku untuk siswa dari penerbit sebagai kopensasi atas dipakainya buku tersebut atas siswanya. Maka tidaklah mengherankan bila guru bukannya semakin maju tetapi malah berjalan di tempat.

Solusi/Pemecahan Masalah

Dengan memahami permasalahan-permasalahan di atas, dapat dilkukan upaya-upaya sebagai berikut:

  1. Pendidikan dan Rekruitmen Guru

Untuk mendapat input guru yang berkualitas dalam rekruitmen perlu di SMA-SMA ada sosialisasi tentang LPTK dan lulusan yang berprestasi diarahkan untuk memasuki LPTK. Kecuali itu keberadaan LPTK jumlahnya perlu dibatasi, Perguruan tinggi yang mencetak guru harus perguruan tinggi yang berkualitas.

  1. Pembinaan dan Karier Guru

Fungsi DP3 sebagai sarana pembinaan guru tidak berjalan dengan baik karena budaya yang dibangun sejak awal tidak mencerminkan performance guru. Oleh sebab itu dalam penilaian perlu didengar suara siswa, sebab guru sebagai pemberi jasa berupaya untuk memuaskan pelanggan (siswa). Pemberian reward untuk guru berprestasi perlu dilaksanakan.

  1. Kesejahteraan dan konpensasi guru

Kondisi kesejahteraan guru yang memprihtinkan, mengisyaratkan perlunya perubahan sistem penggajian guru berbed dengan pegawai negeri sipil lainnya. Ada tunjangan pengembangan profesi guru, sehingga melalui sistem yang baru diharapkan guru mampu mengikuti perkembangan zaman dan mampu mengembangkan profesinya.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Dikmenum Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta.

Supriadi, Dei. 1999. Mengangkat Citra Guru dan Martabat Guru. Yoyakarta: Adicita Karya Nusa.

Wirawan. 2001.Evaluasi Program Pendidikan: bahan kuliah Program Studi Magister Pendidikan. Jakarta: UHAMKA Press.

Departemen Pendidikan Nasional. (2004). Penilaian Kelas. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.

Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan.

Departemen Pendidikan Nasional (2008). Pedoman Penyusunan Portofolio. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=9232

Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Februari 9, 2010

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 11:54 pm

Januari 22, 2010

Modul Penyimpangan Sosial

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 1:35 pm

Modul Penyimpangan Sosial

BAB I
PENDAHULUAN
A. Tujuan Pada Akhir Pembelajaran

Sandar Kompetensi: Memahami masalah penyimpangan sosial.

Kompetensi Dasar :

  • Mengidentifikasi berbagai enyakit sosial (miras, judi, narkoba, HIV/AIDS, PSK, dan sebagainya) sebagai akibat penyimpangan sosial dalam keluarga dan masyarakat.
  • Mengidentifikasi berbagai upaya pencegahan penyimpangan sosial dalam keluarga dan masyarakat.

Indikator

  1. Siswa mampu menjelaskan pengertian penyimpangan sosial.
  2. Siswa mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk penyimpangan sosial berdasarkan sifat, tempat, intensitas dan pelakunya.
  3. Siswa mampu menjelaskan factor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan sosial.
  4. Siswa mampu menjelaskan beberapa dampak penyimpangan sosial dalam keliarga dan masyarakat.
  5. Siswa mampu menjelaskan beberapa penyakit sosial akibat penyimpangan sosial.
  6. Siswa mampu menjelaskan sikap simpati terhadap pelaku penyimpangan sosial.
  7. Siswa mampu menjelaskan usaha-usaha pencegahan penyimpangan sosial dalam keluarga dan masyarakat.

B. Prasyarat
Siswa diharapkan telah menguasai atau sudah lulus dalam kompetensi dasar jenjang pendidikan sebelumnya yaitu kelas  SMP Kelas VI dan VII.
C. Waktu yang Dibutuhkan
45 menit X 2 Pertemuan.
D. Kompetensi (Kriteria Ketuntasan Minimal)

No    KD    Intake    Daya Dukung    Kompleksitas    Jumlah    Prosentase
1.
2.    1
2    4
4    3
4    2
3    9
3    9/12X100=75%
3/12X100=83%

Dari kompetensi diatas, maka siswa diharapkan menguasai 75% materi keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan dampaknya terhadap kehidupan dan 83% materi kehidupan pada masa praaksara masyarakat Indonesia.
BAB II
URAIAN MATERI
PENYIMPANGAN SOSIAL

A.    Penyakit Sosial Akibat Penyimpangan Sosial
Dalam Masyarakat kita menemukan suatu keadaan atau kondisi seseorang atau kelompok orang mulai tidak patuh pada aturan, tata tertib, dan mengabaikan nirma. Itulah suatu keadaan atau kondisi yang disebut dengan penyimpangan sosial.

1.    Pengertian penyimpangan sosial
a.    Perilaku setiap indivudu atau anggota masyarakat yang menyimpang dari norma-norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat (Sadali dkk, Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu, 2007)
b.    Setiap perilaku yang dinyatakan sebagai suatu pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat (Sulisyono, Ilmu Pengetahuan Sosial, 2007)
c.    Perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan diluar batas toleransi (James W. van der Zanden, Wibowo Rohadi dkk, SOSIOLOGI, )

2.    Bentuk-Bentuk Penyimpangan Sosial dan Contohnya
a.    Berdasarkan Intensitasnya
Menurut jenisnya terdapat dua kategori perilaku menyimpang, yaitu
(1)    Penyimoangan Primer (Primari Deviation)
Yaitu perilaku menyimpang yang pertama kali dilakukan seseorang. Bisa juga diartikan penyimpangan yang dilalkuakan hanya bersifat temporer atau hanya pada waktu-waktu tertentu saja dan tidak berulang-ulang. Contohnya seorang warga masyarakat terpaksa mencuri karena tidak bekerja dan harus memebeli obat untuk anaknya yang sakit.
(2) Penyimpangan Sekunder (Secondari Deviation)
Yaitu perilaku menyimpang yang merupakan pengulangan dari penyimpangan sebelumnya atau penyimpangan sosial yang dilakukan berulang kali dan secara khas memperlihatkan perilaku menyimpang. Contoh penyimpangan sekunder antara lain orang yang mempunyai kebiasaan mabuk atau minum-minuman keras, pencuri kambuhan, dan sebagainya.
b.    Berdasarkan Sifatnya
Berdasarkan sifatnya Penyimpangan sosial dibedakan menjadi dua, yaitu:
(1) Penyimpangan Positif
Penyimpangan Positif adalah penyimpangan yang mengarah kepada nilai-nilai ideal atau yang didambakan dalam masyarakat tetapi tidak atau belum dietrima oleh warga masyarakat karena waktunya kurang tepat. Akibatnya orang yang melakukan penyimpangan sosial positif ini akan mendapat celaan.
(2) Penyimpangan Negatif
Penyimpangan negatif adalah penyimpangan yang mengarah kepadai nilai-nilai yang dipandang rendah, tercela dan melanggar pedoma-pedoman dalam masyarakat. Penyelewengan negatif ini dinilai sebagai perbuatan yang di bawah standar hidup masyarakat. Artinya orang yang melakukan penyimpangan negatif ini kedudukannya di masyarakat sangat rendah bahkan tidak dapat diterima.
c.    Berdasarkan Tempat atau Ruang Lingkupnya
Berdasarkan tempat atau ruang lingkupnya penyimpangan sosial dibedakan mewnjadi dua macam, yaitu:
(1) Penyimpangan Sosial Dalam Keluarga
Penyimpangan sosial dalam keluarga adalah penyimpangan sosial yang terjadi dalam lingkungan keluarga. Pelaku penyimpangan dalam hal ini adalah anggota keluarga, bisa anak, ibu atau ayah. Contoh penyimpangan dalam keluarga yaitu seorang Ibu tidak lagi mengurus urusan keluarga justru mementingkan diri sendiri, ikut fitnes, sering ngobrol tanpa mengingat waktu, dan sebagainya.
(2) Penyimpangan Sosial Dalam Masyarakat
Penyimpangan sosial dalam masyarakat adalah penyimpangan sosial yang terjadi dalam mayrarakat. Penyimpangan sosial dalam mayrarakat terjadi jika seseorang atau kelompok orang anggota masyarakat melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kaidah-kaidah atau aturan dalam masyarakat. Beberapa contoh penyimpangan yang terjadi dalam masyarakat antara lain: terjadinya peristiwa pembunuhan, pencurian, pemerkosaan dan lain sebagainya.
d.    Berdasarkan Pelakunya
Pelaku penyimpangan sosial adalah manusia, bisa dalam bentuk individu atau kelompok. Berdasarkan pelakunya, penyimpangan sosial dibagi dua, yaitu:
(1) Individual (Individual Deviation)
Penyimpangan individual yaitu penyimpangan  yang dilakukan oleh seseorang yang telah mengabaikan dan menolak norma-norma yang telah berlaku dalam kehidupan masyarakat. Misalnya seorang anak yang membunuh ibunya, seorang ayah yang memperkosa ibunya, Penyimpangan dan lain sebagainya.
(2) Penyimpangan Kelompok (Group Deviation)
Penyimpangan kelompok yaitu penyimpangan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tunduk pada norma kelompok, padahal norma tersebut bertentangan dengan norma masyarakat yang verlaku pada umunya. Misalnya: perkelahian pelajar atau tawuran pelajar.
(3) Penyimpangan Campuran (Mixture Of Both Deviation)
Yaitu perilaku menyimpang yang dilakukan oleh golongan sosial yang terorganisir secara rapi, sehingga individu ataupun kelompok di dalamnya tunduk dan taat pada norma-norma golongan. Padahal secara keseluruhan mereka mengabaikkan norma-norma masyarakat yang berlaku. Misalnya: “Kapak Merah” merupakan kelompok perampok/penjabret yang terorganisir secara rapiu. Mereka menjalankan aksinya di persimpanganlampu merah yang ada di Jakarta (Sadali dkk, Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu, 2007).
3.    Faktor-Faktor penyebab Terjadinya Penyimpangan Sosial
Terjadinya penyimpangan pada diri seseorang, dikarenakan oleh beberapa factor. Faktor-faktor yang dapat menimbulkan penyimpangan perilaku seseorang, antara lain sebagai berikut:
a.    Adanya Kelompok Yang Tidak Puas Dengan Kondisi Masyarakat
(1)    Golongan Moderat
Golongan moderat adalah kelompok masyarakat yang setujudengan dasar Negara yaitu Pancasila dan UUD 1945 namun tidak setuju dengan pelaksanaannya.Golongan ekstrem terdiri atas dua macam, yaitu
(2)    Golongan Ekstrem
Golongan ekterm adalah golongan yang tidak setuju dengan ideologi Pancaila dan UUD 1945. Golongan ekstrem dibagi dua macam, yaitu:
1.    Golongan ekstrem kanan, yaitu golongan yang tidak puas terhadap pola dasar haluan masyarakat atau Negara yang mereka anggap tidak sanggup menjamin tercapainya nilai spiritual keagamaan yang merka anut. Contoh golongan ekstrem kanan yaitu adanya kelompok agama Islam yang fundamentalis seperti: Dsrul Islam dan Kelompok Kartosuwiryo.
2.    Golongan eksterm Kiri, adalah sekelompok masyarakat yang menganggap bahwa pola dasar yang berlaku tidak sanggup mencapai nilai-nilai material secara memuaskan. Golongan ektrem kiri yang dikenal dalam sejarah Indonesia adalah Gerakan 30 S/PKI. Mereka mau merubah pancasila dan UUD 1945 (ideologi Negara) dengan ideology Marxisme dari RRC.
b.    Tidak Sanggup Mengikuti Peraturan Dalam Masyarakat
(1)    Penderita gangguan mental atau Jiwa
Kelompok ini melakukan penyimpangan sosialtidak bermaksud jahat tetapi karena gangguan jiwa. Kelompok masyarakat seperti ini sering kali dikelompokkan di tempat-tempat khusus demi kepentingan umum, seperti rumah sakit jiwa. Penderita gangguan jiwa ini , biasanya kalau dibiarkan hidup bersama di masyarakat sering menimbulkan penyimpangan sosial, seperti mengganggu orang lain, melempari orang, berpakaian tidak sopan, dan lain-lain.
(2)    Penderita cacat tubuh atau fisik
Masyarakat yang termasuk kelompok penderita cacat fisik ini antara lain: penderita bisu, tuli, buta, usia lanjut, dan sebagainya. Penderita cacat fisik ni kadang menimbulkan penyimpangan sosial, misalnya bersalaman dengan tangan kiri karena tangan kanannya putus, menulis dengan jari kaki karena tangannya putus, dan sebagainya.
(3)    Kelompok kriminal
Kelompok criminal adalah kelompok masyarakat yang melakukan tindak kejahatan dan terbukti melanggar peraturan yang berlaku. Termasuk criminal atau penjahat ini antara lain: pembunuh, perampok, pencuri, dan sebagainya.
c.    Pendidikan Keluarga Yang Terlalu Keras
Ada beberapa orang tua yang mendidik anaknya terlalu keras, jika anak tidak menurut dihukum, dimarahi bahkan sering kali dipukul. Akibatnya anak-anak di rumah merasa tertekan dan serba tidak bebas. Dampak negatifnya anak tersebut berontak, mungkin dirumah dia pendiam dan penurut tetapi diluar rumah dia berbuat menyimpang sebagai pelampiasan rasa kesalnya dirumah.
d.    Pengaruh Lingkungan Pergaulan
Pengaruh lingkungan pergaulan sangat kuat dari pada lingkungan pergaulan di keluarga. Pada dasarnya mungkin kepribadian seseorang itu baik, tetapi karena lingkungan pergaulannya dengan orang-orang yang melakukan penyimpangan sosial, lama-kelamaan dia terpangaruh melakukan penytimpangan sosial. Contoh meskipun di rumah penurut, karena lingkungan pergaulannya dengan anak-anak yang suka mabuk-mabukan, maka ia ikut-ikutanmabuk.
e.    Pengaruh Berita dan Tayangan Media Masa
Pakaian yang dipakai para artis di telavisi terlalu terbuka, sehingga bisa menimbulkan nafsu bagi yang menonton. Dampak negatifnya, banyak terjadi tindak pemerkosaan. Belum lagi tayangan yang lain, seperti film-film adegan perkelahian, tawuran dan sebagainya semua itu jelas akan berpengaruh terhadap penyimpangan sosial yang dilakukan mesyarakat terutama rara remaja dan anak-anak (Sadali dkk, Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu, 2007).
f.    Dorongan Kebutuhan Ekomomi
Perilaku menyimpang ini disebabkan oleh dorongan kebutuhan ekonomi. Seseorang terdesak dengan kebutuhan ekonominya, sementara ia memiliki pekerjaan atau malas bekerja. Jika tidak memiliki iman yang kuat atau tidak dapat mengendalikan diri, maka dapat terdorong untuk berperilaku menyimpang. Misalnya: penjabret, pencuri, pelacur, berjudi, korupsi, dan bahkan bunuh diri.
g.    Pelampiasan Rasa Kecewa
Perilaku menyimpang ini disebabkan oleh pelampiasan rasa kecewa yang mendalam, apabila tidak bisa mengalihkan rasa kecewaan tersebut kehal-hal yang positif, ia dapat melakukan perilaku menyimpang sebagai usaha pelaian atau pelampiasan terhadap rasa kecewanya. Misalnya, seseorang yang kecewa ditinggal kekasihnya, karena cintanya yang sangat mendalam, sampai-sampai dia bunuh diri.
h.    Keinginan Dipuji atau Meningkatkan Gengsi Sosial
Perilaku menyimpang ini disebabkan oleh factor dari dalam yaitu keinginan dipuji atau sekedar untuk gaya-gayaan untuk meningkatkan gengsi sosial dilingkungan pergaulan. Hal ini terutama sering terjadi pada diri remaja. Misalnya penylahgunaan narkotika dan berkelahi yang dilakukan agar dia terlihat hebat yang menjadikan dia menjadi orang nomor satu diantara teman-temannya.
i.    Keluarga Yang Terpecah atau Broken Home
Perilaku menyimpang ini sumbernya dari keluarga, yakni keluarga mengalami apa yang disebut broken home. Dalamkeluarga sudah tidak adalagi keharmonisan dan kedamaian, anggota-anggota keluarga seakan sudah saling mementingkan dirinya sendiri dan tidak ada saling kecocokan. Anak merasa keluarga sebagai neraka, akhirnya anak mencari kesenangan di luar rumah dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang menyimpang. Misalnya menelan obat-obat terlarang, demikian juga ayah mencari idaman lain dan juga ibu mencari pria idaman lain (Sulisyono, Ilmu Pengetahuan Sosial, 2007).
j.    Disebabkan Oleh Beberapa faktor
1.Biologis
Misalnya orang yang lahir sebagai pencopet atau pembangkang. Ia membuat penjelasan mengenai “si penjahat yang sejak lahir”. Berdasarkan ciri-ciri tertentu orang bisa diidentifikasi menjadi penjahat atau tidak. Ciriciri fisik tersebut antara lain: bentuk muka, kedua alis yang menyambung menjadi satu dan sebagainya.
2.Psikologis
Menjelaskan sebab terjadinya penyimpangan ada kaitannya dengan kepribadian retak atau kepribadian yang memiliki kecenderungan untuk melakukan penyimpangan. Dapat juga karena pengalaman traumatis yang dialami seseorang.
3.Sosiologis
Menjelaskan sebab terjadinya perilaku menyimpang ada kaitannya dengan sosialisasi yang kurang tepat. Individu tidak dapat menyerap norma-norma kultural budayanya atau individu yang menyimpang harus belajar bagaimana melakukan penyimpangan (Casare Lombroso)
4.    Dampak Penyimpangan Sosial

1. Dampak Penyimpangan Sosial Terhadap Diri Sendiri/ Individu
Seseorang yang melakukan tindak penyimpangan oleh masyarakat akan dicap sebagai penyimpang (devian). Setiap tindakan yang bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat akan dianggap sebagai penyimpangan dan harus ditolak. Akibat tidak diterimanya/ditolak perilaku individu yang bertentangan dengan nilai dan norma masyarakat.
a. Terkucil
Pengucilan umumnya dilakukan oleh masyarakat dengan tujuan supaya pelaku penyimpangan menyadari kesalahannya. Pengucilan dalam berbagai bidang, antara lain: hukum, adapt/budata dan agama. Pengucilan secara hokum, melalui penjara, kurungan dan sebagainya. Pengucilan melalui agama pada agama tertentu yang tidak boleh diterima oleh si pelaku menyimpang.
b. Terganggunya perkembangan jiwa
Secara umum pelaku penyimpangan sosial akan tertekan secara psikologis karena ditolak oleh masyarakat.baik penyimpangan ringan maupun penyimpangan berat akan berdampak pada terganggunya perkembangan mental atau jiwanya, terlebih-lebih pada penyimpangan yang memang diakibatkan dan mempunyai sasaran pada jaringan otaknya, misalnya pada pelaku penyalahgunaan narkoba dan kelainan seksual
b.    Rasa bersalah
Sebagai manusia yang merupakan makhluk yang berakal budi, mustahil jika seorang pelaku tindak penyimpangan tidak pernah merasa malu, merasa bersalah bahkan merasa menyesal telah melangar norma-norma masyarakatnya. Sekecil apapun rasa bersalah itu pasti akan muncul karena tindak penyimpangan tersebut telah merugikan orang lain, hilangnya harta benda bahkan nyawa (Herdianto Arief C, 2008)

Suasana persidangan
2.   Dampak Penyimpangan Sosial Dalam Keluarga Dan Masyarakat
a.    Dampak positif
Penyimpangan sosial yang berpengaruh positif tentu saja jenis penyimpangan positif dan dampaknya baru dirasakan setalah beberapa waktu penyimpangan tersebut berlangsung. Sebagai contoh dulu pada aal pengenalannya pupuk kimia dianggap sebagai bentuk penyimpangan positif, sekarang orang baru menyadari bahwa manfaatnya sangat besar. Beberapa dampak positif dampak adanya penyimpangan sosial dapat disimak pada uraian berikut:
(1) Wawasan dan pengetahuan warga masyarakat secara umum meningkat.
(2) Masyarakat mendapatkan kemudahan dalam hidup, dalam bekerja, belajar, dalan dalam kegiatan hidup lainnya.
(3)Terwujudnya kemajuan masyarakat, Negara atau bangsa kearah kehidupan yang lebih baik.
(4)Terwujudnya tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik, sehingga kehidupan masyarakat lebih tertib, aman, tentram, damai, dan sebagainya.
b.    Dampak negatif
Babarapa dampak negatif dari penyimpangan sosial yang berpengaruh terhadap kehidupan sosial bermasyarakat, adalah sebagai berikut.
1.    Menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan warga masyarakat dalam       melakukan kegiatan hudup sehari-hari.
2.    Menyebabkan hubungan anggota masyarakat menjadi kurang harmonis.
3.    Menyebabkan lunturnya semangat hidup bersama kegotongroyongan yang selama ini telah berjalan baik.
4.    Semakin menipisnya rasa saling menghormati dan menghargaiantar anggota    masyarakat.
5.    Mencemarkan nama baik masyarakat lingkungannya, sehingga masyarakat lain  menganggap masyarakat kita tidak baik.
6.    Mencetak dan menciptakan generasi penerus yang kurang berkualitas, bahkan cacat secara sosial.
7.    Sedikit demi sedikit melunturkan unsure-unsur sosial budaya yang telah mapan dan meninggalkannya.
8.    Semakin meningkatnya kenakalan remaja, yang disebabkan unsure-unsur budaya yang kurang baik.
9.    Semakin meningkatnya tindak kejahatan atau kriminalitas, terutama di kota-kota besar dan negara-negara maju, dan sebagainya. (Sadali dkk, Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu, 2007)
5.    Beberapa Penyakit Sosial Akibat Penyimpangan Sosial
a.  Penyimpangan seksual
Penyimpangan-penyimpangan seksual bentuknya berupa tindakan mengubah jenis kelamin dan menyalahi takdir manusia secara wajar. Penyimpangan seksual secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu:
(1)    Homoseksual
Homo seksual adalah sikap seseorang yang cenderung tertarik pada orang lain yang berjenis kelamin sama atau sejanis. Contoh seorang laki-laki tertarik atau jatuh cinta pada sesame laki-laki (homosek), atau seorang perempuan yang tertarik atau jatuh cinta pada rekan sesame perempuan (lesbian).
(2)    Transeksual
Transeksual adalah seseorang dengan melakukan tindakan mengubah karakteristik sosialnya atau bengubah jenis kelaminnya. Contoh seorang laki-laki mengubah jenis kelaminnya menjadi jenis kelamin perempuan melalui operasi.
b. Alkoholisme
Alkoholisme adalah kebiasaaan melakukan minim-minuman keras atau minuman yang mengandung alkohol. Minuman beralkohol mengandung racun yang akan berdampak pada penekanan atau depresan system syaraf. Jika syaraf tertekan, oaring akan kehilangan kemampuan mengendalikan baik baik secara fisik, kejiwaan maupun sosial. Hal inilah yang menyebabkan seseorang menjadi mabuk dan sering berbuat orang dan keributan atau perkelahian bahkan kadang menyebabkan terjadinya pembunuhan.
c.     Perkelahian antar pelajar
Perkelahian antar pelajar merpakan perilaku menyimpang, sebab bertentangan dengan norma dan nilai sosial bahkan norma agama norma-norma dalam masysrakat menganjurkan kerukunan dan kedamaian bukan perkelahian. Demikian juga agama menganjurkan kerukunan dan  persatuan serta melarang bermusuhan dan perkelahian.
Perkelahian antar pelajar mestinya tidak perlu terjadi, karena mereka adalah orang yang berpendidikan. Seorang yang berstatus pelajar mempunyai peran utama untuk belajar dan menuntut ilmu dan menguasai berbagai keterampilan atau kemampuan yang diperlakukan saat terjun di masyarakat atau tempat kerja. Mereka dibina oleh guru-gurunya (dan juga orang tuanya) untuk mematuhi nilai dan norma di masyarakat agar mereka menjadi warga masyarakat yang baik (Sadali dkk, Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu, 2007).
d. Kejahatan
Kejahatan atau itndak kriminal merupakan merupaka suatu bentuk penimpangan terhadap aturan dan perundang-undangan yang berlakua di masyarakat. Kejahatan ini dilakukan terhadap manusia dan ada yang dilakukan terhadap agama.
Kejahatan yang dilakukan terhadap manisia terhadap manusia lainnya, misalnya: pemerkosaan penganiayaan, pembunuhan, penodongan, perampokan, dan lain sebagainya. Kerugian akibat kejahatan tersebut bisa dalam bentuk kehilangan harta benda, cacat tubuh, bahkan juga kehilangan nyawa. Adanya perilaku-perilaku menyimpang dalam bentuk kejahatan ini bisa mendatangkan rasa tidak aman bagi masyarakat.
Perilaku kejahatan terhadap Negara dapat dilakukan secara individu atau sekelompok orang. Dalam bentuk perorangan, misalnya seseorang yang melakukan penghinaan atau pembunuhan terhadap kepala Negara, seseorang yang melakukan pelanggara atau pelecehan terhadap undang-undang Dasar Negara, dan sebagainya. Sedangkan kejahatan terhadap Negara yang dilakukan oleh sekelompok orang, misalnya pemberontakan terhadap Negara, kudeta (perebutan kekuasaan), dan lain sebagainya.
e. Penyalahgunaan narkotika
Penyalahgunaan narkotika adalah menggunakan narkotika diluar pengobatan. Narkotika dan sejenisnya yang lain seperti opium, ganja, candu, morfin, dan sebagainya adalah bahan atau zat yang dapat membuat seseorang yang menggunakannya kehilangan kesadaran.narkotika secara sah digunakan secara medis atau pengobatan, misalnya untuk mengurangi rasa sakit pada saat orang akan diobati atau dioperasi.
Penyalahgunaan narkotika ternyata banyak dilakukan oleh para remaja. Mereka yang menggunakan mingkianatas dasar coba-coba atau rasa ingin tau yang besar karena dipengaruhi teman atau sebagai upaya melarikan diri dari kesulitan atas kekecewaan hidup. Seseorang yang sudah ketagihan atau kecanduan akan menyalahgunakan narrkotika secara berulang kali. Keadaan yang sampai kecanduan ini yang sulit untuk mengatasinya.
Penylahgunaan untuk sesaat memang dapat mendatangkan kesenangan bagi pemakainya, namun sebenarnya akibat negatifnya jauh lebih buruk. Akibat-akibat negative yang dapat ditimbulkan oleh penyalahgunaan narkotika, antara lain sebagai berikut.
(1) Kehilangan Semangat
Yaitu kehilangan semangat untuk belajar, bekerja, dan melakukan aktifitas lain. Penggunaan narkotika sering menjadikan seseorang menjadi malas, kesukaannya hanya mengkhayal saja.
(2) Kondisi Fisik yang Tidak Sehat
Yaitu kehilangan daya tubuh yang mengakibatkan fisik tidak sehat. Hal ini karena menggunakan narkootika dan sejenisnya akan membuat jaringan saraf terganggu dan menimbulkan infeksi.
(3) Lemahnya Sumber Daya Manusia
Sunber daya manusia yang potensial untuk membangun masa depanbangsa adalah pemuda. Bila pemuda suatu bangsa rusak, maka masa depan bangsapun akan hancur. Untuk itulah sedapat mungkian pemuda menghindari dari bahaya narkotika dan sejenisnya.

(4) Menimbulkan Tindakan Krtiminal
Seorang pecandu narkotika, untuk memenuhi kebutuhannya akan melakukan berbagai cara. Apalagi jika ia tidak mempunyai uang maka ia akan melakukan segala cara yang tidak benar. Misalnya: mencuri, merampok, bahkan tega untuk membunuh orang.
g.    f. Perjudian
Perjudian merupakan perbuatan mencari keuntungan yang dilakukan oleh seseorang dengan orang lainnya dengan cara spekulasi (untung-untungan). Perbuatan ini jelas melanggar norma agama dan norna-norma yang berlaku di masyarakat karena perbuatan ini dapat mengakibatkan seseorangmenjadi malas dan hidupnya sengsara. Kehidupan mereka hanya disibukkan dengan mengkhayal untuk memperoleh keuntungan, bahkan dapat mengganggu ketentraman masyarakat dan dapat juga menimbulkan tindakan criminal. Misalnya, melakukan segala cara untuk mendapatkan uang untuk berjudi, seperti dengan jalan merampok dan membunuh.

Perjudian sebagai salah satu bentuk penyimpangan sosial dalam masyarakat memebawa akibat-akibat lebih lanjut, antara lain sebagai berikut:
(1)    Mendorong orang untuk melakukan penggelapan uang kantor atau dinas dan melakukan tindak korupsi.
(2)    Energi dan pikiran jadi berkurang, karena sehari-harinya didera oleh nafsu judi dan kerakusan ingin menanga dalam waktu singkat.
(3)    Badan jadi lesu dan sakit-sakitan karena kurang tudur serta selalu dalam keadaan tegang dan tidak imbang.
(4)    Pikiran jadi kacau sebab selalu digoda oleh harapan-harapan yang tidak menentu.
(5)    Pekerjaan jadi terlantar karena seluruh pikirannya tercurah [ada keasyikan berjudi.
(6)    Keluarga tidak lagi diperhatikan.
h.    g. Prostitusi atau pelacuran
Prostitusi merupakan bentuk penyimpangan seksual dengan pola-pola organisasi inplus atau dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi. Prostitusi juga merupakan bentuk pelampiasan nafsu-nafsu seks tanpa kendali dengan banyak orang (promiskuitas)disertai eksploitasi dam komersialisasi seks yang impersonal.

Prostitusi atau pelacuran sebagai bentuk penyimpangan sosial memiliki beberapa motif yang melatarbelakanginya, antara lain sebagai berikut.
(1)    Tekanan ekonomi dan faktor kemiskinan
(2)    Kesenangan yang tinggi pada diri wanita terhadap pakaian-pakaian indah dan perhiasan mewah. Dengan perkataanlain ingin hidup bermewah-mewahan, namun malas bekerja.
(3)    Disorganisasi dan disintegrasi kehidupan keluarga. Broken home karena orang tua bercerai.
(4)    Ajakan teman sekampung atau sekota yang sudah terjun terlebih dahulu kedunia pelacuran.
Selain motif-motif pendorong prostitusi  atau pelacuran, berikut ini akan diuraikan beberapa alibat yang ditimbulkan dari prostitusi, yaitu sebagai berikut
Menimbulkan dan menyebarluaskan penyakit kelamin dan kulit. Penyakit yang paling banyak terdapat adalah AIDS, Isyphilis, dan gonorhome (kencing nanah).
(1)    Menimbulkan dan menyebarluaskan penyakit kelamin dan kulit. Penyakit yang paling banyak terdapat adalah AIDS, isyphilis dan gonorhome (kencing nanah).
(2)    Merusak sendi-sendi kehidupan keluarga.
(3)    Mendemoralisir atau memberikan pengaruh demoralisasi kepada lingkungan, khususnya generasi muda.
(4)    Merusak sendi-sendi moral, susila, hokum, dan agama (Sulisyono, Ilmu Pengetahuan Sosial, 2007).

2.    Sikap Simpati Terhadap Pelaku Penyimpangan Sosial
Sebagai waraga masyarakat yang bauk kita harus  bersiakap bijaksana, tidak mudah marah dan bersikap simpati terhadap orang lain, sekalipun orang itu pernah sekilipun masih melakukan tindak menyimpang sosial. Dengan siakp simpati, orang akan segan dan menghormati kita. Bersiakap simpati kepada masyarakat kepada siapa saja penting, lebih-lebih pada pelaku tindak penyimpangan sosial. Hal ini paling berpengaruh, paling tidak mereka enggan dan segan untuk berbuat baik kepada kita.
a.    Saat bergaul dengan orang-orang yang melakukan penyimpangan sosial, janganlah membicarakan tentang kejelekannya.
b.    Setiap membicarakan kemajuan-kemajuan kampong atau masyarakat, ajaklah berbicara dan berilah kesempatan mereka untuk ikut andil.
c.    Hormatilah dan perlakukan mereka dengan baikseperti menghormati orang lain dan menghormati orang lain yangtidak melakukan penyimpangan sosial.
d.    Berilah kepervayaan penuh kepada mereka dan hilangkan perasaan curiga.
e.    Ketika dia sedang melakukan penyimpangan sosial atau kejahatan, janganlah       diperlakukan dengan semena-mena.
Dengan sikap simpati orang akan merasa dihormati dan dihargai, tetapi dengan sikap keras dan permusuhan, orang akan merasa dilecehkan dan di tantang (Sadali dkk, Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu, 2007).

B.     Upaya-Upaya pencegahan penyimpangan Sosial
Upaya pencegahan terhadap penyimpangan sosial dapat dilakukan di lingkungan kelurga dan masyarakat. Berikut ini akan diuraikan lebih lanjut mengenai bentu-bentuk upaya pencegahan tersebut.
1. Keluarga
Keluarga merupakan media sosialisasi primer. Keluarga memegang peranan primer yang sangat penting dalam upaya pencegahan penyimpangan sosial. Melalui sosialisasi akan penanaman nilai dan norma pada seorang individu, upaya pencegahan terhadap penyimpangan sosial dapat berjalan efektif. Dalam hal ini, tujuan dari sosialisasi antara lain sebagai berikut.
a.    pembentukan konsep diri
b.    pengembangan ketarampilan.
c.    Pengendalian diri.
d.    Pelatihan komunikasi.
e.    Pembiasaan aturan.
Selain sosialisasi dalam keluarga, terdapat upaya lain yang bersifat intern dari individu, yaitu kepribadian yang kuat dan teguh, maka ia akan dapat mengontrol tingkah lakunya. Selain itu juga akan mempunyai pola pikir, pola prilaku, dan pola interaksi yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dimasyarakatnya.

2. Masyarakat
Upaya pencegahan terhadap penyimpangan sosial juga dapat dilakukan di salam masyarakat, antara lain sebagai berikut.
a.    Menanamkan atau mempertahankan keyakinan para anggota kelompok masyarakat akan adanya peraturan-peraturan atau norma-norma yang masih berlaku.
b.    Menciptakan lembaga-lembaga tertentu yang berhubungan dengan pemeliharaan tata tertib, kesopanan atau memberikan sanksi-sanksi yang tegas terhadap para anggota yang melakukan penyimpangan.
c.    Memberikan contoh-contoh konkrit tentang cara-cara bersikap dan bergaul dalam kehiduoan bermasyarakat.
d.    Menjalankan peraturan dan sanksi dengan konsisten agar anggota masyarakat memiliki kepatuhan akan hokum sehingga penyimpangan sosial dapat dicegah.
e.    Memberikan penyuluhan, penataran, maupun diskusi secara berkesinambungan agar anggota masyarakat yang melakukan penyimpangan dapat mematuhi nilai dan norma yang berlaku.
Dalam masyarakat Indonesia terdapat tiga intitusi atau lembaga pusat yang diakui secara resmi dan diterima oleh masyarakat umum, yaitu:
1. Lembaga atau institusi pemerintah atau lembaga hukum
Lembaga atau institusi pemerintah atau lembaga hukum ini terdiri atas kejaksaan dan kehakiman. Lembaga atau institusi ini, selain mengawasi dan menilai penyimpangan-pengimpanan sosial, juga mengadili dan memberi hukuman kepada pelaku penyimpangan sosial yang terbukti bersalah.
2. Lembaga agama
Lembaga agama ini bertugas mengawasi dan membina serta mengarahkan terhadap penyelewengan soaial, terutama yang berkaitan penyimpangan terhadap kaidah-kaidah agama. Namun lembaga ini tidak bisa menjatuhkansanksi atau hukuman kepada pelaku penyimpangan sosial.
3. Ketua adat
Termasuk ketua adapt ini antara lain ketua adapt masyrakat Batak, ketua adapt masyarakat Bali, dan sebagainya. Ketua adapt ini juga bertugas mengawasi dan mengarahkan setiap tindakan penyimpangan sosial. Ketua adapt ini bisa memberi sanksi atau hukuman terhadap anggota sukunya yang terbukti melakukan penyelewengan sosial. Ketua adapt ini bisa memberi sanksi atau hukuman terhadap anggota sukunya yang terbukti melakukan penyelewengan sosial dan melanggar hukum adat (Sulisyono, Ilmu Pengetahuan Sosial, 2007).
Dalam menghadapi pelaku penyimpang ada beberapa langkah-langkah yang dapat dilakukan, antara lain:

a.    Sanksi
Sanksi diperlukan untuk menjamin tercapainya tujuan dan dipatuhinya norma-norma. Pada pelaku penyimpangan sudah selayaknya mendapatkan sanksi yang tegas, yang berupa hukuman yang tegas sesuai dengan undang-undang yang berlaku demi pemulihan keadaan masyarakat untuk tertib dan teratur kembali.
b.    Pnppenyuluhan
Melalui jalur penyuluhan, penataran ataupun diskusi-diskusi dapat disampaikan kepada masyarakat penyadaran kembali pelaksanaan nilai, norma dan peraturan yang berlaku. Kepada pelaku penyimpangan sosial kesadaran kembali untuk berlaku sesuai dengan nilai, norma dan peraturan yang berlaku yang telah dilanggarnya, harus melalui penyuluhan secara terus menerus dan berkesinambungan. Terlebih-lebih pada pelaku tindak kejahatan/ kriminal. Peran lembaga-lembaga agama, kepolisian, pengadilan, Lembaga Permasyarakatan (LP) sangat diharapkan untuk mengadakan penyuluhanpenyuluhan tersebut (Herdiyanto Arief, 2008).

Suasana Seminar/penyuluhan/diskusi

3. Pribadi
Sebagai pelajar juga harus berperan akrif dalam upaya pengendalian sosial mengatasi berbagai penyimpangan. Upaya-upaya secara pribadi ini dapat dilakukan sebagai berikut:
a.    Mengerti dan menyadari tentang bahaya berbagai penyimpangan sosial, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat umum.
b.    Menjauhi atau tidak bergaul akrap dengan orang-orang yang melakukan penyimpangan sosial.
c.    Mengetahui dan menyadari akibat yang akan timbul dari penyimpangan sosial.
d.    Berusaha selalu mengikuti pembinaan-pembinaan agama, moral dan akhlak (Sadali dkk, Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu, 2007).
B. Sikap Dalam Menghadapi Penyimpangan Sosial
Dalam menghadapi baik sebelum maupun sesudah terjadinya penyimpangan ada beberapa sikap yang harus kita lakukan, antara lain:

a.    Tidak mudah terpengaruh
Jika kita mempunyai kepribadian yang kuat dan teguh niscaya kita tidak mudah atau gampang terpengaruh pada hal-hal yang tidak baik atau menyimpang. Seandainya setiap insan/individu masing-masing mempunyai kepribadian yang matang, maka pengaruh buruk tidak akan bisa membuatnya berperilaku menyimpang, dunia ini akan damai, tenang dan tentram.
b.    Berpikir positif (Positive Thinking)
Segala sesuatu yang kita pikirkan hendaknya mengenai hal-hal yang baik (positif). Dengan berpikir positif maka kita akan berperilaku dan berbuat hal yang positif pula. Penyimpangan sosial tidak akan muncul dari individu-individu yang berpikir positif (positive thinking). Kepada pelaku tindak penyimpangan kita juga harus mampu menunjukkan sikap positive thinking, sehingga pelaku penyimpangan tersebut akan mampu dan mau meneladani kita, yang pada akhirnya dia akan tidak lagi berperilaku menyimpang.
c.    Mengurangi Arogansi dan Sikap Eksentrik
Tanpa adanya kesombongan dan menonjolkan sifat unik/eksentrik kita, maka tindakan/pelaku penyimpangan tidak akan muncul. Karena apabila kita memiliki dua sikap tersebut akan menimbulkan tindakan penyimpangan serta pelaku penyimpang yang lain akan merasa dirinya tersaingi sehingga ia akan berbuat lagi penyimpangan demi penyimpangan (Herdianto.C Arief, 2008).

Rangkuman
1.    Penyimpangan sosial adalah suatu perilaku yang diekspresikan oleh seeorang atau beberapa orang anggota masyarakat yang secara disadari atau tidak disadari, tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat.
2.    Dilihat dari jumlah pelakunya, perilaku menyimpang dibedakan atas penyimpangan individu, penyimpangan kelompok, dan penyimpangan campuran.
3.    Beberapa penyakit sosial akibat penyimpangan sosial antara lain: minuman keras, perjudian, penyalahgunaan narkoba, prostitusi atau pelacuran, korupsi, perkelahian, dan kejahatan atau tindak kriminal lainnya.
4.    Faktor penyebab penimpangan sosial, yaitu sikap mental yang tidak sehat, dorongan kebutuhan ekonomi, pelampiasan rasa kecewa, pengaruh lingkungan dan media massa, keluarga yang terpecah dankeinginan dipuji.
5.    Upaya pencegahan penyimpangan sosial dapat dilakukan dalam lingkunagan keluarga, masyarakat dan pribadi.

Soal Latihan!!!
1.    Perbuatan seseorang yang melanggar norma dan nilai-nilai dalam masyarakat diseebut….
a. Proses sosial                    c. Revolusi sosial
b. Penyimpangan sosial                d. Aktivitas sosial
2.    Penyimpangan primer dan sekunder merupakan penggolongan penyimpangan….
a. Intensitasnya                    c. Tempatnya
b. Pelakunya                    d. Sifatnya
3.    Acara televise berikut ini bisa menyebabkan terjadinya penyimpangan sosial, yaitu….
a. Acara berita                    c. Acara jelajah
b. Film action mandarin                d. Acara satwa
4.    Seorang ibu terpaksa bekerja dimalam hari meninggalkan keluarganya demi memenuhi kebutuhan ekonomu keluarga, termasuk penyimpangan….
a. Negatif                    c. Sosial
b. Individual                d. Positif
5.    Penyimpangan dilihat dari sudut sosialisasi karena….
a. Individu tidak dapat menyerap norma cultural ke dalam kepribadiannya
b. Individu tidak mengerti nilai yang berlaku dalam masyarakat
c. Individu tidak mempunyai panutan dalam dirinya
d. Individu berada dalam situasi anomi
6.    Tuliskan empat jenis narkoba yang kamu ketahui!
7.    Sebukan empat faktor penyebab terjadinya penyimpangan soaial!

Kunci Jawaban
1.    B
2.    A
3.    B
4.    D
5.    A
6.    Opium, ganja, morvin, heroin
7.    Faktor penyebab terjadinya penyimpangan sosial, diantaranya:
a.    Adanya kelompok yang merasa tidak puas dengan kondisi masyarakat
b.    b.  Tidak sanggup mematuhi peraturan dalam masyarakat
a.    c.   Pendidikan keluarga yang terlalu keras
b.    d.   Pengaruh lingkungan pergaulan

DAFTAR PUSTAKA

mo_full.php;http://www.edukasi.net/mol/mo_full.php?moid=49&fname=sos201_04.htm. Diakses11 Mei 2008. 12:54 WIB

mo_full.php1;http://www.edukasi.net/mol/mo_full.php?moid=49&fname=sos201_05.htm. Diakses11 Mei 2008 12:56 WIB

Sadali, dkk. Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu. Bumi Aksara: Jakarta. 2007

Sulistyono, Ir. Heri, dkk. Ilmu Pengetahuan Sosial. CV. Teguh Karya: Solo. 2007

Wibowo rohadi, dkk. Sosiologi. Erlangga: Jakarta. 2007.

PENGGUNAAN MEDIA PENDIDIKAN PADA PENGAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH MENENGAH

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 12:31 pm

ABSTRACT

Penggunaan media pendidikan dalam pengajaran matematika pada sekolah menengah keatas terdapat pada makalah ini. Penelitian ini dilakukan di SMA di Medan. Penelitian ini mengetengahkan tentang penbelajaran pada siswa dengan sebuah media peta konsep dan analisa yang efektif pada media untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep-konsep matematika. Berdasarkan tes preliminari telah disimpulkan bahwa kebanyakan siswa (65%) memiliki tingkat pemahaman yang rendah pada konsep matematika. Setelah mengajar para siswa dengan menerapkan media perndidikan dapat ditemukan bahwa kebanyakan siswa (89%) dapat memahami konsep-konsep matematika.

Kata kunci: Media pendidikan, peta konsep, belajar tuntas, pangkat rasional, dan bentuk akar

PENDAHULUAN

Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, khususnya peningkatan mutu pendidikan matematika masih terus diupayakan, karena sangat diyakini bahwa matematika merupakan induk dari Ilmu pengetahuan. Dalam berbagai diskusi pendidikan di Indonesia, salah satu sorotan adalah mutu pendidikan yang dinyatakan rendah bila dibandingkan dengan dengan mutu pendidikan Negara lain. Salah satu indikator adalah mutu pendidikan matematika yang disinyalir telah tergolong memprihatinkan yang ditandai dengan rendahnya nilai rata-rata matematika siswa di sekolah yang masih jauh lebih rendah dibandingakan dengan nilai pelajaran lainnya. Bahkan banyak diperbincangkan tentang nilai ujian akhir nasional (UAN) bidang studi matematika yang cenderung rendah dibandingkan dengan bidang studi lainnya. Sudah sering dikemukakan oleh tokoh-tokoh pendidikan baik dalam media massa maupun dalam penelitian. Namun bukan hanya dari UAN yang menunjukkan bahwa nilai bidang studi matematika cenderung rendah dibandingkan dengan bidang studi lainnya. Salah satunya adalah hasil olympiade matematika SMU tingkat nasional menunjukkan bahwa bidang studi matematika cenderung rendah dibandingkan dengan bidang studi lainnya. Hal ini disebabkan oleh lemahnya pemahaman konsep dasar matematika siswa dan siswa belum bisa memahami formulasi, generalisasi, dan konteks kehidupan nyata dengan ilmu matematika. Bahkan diperoleh keterangan 80% dari peserta memiliki penguasaan konsep dasar matematika yang sangat lemah.

Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, maka diperlukan berbagai terobosan, baik dalam pengembangan kurikulum, inovasi pembelajaran, dan pemenuhan sarana dan praarana pendidikan. Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa maka guru dituntut untuk membuat pembelajaran menjadi lebih inovatif yang mendorong siswa dapat belajar secara optimal baik di dalam belajar mandiri maupun didalam pempelajaran di kelas. Inovasi model-model pembelajaran sangat diperlukan dan sangat mendesak terutama dalam menghasilkan model pembelajaran baru yang dapat memberikan hasil belajar lebih baik, peningkatan efisiensi dan efektivitas pembelajaran menuju pembaharuan. Agar pembelajaran lebih optimal maka media pembelajaran harus efektif dan selektif sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan di dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

Dalam hal peningkatan mutu pendidikan, guru juga ikut memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas siswa dalam belajar matematika dan guru harus benar-benar memperhatikan, memikirkan dan sekaligus merencakan proses belajar mengajar yang menarik bagi siswa, agar siswa berminat dan semangat belajar dan mau terlibat dalam proses belajar mengajar, sehingga pengajaran tersebut menjadi efektif (Slameto, 1987:). Untuk dapat mengajar dengan efektif seorang guru harus banyak menggunakan metode, sementara metode dan sumber itu terdiri atas media dan sumber pengajaran (Suryosubroto, 1997). Di samping itu, seorang pendidik dalam mengajar pada proses belajar mengajar hendaknya menguasai bahan ajaran dan memahami teori-teori belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli, sehingga belajar matematika itu bermakna bagi sisiwa sebab menguasai matematika yang akan diajarkan merupakan syarat esensial bagi guru matematika karena penguasaan materi belum cukup untuk membawa peserta didik berpartisipasi secara intelektual.

Belajar Matematika

Untuk mengatasi dan meningkatkan mutu pendidikan matematika yang selama ini sangat rendah, dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain meningkatkan metode dan kualitas guru agar memiliki dasar yang mantap sehingga dapat mentransfer ilmu dalam mempersiapkan kualitas sumber daya manusia. Secara umum, pendidikan sebenarnya merupakan suatu faktor rangkaian kegiatan komunikasi antar manusia. Kegiatan tersebut dalam dunia pendidikan disebut dengan kegiatan proses belajar-mengajar yang dipengaruhi oleh faktor yang menentukan keberhasilan siswa.

Sehubungan dengan faktor yang menentukan keberhasilan sisiwa dalam belajar ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan sisiwa untuk belajar, yaitu:

1.faktor internal, yaitu yang muncul dari dalam diri sendiri,

2.faktor eksternal, yaitu faktor yang muncul dari luar diri sendiri.

Selain itu matematika merupakan suatu disiplin ilmu yang mempunyai kekhususan dibanding dengan disiplin ilmulainnya yang harus memperhatikan hakekat matematika dan kemampuan siswa dalam belajar. Tanpa memperhatikan faktor tersebut tujuan kegiatan belajar tidak akan berhasil. Seorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku itu dapat diamati dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama disertai usaha yang dilakukan sehingga orang tersebut dari yang tidak mampu mengerjakan sesuatu menjadi mampu mengerjakannya.

Dalam menjelaskan konsep baru atau membuat kaitan antara materi yang telah dikuasai siswa dengan bahan yang disajikan dalam pelajaran matematika, akan membuat siswa siap mental untuk memasuki persolan-persoalan yang akan dibicarakan dan juga dapat meningkatkan minat dan prestasi siswa terhadap materi pelajaran matematika. Sehubungan dengan hal diatas, kegiatan belajar-mengajar matematika yang terputus-putus dapat mengganggu proses belajar-mengajar ini berarti proses belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontiniu. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seseorang akan lebih mudah untuk mempelajari sesuatu apabila belajar didasari pada apa yang telah diketahui sebelumnya karena dalam mempelajari materi matematika yang baru, pengalaman sebelumnya akan mempengaruhi kelancaran proses belajar matematika.

Media Dalam Pendidikan

Media sangat berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk untuk peningkatan kualitas pendidikan matematika. Media pendidikan dapat dipergunakan untuk membangun pemahaman dan penguasaan objek pendidikan. Beberapa media pendidikan yang sering dipergunakan dalam pembelajaran diantaranya media cetak, elektronik. Media cetak banyak dipergunakan untuk pembelajaran dalam menjelaskan materi kuliah yang kompleks sebagai pendukung buku ajar. Pembelajaran dengan menggunakan media cetak akan lebih efektif jika bahan ajar sudah dipersiapkan dengan baik yang dapat memberikan kemudahan dalam menjelaskan konsep yang diinginkan kepada mahasiswa.

Media elektronik seperti video banyak dipergunakan di dalam pembelajaran sain. Penggunaan video sangat baik dipergunakan untuk membantu pembelajaran, terutama untuk memberikan penekanan pada materi kuliah yang sangat penting untuk diketahui oleh mahasiswa Harus disadari bahwa video bukan diperuntukkan untuk menggantungkan pengajaran pada materi yang diperlihatkan pada video, sehingga pengaturan penggunaan waktu dalam menggunakan video sangat perlu, misalnya maksimum 20 menit.  Inovasi model pembelajaran dengan menggunakan video dalam percobaan yang menuntut ketrampilan seperti pada kegiatan praktikum sangat efektif bila dilakukan dengan penuh persiapan. Sebelum praktikum dimulai, video dipergunakan untuk membatu mahasiswa memberikan arahan terhadap apa yang harus mereka amati selama percobaan. Selanjutnya, video diputar kembali pada akhir praktikum untuk mengklarifikasi hal-hal penting yang harus diketahui oleh mahasiswa dari percobaan yang sudah dilakukan.

Media lain yang dipergunakan dalam pembelajaran sain adalah petakonsep. Penggunaan media petakonsep di dalam pendidikan sudah dilakukan sejak tahun 1977, yaitu dalam pengajaran Biologi, dan sejak itu media petakonsep berkembang dan telah dipergunakan dalam pembelajaran sain. Media peta konsep bertujuan untuk membangun pengetahuan siswa dalam belajar secara sistematis, yaitu sebagai teknik untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam penguasaan konsep belajar dan pemecahan masalah. Petakonsep merupakan media pendidikan yang dapat menunjukkan konsep ilmu yang sistematis, yaitu dimulai dari inti permasalahan sampai pada bagian pendukung yang mempunyai hubungan satu dengan lainnya, sehingga dapat membentuk pengetahuan dan mempermudah pemahaman suatu topik pelajaran. Langkah yang dilakukan dalam inovasi model pembelajaran dengan media petakonsep adalah memikirkan apa yang menjadi ‘pusat’ topik yang akan diajarkan, yaitu sesuatu yang dianggap sebagai konsep ‘inti’ dimana konsep-konsep pendukung lain dapat diorganisasikan terhadap konsep inti, kemudian menuliskan kata, peristilahan dan rumus yang memiliki arti, yaitu yang mempunyai hubungan dengan konsep inti, dan pada akhirnya membentuk satu peta hubungan integral dan saling terkait antara konsep atas-bawah-samping.

Belajar akan mempunyai kebermaknaan yang tinggi dengan menjelaskan hubungan antara konsep-konsep. Berarti konsep dapat dipahami melalui hubungan atau interaksinya dengan konsep yang lain. Salah satu cara untuk menjelaskan dan mengaitkan hubungan antara konsep-konsep adalah petakonsep. Media petakonsep merupakan media pendidikan yang dapat menunjukkan konsep ilmu yang sistematis, yaitu dimulai dari inti permasalahan sampai pada bagian pendukung yang mempunyai hubungan satu dengan lainnya, sehingga dapat membentuk pengetahuan dan mempermudah pemahaman suatu topik pelajaran. Langkah yang dilakukan dalam membuat media petakonsep adalah memikirkan apa yang menjadi ‘pusat’ topik yang akan diajarkan, yaitu sesuatu yang dianggap sebagai konsep ‘inti’ dimana konsep-konsep pendukung lain dapat diorganisasikan terhadap konsep inti, kemudian menuliskan kata, peristilahan dan rumus yang memiliki arti, yaitu yang mempunyai hubungan dengan konsep inti, sehingga akhirnya membentuk satu peta hubungan integral dan saling terkait antara konsep atas-bawah-samping.

Cara belajar dengan menggunaka bantuan petakonsep merupakan cara untuk meningkatkan hasil belajar. Selain itu petakonsep dapat membantu siswa untuk memahami materi pelajaran yang diperoleh karena tidak hanya sekedar hapalan, melainkan betul-betul mengidentifikasi konsep yang diperoleh. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa petakonsep menyediakan skema-skema untuk menganalisis stimulus-stimulus baru, dan untuk menentukan hubungan di dalam dan di antara kategori-kategori. Belajar petakonsep merupakan hasil utama pendidikan. Petakonsep merupakan batu-batu pembangun (building blocks) berpikir. Petakonsep merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi. Penggunaan media petakonsep dalam pendidikan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1977 saat mengajarkan pokok bahasan sistematika dalam mata pelajaran biologi, menujukkan bahwa pengajaran menggunakan media petakonsep dapat meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi kimia memotivasi siswa belajar sistematis dalam pemecahan masalah kimia. Walaupun media petakonsep telah banyak digunakan untuk bidang eksakta, akan tetapi media pendidikan ini masih sedikit digunakan dalam pengajaran matematika. Untuk mengetahui bahwa penggunaan media petakonsep efektif dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa khususnya pada Materi Pangkat Rasional dan Bentuk Akar, maka telah diadakan penelitian dengan pengajaran materi pangkat rasional dan bentuk akar di SMU.

Untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil tes dilakukan langkah-langkah meliputi: tingkat penguasaan, ketuntasan belajar, dan ketercapaian TPK. Tingkat penguasaan siswa pada materi pangkat rasional dan bentuk akar. Untuk mengetahui sejauah mana tingkat penguasaan siswa terhadap materi tersebut adalah dengan menggunakan konversi lima atau skala lima norma absolut.

Dari pengamatan peneliti pada saat penelitian, ditemukan bahwa siswa sangat bersemangat belajar dan mengerjakan setiap soal-soal pada latihan yang tersedia dengan menanamkan konsep dasar pada rangkaian konsep-konsep yang diberikan kepada siswa. Siswa yang daya serapnya diatas 65% sebelum menggunakan petakonsep adalah 61,11%, dan siswa yang daya serapnya diatas 65% setelah pengajaran menggunakan petakonsep adalah 88,88% berarti ada peningkatan sekitar 27,77%

Setelah Melihat hasil belajar siswa secara klasikal dari hasi analisis data maka dapat dikatakan bahwa pengajaran dengan menggunakan media petakonsep efektif digunakan dalam mencapai ketuntasan hasil belajar siswa pada pokok bahasan Pangkat Rasional dan Bentuk Akar dikelas 1 SMU Negeri 11 Medan Tahun Ajaran 2003/2004. Hal ini dapat terjadi karena Media petakonsep merupakan media pendidikan yang dapat menunjukkan konsep ilmu yang sistematis, yaitu dimulai dari inti permasalahan sampai pada bagian pendukung yang mempunyai hubungan satu dengan lainnya, sehingga dapat membentuk pengetahuan dan mempermudah pemahaman suatu topik pelajaran. Dan petakonsep dapat membantu siswa untuk memahami materi pelajaran yang diperoleh karena tidak hanya sekedar hapalan, melainkan betul-betul mengidentifikasi konsep yang diperoleh .Selain itu Belajar akan mempunyai kebermaknaan yang tinggi dengan menjelaskan hubungan antara konsep-konsep

Dalam pengumpulan data, peneliti hanya berdasar pada hasil tes siswa yang mana hal itu belum tepat sebagai bukti untuk mendukung hasil penelitian. Dalam menganalisis data peneliti hanya menganalisi lembar jawaban siswa, sehingga kurang mengetahui apakah siswa telah memahami betul atau tidak dan kurang mengetahui kesulitan yang dialami oleh siswa. Waktu, serta kemampuan peneliti yang masih sangat terbatas dalam melaksanakan penelitian ini. Tetapi dengan berpedoman pada kerangka teoritis dan dan hasil dari penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa pengajaran dengan menggunakan media petakonsep perlu dilaksanakan pada kelas yang belum mencapai kriteria ketuntasan belajar.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa dari tes awal diperoleh siswa yang mencapai daerah serap 65% ada sebanyak 22 orang (61,11%) berarti ketuntasan belajar secara klasikal belum tercapai, sedangkan dari hasil tes akhir diperoleh tingkat pencapaian hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan media petakonsep pada pokok bahasan pangkat rasional dan bentuk akar adalah tinggi, pencapaian tujuan khusus pembelajaran sudah memenuhi kriteria ketuntasan TPK. Siswa yang mencapai daya serap 65% sebanyak 88,88% berarti ketuntasan belajar secara klasikal telah tercapai, maka dapat dikatakan bahwa pengajaran dengan menggunakan media petakonsep efektif digunakan dalam mencapai ketuntasan hasil belajar pada pokok bahasan pangkat rasional dan bentuk akar.

DAFTAR PUSTAKA

Dahar,.R.W., (1989), Teori-Teori Belajar, Jakarta, Erlangga

Depdikbud, (1995), Kurikulum Sekolah Menengah Umum, GBPP Mata Pelajaran Matematika, Keputusan Mendikbud Nomor 061/U/1995, tgl 25 Februari 1995, Depdikbud Jakarta.

Etika Keilmuan dan Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan (Sebuah Kajian Aksiologis)

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 9:21 am

A.    Pendahuluan
Dalam sejarah kehidupan manusia ilmu telah menjadi aktor utama dalam membangun peradaban manusia sampai akhirnya dapat berbentuk peradaban semegah saat ini. Ilmu telah banyak memberikan kemudahan bagi manusia dalam memenuhi kebutuhannya dalam segala aspek kehidupan. Dengan kata lain, kehadiran ilmu telah merubah wajah dunia dari periode kuno sampai periode kontemporer. Alhasil, dengan kemajuan ilmu manusia dapat memberantas penyakit, memakai alat transportasi, membangun sarana irigasi, membangun sarana pemukiman, menikmati kemudahan komunikasi jarah jauh dan lain sebagainya.
Kemudian timbul pertanyaan, apakah ilmu selalu merupakan berkah dan penyelamat bagi manusia? Dan memang sudah terbukti, dengan kemajuan ilmu pengetahuan manusia dapat menciptakan berbagai bentuk teknologi. Misalnya, pembuatan bom yang pada awalnya untuk memudahkan kerja manusia, namun kemudian dipergunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif yang menimbulkan malapetaka bagi manusia itu sendiri, seperti yang terjadi di Palu, Kantor Kedutaan Australia dan Bali baru-baru ini dan menciptakan senjata kuman yang dipakai sebagai alat untk membunuh sesama manusia. Di sinilah ilmu harus diletakkan secara proporsional dan memihak pada nilai-nilai kebaikan dan dan kemanusiaan. Sebab, jika ilmu tidak berpihak pada nilai-nilai, maka yang terjadi adalah bencana dan malapetaka.
Pengembangan dan pemakaian ilmu yang tidak di kontrol oleh apapun (baca agama, etika dan moral) dan tidak mengindahkan kerusakan yang dibawanya ke masyarakat, justru akan mengembalikan manusia pada habitat sebenarnya yaitu dunia binatang,  di mana di dalam dunia binatang tidak berlaku hukum apapun (hukum rimba). Saling membunuh, memangsa dan dominasi yang terkuat merupakan pemandangan sehari-hari yang biasa ditemukan. Akankah dunia manusia seperti itu?
Menurut Baktiar bahwa ilmu pengetahuan yang begitu dibanggakan pada suatu saat dapat meruntuhkan suatu peradaban dan menimbulkan bencana bagi manusia. Contohnya, kematian ratusan ribu rakyat Jepang ketika bom atom dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. Penemuan teknologi atom di satu sisi mendatangkan dampak yang baik, di sisi lain dapat menimbulkan bencana. Karena itu, seorang ilmuwan kalau tidak mempunyai komitmen moral terhadap nilai kemanusiaan, dia bisa berbuat dengan bebas tanpa batas. Dia tidak mempermasalahkan apakah teknologi yang dihasilkannya digunakan untuk hal yang konstruktif atau yang destruktif. Di sini moral sebagai ajaran dasar agama sangat diperlukan. Hukuman yang diterima oleh para ilmuwan yang menyalahgunakan penemuannya, tidak saja kutukan dari umat manusia, tetapi juga kutukan dari Tuhan. Kalau ancaman dari Tuhan ini dapat ditanamkan lebih kuat dalam hati ilmuwan, niscaya tidak seorang pun ilmuwan yang menyalahgunakan ilmu dan teknologi.
Terkait dengan  di atas, Islam sebagai agama telah banyak memberikan petunjuk  tentang eksistensi ilmu, arah pengembangan ke depan dengan tetap memperhatikan etika keilmuan dan tanggung sosial. Terlebih lagi Islam (yang di dalamnya al-Qur’an) merupakan ensiklopedia ilmu pengetahuan – sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. Jadi, dalam dunia Islam al-Qur’an merupakan landasan moral dan etika dalam pengembangan keilmuan agar ilmu dan teknologi yang dihasilkan tepat guna dan maslahat bagi peradaban manusia. Dan apapun yang dilakukan untuk pengemabangan ilmu pengetahuan berlandaskan pada prinsip ibadah untuk mendapatkan ridha-Nya.
Dari realita dalam wacana di atas, penulis tertarik mengangkat tentang etika keilmuan dan tanggung jawab sosial ilmuwan. Topik tersebut merupakan sebuah kajian aksiologis tentang nilai dan kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia. Semoga dengan makalah ini sedikit mampu memberikan kontribusi positif dalam pengembangan keilmuan kita. Untuk lebih jelasnya akan  dideskripsikan pada pembahasan berikut ini.

B.    Etika Keilmuan dan Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan
Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan telah menciptakan berbagai bentuk kemudahan bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun apakah hal itu selalu demikian? Bahwa ilmu pengetahuan dan teknologinya merupakan berkah dan penyelamat bagi manusia, terbebas dari kutukan yang membawa malapetaka dan kesengsaraan? Memang dengan jalan mempelajari teknologi seperti pembuatan bom atom, manusia bisa memanfaatkan wujudnya sebagai sumber energi bagi keselamatan manusia, tetapi di pihak lain hal ini bisa juga berakibat sebaliknya, yakni membawa manusia kepada penciptaan bom atom yang menimbulkan malapetaka.
Menghadapi hal yang demikian, ilmu pengetahuan yang pada esensinya mempelajari alam sebagaimana adanya, mulai dipertanyakan untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Untuk menjawab pertanyaan seperti itu, apakah para ilmuwan harus berpaling ke hakikat moral? Bahwa ilmu itu berkaitan erat dengan persoalan nilai-nilai moral. Keterkaitan ilmu dengan nilai-nilai moral (agama) sebenarnya sudah terbantahkan ketika Copernicus mengemukakan teorinya “bumi yang berputar mengelilingi matahari” sementara ajaran agama (Kristen) menilai sebaliknya, maka timbulah interaksi antara ilmu dengan moral yang berkonotasi metafisik, sedangkan di pihak lain, terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan yang terdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan, diantaranya agama. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini, yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo, yang oleh pengadilan dipaksa untuk mencabut pernyataannya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Pengadilan inkuisisi Galileo ini selama kurang lebih dua setengah abad mempengaruhi proses perkembangan berpikir di Eropa. Dalam kurun waktu ini, para ilmuwan berjuang untuk menegakkan ilmu berdasarkan penafsiran alam sebagaimana adanya dengan semboyan “ilmu yang bebas nilai”, setelah pertarungan itulah ilmuwan mendapatkan kemenangan dengan memperoleh keotonomian ilmu. Artinya kebebasan dalam melakukan penelitiannya dalam rangka mempelajari alam sebagaimana adanya.
Setelah ilmu mendapatkan otonomi yang terbebas dari segenap nilai yang bersifat dogmatis, ilmu dengan leluasa dapat mengembangkan dirinya baik dalam bentuk abstrak maupun konkret seperti teknologi. Teknologi tidak diragukan lagi manfaatnya bagi manusia. Kemudian timbul pertanyaan, bagaimana dengan teknologi yang mengakibatkan proses dehumanisasi dan kerusakan lingkungan sekitar, apakah ini merupakan masalah kebudayaan ataukah masalah moral, apabila teknologi itu menimbulkan ekses yang negatif terhadap masyarakat.
Dihadapkan dengan masalah moral dalam ekses ilmu dan teknologi yang bersifat merusak, para ilmuwan terbagi ke dalam dua golongan pendapat. Golongan pertama berpendapat bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologis maupun aksiologis. Dalam hal ini ilmuwan hanyalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya, apakah akan dipergunakan untuk tujuan yang baik ataukah untuk tujuan yang buruk. Golongan ini ingin melanjutkan tradisi kenetralan ilmu secara total, seperti pada waktu era Galileo. Golongan kedua berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan nilai-nilai moral. Golongan kedua mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal, yakni:
1.    Ilmu secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia, yang dibuktikan dengan adanya dua perang dunia yang mempergunakan teknologi-teknologi keilmuan.
2.    Ilmu telah berkembang dengan pesat dan makin esoteric hingga kaum ilmuwan lebih mengetahui tentang ekses-ekses yang mungkin terjadi penyalahgunaan.
3.    Ilmu telah berkembang sedemikian rupa di mana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan teknik perubahan sosial.
Berdasarkan katiga hal di atas, maka golongan kedua berpendapat bahwa ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan. Ilmu secara aksiologis harus senantiasa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan effeknya terhadap kerusakan lingkungan.
Dari dua pendapat golongan di atas, kelihatannya netralitas ilmu terletak pada apistemologisnya saja, artinya tanpa berpihak kepada siapapun, selain kepada kebenaran yang nyata. Sedangkan secara ontologis dan aksiologis, ilmuwan harus mampu menilai mana yang baik dan mana yang buruk, yang pada hakikatnya mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai landasan moral atau landasan etika dan estetika yang kuat sebagai penuntun dalam berkarya dan berinovasi. Tanpa ini seorang ilmuwan akan lebih merupakan seorang momok yang paling menakutkan yang dapat membuat dunia semakin berantakan.
Etika keilmuwan merupakan etika normatif yang merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan dapat diterapkan dalam ilmu pengetahuan. Tujuan etika keilmuan dapat menerapkan prinsip-prinsip moral, yaitu yang baik dan menghindarkan dari yang buruk ke dalam prilaku keilmuannya, sehingga ia dapat menjadi ilmuwan yang mempertanggungjawabkan perilaku ilmiahnya. Etika normatif menetapkan kaidah-kaidah yang mendasari pemberian penilaian terhadap perbuatan-perbuatan apa yang seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya terjadi serta menetapkan apa yang bertentangan dengan yang seharusnya terjadi.
Pokok persoalan dalam etika keilmuan selalu mengacu kepada elemen-elemen kaidah moral, yaitu hati nurani, kebebasan dan tanggung jawab, nilai dan norma yang bersifat utilitaristik (kegunaan). Hati nurani di sini adalah penghayatan tentang yang baik dan yang buruk yang dihubungkan dengan perilaku manusia.
Nilai dan norma yang harus berada pada etika keilmuan adalah nilai dan norma moral. Lalu apa yang menjadi kriteria pada nilai dan norma moral itu? Nilai moral tidak berdiri sendiri, tetapi ketika ia berada pada atau menjadi milik seseorang, ia akan bergabung dengan nilai yang ada seperti nilai agama, hukum, budaya, dan sebagainya. Yang paling utama dalam nilai moral adalah yang terkait dengan tanggung jawab seseorang. Norma moral menentukan apakah seseorang berlaku baik ataukah buruk dari sudut etis. Bagi seorang ilmuwan, nilai dan norma moral yang dimilikinya akan menjadi penentu, apakah ia sudah menjadi ilmuwan yang baik atau belum.
Penerapan ilmu pengetahuan yang telah dihasilkan oleh para ilmuwan, apakah itu berupa teknologi, maupun teori-teori emansipasi masyarakat dan sebagainya itu, mestilah memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, nilai agama, nilai adat, dan sebagainya. Ini berarti ilmu pengetahuan tersebut sudah tidak bebas nilai. Karena ilmu sudah berada di tengah-tengah masyarakat luas dan masyarakat akan mengujinya.
Oleh karena itu, tanggung jawab lain yang berkaitan dengan penerapan teknologi di masyarakat, yaitu menciptakan hal positif. Namun, tidak semua teknologi atau ilmu pengetahuan selalu memiliki dampak positif ketika berada di tengah masyarakat. Kadangkala teknologi berdampak negatif, misalnya masyarakat menolak atau mengklaim suatu pandangan-pandangan yang telah ada sebelumnya, seperti rekayasa genetika (cloning manusia) yang dapat dianggap bertentangan dengan kodrat manusia atau ajaran agama. Dalam persoalan ini perlu ada penjelasan lebih lanjut. Bagi seorang ilmuwan apabila ada semacam kritikan terhadap ilmu harus menjelaskan hasil penelitiannya sejernih mungkin atas dasar rasionalitas dan metodologis yang tepat.
Di bidang etika, tanggung jawab seorang ilmuwan, bukan lagi memberi informasi namun harus memberi contoh. Dia harus bersifat objektif, terbuka, menerima kritik, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar dan kalau berani mengakui kesalahan. Semua sifat ini, merupakan implikasi etis dari proses penemuan kebenaran secara ilmiah. Di tengah situasi di mana nilai mengalami kegoncangan, maka seorang ilmuwan harus tampil ke depan. Pengetahuan yang dimilikinya merupakan kekuatan yang akan memberinya keberanian. Hal yang sama harus dilakukan pada masyarakat yang sedang membangun, seorang ilmuwan harus bersikap sebagai seorang pendidik dengan memberikan contoh yang baik.
Kemudian bagaimana solusi bagi ilmu yang terkait dengan nilai-nilai? Ilmu pengetahuan harus terbuka pada konteksnya, dan agamalah yang menjadi konteksnya itu. Agama mengarahkan ilmu pengetahuan pada tujuan hakikinya, yakni memahami realitas alam dan memahami eksistensi Allah, agar manusia menjadi sadar akan hakikat penciptaan dirinya, dan tidak mengarahkan ilmu pengetahuan melulu pada praxis, pada kemudahan-kemudahan material duniawi. Solusi yang diberikan oleh al-Qur’an terhadap ilmu pengetahuan yang terikat dengan nilai adalah dengan cara mengembalikan ilmu pengetahuan pada jalur semestinya, sehingga ia menjadi berkah dan rahmat kepada manusia dan alam bukan sebaliknya membawa mudharat.
Terkait dengan wacana di atas, bagaimana dengan Islam dalam hal etika keilmuan dan tanggung jawab sosial ilmuwan? Berdasarkan sejarah tradisi Islam ilmu tidaklah berkembang pada arah yang tidak terkendali, tetapi ilmu harus bergerak pada arah maknawi dan umat berkuasa untuk mengendalikannya. Kekuasaan manusia atas ilmu pengetahuan harus mendapat tempat yang utuh, eksistensi ilmu pengetahuan bukan melulu untuk mendesak kemanusiaan, tetapi kemanusiaanlah yang menggenggam ilmu pengetahuan untuk kepentingan dirinya dalam rangka penghambaan diri kepada sang Pencipta.
Lebih lanjut, bahwa dalam pandangan Islam tujuan ilmu sama dengan tujuan agama, yaitu untuk kesejahteraan umat manusia. Karena ilmu memiliki perhatian besar terhadap pendidikan jiwa manusia dan pertumbuhannya, serta menghendaki kepribadian yang luhur. Dan orang yang mencari ilmu sama dengan orang yang mencari hakikat kebenaran.
Seperti yang dijelaskan Al-Maududi dalam Islamic Way of Life, bahwa sistem moral Islam itu memiliki ciri-ciri yang komprehensif  yang berbeda dengan sistem moral lainnya. Ciri-ciri tersebut antara lain sebagai berikut:
1.    Keridhaan Allah merupakan tujuan hidup Muslim dan merupakan sumber standar moral yang tinggi serta menjadi jalan bagi evaluasi moral kemanusiaan. Sikap mencari ridha Allah memberikan sanksi moral untuk mencintai dan takut kepada-Nya, yang pada gilirannya mendorong manusia untuk mentaati hukum moral tanpa paksaan dari luar. Dengan dilandasi iman kepada Allah dan hari kiamat, manusia terdorong untuk mengikuti bimbingan moral secara sungguh-sungguh dan jujur, seraya berserah diri secara ikhlas kepada Allah.
2.    Semua lingkup kehidupan manusia senantiasa ditegakkan di atas moral islami sehingga moral tersebut berkuasa penuh atas semua urusan kehidupan manusia, sehingga hawa nafsu dan kepentingan pribadi tidak diberi kesempatan untuk menguasai kehidupan manusia. Moral Islam mementingkan keseimbangan dalam semua aspek kehidupan, baik individul maupun sosial.
3.    Islam menuntut manusia agar melaksanakan sistem kehidupan yang berdasarkan atas norma-norma kebajikan dan jauh dari kejahatan.
Dengan demikian sistem moral dalam Islam berpusat pada sikap mencari ridha Allah, mengedalikan nafsu negatif dan kemampuan berbuat kebajikan serta menjauhi perbuatan keji dan jahat. Islam sangat mementingkan kemaslahtan umat dalam segala aspek kehidupan manusia. Jadi, sangat salah apabila ada statemen bahwa Islam adalah agama yang senang kekacauan dan peperangan.
Islam adalah manifestasi dari Al-Qur’an dan ajaran Nabi (Sunnah) yang menekankan akan pencarian ilmu pengetahuan dan penggunaannya pada jalan kebajikan. Pada saat yang sama Islam berusaha memecahkan kesatuan pemikiran dalam masalah-masalah ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, agama dan masyarakat. Epistimologi Islam merupakan matriks bahwa semua elemen-elemennya berada dalam satu orientasi yang didasarkan atas jiwa manusia. Dengan kata lain, bahwa Islam merupakan totalitas, sebuah agama, sistem budaya dan juga peradaban. Dan sebagai sistem holistik, Islam menyentuh setiap aspek upaya kemanusiaan. Etika Islam dan sistem nilainya melalui sistem aktifitas kemanusiaan. Dan di samping itu Islam juga memilki perspektif definisi atas ilmu pengetahuan dan teknologi baik secara filosofis, sosiologis maupun metodologis.
Dalam aplikasinya, manusia dituntut menggunakan pengetahuannya tidak hanya untuk mengenal Tuhannya saja, tetapi juga untuk memberikan pelayanan kepada manusia sebaik mungkin. Pengetahuan tentang Tuhan tidak berdasarkan atas kepercayaan yang buta, tetapi atas dasar pengetahuan terhadap hukum-hukum-Nya yang universal. Oleh sebab itu, alam harus dipelihara sebaik mungkin bagi kepentingan manusia.  Segala ilmu yang dipraktikan harus memiliki landasan ilmiah, sebab perbuatan tanpa dilandasi ilmu hanya akan menjadikan naif dan riskan. Hal inilah yang menjadikan motif adanya keharusan menuntut ilmu, sehingga manusia (Muslim) tidak akan berbuat tanpa adanya ilmu.
Sehubungan dengan hal di atas, Islam juga sangat mengecam orang yang mengatakan sesuatu, mengerti akan ajaran-ajaran Islam, tetapi tidak melaksanakannya, sebagaimana diterangkan dalam surat Ash-Shaff ayat 3. Karena itu sebagai janji Allah dalam al-Qur’an (lihat QS. Al-Mujadilah ayat 11), bahwa jaminan keunggulan dan superioritas, termasuk kemenangan dan kesuksesan akan dikaruniakan Allah kepada mereka yang beriman dan berilmu. Beriman dalam arti mempunyai arti ketuhanan dalam hidupnya dengan menjadikan perkenan Tuhan sebagai tujuan segala kegiatannya. Dan berilmu berarti mengerti ajaran secara benar dan memahami lingkungan hidup di mana ia akan berkiprah, sosial budaya dan fisik, seperti ilmu yang dikaruniakan Tuhan kepada Adam sebagai bekal mengemban kekhalifahannya di bumi (lihat QS. Al-Baqarah ayat 31). Iman harus menyatu dalam diri seseorang, sebab jika tidak justru akan membuat malapetaka, bahkan lebih celaka daripada orang yang berilmu.
Selanjutnya, tentang tujuan ilmu pengetahuan, ada beberapa perbedaan pendapat antara filosof dengan ulama’. Sebagian berpendapat bahwa pengetahuan sendiri merupakan tujuan pokok bagi orang yang menekuninya, dan mereka ungkapkan tentang hal ini dengan ungkapan, ilmu pengetahuan untuk ilmu pengetahuan, seni untuk seni, sastra untuk sastra dan lain sebagainya. Menurut mereka ilmu pengetahuan hanyalah sebagai objek kajian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sendiri. Sebagian yang lain, cenderung berpendapat bahwa tujuan ilmu pengetahuan merupakan upaya para peneliti atau ilmuwan menjadikan ilmu pengetahuansebagai alat untuk menambahkan kesenangan manusia dalam kehidupan yang sangat terbatas di muka bumi ini, ilmu pengetahuan itu utuk meringankan beban hidup manusia atau untuk membuat manusia senang, karena dari ilmu pengetahuan itulah yang nantinya akan melahirkan teknologi. Teknologi jelas sangat dibutuhkan oleh manusia utuk mengatasi berbagai masalah, seperti kebutuhan pangan, sandang, energi, kesehatan, dan lain sebagainya. Sedangkan pendapat yang lainnya cenderung menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk meningkatkan kebudayaan dan kemajuan bagi umat manusia secara keseluruhan.

C.    Etika Keilmuan dan Tanggung Jawab Sosial Ilmuan dalam Analisa Penulis
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam abad terakhir ini memang terasa pesat. 100 tahun yang lalu belum terbayangkan manusia mampu mengelilingi dunia dalam waktu 24 jam. Abad ke 18 belum terbayangkan munculnya media elektronik seperti televisi dan komputer. Teknologi transportasi dan informasi begitu cepat berkembangnya. Perkembangan teknologi dalam berbagai bidang berkembang pesat sejak munculnya penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi di barat sejak abad 17.
Penemuan ilmiah yang dimulai sejak abad  ke-17 telah membuka wawasan baru bagi umat manusia. Penemuan-penemuan itu telah memberikan kemudahan bagi manusia dalam beraktifitas dan memenuhi kebutuhan hidupnya, namun pada akhirnya dengan kemudahan-kemudahan tersebut telah mengubah pola hidup masyarakat dalam berbagai aspek dan terjadinya benturan nilai lama dengan nilai baru. Apalagi pada abad 21 ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat dibarengi dengan penemuan-penemuan yang semakin mutakhir.
Satu kenyataan yang menjadi permasalahan serius sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu adanya pola hidup masyarakat yang cenderung destruktif dan hedonis. Penyalahgunaan ilmu pengetahuan dan teknologi pada hal-hal yang sangat merugikan kehidupan manusia dan lingkungan dan cenderung tidak memperhatikan norma yang ada.
Dilematis memang, di satu sisi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak memberikan kemudahan. Tetapi di sisi lain, kemajuan ilmu dan teknologi telah membuat chaos yang berkepanjangan dalam sejarah kehidupan manusia. Ini disebabkan karena ilmu pengetahuan dan teknologi dianggap bebas nilai. Bukan hal yang tidak mungkin jika ilmu pengetahuan dan teknologi bebas nilai, suatu saat akan membuat peradaban dunia hancur.
Agama dan ilmu pengetahuan menghadapi persoalan yang cukup rumit ketika berhadapan dengan situasi yang demikian. Satu sisi ilmu pengetahuan di Barat berkembang dengan pesatnya, tetapi jauh dari jiwa agama, sehingga yang terjadi adalah ilmu pengetahuan yang sekuler. Sebaliknya, di Timur masyarakatnya taat beribadah, tetapi lemah moralnya, sehingga muncul bentuk sekularisasi juga dalam umat beragama. Karena itu ada dua alternatif untuk mengatasi persolan tersebut. Pertama, menyesuaikan filsafat dan ilmu pengetahuan yang sekuler dengan ajaran agama, sehingga yang berkembang di dunia bukan filsafat dan ilmu pengetahuan yang sekuler, tetapi filsafat dan ilmu pengetahuan yang agamis. Kedua, mengutamakan pendidikan moral umat beragama, sehingga tercipta umat yang berakhlak mulia.
Untuk menyikapi permasalahan tersebut, sebuah keniscayaan juga bagi para ilmuwan untuk melakukan reorientasi visi dan misi dalam berkarya dan berinovasi, sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan selalu memberikan yang terbaik bagi peradaban dengan tetap memelihara aturan agama, etika dan estetika. Hal tersebut karena ilmu itu tidak bebas nilai, di samping ilmu pengetahuan dan teknologi berhadapan pada konteks kehidupan.
Etika atau moral dan estetika yang menjadi ajaran dasar agama harus tertanam dalam diri ilmuwan, supaya mereka mempunyai landasan moral dalam melakukan aktifitas keilmuannya, sehingga mereka mampu memberikan yang terbaik bagi umat dan lingkungan, serta mampu dipertanggungjawabkan di depan Tuhan.
Terkait dengan pandangan di atas, dalam konteks Islam ilmu pengetahuan dan arah pengembangannya menuju kemaslahatan umat telah banyak di atur dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Bahkan orang yang mencari ilmu, mempunyai ilmu dan mengamalkannnya dengan baik akan mendapatkan penghargaan istimewa dari Tuhan. Di dalam al-Quran, kata العلم diantaranya tersebar dalam lima surah yaitu surah al-Ahqaf ayat 23, Muhammad ayat 16, an-Najm ayat 30, al-Mujadillah ayat 11 dan al-Mulk ayat 26. Ayat-ayat tersebut berkaitan dengan ilmu Allah tentang segala sesuatu dan penghargaan Allah kepada orang yang menguasai ilmu pengetahuan. Hadits-hadits Rasulullah yang menyatakan penghargaan terhadap ilmu cukup banyak. Orang yang memilik ilmu dan mengajarkannya disamakan dengan Rabbani yaitu orang yang memanfaatkan ilmunya untuk mendidik orang lain sampai ia berperilaku dewasa.
Dalam pandangan Islam ilmu pengetahuan bernilai sakral. Kesakralannya, karena berasal dari Allah Swt dan mengfungsikannya untuk kepentingan umat mendapat gelar rabbani. Terjadinya desakralasisasi ilmu pengetahuan karena memotong pengetahuan dari akarnya. Ketika ilmu tidak kembali ke akarnya maka ilmu itu akan menjadi bebas nilai. Dalam perspektif Islam, semua ilmu tolok ukur kebenarannya adalah al-Qur’an, al-Sunnah dan realitas. Realitas dalam hal ini adalah sekaligus yang wujud, pengetahuan dan kebahagiaan. Ilmu pengetahuan mempunyai hubungan yang mendalam dengan realitas yang pokok dan primordial yaitu Yang Maha Suci, dan menjadi sumber dari segala yang suci.
Wawasan tentang Yang Maha Suci telah menghilang dari konsepsi Barat tentang ilmu pengetahuan. Sementara dalam Islam menjadi teori sentral al-Qur’an. Sesungguhnya yang membedakan cara berpikir Barat dan cara berpikir Islam adalah keyakinan yang tidak tergoyahkan dari cara berpikir yang dilandasi keyakinan bahwa Allah Swt menjadi sumber dari semua yang maujud. Dan dalam semua yang maujud itu termasuk ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tujuan ilmu pengetahuan adalah kesadaran akan adanya Yang Maha Suci, maka ilmu harus disertai dengan perbuatan yang bernilai suci supaya manusia terhindar dari perbuatan tercela sebagai simbol kebodohan. Sekaitan dengan itu Allah menyatakan:

قال انما العلم عندالله وابلغكم ما ارسلت به ولكني اريكم قوما تجهلون (الاحقاف:23)

Artinya: “Ia berkata “Sesungguhnya ilmu itu disisi Allah, dan saya menyampaikan kepadamu apa yang ditugaskan kepadaku, dan aku melihat kamu adalah kaum yang bodoh (al-Ahqaf : 23)

قال انما العلم عندالله وانما انا نذير مبين (الملك: 26)
Artinya: “Katakan, sesungguhnya ilmu itu di sisi Allah, sesungguhnya aku adalah pernberi peringatan yang menjelaskan” (al-Mulk: 26).

Lebih lanjut, al-Qur’an dalam surat al-Baqarah ayat 31-34 secara gamblang menyatakan dalam bentuk sebuah cerita bahwa pada awal penciptaan, Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama benda. Adam sebenarnya merupakan sebuah simbol manusia, sedangkan “nama-nama benda” berarti unsur-unsur pengetahuan baik yang duniawi maupun bukan duniawi. Ketika Allah bertanya kepada malaikat mengenai nama-nama benda yang diketahuinya, para Malaikat mengakui tidak mengetahuinya dan dengan tegas mereka menyatakan kami tidak mengetahui, kecuali apa yang telah diajarkan Allah kepada-Nya. Ketika Adam diperintah Allah, untuk menjelaskan nama-nama benda, Adam dapat menjelaskannya dengan sempurna. Kemudian Allah memerintahkan supaya malaikat memberi hormat kepada Adam dan mereka melakukannya, kecuali setan yang membangkang dan oleh karenanya mendapat kutukan sebagai pengingkar dan pembangkang.
Kata memberi hormat (bersujud), merupakan simbol pengakuan atas keunggulan. Menarik untuk di-stressing bahwa keunggulan Adam atas para malaikat, lebih disebabkan karena pengetahuannya tentang nama-nama yang telah diajarkan kepadanya, dan bukan karena kesalehan semata. Dalam hal kesalehan, malaikat lebih saleh dari pada Adam. Selain itu, wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw yaitu surat al-Alaq adalah perintah untuk membaca. “Bacalah dengan nama Tuhan-mu” (bacalah dengan nama Allah). Perintah ini mengisyaratkan kewajiban menuntut ilmu karena Allah. Ini mengandung makna bahwa wawasan tentang Yang Maha Suci yang memberi dasar hakiki bagi ilmu pengetahuan, harus menyertai dan memberi inti proses pendidikan pada setiap tahapannya. Allah tidak hanya berada di awal ilmu pengetahuan, tetapi juga berada diakhirnya, menyertai dan memberkati keseluruhan proses pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam proses ini, wawasan tentang Yang Maha Suci tidak boleh dilupakan dan seluruh proses serta aktifitas pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan hendaknya dapat diarahkan untuk mengenal ke-Maha Sucian dan Kekuasaan-Nya. Seorang mukmin mengetahui tentang Allah hanya melalui apa yang diwahyukan-Nya dalam al-Quran. Kitab suci itu merupakan sumber otentik dari pengetahuan Allah. Salah satu sifat Allah yang disebutkan dalam al-Quran ada yang berarti Yang Memiliki ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, memiliki pegetahuan merupakan sifat Ilahi, mencari pengetahuan menjadi kewajiban setiap mukmin dalam rangka mendekatkan diri.
Apabila setiap mukmin diwajibkan untuk mewujudkan sifat-sifat dalam keberadaannya, maka menjadi suatu keharusan bagi setiap mukmin mempercayai bahwa segala sesuatu yang ada bersumber dari Allah, dan seraya berupaya mencari dan menyerap sifat-sifat Allah dalam wujud mereka, termasuk pengetahuan, sehingga wawasan tantang Yang Maha Suci sebagai sumber pengetahuan dalam kehidupannya dan menjadi darah dagingnya. Memang, tidak semua sifat-sifat Allah dapat diserap oleh manusia mengingat sifat kodratinya yang terbatas dan berhingga. Akan tetapi setiap mukmin pasti dapat memiliki sifat-sifat ilahy sebanyak yang diperlukan untuk pemenuhan dalam realisasi diri. Salah satu diantaranya adalah pengetahuan, karena tanpa pengetahuan pemenuhan diri tidak akan tercapai. Pengetahuanlah yang membedakan antara manusia dan malaikat serta antara manusia dan makhluk yang lain. Dengan pengetahuan seseorang dapat mencapai kebenaran, dan kebenaran (al-haq) adalah nama lain dari Yang Riil dan Hakiki. Konsep kebenaran mengacu kepada memfungsikan ilmu untuk mengarahkan diri supaya seseorang berkata dan berprilaku sesuai dengan kebenaran.
Teori pengetahuan menurut Islam tidak hanya menonjolkan sudut yang khusus dari mana kaum muslimin memandang ilmu, tetapi menekankan keharusan untuk mencari ilmu. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa perintah Allah yang pertama kepada Nabi melalui wahyu yang  pertama adalah perintah membaca dengan nama Allah. Dari sudut pandang ini, membaca bukan hanya menjadi pintu masuk menuju ilmu, tetapi juga cara untuk mengetahui dan menyadari keberadaan Allah sebagai sumber pengetahuan. Al-Qur’an mewajibkan kaum muslimin menaklukan kekuatan-kekuatan alam untuk kebaikan umat manusia, dan hal itu tidak mungkin terjadi tanpa memahami ilmu murni dan ilmu terapan. Oleh sebab itu, ilmu mempunyai dua tujuan yaitu tujuan ilahiyah dan tujuan duniawiyah.
Ilmu berfungsi sebagai pertanda adanya Allah, sebab orang yang mempelajari alam dan prosesnya dengan cermat dan mendalam akan menjumpai banyak peristiwa yang menunjukan adanya tangan yang tidak tampak, yang membina dan mengawasi semua kejadian alam. Tangan itu adalah Tangan Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui. Tujuan duniawi ilmu adalah untuk memungkinkan seseorang hidup sukses dengan cara memahami alam baik yang pisik maupun yang psikis kemudian memanfaatkannya untuk kemaslahatan individual dan sosial.  Sedangkan tujuan ukhrawi ilmu adalah supaya dengan ilmu pengetahuan  seseorang dapat mengarahkan diri untuk selalu berupaya agar semua aktifitas mempunyai nilai ukhrawi.
Demikian pentingnya ilmu pengetahuan menurut al-Qur’an, sehingga Allah  memerintahkan Nabi untuk berdoa supaya ilmunya selalu bertambah:   وقل ربّ ز د ني علما  . Bagi Nabi Muhammad Saw, ilmu pengetahuan lebih utama daripada berdoa. Mengenai hadits-hadits Rasulullah yang menjelaskan tentang penting dan keutamaan ilmu cukup banyak dan populer, antara lain: “Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri cina”, “Carilah ilmu sejak buaian sampai ke liang lahad” dan “Siapa saja yang menginginkan kebaikan di dunia hendaknya mencari ilmu dan siapa saja yang menginginkan kebahagiaan akhirat hendaknya dengan ilmu”.
Oleh karena ilmu harus dicari, bahkan kalau perlu harus musafir ketempat yang jauh seperti jauh dan sulitnya menuju negeri Cina dan Madinah di zaman onta, bahkan lebih jauh daripadanya, maka Islam tidak membatasi ilmu sebatas ilmu hukum Islam saja, tetapi semua ilmu yang membawa kepada kemaslahatan duniawi dan ukhrawi baik individual maupun sosial.
Kebenaran ilmu dalam Islam harus dapat dibuktikan baik secara rasional normatif maupun rasional empiris. Tiada dogma bagaimanapun keramat dan tuanya, yang diterima dalam Islam, kecuali ilmu itu telah diuJi secara normatif dan empirik. Al-Qur’an menantang kaum penganut kepercayaan yang palsu supaya menunjukan bukti-bukti tentang kebenarannya. Mereka yang tidak menerima kebenaran al-Qur’an sebagai sumber kebenaran ditantang untuk menulis satu surat saja, Jika memang mereka masih meragukan kebenaran al-Quran yang sangat banyak memiliki data empiris dan rasional, dan jauh lebih banyak dari sekadar pengetahuan manusia yang ditemukan melalui penelitian bertahun-tahun untuk menemukan suatu penemuan, yang bahkan masih mengandung kebenaran yang relatif. Sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat 23, yaitu:

وان كنتم فى ريب مما نزلنا على عبدنا فأتوا بسورة من مثله وادعوا شهداء كم من دون الله كنتم صدقين (البقرة: 23)
Artinya: “Dan jika kamu dalam keraguan tentang kebenaran al-Qur’an yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat saja yang sama dengan al-Quran dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (al-Baqarah: 23).

Al-Quran juga menekankan begitu pentingnya bukti dan kesahihan data, sehingga menasihatkan orang-orang yang beriman supaya tidak menerima informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya dan tidak menyikapi sesuatu pendapat atau pernyataan tanpa dasar pengetahuan yang dapat dipertanggung-jawabkan baik di sisi Allah maupun ke khalayak ramai.

ولاتقف ماليس لك به علم ان السمع والبصروالفؤاد كل اولئك كان عنه مسئولا(الاسراء: 36)

Artinya: “Dan Janganlah kamu menyikapi sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan diminta pertanggung-jawabannya (al-Isra’: 36).

Ayat di atas mengisyaratkan larangan untuk membuat pernyataan yang berdasar pada data yang tidak valid dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan secara empiris maupun normatif. Main tebakan dan perkiraan semata harus dihindari karena pengetahuan tanpa dasar yang jelas adalah sama dengan berbuat dosa.
Ada satu prinsip ilmu pengetahuan bahwa proposisi itu tidak lebih dari suatu pernyataan yang mungkin saja benar atau tidak benar. Proposisi itu akan benar jika didukung oleh bukti dan data yang valid dan reliable. Di sinilah arti pentingnya ilmu metode penelitian atau methodologi research dan penerapannya untuk memperoleh data yang sahih dan akurat. Haruslah menjadi suatu prinsip bahwa suatu bukti yang diambil dari tradisi harus dirubah, apabila ternyata bertentangan dengan data empiris hasil indra.
Dengan demikian, ilmu dan kebenaran tidak bisa dipisahkan. Artinya, suatu ilmu akan memiliki nilai kebenaran bila didukung oleh sumber data normatif dan empiris yang valid dan reliable. Kebenaran harus berdasar pada ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan sosial dihadapan Tuhan Yang Maha Suci sebagai sumber semua ilmu pengetahuan.

D.    Kesimpulan
Dari uraian wacana di atas dapat disimpulkan bahwa dari segi aksiologis pengembangan ilmu pengetahuan dan penggunaan teknologi sebagai hasil eksplorasi ilmu pengetahuan harus selalu mengacu pada wawasan yang kudus dan kemanusiaan. Dalam artian penekanan pada aspek vertikal dan horizontal sebagai landasan moral dalam berkarya dan berinovasi merupakan keniscayaan yang harus dilakukan. Dengan berlandaskan iman dan berorientasi pada kemaslahatan manusia sebagai visi dan misi perjuangan tentu peradaban dunia akan menapaki era emas, di mana nilai-nilai kemanusiaan terjaga dan sarat nilai ketuhanan. Untuk itu, dalam konteks ini agama, etika, estetika, dan aturan adat harus tetap terjaga. Jangan sampai pengembangan ilmu pengetahuan menganut  konsep barat yang sekuler dan antroposentris yang bisa membuat dunia semakin berantakan dan gersang nilai ketuhanan.
Di dalam Islam bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dengan berlandaskan pada wawasan yang kudus merupakan suatu keharusan, yaitu Allah adalah Zat Yang Maha Wujud, Yang Maha mengetahaui dan sumber dari segala ilmu pengetahuan. Segala bentuk aktifitas yang dilakukan harus diniatkan sebagai ibadah untuk mendapatkan ridha-Nya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Bukhari, Shahih Bukhari Kitab al-’Ilm, CD. Hadis.
Al-Maududi,  Abul A’la, Islamic Way of Life, Islamic Publication, Lahore, 1967.
Azhim, Ali Abdul, Epistemologi dan Aksiologi Ilmu Pengetahuan Perspektif Al-Qur’an, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1989.

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, CV. Toha Putra, Semarang, 1989.
Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2004.
——-, Filsafat Agama 1,  PT Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997.
Budianto, Irmayanti M., Filsafat dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Refleksi Kritis atas Kerja Ilmiah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Depok, 2001.

Frondiz, Risieri, What Is Value, alih bahasa Cuk Ananta Wijaya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001.

Hasbullah, Moeflieh (ed), Islamisasi Ilmu Pengetahuan, PT. Pustaka Cidesindo, Jakarta, 2000.

Kattsoff , Louis O., Elemens of Phlosophy, The Roland Press Company, New York, 1953.

Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban, Yayasan Paramadina, Jakarta, 1992.

Nasution, Harun, Iptek Berwawasan Moral dalam Perspektif Filsafat dan Pemikiran Islam, dalam makalah seminar Iptek Berwawasan Moral di IAIN 8 Agustus 1996.

Qadir, C.A., Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, Yayasan Obor, Jakarta, 1989.

Saifullah, Konsep dasar Filsafat Ilmu, Program Pascasarjana UIN Malang, Malang, 2004.

Salam, Burhanuddin, Logika Materil; Filsafat Ilmu Pengetahuan, PT Rineka Cipta, Jakarta, 1997.

Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, PT Rineka Cipta, Jakarta, 1993.
Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2001.

Zainuddin, M., Filsafat Ilmu Perpektif Pemikiran Islam, Bayumedia Publishing, Malang, 2003.

Januari 21, 2010

Ilmu Politik

Filed under: Uncategorized — Harun Al Rasyid Leutuan @ 6:03 pm

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang

Berkembangnya aspirasi-aspirasi politik baru dalam suatu masyarakat, yang disertai dengan kebutuhan terhadap partisipasi politik lebih besar, dengan sendirinya menuntut pelembagaan sejumlah saluran baru, diantaranya melalui pembentukan partai politik baru. Tetapi pengalaman dibeberapa Negara duni ketiga menunjukkan, pembentukan partai baru tidak akan banyak bermanfaat, kalau system kepartaiannya sendiri tidak ikut diperbaharui.

Ilmu politik sangat berkaitan dengan Negara yang menyangkut proses penentuan tujuan sampai dalam melaksanakan tujuan tersebut. Ilmu politik juga merupakan disiplin akademis, dikhususkan pada penggambaran, penjelasan, analisis dan penilaian yang sistematis mengenai politik dan kekuasaan. Untuk memehami lebih jauh apa itu politik, sebenarnya tergantung dari dimensi apa ia melihatnya. Dalam pemikiran politik, politik merupakan akumulasi bangunan teks dan tulisan para filusufi besar yang membingkai pendidikan intelektual kepada banyak mahasiswa ilmu politik.

Politik yang sering muncul dalam masyaraakat adalah politik dalam partai dimana dalam masalah ini sering timbul persoalan-persoalan memperebutkan kekuasaan dengan jalan tidak sehat. Dalam beberapa hal ilmu politik memiliki sifat ambigu, mendua dan paradoks. Dalam ilmu politik terkandung rasa campuran antara ingin tau, menarik, jijik, bernafsu, serakah dan sifat-sifat positif bergaulau dengan sifat-sifat negatif.

Rumusan Masalah

Dimana kita dapat mengetahui apa pengertian dari politik, mengapa bila kita membicarakan tentang politik selalu orang berfikir tentang politik tersebut, padahal kalau kita amati dan pahami, tidak selamanya ilmu politik membahas tentang sesuatu yang negatif. Politik itu indah dan menyenangkan walaupun kadang suatu masalah ada, yang membuat seseorang negatif pada politik.

Dengan mempelajari ilmu politik kita juga akan tau apa fungsi dan tujuan dari politik tersebut. Dan apa peranan politik dalam masyarakat.

Dengan konsep-konsep politik ini juga akan mempermudah kita dalam kegiatan pembelajaran yang efisien dan efiktifitas, hal ini dapat kita pahami karena informasi-informasi itu semakin bertambah banyak dan semuanya harus diidentifikasai dalam simbol-simbol yang dapat disepakati.

BAB II

RUMUSAN MASALAH

2.1 Ilmu politik

Istilah politik dapat kita simpulkan sebagai kegiatan dalam sistem politik atau Negara yang menyangkut proses penentuan tujuan sampai dalam melaksanakan tujuan Negara. Di samping itu juga menyangkut pengambilan suatu keputusan tentang apa yang menjadi tujuan sistem politik.

Untuk memahami lebih jauh apa arti politik ada beberapa pakar yang dapat kita pelajari, menurut ROGER F SOLTAU menurut beliau politik kajian tentang Negara, tujuan-tujuan Negara dan lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan-tujuan itu, hubungan antara Negara dengan warga negaranya serta dengan Negara-negara lain. Sedangkan menurut ahli ilmu politik Negara kita, DELIAR NOER mengemukakan ilmu politik memusatkan perhatian pada masalah-masalah kekuasaan dalam kehidupan bersama atau masyarakat.1

Ruang lingkup ilmu politik sangat luas meliputi: pemikiran politik, teori politik, lembaga-lembaga politik, sejarah politik, politik perbandingan, ekonomi politik, administrasi politik, teori-teori kewarganegaraan.

1. Pemikiran politik

Merupakan akumulasi bangunan teks dan tulisan para filusufi besar yang membingkai pendidikan intelektual kepada banyak mahasiswa ilmu politik. Tugas pemikiran politik adalah untuk menemukan makna dan konteks yang asli dari wacana klasik, namun seringkali dengan cara mengfokuskan pada para penulis yang terlupakan dan dimarginalkan.

2. Teori Politik

Para ahli politik biasanya memiliki gaya sendiri-sendiri kendati memiliki ciri umum yang bersifat normatik dalam orientasi teori politiknya yang telah lama berefolusi.

  1. Lembaga-lembaga politik

Merupakan kajian-kajian terhadap lembag-lembaga politik, khususnya peranan konstitusi, eksekutif, birokrasi, yudikatif, partai politik dan sistem pemilihan yang mula-mula mendorong pembentukan formal jurusan-jurusan ilmu politik di banyak universitas pada akhir abad ke-19. Banyak para ahli politik yang menghabiskan waktunya untuk memonitor, mengevaluasi dan menghipotesiskan tentang asal usul serta perkembangan dan konsekuensi lembag politik. Namun sebagian dari mereka kurang toleran dan mengklaim bahwa mereka terlibat dalam deskripsi-deskripsi tebal hanya karena mereka memang ilmuan politik yang handal.

  1. Sejarah politik

Banyak para ilmuan politik menjelaskan tentang sejarah politik, pada umunya mereka percaya bahwa tugas ilmu politik menawarkan penjelasan retrodiktif, bukannya prediksi-prediksi yang kritis dan sangat deskriptif. Mereka yakin bahwa kebenaran terletak pada arsip-arsip pemerintah. Selain itu secara garis besar politik cenderung terbagi menjadi dua:

  1. Hight politics (politik tinggi) mempelajari perilaku politik para pembuat keputusan elit.
  2. Low politics (politik bawah)mereka percaya bahwa perilaku politik masa memberikan kunci untuk menjelaskan episode-episode politik utama,seperti halnya beberapa revolusi yang terjadi.
  1. Politik perbandingn

Merupakan asumsi dari para ilmuan politik bahwa focus perbandingn memberikan satu-satunya cara untuk menjadi ilmu social murni.sebab bagi ilmuan politik dalam pandangannya bahwa ilmu politik berkaitan dengan upaya membangun hukum-hukum universal atau generalisasi yang dapat memberikan penjelasan fenomena politik yang tepat dan teruji.

Sebenarnya,analisis perbandingan politik tersebut berkembang sebagai bagian dari gerakan behaviorime ilmu sosisl yang mengkritik sifat formalisti dan legelistik dari ilmu politik yang institusional (kelembagaan) tahun 1950-an dan 1960-an. Sebab analisis konstitusional,legal,dan formal sering kali memiliki sedikit dukungan empiris yang substansial.

  1. Ekonomi politik

Subbidang ini bertolak dari suatu pemikiran bahwa teori perilaku politik sebagaimana teori prilaku ekonomi,harus bermula dari premais sederhana tentang manusia yang suka membangun prediksi dari prilaku mereka.Bagi para eksponen pilihan rasional,pengujian suatu teori yang baik terletak pada daya prediksinya,bukan pada kebenaran asumsinya.Disinilah letak hubungan ilmu politik dan ekonomi,dimana manusia tidak pernah puas menghadapi kepentingan diri yang rakus tersebut.

  1. Administrasi publik dan kebijakan umum

Administrasi public dan kebijakan umum,keduanya merupakan cabang empiris dan normative dari ilmu politik yang tumpang-tindih dengan hukum dan ekonomi.Karena administrasi publik memusatkan perhatiannya pada susunan institusional provinsi pelayanan publik,dan secara historis berkenaan dengan kepastian administrasi yang bertanggung jawab dan adil,sedangkan para ahli kebijakan public menganalisis formasi dan menerapkan kebijakan-kebijakan,serta memberikan manfaat normative dan empiris terhadap argument-argumen yang di gunakan untuk kenjustifikasi kebijakan-kebijakan tersebut.

  1. Teori kenegaraan

Merupakan teori politik yang paling padu dalam memberikan perhatian bagi teori politik kontemporer,pemikiran politik,administrasi publik,kebijakan publik,sosiologi politik,dan hubungan internasional.Hal ini dapat di pahami,mengingat kebanyakan ilmu politik kontemporer mengfokuskan pada organisasi Negara dalam sistem demokrasi liberal

Subbidang ilmu politik ini memfokuskan pada masalah-masalah yang beragam menyangkut organisasi-organisasi internasional,ekonomi-politik internasional,kajian perang,kajian perdamaian dan analisis kebajakan luar negeri.

Beberapa bidang kajian ilmu politik secara tematis yang berkembang dewasa ini demikian luas dan banyak ragam, seperti psikologo politik, peluralisme politik, budaya politik, ekonomi politik, antropologi politik, politik etnik, rekrutmen politik, partai politik, perwakilan politik dan birokasi politik.

2.2 Pendekatan, Metode, Teknik dan Ilmu bantu politik

a. Pendekatan

Kajian ilmu politik dapat menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekat kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Seperti yang sebelumnya telah di kemukakan bahwa dalam pendekatan kualitatif merupakan pendekatan yang menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber bersifat deskriptif analitik, menekankan proses, bersifat induktif dan menurut W.R.Torbet sering di sebut sebagai collaborative inquiri (Torbet, 1981:141-151).2

Sedangkan pendekatan kuantitatif mencoba untuk memelihara diri mereka dari pengaruh koleksi data. Instrumennya yang fariasi, seperti pschometic yang di bentuk melalui tes; menguji dan menstandardisasi daftar observasi, baik wawancana terbuka maupun tertutup; menggunakan metode statistic untuk meniliti data dan menyimpulkan sebagai hasil penelitian.

  1. Metode

Semakin tepat kita menggunakan metode dan teknik dalam ilmu politik maka akan semakin baik dalam menghampiri politik.

Seperti ilmu-ilmu sosial pada umumnya, dalam metode penelitian yang di gunakan dalam ilmu politik pun menyangkut metode induksi dan deduksi.

  1. Teknik

Tekinik yang banyak di gunakan dalam ilmu politik sebenarnya banyak ragamnya, seperti field work, investigation, qiuiestionare, sampling, interview, opinionnaire, participant observer, schedule, direct observation, case study dan action research.

  1. Ilmu bantu

Adapun beberapa ilmu bantu yang di gunakan dalam kajian politik di perlukan sekali peran dan kontribusi dari berbagai ilmu sosia lainnya, seperti sejarah, filsafat, sosiologi, antropologi, ekonomi, psikologi sosial, geografi, serta hukum.

2.3 Tujuan dan ilmu politik

Dalam beberapa hal, ilmu politik memiliki sifat ambigu, mendua, dan paradoks. Dalam ilmu politik terkandung rasa campuran antara ingin tahu, menarik, jijik, bernafsu, serakah dan sifat-sifat positif bergalau dengan sifat negatif. Sebagaimana seks, politik menjadi suatu pokok kajian yang dihindari dalam masyarakat yang sopan. Tidak aneh jika dalam mempelajaari ilmu piolitik membangkitkan perasaan-perasaan yang mendalam, seperti rasa cinta, setia, bangga, sekaligus rasa jijik, benci, malu, dan marah. Sebagai sebuah disiplin ilmu, ruang lingkup ilmu politik lebihluas dan umum dari pada idiologi apapun sebagai berikut secara khusus untuk memehami nilai-nilai demokrasi, hal itu begitu tampak, terutama di amerika serikat dan Negara-Negara barat lainnya yang mengunggulkan cita-cita demokrasi dalam praktik-praktik kelembagaan. Secara umum terdapat tiga makna tujuan mempelajari ilmu politik.

  1. Perspektif Intelektual

Adalah tindakan politik yang diperlukan pembelajaran untuk memerbesar kepekaan pembelajaran sehingga ia dapat bertindak. Tujuan tidak lain adalah untuk menelaah kesalahan-kesalahan yang dibuatt oleh para penguasa dan berusaha untuk mengurangi ketidaktahuan dari mereka yang dikuasai.

  1. Perspektif politik

Adalah pandangan intelektual mengenai politik tidak banyak berbeda dengan pandangan politis. Sedangkan intelektual dapat menjadi politis jika ia mampu memasukan masalah politik dalam pelayanan suatu kepentingan ataupun tujuan. Tujuan utama politis adalah mempertahankan kekuasaan.

3. Perspektif ilmu politik

Adalah politik dipandang sebagai ilmu. Ia menilai politik dari sisi intelektual dengan pertimbangan kritis serta memiliki kriteria yang sistematis. Pendiran ini memandang terhadap kebutuhan kedepan, untuk meramalkan akibat tindakan politik maupun kebijaksanaan para politis.

2.4 Hubungan politik dengan ilmu-ilmu sosial lainnya

1. Hubungan sosiologi dengan politik

Keterkaitan hubungan sosiologi banyak membantu memehami latar belakang, susunan, dan pola kehidupan sosial dari berbagai golongan dan kelompok masyarakat. Sebab dengan menggunakan pengartian konsep, generalisasi, serta teori ilmu sosialogi, para ahli ilmu politik dapat mengetahui sampai dimana susunan dan stratifikasi sosial. Sosiologi masyarakat yang sederhana maupun kompleks, senantiasa dapat kecenderungan untuk menumbulkan proses pengaturaan atau pola-pola tertentu yang formal maupun tidak formal, sedangkan dalam sosiologi negara hanya merupakan salah satu dari banyak asosiasi dan lembaga pengendalian dalam masyarakat.

  1. Hubungan Antropologi dan Politik

Hubungan ini tampak pada pengertian-pengertian dan teori-teori tentang kedudukan serta peranan satuan-satuan sosial budaya yang lebih kecil dan sederhana. Sedangkan sosiologi lebih memusatkan perhatian pada kehidupan masyarakat kota yang lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi dan teknologi moderen.

  1. Hubungan sejarah dengan politik

Sejak dahulu kedua ilmu ini merupakan dua bidang kajian yang penting kontribusinya dan saling mempengaruhi. Sejarah banyak menyumbangkan fakta-fakta masa lampau untuk diolah dalam ilmu politik lebih lanjut. Perbedaan ahli sejarah dengan politik ialah, ahli politik selalu meneropong masa lampau yang menjadi sasaran, sedangkan politik sasarannya lebih ditekan pada masa sekarang.

  1. Hubungan Geograi dengan ilmu politik

Terlihat dari beberapa faktor yang menyangkut geografi, seperti bentuk daratan (apakah kepulauan besar, kecil, maupun kontinental), pembatasan dengan negara lain, kepadatan penduduk, kesuburan dan kandungan mineral yang di miliki pengaruh politik yang perlu diperhitungkan.

  1. Hubungan Ekonomi dengan Politik

Hubunngan ini tampak dari aspek sejarah maupun peranan ekonomi dalam politik dan sebaliknya. Ditinjau dari sejarah, ilmu politik dan ilmu ekonomi merupakan suatu bidang kajian yang terintegrasi yang dikenal.

  1. Hubungan Psikolog dengan Politik

Terlihat bahwa psikologi banyak mempelajari aspek-aspek intern, seperti motivasi, sikap, minat, karakter, prestasi dan proses-proses mental yang terjadi. Ilmu ini banyak memberikan informasi tentang sebab-sebab internal yang sering diabaikan oleh banyak orang yang dianggap tidak langsung menjadi faktor determinan politik

2.5 Konsep-konsep Politik

Informasi-informasi itu semakin bertambah banyak dan semuanya harus diidentifikasikan dalam simbol-simbol yang dapat disepakati. Caranya adalah dengan merumuskannya dalam konsep yang mereduksi informasi tersebut menurut proporsi yang dapat ditangani. Beberapa konsep yang diperkenalkan dan dikembangkan dalam pembelajaran ilmu politik sebagai berikut:

  1. Kekuasaan

Kekuasaan merujuk kepada kemempuan seseorang atau kelompok lain manusia untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang memiliki kekuasaan.

  1. Kedaulatan

Dalam kedaulatan dapat di bedakan menjadi dua, yaitu: dilahat dari hukum tata Negara, konsep kedaulatan yang mengacu pada kekuasaan pemerintah negara yang tertinggi dan mutlak. Dan dilihat dari hukum internasional mengacu kepada kemerdekaan suatu negara terhadap negara lain.

  1. Konsep sosial

Konsep sosial mengacu pada pengaturan tingkah laku manusia oleh kekuatan sosial yang dilakukan diluar pemerintah untuk memelihara menurut hukum dan aturan yang muncul di dalam tiap-tiap masyarakat dan instansi.

  1. Negara

Negara adalah integrasi dari kekuasaan politik, ia adalah organisasi pokok dalam kekuasaan politik.

  1. Pemerintah

Yang mengacu kepada bentuk metode atau sistem pemerintah dalam suatu masyarakat, yakni struktur dan pengolalaan dinas pemerintah dan hubungan antara yang memerintah dan yang dierintah. Ada beberapa pemerintah yang berdaulat pada masyarakat maju sekarang, peran legislatif, peran eksekutif, paran yudikatif.

  1. Legitimasi

Legitimasi menunjuk kepada keterangan yang mengesahkan atau membenarkan bahwa pemegang kekuasaan maupun pemerintah adalah benar-benar orang yang dimaksud (yang secara hukum adalah sah).

  1. Oposisi

Oposisi merujuk kepada kelompok partai penentang terhadap pemerintah resmi yang mengkritik pendapat maupun kebijaksanaan politik golongan yang berkuasa.

  1. Sistem politik

Sistem politik merupakan suatu istilah yang mengacu pada semua proses dan instusi yang mengakibatkan pembuatan kebijakan publik.

  1. Demokrasi

Demokrasi secara umum merupakan sistem pemerintah yang segenap rakyat turut serta memerintah dengan perantara wakil-wakilnya.

  1. Pemilihan umum

Pemilihan umum adalah suatu kegiatan politik untuk memilih atau menentukan orang-orang yang duduk di dewan legislatif maupun eksekutif.

  1. Partai polotik

Partai politik mengacu pada sekelompok manusia yang terorganisasi secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan berdasarkan penguasaan ini memberikan kemanfaatan bagi para anggota.

  1. Desentralisasi

Desentralisasi dikemukakan sebagai pemindahan hak-hak pengaturan (bagian dari perundang-undangan) dan perintah dari badan-badan penguasa atasan kepada yang lebih rendah

  1. Persamaan

Peresamaan atau istilah memiliki persamaan sebagai sebuah konsep hubungan yang kompleks, sifatnya bervariasi mulai dari identitas hingga korelasi, namun di dalamnya sama sekali tidak ada kandungan nilai atau moral.

  1. Demonstrasi

Demonstrasi secara umum berarti memperlihatkan, memamerkan, menunjukkan, dan membuktikan, namu dalam ilmu politik tindakan sekelompok orang yang secara bersama-sama menunjukkan dukungan maupun protes kolektif.

  1. Hak asai manusia

Hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimiliki oleh semua orang sesuai kondisi yang manusiawi. Oleh karena itu, hak-hak tersebut bukan merupakan pemberiaan atau anugerah negara yang daapat dicabut melalui peraturan hukum oleh negaraa. Kaarena hukum tiap negara berbeda-beda, hak-hak asasi manusia yang menjadi hak bagi setiap orang itu merupakan hak-hak dalam hukum internasional.

  1. Voting (pemungutan suara)

Voting atau pemungutan suara merujuk pada suatu instrument untuk mengekspresikan dan mengumpulkan pilihan partai atau calon dalam pemilihan. Jika ditinjau dari sejarahnya, kegiatan semacam ini sudah sangat tua.

BAB III

STUDI KASUS

Dalam studi kasus makalah ini saya mengangkat masalah kemigrasian di Papua yang sering dikaitkan dengan kepentingan politik bagi pihak-pihak tertentu yang ingin memanfaatkannya untuk membuat keamanan provinsi Indonesia timur menjadi tidak stabil sekaligus merongrong kedaulatan dan integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurut kepala seksi pengawasaan dan penindakan ke-migrasian, kantor migrasi Jayapura, Maman budiman kepada ANTARA di Jayapura, senin (23/3) menyatakan, bahwa harus diupayakan pengawasanterhadap lalu lintas orang-orang asing, masuk dan keluar wilayah Indonesia, melalui papua, senantiasa harus di lakukan secara optimal.

Dengan demikian pengawasaan di lakukan secara ketat dari mulai pemeriksaan berbagai dokumen untuk masuk dan tinggal di Papua. Dokumen ini bisa derupa kartu identitas, paspor, visa, ijin kunjungan ataupun ijin tinggal terbatas. Bukti-bukti ini harus disesuaikan dengan kondisi yang sebenarnya dari orang asing bersangkutan dan tujuannya untuk masuk, berkunjung dan menetap di Papua.

Maman tidak menampik adanya orang-orang asing yang melanggar aturan tersebut, sehingga pihak imigrasi perlu melakukan tindakan atas mereka. Salah satu kasusnya adalah pemilikan ijin tinggal terbatas yang sudah melampaui batas atau masa berlaku. Selain itu, kantor imigrasi menerima laporan secara berkala mengenai kegiatan dan posisi orang-orang asing yang bekerja di Papua.

Ijin tinggal terbatas adalah ijin yang diberikan kepada orang asing untuk tinggal terbatas di wilayah Indonesia baik untuk keperluan bekerja maupun keperluan selain bekerja, misalnya penanaman modal asing, mengikuti pelatihan dan pendidikan serta repartiasi.

Namun yang menjadi kendala atau permasalannya sekarang adalah adanya sekelompok masyarakat tertentu yang melindungi orang-orang asing yang bermasalah tersebut, sehingga pihak imigrasi kadang-kadang susah untuk meminta keterangan lebih lanjut, ujar Maman.

Oleh karena itu, untuk menjalankan misi kantor imigrasi Jayapura berkordinasi dengan beberapa instansi pemerintah terkait, masyarakat umum dan beberapa pihak swasta yang sering berkaitan dengan aktivitas orang-orang asing di Papua. Instansi yang bekerja sama dengan imigrasi Jayapura dalam melaksanakan tugas menjaga pinyu gerbang negara diantaranya kepolisian dan TNI, baik angkatan darat, angkatn udara dan angkatan darat. Sedangkan dari pihak swasta misalnya lembaga-lembaga non pemerintah asing yang memiliki program kerja di Papua dengan mempekerjakan tenaga asing serta hotel-hotel yang sering menerima tamtamu manca negara.

Maman berharap, badan-badan yang menjual jasa penginapan dapat bekerja sama dengan kantor imigrasi Jayapura untuk senantiasa melaporkan status para tamu asing guna kami dapat mengambil langkah-langkah preventif dalam menjaga keamanan negara dan masyarakat, khususnya wilayah Papua.

Ke-imigrasian di Papua bisa dikatakan memiliki tantangan yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia. Papua merupakan wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Papua New Guinea ( PNG) baik darat maupun laut.

Sehingga untuk mengatur keluar masuknya orang-orang asing di wilayah Indonesia, di sepanjang garis perbatasan antara indonesia dan PNG dari kabupaten Jayapura, kabupaten jayawijaya hingga pegunungan bintang yang melintang dari utara ke selatan pulau Papua, terdapat beberapa pos imigrasi perbatasan yang melayani lintas batas tradisional yang umumnya dilewati penduduk perbatasan kedua negara.

BAB IV

KESIMPULAN

Jadi dari kesimpulan studi kasus yang saya kaji adalah adnya kepentingan politik oleh pihak-pihak tertentu yang ungin merusak keamanan daerah Indonesia timur dan merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sehingga badan imigrasi langsung pelakukan pengawasan bebagai dokumen masuk dan tinggal di Papua, karena banyak orang-orang asing yang melanggar aturan perijinan. Yang menjadi kendala bagi pihak imigrasi saat ini adalah adanya kelompok masyarakat yang melindungi orang-orang asing yang bermasalah di Papua, sehingga pihak imigrasi sulit intuk mendapatkan keterangan lebih detail.

Oleh karena itu pihak imigrasi bekerja sama dengan beberapa instansi pemerintahan terkait, diantaranya pihak kepolisian, dan TNI, baik angkatan laut, udara dan darat. Instansi tersebut bertugas menjaga pintu gerbang Negara. Selain iu pihak imigrasi juga bekerja sama dengan pihak masyarakat dan swasta.

DAFTAR PUSTAKA

Dahel, Robert A. 1970. After the refolution. Yale University. New heven : Com

Noer, Deliar. 1965. Pengantar Kepemikiran Politik. Jilid 1. dwipa : Medan

Supardana, Dadang. 2009. Pengantar Ilmu Sosial. Bumi Aksara : Jakarta

The Banana Smoothie Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.